Font Size
15px

Inggrid ngangguk dengan keras. Air matanya sudah turun dengan deras sambil mberikan senyuman pada Randika. Sambil ngusap air matanya, Randika luk Inggrid. "Kamu sepertinya nderita selama ini, ayo kita kembali ke rumah dan serahkan semuanya padaku."

Bersamaan dengan itu, Randika sudah nggandeng Inggrid dan berjalan keluar.

Semua anggota keluarga dan Jack hanya natap linglung ke arah reka. Keberadaan reka sama sekali tidak dipedulikan oleh Randika. Bagaimanapun juga, Inggrid adalah anggota inti keluarga Laibahas, bisa-bisanya dia kabur dari tanggung jawabnya?

Jack nampar ja yang ada di depannya. "Jangan bercanda! Inggrid jangan kabur lagi kamu!"

Tetapi sama sekali tidak ada tanggapan. Randika sama sekali tidak ngijinkan Inggrid noleh ataupun berhenti berjalan, dia akan mberikan kebahagiaan yang pantas buat Inggrid.

"Cepat hentikan reka!" Jack mulai neriaki bawahannya.

ndengar perintah itu, semua orang mulai bergerak. Tetapi ditatap tajam oleh Randika mbuat reka berhenti bergerak. Rasa takut dan ngeri mbuat reka tanpa sadar ngambil langkah mundur.

Randika tidak peduli lagi dan keluar nuju halaman rumah.

"Tidak akan kubiarkan kamu lari lagi!"

Jack benar-benar marah, baru pertama kali ada yang berani nyusup ke rumahnya ini dan nculik anaknya. "Semuanya ikut aku atau akan kubunuh kalian dengan tanganku!"

Semuanya dengan cepat ngikuti tuan rumah dan ngejar Randika.

Tepat di depan pagar, Randika natap Inggrid sambil tersenyum. Dia lalu ncium dahi Inggrid.

"Apa pun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu." Kata Randika dengan nada lembut.

Inggrid tersenyum dan ngangguk.

Jack secara tidak sengaja lihat adegan sra reka dan semakin marah.

"Siapapun tangkap reka!" Jack mbentak ke semua bawahannya. Kedatangan Randika itu benar-benar di luar dugaannya. Jika penyusup itu berhasil mbawa Inggrid pergi, dia tidak akan bisa njelaskannya pada keluarga Alfred. Bagaimana mungkin dia mbiarkan ini terjadi?

lihat kakak seperguruannya datang sambil nggandeng seseorang, Indra nggaruk kepalanya dan bertanya pada boneka ginseng yang ada di pundaknya. "Apa itu orang yang kakak ingin selamatkan?"

"Woo, woo, woo."

Boneka ginseng itu terlihat ngol pada Indra, maksud boneka itu jelas bahwa ia sendiri tidak tahu apa-apa.

Tetapi pada saat ini, di luar pagar rumah keluarga Laibahas, puluhan orang datang dan mbuka pagar rumah ini.

Ketika Jack lihat kerumunan orang itu, dia terkejut setengah mati. Kenapa keluarga Alfred tiba-tiba datang?

Bahkan Ivan sang kepala keluarga juga datang, di sampingnya juga nampak ahli bela diri miliknya.

Daya tempur kekuatan keluarga Alfred lebihi kekuatan milik keluarganya jadi tentu saja ahli bela diri atau bisa disebut tim pembunuhnya itu jauh lebih kuat daripada miliknya.

Dalam sekejap, pintu keluar sudah diblokir dan Randika sudah dikepung.

Ivan berjalan maju dan ndengus dingin, dia natap Jack dengan tatapan dingin. "Jack, aku tahu bahwa kita dulu adalah sahabat. Tetapi tindakan anakmu ini sudah keterlaluan!"

Jack sudah tahu bahwa sikap Ivan akan seperti ini, dia nghela napas dalam hati. Tetapi yang Jack tidak tahu adalah Ivan datang ke sini bukan mpermasalahkan pernikahan anak reka lainkan tentang Hans yang dihajar babak belur hingga masuk rumah sakit.

"Jangan khawatir. Aku akan mpersiapkan anakku Inggrid ini dan mbawanya ke rumahmu sore nanti. Aku tidak nyangka akan ada penyusup yang berusaha mbawa anakku kabur. Untung saja kalian semua datang, kalau tidak anakku benar-benar akan kabur." Nada bicara Jack benar-benar terdengar tidak berdaya.

Tatapan mata Ivan jatuh pada Inggrid. "Kamu adalah Inggrid? Kamu benar-benar lancang! Berani-beraninya kamu mbuat anakku babak belur sampai masuk rumah sakit? nurut penyelidikanku kamu juga sudah nikah, berani-beraninya kamu langgar perjanjian keluargamu!"

Ivan sudah benar-benar naik pitam, seluruh kebenciannya tertuju pada Inggrid.

