Di bawah tatapan semua orang, kedua kepala keluarga paling berpengaruh di Jakarta itu nghampiri si kakek. Seperti anak kecil yang patuh, reka berdua nundukan kepalanya dan nunggu instruksi lebih lanjut.
Jarak reka sedikit jauh dari kerumunan jadi tidak ada yang dapat ndengar apa yang dikatakan si kakek. reka hanya bisa lihat si kakek seperti sedang mberi nasihat pada kedua kepala keluarga itu. Jack dan Ivan ngangguk dengan semangat, takut kalau ngangguk pelan akan mbuat si kakek tersinggung.
Kemudian kakek kedua datang nghampiri Inggrid dan natapnya dari atas ke bawah.
Inggrid awalnya bingung harus berbuat apa, tetapi kakek kedua hanya tersenyum sambil ngangguk puas. "Kau adalah gadis yang baik."
"Jangan lupa bawa kedua orang itu ke rumah sakit."
Kemudian kakek kedua makai topinya dan pergi dari situ.
lihat kepergian si kakek, semua orang masih terdiam. Apa yang telah terjadi?
Setelah kakek itu pergi, kedua wajah Ivan dan Jack segera cerah kembali. Ivan dengan cepat mbawa orang-orangnya pergi dan Jack nutup rapat-rapat pintu rumahnya.
Dalam sekejap, hanya Inggrid, Randika dan Indra berada di halaman rumah keluarga Laibahas. Boneka ginseng yang daritadi bersembunyi akhirnya keluar dan ndatangi Indra.
Inggrid masih kebingungan, dia lalu tenggelam dalam pikirannya. Akhirnya dia bisa nyusun teka-teki ini, apakah kakek itu sedang riksa dirinya pantas untuk njadi nantunya?
Sambil nggelengkan kepalanya, Inggrid dengan cepat mbawa Randika dan Indra ke rumah sakit.
.....
Di rumah sakit, Randika dan Indra tidak berada di kamar yang sama. Alasannya sederhana karena luka yang dialami oleh Randika jauh lebih buruk daripada Indra.
skipun Indra bersimbah darah di seluruh tubuhnya, itu semua tidak berbahaya bahkan dengan sedikit perawatan luka-luka Indra itu dapat segera sembuh. Namun, kondisi Randika jauh lebih ngkhawatirkan. Luka-lukanya itu njalar sampai ke organ-organnya dan perlu perawatan ekstra.
Randika sekarang sedang berbaring di ranjangnya sambil ditemani Inggrid yang duduk di sampingnya. Seluruh ruangan VVIP ini dikhususkan untuk Randika.
Inggrid sedang ngupas apel dan Randika hanya natap Inggrid sambil terdiam.
"Dimakan ya." Kata Inggrid dengan lembut. Dia kemudian nyerahkan mangkok penuh apel pada Randika. Namun, Randika nggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Inggrid dengan wajah bingung.
Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Tubuhku sakit semua dan tanganku tidak mau bergerak. Tentu saja aku berharap istriku yang cantik itu nyuapiku."
Inggrid tersipu malu, tetapi dia tidak nolaknya. Dia ngambil sebuah apel dan nyerahkannya pada Randika.
"Sayang, bukan begitu caranya nyuapi." Randika tertawa, senyuman nakalnya segera naik.
"Terus bagaimana caranya yang benar?" Inggrid terlihat bingung.
"Tentu saja dengan mulut." Kata Randika sambil tersenyum.
Inggrid terlihat ragu-ragu.
"Apa yang kamu takuti? Bukankah hal yang wajar seorang istri nyuapi suaminya? Sudah jangan takut, kalau ada yang berani macam-macam kuhajar reka." Kata Randika sambil mperhatikan bibir lembut Inggrid. Setelah rasakan buah terlarang itu, dia semakin ndambakan bibir Inggrid lagi dan lagi. Dia tidak sabar ncicipinya lagi.
Wajah Inggrid sudah benar-benar rah. Setelah ragu sedikit, dia nggigit sepotong apel dan nyuapkannya pada Randika dengan mulutnya.
Randika, tentu saja, ngambil apel itu tanpa ragu sekaligus rasakan bibir istrinya.
"Benar-benar enak." Randika ngangguk. Tetapi dia masih belum puas.
"Sayang, aku masih lapar." Kata Randika.
Inggrid tidak nolak, lagipula Randika adalah suaminya.
Inggrid kembali ngambil sepotong apel dan mberikannya mulut ke mulut.
