Ketika Randika nciumnya, rasa lembut itu langsung ngisi dirinya.
Bagi Inggrid tubuhnya justru terasa kaku beberapa saat, tetapi kemampuan Randika dalam mimpin sangatlah bagus. rasakan ketegangan yang dimiliki Inggrid, Randika tidak langsung bermain dengan lidahnya. Dia berusaha mbuat Inggrid nikmatinya dan mbuatnya tenang dulu, kelembutan ini mbuat Inggrid makin lama makin tenang dan mulai nikmatinya.
Sebelum malam ini, Inggrid selalu lawan ketika dicium oleh Randika. Kali ini dia benar-benar nggunakan hati dan jiwanya bersatu dengan pria yang dicintainya. Dia benar-benar tenggelam dalam sensasi ini, tetapi sekarang dia minta lebih.
Awalnya Randika lah yang ngatur tempo tetapi sekarang Inggrid lah yang semakin liar. Inggrid semakin erat luk Randika dan mulai mainkan lidahnya. Pada saat yang sama, Randika makin mbuatnya leleh dengan kemampuan nciumnya.
Randika dengan ganas njelajah seluruh tubuh Inggrid, setiap inci tubuh ini, setiap tarikan napas, semua hal yang ngenai Inggrid adalah miliknya. Tangannya tidak pernah berhenti nyerang dada Inggrid. Rasa empuk yang luar biasa itu ngisi penuh tangannya, skipun masih dibalut oleh beha keempukan itu sama sekali tidak berkurang.
Puting Inggrid sudah lama ngeras berkat rangsangan Randika, seluruh tubuhnya seakan-akan njadi ringan dan bertambah panas.
Ciuman ini sudah berlangsung 1 nit, Inggrid benar-benar kehabisan napasnya. Randika sudah berniat untuk lanjutkan hubungan ini lebih lanjut.
Inggrid mbuka matanya dan lihat Randika sangat dekat dengan wajahnya. Randika tampak sedikit tertatih-tatih sambil tersenyum padanya. Namun, Inggrid sudah tidak bisa nahan desahannya ketika Randika kembali remas dadanya.
"Bagaimana sayang?" Kata Randika sambil tersenyum. "Apakah aku berhasil mbuatmu keluar?"
Inggrid tersipu malu, tentu saja dia sudah keluar lebih dari sekali. Ketika Inggrid ingin mbalasnya, mulutnya kembali ditutup oleh Randika.
Bagaikan badai, kedua lidah itu bertempur sekali lagi. Inggrid makin nggila dan makin antusias lakukannya. reka mulai berguling sambil terus berciuman, kadang Inggrid di atas, kadang Randika yang di atas.
Setelah foreplay selama itu, Randika rasa bagian bawahnya sudah mulai sakit dan ingin ledak. Dia mulai mbuka bajunya. Setelah bajunya terbuka, dia segera mbuka celananya.
lihat Randika yang mbuka bajunya di atasnya, Inggrid kembali nutup matanya. Tetapi rasa penasaran mbuatnya mbuka matanya, dia ingin lihat tubuh telanjang Randika. Dan tentu saja, dada bidang, perut sixpack dan otot-otot lainnya terlihat sungguh nggoda. Mau tidak mau Inggrid sedikit rasa kagum, tetapi tiba-tiba Randika mbuka celana dalamnya!
"Tidak!"
Inggrid malingkan wajahnya, dia masih belum siap lihat pemandangan vulgar itu.
"Sayang, jangan khawatir. Bukalah matamu dan lihatlah." Kata Randika dengan nada yang lembut.
"Tidak mau"
Inggrid masih nutup matanya, dia masih rasa malu.
Randika tidak terburu-buru skipun hawa nafsunya sudah ncapai puncaknya. Dia kembali nindih Inggrid dan nciumnya kembali. Kali ini, dia bekerja dari atas dan mulai turun ke bawah. Pada saat yang sama tangannya sudah lucuti pakaiannya Inggrid.
Piyama itu mulai terbuka dan sekarang hanya tinggal beha dan celana dalam Inggrid yang nghalangi Randika.
Satu set beha dan celana dalam berwarna biru itu benar-benar nggoda. Di balik semua itu, ada keindahan yang sudah lama dinantikan oleh Randika.
Randika kembali natap Inggrid dalam-dalam. Pada saat ini Inggrid masih nutup matanya, dia benar-benar mpercayakan semuanya pada Randika.
Randika ncium pundak dan leher Inggrid, kemudian dia mulai turun ke bawah dan ncapai ke bagian dada.
Bersamaan dengan desahan erotis dan keadaan yang makin manas, malam ini ditakdirkan akan njadi malam pertama bagi pasangan suami istri ini.