Jack hanya terdiam, dia kehabisan kata-kata. Anaknya sudah nikah? Masalah ini rasanya semakin besar.

Ivan natap Randika dan ngacuhkannya, orang sekelas Ivan tidak peduli dengan orang luar. Namun pada saat ini, Randika berbicara.

"Apa kamu ayah dari Hans? Tidak heran sifat anakmu bisa sebusuk itu, kamu sendiri saja bisa dengan mudah mpercayai apa yang dikatakan anakmu itu."

Tatapan semua orang jatuh pada Randika.

Ivan kembali natap Randika, nada bicaranya penuh dengan nada rendahkan. "Kau siapa?"

Randika mbalas dengan santai. "Aku adalah suami Inggrid. Anakmu ingin nyentuh wanitaku dan sekarang dia tidak akan pernah bisa nyentuh wanita lagi."

"Ternyata kamu pelakunya!" Tatapan mata Ivan njadi penuh dengan amarah sekaligus kebencian. Ketika Hans dikabarkan masuk ke rumah sakit, Ivan ndapat kabar bahwa alat kelamin Hans sudah tidak bisa diselamatkan. Dokter mang bisa nyelamatkan fungsi alat kelaminnya sebagai alat ekskresi urine tetapi fungsi seksualitasnya sudah tidak bisa diselamatkan.

Ivan benar-benar baru pertama kalinya ngalami kejadian malukan seperti ini. Oleh karena itu, dalam sekejap dia sudah berangkat nuju rumah sahabatnya itu untuk minta penjelasan.

"Sudah untung dia kubiarkan hidup." Kata Randika dengan santai.

"Hahahaha." Ivan hanya nepuk tangannya sambil tertawa, ekspresinya benar-benar dingin.

"Hari ini aku akan ngulitimu hidup-hidup dan motong semua jarimu. Tenang saja aku tidak akan mbiarkanmu mati, setiap hari aku akan nyiksamu sampai kau berharap lebih baik mati!"

"Kau tidak akan bisa." Kata Randika sambil nghela napas.

Para bawahan Ivan sudah ngepung Randika dan tim pembunuhnya sudah ngeluarkan senjatanya. Kabur rupakan hal yang mustahil.

Setelah nyuruh Inggrid pergi ke tempat Indra, Randika natap Ivan dan ngatakan. "Lebih baik kalian semua nyerang bersamaan."

"Hari ini kita akan berpesta di atas tubuhmu!"

Semua orang njadi marah ketika ndengar ejekan Randika itu terutama tim pembunuh keluarga Alfred. Keahlian reka sudah bisa dikatakan terbaik di Indonesia dan orang itu nyuruh reka untuk nyerang bersamaan?

Pada saat ini, Indra yang bersama dengan Inggrid ndadak ninggalkan Inggrid dan berdiri di samping kakak seperguruannya. Dia rasa situasi berkembang ke arah tidak nguntungkan, dia dapat rasakan bahwa beberapa orang bahkan lebih hebat daripada dirinya.

"Tangkap dia!" Teriak Ivan.

Sesaat setelah perintah itu keluar, seluruh bawahan Ivan nerjang Randika!

Randika justru tersenyum dan terlihat bersemangat, inilah ketegangan perang yang sudah lama tidak dia rasakan!

ngibaskan lengannya, Randika mulai bergerak dan berhadapan dengan lebih dari 12 orang. Pada saat yang sama pula, beberapa orang juga nerjang ke arah Indra.

Indra juga masang pose nyerangnya, dia nggunakan kaki dan tangannya dengan maksimal. Satu orang berhasil nyerang perut Indra tetapi perut itu mantulkan kembali serangan tersebut sekaligus orangnya. Kemudian kedua siku tangannya terbuka dan nyerang dua lawan yang berusaha nikamnya dari belakang.

Indra dikatakan sebagai ahli bela diri jenius yang ada 100 tahun sekali. Belum lagi dia dilatih oleh kakeknya jadi kekuatannya benar-benar ngerikan. Setiap pukulan yang dia layangkan pasti nghasilkan suara tulang patah dari lawannya. Dan belum lagi ketika dia nghentakan kakinya, bumi ikut terguncang karenanya.

Sedangkan serangan lawannya, itu semua bagaikan sengatan semut baginya. Daging tebal Indra njadi tang tebal yang lindunginya.

Randika di lain sisi lebih luar biasa lagi. Nama Ares benar-benar cocok baginya, setiap langkahnya ninggalkan jejak mayat tak bernyawa! Pengalaman bertarungnya mbuat dia tidak miliki belas kasihan pada musuhnya. Setiap pukulannya akan mbuat lawannya pingsan atau mati!

Ivan ngerutkan dahinya lihat semua ini. Para bawahannya ini adalah para elit yang sudah lama lindunginya. Kekuatan reka benar-benar ditakuti oleh semua orang.