Kali ini, Randika tidak mbiarkan bibir Inggrid kabur. reka berciuman kurang lebih 2 nit.
Ketika rasa istrinya itu kehabisan napas, Randika lepasnya.
lihat wajah Inggrid yang tersipu malu, Randika rasa puas. Lagipula dia tidak boleh lakukan hal yang berlebihan.
Randika mang pria yang mikirkan perempuan selama 24 jam dalam hidupnya tetapi dia adalah orang yang berpengertian. Bisa dikatakan dia adalah lelaki sum yang jenteln. Semua ada tempat dan waktunya, bahkan dia tidak ingin lakukannya di tempat umum. Suasana intim dan romantis adalah kunci ndapatkan pengalaman nyenangkan.
Randika lalu natap Inggrid sambil tersenyum. Semua perjuangannya itu benar-benar sepadan.
Inggrid juga natap Randika, dan ketika dia natap senyumannya Randika itu, entah kenapa hatinya jadi terasa sakit.
"Maafkan aku."
lihat Inggrid yang tiba-tiba nangis, Randika njadi panik. Dia tidak tahu ngapa Inggrid nangis.
Randika duduk dan ngangkat wajah Inggrid yang tertunduk. "Sayang, kenapa kamu? Jika kamu masih ada masalah, katakan saja padaku."
"Ini semua salahku, aku seharusnya tidak ninggalkanmu seperti itu. Kamu pasti kecewa denganku." Kata Inggrid terbata-bata.
Randika nghela napas, istrinya ini terkadang bodoh!
"mang kamu yang pergi ndadak itu salah, aku harus nghukummu. Kamu ingin dihukum sekarang atau nunggu aku pulang?" Kata Randika.
Inggrid ngangkat wajahnya, ekspresinya terlihat bingung.
Randika luk Inggrid dan ngusap rambutnya. Perasaan hangat ini mbuat Inggrid serasa layang ke awan.
Berbisik di telinga Inggrid, Randika dengan mudah mbuat Inggrid tersipu malu. "Sepertinya aku harus nghukummu sesuai hukum keluarga kita."
"Sekarang kamu tidak perlu nyalahkan dirimu seperti itu. Apa yang perlu kamu lakukan sekarang adalah nyuapiku apel." Kata Randika.
Inggrid tersipu malu, namun hatinya sudah tidak dingin lagi. Setelah beberapa suapan, Randika tiba-tiba ngatakan. "Sayang, sejak kapan kamu tumbuh begitu besar?"
"Apanya?" Inggrid sedikit bingung, tetapi ketika lihat tatapan Randika berada di dadanya, dia langsung ngerti arti kata-kata Randika.
Randika kemudian ngulurkan tangan kanannya dan Inggrid segera nahannya. "Sayang, ini rumah sakit. Nanti kalau di rumah aku akan mbiarkanmu rabanya setiap saat."
ndengar kata-kata nakal Inggrid ini, Randika tersenyum. "Kalau ciuman boleh kan?"
Inggrid hanya ngangguk dan ncium Randika lagi. Namun ciuman ringan tidak dapat muaskan nafsu Randika. Kedua lidah reka segera laksanakan tugasnya.
Pada saat ini, sebuah suara seperti bayi tertawa mbuat reka berdua terkejut. Randika dengan cepat riksa seluruh ruangan dan nyadari bahwa boneka ginseng sedang duduk di ranjangnya. Ia lihat Randika dan Inggrid dengan wajah bingung dan penasaran sedang apa kedua manusia ini.
Yang njadi pertanyaan adalah sejak kapan boneka itu duduk di situ?
Bisa-bisanya boneka ini ngintip dirinya sedang bersraan?
Keduanya segera berpisah tetapi boneka ginseng itu seakan tidak terima. Ia terlihat seperti berkata "Teruskan, teruskan, aku masih ingin lihatnya!"
Kenapa ginseng ini seperti anak puber yang baru pertama kali lihat video porno?
"Apa kamu tahu bahwa ngintip itu adalah tindakan kejahatan?" Randika nggelengkan kepalanya. Boneka ginseng itu terlihat bersemangat, tidak tahu apa yang dikatakan oleh Randika.
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Randika dengan rasa penasaran.
Tiba-tiba wajah boneka ginseng itu terlihat kesakitan, tangan gemuknya itu lalu nyentuh telapak tangan Randika. Lalu di bawah tatapan mata Randika, setetes darah putih berupa manik-manik keluar dan jatuh di tangannya.
Reviews
All reviews (0)