.............
Hari berikutnya, Inggrid terbangun dan mbuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah Randika yang tersenyum sedang ngelus rambutnya.
Sambil rasa malu, Inggrid bertanya. "Kenapa?"
"Aku cuma tidak nyangka, kenapa istriku tercinta begitu cantik." Kata Randika sambil tertawa. Setelah hubungan badan reka yang pertama, sifat Inggrid benar-benar telah berubah. Sebelum ini Inggrid bagaikan sosok orang dewasa yang keras, bagaikan bunga yang kehilangan kecantikannya skipun bunga itu terkenal cantik. Tetapi setelah kejadian semalam, bunga itu berhasil kar dengan sempurna dan mancarkan keindahannya pada dunia. Istrinya jadi jauh lebih cantik.
Randika yang rasa bahagia ncium kembali Inggrid, yang tentu saja disambut dengan baik.
"Sayang, kamu mau lakukannya lagi?"
Randika berbisik di telinga Inggrid.
"Tidak!" Inggrid tersipu malu dan nolaknya dengan cepat. Tubuh bagian bawahnya masih terasa sakit.
Tubuhnya benar-benar rasa kebas, butuh beberapa saat bagi dirinya untuk nghilangkan rasa sakitnya ini.
Randika juga tidak terburu-buru, istrinya ini juga tidak akan pergi ke mana-mana.
Keduanya lalu tiduran lagi sambil nonton TV. Sambil berpelukan dan ngintip Inggrid yang masih bugil itu, nafsu Randika mulai naik kembali.
Dan ketika Inggrid makai pakaiannya, Randika masih berusaha ngajak Inggrid untuk lakukannya lagi. skipun kemarin reka lakukannya lebih dari 4x, tubuh Inggrid benar-benar mbuat Randika tidak bisa lupakannya.
Setelah berusaha dengan keras nolak Randika, kedua orang ini berpakaian dan turun ke bawah untuk makan.
Makanan sudah tertata rapi di atas ja, tetapi Ibu Ipah tidak terlihat. Sepertinya dia sedang pergi.
"Ayo sayang makan yang banyak," Randika langsung nyodorkan banyak makanan di piring Inggrid. "kamu harus mulihkan staminamu itu agar nanti malam kita bisa lakukannya lagi.
Inggrid nundukan kepalanya sedangkan Randika terlihat bingung.
Mungkinkah dirinya terlalu maksa?
Tetapi, Inggrid Elina sudah berubah. Dia sudah tidak marah-marah lagi terhadap kegenitan suaminya itu.
"Bukankah telur lebih bagus buatmu? Aku dengar-dengar itu lebih baik untuk vitalitas pria." Kata Inggrid.
"Tidak masalah, suamimu ini punya tubuh yang kuat. Aku bisa lakukannya seharian kalau aku mau." Kata Randika sambil berkedip pada Inggrid.
Inggrid langsung tersipu malu. Dia kembali ngingat malam pertama reka dan Randika yang terus nerus nghantam pistonnya itu. Inggrid rasa dirinya layang ke langit karena sensasi tersebut.
"Lagipula kamu pasti capek sekali kan kemarin? Aku sendiri tidak nyangka kamu akan seagresif itu. Nanti kita kembangkan lagi kemampuanmu itu." Kata Randika sambil tertawa.
"Apaan sih." Inggrid langsung malingkan wajahnya, wajahnya sudah benar-benar rah. Kemarin malam ketika suasananya makin nggila, Inggrid nindih Randika dan mulai bergerak sendiri. Dengan dirinya yang berada di atas benar-benar mbuat Inggrid bisa nemukan titik nikmatnya sendiri dan ngatur iramanya. Tetapi kata-kata Randika barusan mbuatnya dia tergeleng-geleng, kenapa bisa dia bertindak seperti itu?
lihat rona wajah rah di wajah Inggrid, Randika ingin nggodanya lagi. Sarapan ini benar-benar paling nyenangkan yang pernah reka berdua rasakan.
Setelah sarapan yang nyenangkan ini Inggrid natap Randika dan berpikir ketika dirinya ninggalkan Randika demi kembali ke keluarganya, apakah dia tidak bisa lihat sosok pria yang dicintainya ini? mikirkan hal ini mbuat Inggrid tidak bisa nahan rasa sedihnya itu.
Dia baru pertama kali rasakan rasa bahagia seperti ini dalam hidupnya, dia tidak ingin hubungan ini berakhir.
"Lagi mikirin apa?" lihat Inggrid yang ngerutkan dahi, Randika penasaran.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang mikirkan pekerjaan." Kata Inggrid sambil tersenyum.
