Font Size
15px

Sambil nahan rasa sakitnya, boneka ginseng itu mberikan Randika setetes darahnya. Ini adalah tetes darah ketiga yang diberikan oleh boneka ini. Pertama kali ia berikan untuk nyelamatkan nyawa neneknya Viona. Yang kedua Randika simpan di lemari rumahnya dan tetes ketiga ini berada di telapak tangannya.

"Ini untukku?" Randika natap boneka ginseng itu.

Boneka ginseng itu ngangguk pelan. Setelah mberikan darahnya pada Randika, boneka itu kabur sekali lagi. Rasanya ia berusaha ncari Indra.

"Apa itu?" Inggrid sedikit tertegun lihat fenona itu.

"Hahaha itu keajaiban dunia." Randika tersenyum dan nelan darah putih itu.

........

Keesokan harinya, reka tiba di bandara kota Cendrawasih. Randika, Inggrid, Indra dan Ibu Ipah berhasil ndarat dengan selamat.

Petualangan rebut Inggrid kembali dari Jakarta bisa dikatakan berakhir dengan sukses. Kedatangan kakek keduanya itu mbawa gelombang tersendiri pada keluarga Alfred dan Laibahas. Kedua keluarga besar itu sudah tidak berniat ngungkit masalah pernikahan Inggrid ataupun nyentuh Randika.

Setelah sampai di kota kesayangannya ini, Inggrid kepikiran dengan perusahaannya yang dia tinggalkan tanpa kabar itu. Jadi mau tidak mau dia harus masuk dan ngatur masalah yang ada. ngingat sifat pekerja keras istrinya itu, Randika lepaskannya. Tetapi sebelum reka berpisah, keduanya berciuman panas dan Randika ngingatkan Inggrid jangan pernah pergi tanpa kabar lagi.

Namun, Randika masih sedikit cemas. Dia lalu mohon pada Ibu Ipah untuk ngawasi Inggrid untuk hari ini saja karena dia sendiri harus ngantar Indra ke rumahnya.

"Bagaimana luka-lukamu?" Randika kemudian mbuka perbincangan dan mulai bertanya tentang kondisi adik seperguruannya itu.

"Aku tidak apa-apa." Kata Indra sambil tertawa.

Setelah diperhatikan, Indra mang pulih dengan cepat. Tenaga dalamnya yang seperti lautan itu mbantu proses penyembuhannya njadi jauh lebih cepat dari dirinya. Sekarang, dia terlihat tidak pernah terluka sama sekali.

Setelah mastikan Indra pulang dengan selamat, Randika kembali ke rumahnya.

mbuka pintunya, Randika nyadari bahwa ada seseorang sedang sibuk masukan bajunya ke koper. Ternyata itu adalah Hannah.

"Han, sedang apa kamu di sini?" Randika penasaran.

Hannah terlihat panik dan sibuk masukan bajunya ke dalam kopernya. Ketika dia ndengar suara, dia noleh dan nyadari bahwa itu adalah kakak iparnya.

"Kak! Kau datang tepat waktu. Bantu aku beres-beres." Kata Hannah sambil berkeringat.

"Kamu mau pergi ke luar kota?" Randika terlihat bingung.

"Bukan itu! Ibu Ipah ngirim pesan ke aku kalau kak Inggrid kembali ke rumah kita di Jakarta. Aku sejak lusa kemarin itu tidak gang handphone karena ada ujian jadi aku baru sadar pesannya Ibu Ipah. Jadi cepat bantu aku beres-beres agar bisa cepat nyusul kak Inggrid. Aku dari dulu selalu khawatir dengan nasib kak Inggrid." Kata Hannah sambil nahan air matanya, dia nyesal tidak bisa ndampingi kakaknya.

"Kamu sudah tidak perlu khawatir." Kata Randika sambil tersenyum. "Aku baru saja balik dari Jakarta, dan tentu saja aku mbawamu kakakmu itu bersamaku."

"Benarkah?" Hannah segera noleh ke arah Randika dengan wajah terkejut.

"Mana mungkin aku berbohong?" Kata Randika sambil tertawa.

"Jelaskan semuanya kak! Apa saja yang telah terjadi?" Hannah dengan cepat nghampiri Randika, dia tidak ingin ketinggalan cerita.

"Anak kecil tidak perlu tahu. Yang terpenting semuanya baik-baik saja dan kamu cuma perlu fokus dengan bisnis bajumu itu." Kata Randika.

"Ah ayolah kak, jangan seperti itu." Hannah dengan cepat kembali nggunakan jurus andalannya. Dia nyelipkan tangan Randika ke lembah dadanya dan nggosok-gosokannya.

"Baiklah, aku akan nceritakannya. Tapi aku capek berdiri."

"Jangan khawatir, aku akan mbawakanmu kursi."

"Tapi aku tidak bisa bercerita dengan pundak yang sakit."

"Jangan khawatir, aku akan mijatmu."

"Tapi aku tidak bisa bercerita dengan tenggorokan kering begini."

"Jangan khawatir, aku akan mbawakan kakak air."

