Font Size
15px

Namun, Randika mutuskan hari ini bukanlah hari yang tepat untuk naklukan hati Viona. Setelah makan malam bersama orang banyak, Randika ngantar Viona pulang ke rumahnya dan dia pun langsung balik ke rumah.

Namun, ketika dia mbuka pintu rumahnya itu, Randika tiba-tiba rasakan badannya njadi kaku, matanya terbelalak dan tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak.

Dalam sekejap keringat dingin mbanjiri dirinya!

Tubuh Randika, yang kekuatan misteriusnya telah ditekan, tiba-tiba tanpa peringatan ledak dan mberontak!

Perlawanan kekuatan misterius ini benar-benar tiba terlalu ndadak. Dalam sekejap, rasa sakit segera numpulkan saraf Randika dan nguasai dirinya. Dia sama sekali tidak bisa nyebarkan tenaga dalamnya.

Punggungnya sudah basah oleh keringat, napasnya sudah terengah-engah. Randika hendak duduk dan berditasi agar dapat nyalurkan tenaga dalamnya. Namun, rasa sakit yang tajam tiba-tiba nusuk jantungnya dan mbuatnya tersungkur.

Sambil nahan rasa sakitnya, kukunya nancap dalam di kedua lengannya dan kerusan gigi Randika terdengar keras. Rasa sakit di dalam tubuhnya terasa seperti organ dalamnya terpelintir semua, seolah-olah reka ingin lepaskan diri.

Randika hampir tidak bisa bernapas, seluruh tubuhnya ngeluarkan keringat hingga mbentuk genangan air. Setelah tiga nit nahan sakit, rasa sakitnya itu perlahan nghilang.

Sama seperti hati gebetan kita, rasa sakit itu datang dan ninggalkan Randika dengan cepat. Randika ngangkat kepalanya dan berusaha nenangkan dirinya.

Jika serangan ndadak ini terjadi beberapa kali, sama saja Randika tidak bisa hidup dengan tenang.

Terlebih, rasa sakit ini bukanlah rasa sakit yang seperti biasanya dia rasakan. Serangan internal ini benar-benar ndadak dan tidak ada peringatan apa-apa.

Sambil ngerutkan dahinya, Randika ngambil handphonenya dan nelepon kakek ketiga.

"Kamu lagi, sekarang terkena masalah apalagi kamu?" Suara kakek ketiga terdengar jengkel.

"Kek, apa kakek sedang sibuk?" Randika mastikan kakeknya tidak sibuk.

"Bah, kau kira obat-obat ini bisa ngurus dirinya sendiri? Jika kamu nelepon untuk tanya kabar, kakek sedang sibuk." Kakek ketiga hendak nutup teleponnya.

"Tunggu! Jangan ditutup kek, ini tentang penyakitku." Randika segera panik.

Kakeknya ngerutkan dahinya sambil bertanya. "Bukankah aku sudah mberikan resep sup obatku?"

Randika tidak bisa njelaskannya dengan baik. Penyakit ini benar-benar kompleks dan misterius, Randika sendiri tidak tahu kenapa dia bisa ngidapnya.

"Baiklah kalau begitu, cepat pulang ke sini dan aku akan mberimu obat yang baru." Setelah itu kakeknya langsung nutup teleponnya.

ndengar suara "tut, tut, tut." Randika hanya tersenyum pahit. Kakek ketiganya ini mang tsundere!

Setelah berpikir sesaat, Randika nelepon Inggrid.

"Halo sayang? Aku perlu pergi ke suatu tempat untuk beberapa hari, jadi kamu mungkin tidak ndengar kabarku selama itu. Tapi jangan khawatir, setelah aku balik nanti aku akan nebus semuanya dengan mberimu malam yang tidak terlupakan!"

Setelah berpamitan dengan Inggrid, Randika segera mbereskan bajunya dan cepat-cepat naik bus ke Kota Kebon Raya.

....

Sesaatnya Randika tiba di Desa Jagad, pemandangan dan orang-orangnya sama sekali tidak berubah.

"Kakek keempat!"

Randika lihat kakeknya itu sedang bermandikan cahaya matahari pagi. Dia terlihat asyik jamkan matanya sambil berbaring di kursi malasnya. Di sampingnya terlihat ada teh dan cemilan, kakeknya ini benar-benar sedang manjakan dirinya.

"Hohoho, kakek kemarin ramal bahwa kamu akan pulang hari ini dan ternyata kakek benar." Wajah kakek keempat terlihat bangga.

Randika bergumam dalam hati, bukankah kemarin aku nelepon rumah?