"Tuan, orang itu benar-benar kuat." Pengawal pribadi Ivan berbisik padanya.

Ivan nganggukan kepalanya. "Orang ini akan jadi penghalang kita suatu hari nanti."

Kemudian Ivan natap pengawal pribadinya itu dan ngatakan. "Albert, bawa orangmu dan lenyapkan orang itu sama teman gendutnya itu."

Tiba-tiba, para bawahan Ivan yang belum bertarung ikut ke dalam dan tempur. Benteng terakhir dari Ivan ini nerjang ke arah Randika dan Indra.

Randika masih sibuk nghabisi teri-teri yang ngepungnya. Tetapi tiba-tiba dia rasakan bahaya dari belakangnya dan langsung ngangkat tangannya.

Tangan kanan Randika berbenturan keras dengan tinju lawan barunya ini. Namun, bukanlah suara tulang patah yang terdengar, suara seperti besi berbenturan lah yang terdengar. Sepertinya lawannya ini bukan orang sembarangan.

Wajah pembunuh ini benar-benar dipenuhi dengan keterkejutan, tetapi dia tidak mbiarkan rasa kagetnya itu numpulkan reaksinya. Sesaat kemudian dia langsung nendang ke arah Randika. Saat Randika ingin nyerang balik, dia rasakan rasa bahaya dari kiri dan kanannya. Dia dengan cepat ngambil langkah mundur dan berusaha nilai situasi yang dihadapinya. Namun, yang mbuatnya terkejut adalah serangan dari arah belakangnya.

Randika dengan cepat nghindarinya, dia benar-benar terkejut ketika nyadari ada 6 orang kuat yang nyerangnya secara bersamaan. Setiap dari orang tersebut lebih kuat daripada 4 pembunuh milik Jack. Serangan kombinasi keenam orang ini benar-benar ngerikan.

Terlebih lagi, luka di tubuh Randika mulai mberontak lagi. Dia tidak bisa nggunakan seluruh tenaganya untuk bertarung, hal ini mbuat Randika ngerutkan dahinya.

Para bawahan Ivan yang masih berdiri juga tidak berhenti nyerang dan nguras tenaganya. Pada saat yang sama, keenam pembunuh itu berbaur dengan lautan manusia dan berusaha ndekati Randika secara diam-diam.

Di lain sisi, Indra dikepung oleh Albert dan bawahannya. reka semua nggunakan pisau tajam untuk ngatasi pertahanan Indra.

Sepuluh orang ngepung Indra secara bersamaan, Indra yang terpojok hanya bisa bertahan. Ketika Indra sibuk layangkan pukulan, Albert lihat kesempatan dan berhasil nancapkan pisaunya ke kepalan tangan Indra!

Indra rasakan rasa sakit yang luar biasa, namun pada saat ini, dia rasakan tubuhnya tertindih. Ternyata sudah ada 3 orang yang manfaatkan kelengahan Indra untuk loncat dan berpengangan di punggungnya. Ketika Indra mberontak, ketiga orang ini nancapkan pisaunya.

Tiba-tiba, mata Indra sudah rah.

Di lain sisi, lautan manusia masih ngepung dan nyerang Randika.

Pada saat ini, Randika ndengar raungan Indra. Ketika dia noleh, dia lihat Indra sudah bersimbah darah dan terlihat berlutut.

"Indra!"

Randika kehilangan fokusnya, keenam pembunuh lihat celah ini dan nyerang!

Pada saat bersamaan, keenam pembunuh ini keluar dari kerumunan dan lancarkan serangan pamungkas.

"Kena kau!"

Randika raung keras dan seluruh tubuhnya tiba-tiba mancarkan tenaga dalamnya dengan kuat, seluruh tubuhnya diselimuti dengan aura mbunuh yang pekat!

Keenam pembunuh itu terkejut dan bermaksud untuk mbatalkan serangan reka. Tetapi semua itu sudah terlambat. Serangan Randika sudah bagaikan petir, dia dengan cepat lancarkan 100 serangan sekaligus!

Keenam pembunuh ini sama sekali tidak punya kesempatan untuk bertahan dan pingsan di tempat.

Mata Randika juga rah, di hadapan seorang Dewa Perang, hanya ada kematian!

lihat Randika yang datang, Albert dan bawahannya tidak bertindak gegabah dan mundur beberapa langkah.

"Kau baik-baik saja?" Randika berhasil nghampiri Indra dan langsung ngeluarkan jarum akupunturnya untuk nekan lukanya.

"Tenang saja kak, aku tidak apa-apa." Indra tersenyum sambil nahan rasa sakitnya. Wajahnya sudah pucat pasi dan napasnya sudah tidak teratur, dia benar-benar terluka.

"Berani-beraninya kau berbuat seperti ini!" Randika kembali raung dan nerjang ke arah Ivan!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 161: Perang on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.