Pada saat ini Hannah bagaikan pelayan yang matuhi semua permintaan Randika. Apa pun yang diminta kakak iparnya akan dilakukannya dengan senang hati.

Akhirnya di bawah olan Hannah, Randika sudah siap bercerita. Hannah dengan cepat duduk dengan manis, tetapi tatapan mata Randika jatuh di dadanya Hannah. Lalu keheningan yang ncekam itu pecah karena pertanyaan Randika yang di luar dugaan itu. "Dadamu makin besar ya? Kamu cup berapa?"

"Apa?" Hannah terkejut bukan main, dia langsung nutupi dadanya. "Kakak ipar mang pria sum!"

Plak!

Suara nyaring itu tentu saja Randika yang tertampar.

"Uhuk, maafkan aku. Jadi semuanya berawal dari Inggrid yang.."

Randika segera nceritakan segalanya pada Hannah yang sudah nenangkan diri. Cara bercerita Randika dibuat dramatis dan nonjolkan kekerenannya ketika nyelamatkan istrinya. Tetapi kejadian Inggrid hampir diperkosa tidak dia ceritakan demi njaga nama baik semua pihak yang terkait.

Hannah ndengarkan semua ini dengan berbagai macam ekspresi. Pada saat ini, tiba-tiba Inggrid dan Ibu Ipah sudah pulang.

lihat Inggrid yang datang, Randika berkedip padanya. Janji Inggrid di rumah sakit jelas akan ditagihnya.

Malam itu, Randika dan Inggrid mainkan roleplay di kamarnya. Randika njadi tuan dan Inggrid njadi pelayannya. Sedangkan apa yang terjadi di malam hari itu, lebih baik kita mbayangkannya masing-masing di benak kita.

...........

Keesokan harinya, Randika terbangun dan Inggrid masih tertidur pulas di lengannya.

reka bangun kesiangan karena tadi malam reka lakukannya hingga larut malam dan Inggrid terus minta lebih.

Ketika Randika lihat istrinya yang tertidur pulas itu, dia tidak bisa nahan senyumannya. Tangannya tidak sadar ngelus rambutnya dan dia ncium dahinya.

rasakan ciuman itu, Inggrid juga terbangun dan bertanya sambil masih setengah tertidur. "Jam berapa ini?"

"Jam 8.40." Kata Randika.

"Apa? Sudah hampir jam 9?" Inggrid njadi panik. "Ya ampun, hari ini banyak rapat penting di kantor."

Inggrid yang bugil dengan cepat bangun dan berpakaian. Randika sendiri masih nikmati mon indah ini dan terus mperhatikan istrinya yang imut itu.

Turun dari kasur, Randika luk istrinya.

"Sayang, ngapain buru-buru."

"Ini juga salahmu, kenapa kamu lakukannya sampai larut malam begitu." Inggrid yang panik itu segera berhenti bergerak dan ikut luk Randika. Tetapi Randika justru tertawa. "Bukannya kamu sendiri yang terlalu semangat saat kau berada di atas? Apa kamu lupa betapa liarnya goyangan pinggangmu itu tadi malam?"

Inggrid tersipu malu. "Pokoknya ini juga salahmu."

Inggrid lalu ncium Randika dan buru-buru turun.

"Ah, sayang tunggu aku! Aku juga harus ke kantor." Teriak Randika.

Ketika reka sampai di kantor, semuanya berjalan seperti biasa. Randika segera kembali ke ruangannya dan pagi itu berjalan dengan cepat.

Tidak terasa sekarang adalah waktunya pulang kerja. Ketika Randika hendak pulang, dia nyadari bahwa Viona sedang berbicara dengan teman-temannya.

Sambil rasa penasaran, Randika nghampirinya.

"Vi, ayo kita nge-gym sama-sama." Ajak salah satu temannya. "Banyak cowok cakep lho di sana."

Temannya yang lain tertawa. "Gini nih nasib orang jomblo, bukannya hidup sehat malah matanya yang main. Viona sudah punya pacar tahu. Kalau pak Randika tahu kamu ngajak Viona ncari cowok lain, bisa-bisa kamu dipecat!"

Semuanya tertawa sedangkan Viona hanya tersenyum.

"Bagaimana Vi? Ayo kita latihan bersama-sama. Apa kamu tidak mau mbuat pak Randika senang lihatmu makin kurus? Aku yakin pak Randika juga nge-gym sendiri."

"Eh yang gemuk di sini cuma kamu tahu! Viona langsing begini kamu omong gemuk?"

"Kalian sedang ngomongin apa?" Randika tiba-tiba nimbrung.

"Randika!" Ketika lihat pria yang dicintainya datang, Viona tidak bisa berhenti tersenyum. Teman-temannya ini langsung ngangguk bersamaan.

"Pak, ayo kita nge-gym sama-sama."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 164: Hari yang Damai on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Am the Fated Villain cover
Similar genre

I Am the Fated Villain

Fated Villain ·Harem

ImmediatelyafterGuChanggerealizedhehadtransgressedintoafantasyworld,theworld’sprotagonist,andfortune’schosen,vowedtotakerevengeonhim.Enviedbyall,he...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.