"Randika kemarilah."

Pada saat ini, kakek ketiga keluar dari dalam rumah dan lambaikan tangannya pada Randika.

Kakek keempatnya juga ikut ngikutinya dari belakang.

"Pertama-tama mandilah dengan air hangat yang sudah kucampur dengan obat ini."

"Aku akan ngganti airnya setiap satu jam sekali sebanyak 5x."

Lima kali? Berarti lima jam!

Randika benar-benar terkejut, lima jam dia tidak ngapa-ngapain selain berendam?

"Sudah nurut saja, kamu ingin penyakitmu itu sembuh atau tidak?" Tatapan mata kakek ketiga terlihat tajam. Dia lalu njewer telinga Randika dan nyuruhnya berbaring di dalam bak.

Setelah masuk ke dalam bak, kakek ketiganya nuangkan beberapa ember air hangat berisi obat.

Dalam sekejap, Randika rasakan kenikmatan duniawi. Dia ingin ndesah nikmat dan nikmati mon ini sambil jamkan matanya.

Di setiap jamnya ngisi kembali bak itu dengan air hangat, kakek ketiga juga riksa titik akupuntur anaknya itu.

Setelah 5 jam, Randika keluar dari dalam bak dan kakek ketiganya langsung nyodorkannya semangkok sup obat.

"Minumlah selagi hangat."

Randika langsung minumnya, dia sama sekali tidak nyisakannya.

"Tinggalah di sini selama seminggu." Kata kakek ketiga.

"Lama sekali!" Balas Randika.

Kakek ketiga njadi marah. "Salahkan dirimu yang lemah itu, kau kira mbuat obat itu gampang?"

Randika langsung tersenyum dan berusaha ngalihkan pembicaraan. "Omong-omong, mana kakek pertama dan kakek kedua?"

"Kakek pertama masih ngurung dirinya." Kata kakek ketiga. "Kakek kedua sedang keluar."

Randika masih tidak tahu kenapa kakek pertamanya itu ngurung dirinya. Sebelumnya kakek keempat pernah ngatakan bahwa kakek pertamanya itu sudah ngurung dirinya selama tujuh tahun dan enam bulan! Randika penasaran apa yang sedang dilakukan oleh kakeknya itu, apakah itu ditasi?

ndengar kakek keduanya sedang pergi tidak ngherankan bagi Randika. Sudah pasti kakeknya itu masih ada di Jakarta.

Untuk 7 hari kedepan, Randika njalani masa pemulihan bersama kakek ketiga dan bermandikan cahaya matahari pagi bersama kakek keempat. Kehidupannya ini benar-benar bagaikan liburan.

Selama 7 hari ini, Randika terus-nerus mandi air obat, dan pada saat yang bersamaan, kakek ketiganya ramu obat baru untuk dirinya.

Hari ini sudah rupakan hari ketujuh. Randika berdiri bersama kakeknya yang sedang ngaduk panci besar di atas tungku di dapur.

Kakek ketiga terlihat sibuk, dia terus-nerus nambahkan bahan ke dalam panci. Dia juga bertugas untuk ngatur suhu tungku.

"Cepat buka jendela yang di kanan itu."

Kakek ketiga terus mberikan arahan pada Randika sambil terus ngaduk. Tiba-tiba, sesaat setelah jendela itu terbuka, asap hitam mulai keluar dan cairan di dalam panci njadi rah.

"Cepat tutup jendelanya!"

Randika nutupnya saat itu juga.

Kakek ketiga tetap terlihat fokus, dan pada saat ini, panci yang diaduknya itu tiba-tiba berguncang hebat. Panci itu sepertinya siap ledak kapan saja.

"Kek, panci itu tidak akan ledak kan?" Tanya Randika sambil bersiap kabur.

Kakek ketiganya natap tajam Randika. "Kamu ragukan kakek? Apa kamu belum pernah lihat kakek ramu obat?"

Namun tiba-tiba, panci itu tiba-tiba berdesis dan ngeluarkan asap rah!

Hati Randika sudah ngepal dan dia sudah bersiap-siap. Apa kakeknya sudah lupa? Dulu dia sering nemani kakeknya ini mbereskan sisa-sisa panci yang ledak, kalau hari ini ledak juga maka ini akan njadi kasus ke-50 miliknya!

Namun, ekspresi bahagia nampak jelas di muka kakeknya. "Selesai!"

Sudah selesai?

Randika masih nahan napasnya, dia tidak akan lengah. Sedangkan kakeknya ngambil kapsul dan ngisinya dengan ramuan yang dia buat.

Kemudian kakeknya mberikannya pada Randika dalam wadah botol. "Nih bawa."

Randika mbuka botol yang diberikan kakeknya itu dan lihat lebih dari 20 butir kapsul berwarna rah di dalamnya. Aroma obatnya sedikit aneh tetapi entah kenapa enak untuk dihirup.

"Apa ini kek?" Randika ngambil satu kapsul dan lihatnya dengan seksama.

"Itu obat untuk ngontrol penyakit di dalam tubuhmu, tetapi bisa dikatakan obat itu sebagai sarana pembantu." Kata kakek ketiga.

"Sarana pembantu bagaimana?" Tanya Randika.

Kakek ketiga mbelai jenggotnya. "Jujur saja, penyakitmu ini sangat misterius. Selama ini kakek ngobatinya dengan banyak ekstrak bahan alami tetapi kali ini kakek makai tode yang beda. Kakek manfaatkan tode harmonisasi Yin dan Yang untuk nekan laju penyakitmu itu."

"Harmonisasi Yin dan Yang?" Semakin dia ndengar, semakin dirinya bingung.

"Setiap 15 hari kamu wajib minum 1 butir. Setelah minumnya, kamu bisa berhubungan dengan perempuan lebih banyak lagi. Obat ini akan nahan gejolak penyakitmu ketika berhubungan badan."

Jadi serangan ndadak itu ada hubungannya dia berhubungan badan dengan perempuan?

Randika makin bingung.

Kakek ketiga nambahkan. "Tapi obat ini miliki efek samping, setelah minumnya nafsu birahimu ningkat dan kamu akan rasakan seluruh tubuhmu njadi panas. Kamu tidak akan bisa ngontrol nafsumu itu."

Randika ngangguk dan lihat kapsul obat itu lalu berkata dengan wajah serius. "Kek, apa kakek tidak salah buat obat untuk vitalitas pria?"

"Bajingan, gitu caramu berterima kasih? Kamu kira kakek perlu barang begituan?" Kakek ketiga sudah njewer telinga Randika saking marahnya.

"Ah, ah, sabar kek aku cuma bercanda. Habis penjelasan kakek tadi seperti mberiku obat perangsang." Randika tersenyum. "Jadi mang serangan ndadak kemarin itu berhubungan dengan perempuan ya?"

Kakek ketiga ndengus dingin. "mang obat ini mirip obat perangsang, tetapi efeknya sama sekali tidak bisa dibandingkan. Itu cuma nurut kakek saja, obat itu juga akan nyerap tenaga dalam yang bersifat lembut pada dalam diri perempuan. Untuk ndapatkannya kakek tidak perlu njelaskannya kan? Semakin kau nabrak rahimnya semakin bagus."

Randika terkejut, berarti semakin dalam penetrasinya semakin bagus? Kakek ketiga mang terbaik!

Tetapi Randika ngerti teori kakeknya ini. Senjak dia berhubungan badan dengan Inggrid, dia semakin mudah terangsang dan badannya cepat njadi panas ketika hanya foreplay.

"Sudah itu saja dari kakek. Sudah sana cepat pulang, nanti balik lagi ke sini kalau obatmu sudah habis." Kata kakek ketiga.

......

Setelah sampai di kota Cendrawasih, hari sudah malam. Randika langsung nuju rumah tanpa mampir-mampir. Ketika dia sampai di ruang tamu, Inggrid terlihat sedang duduk di sofa.

Randika tidak bisa berhenti tertawa di dalam hatinya. Dia ingin ncoba dan rasakan efek samping dari obat kakeknya itu.

Setelah minumnya, Randika langsung rayap ke sofa. Dari belakang dia nutup mata Inggrid.

"Tebak siapa aku?" Randika nyamarkan suaranya.

Inggrid tersenyum dan nyingkirkan tangan Randika. "Siapa lagi kalau bukan kamu?"

Di balik semua ini, terlihat perubahan dalam diri Inggrid.

Tangan Randika yang disingkirkannya ternyata Inggrid taruh di atas dadanya!

"Istriku mang ngerti aku, suamimu ini sudah rindu denganmu." Randika tersenyum dan mulai remas kedua dada Inggrid.

APA!? Tambah besar lagi?

Kekenyalan dan ukuran ini benar-benar luar biasa, apakah istrinya ngalami masa puber lagi?

Randika tertawa. Namun pada saat ini wajah Inggrid sudah rah dan dia berdiri. "Jangan aneh-aneh dulu. Hannah sebentar lagi pulang."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 167: Kakek Yakin Itu Bukan Obat Perangsang? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.