Inggrid lalu berdiri dan ngatakan. "Aku hari ini akan ke kantor."
Namun, bukannya pergi ke lantai atas untuk berganti baju Inggrid justru nghampiri Randika.
"Hmm? Kenapa sayang? Masih belum puas?" Randika kemudian ncubit hidung Inggrid dan tersenyum.
Tiba-tiba, Inggrid ncium Randika! Ciuman ndadak ini mbuat Randika terkejut tetapi dia secara otomatis responnya.
Setelah 1 nit, kedua orang ini berpisah.
"Aku pergi dulu ya." Kata Inggrid.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Nanti aku akan nyusulmu, kalau aku datang dan lihatmu nyiksa diri lagi, siap-siap nerima hukumannya." Kata Randika sambil tertawa. Dia tidak nyadari air mata yang netes di mata Inggrid.
Hati Inggrid benar-benar terasa sakit. Sambil mbelakangi Randika, dia ngangguk. Perpisahan ini benar-benar mbuat dirinya tidak bisa nahan air matanya.
Setelah ngantar kepergian Inggrid, Randika benar-benar rasa bahagia. Dia rasa segar dan bertenaga, suasana hatinya benar-benar bagus. Bahkan luka internalnya sudah tidak pernah kambuh dan sup obat kakeknya itu benar-benar mbantu dirinya. Dia rasa dirinya telah bertambah muda beberapa tahun.
Dengan wajah gembira, Randika juga pergi dari rumah.
Namun, dia tidak langsung pergi ke kantor, dia nuju rumah sewaannya Indra.
Dia sudah lama tidak nengok adik seperguruannya itu. Dia tidak tahu kegiatan apa yang dilakukan oleh Indra akhir-akhir ini.
Ketika dia sampai di rumahnya Indra, dia bisa ndengar suara tawa yang keras.
Dan ketika dia mbuka pintu kamarnya, dia lihat Indra dan boneka ginseng sedang tertawa bersama.
lihat Randika, Indra langsung tersenyum. "Kakak seperguruan!"
Ketika boneka ginseng itu lihat Randika, ia juga bahagia. Dengan cepat ia manjat ke pundaknya Randika kemudian njulurkan tangannya yang gemuk dan putih itu. Dia mulai ncolek-colek pipi Randika.
"Geli tahu, hentikan!" Randika rasa tidak berdaya, boneka ini lama-lama makin nakal.
"Hah!? Kak, sejak kapan boneka ginseng ini akrab sama kakak?" Indra terlihat bingung. Selama ini kakak seperguruannya itu terobsesi dengan sahabatnya itu dan reka bisa dikatakan adalah musuh. Kenapa ndadak reka terlihat akrab?
"Aku dan boneka ini sudah saling mahami satu sama lain." Randika tertawa dan duduk di samping Indra. Boneka ginseng itu lompat dan ndarat di kepala Indra. Sepertinya ia paling nyukai kepala Indra sebagai tempatnya untuk tidur.
"Itu bagus sekali! Dulu kakak pernah ngomong mau makannya, untung kakak sudah bersahabat dengannya." Kata Indra sambil tersenyum. Tetapi ketika ndengar kata 'makannya', boneka ginseng itu terlihat kaget dan lompat-lompat di kepala Indra. Kedua tangan mungilnya njambak rambut Indra.
"Oh? Aku salah ngomong?" Tanya Indra.
"Omong-omong bagaimana perkembangan bela dirimu? Aku hari ini nganggur, aku bisa mberikanmu arahan." Kata Randika sambil tersenyum.
Mata Indra tampak berbinar-binar, dia kemudian berdiri. "Kakak baik sekali! Tolong lihat teknikku ini dan katakan di mana salahnya."
Indra yang tiba-tiba berdiri itu mbuat boneka ginseng di kepalanya langsung jungkir balik dan terjatuh di kasur.
Randika tidak bisa berhenti tertawa ketika lihat ekspresi sedih boneka ginseng tersebut. Sepertinya boneka itu pertama kalinya dicueki oleh Indra.
..........
Setelah ngajari Indra, Randika ninggalkan rumahnya Indra dan berjalan nuju kantornya.
Ketika dia sampai, Randika langsung nuju ruangannya seperti biasa. Saat dia sampai, Randika langsung disambut oleh para bawahannya.
"Pak Randika terlambat lagi, hati-hati pak nanti bisa-bisa dipecat."
"Bodoh kamu, atasan kok dipecat!" Semuanya tertawa ndengar lelucon ini.
"Oh? Pak Randika hari ini terlihat senang, habis main cewek ya pak?"
"Ceweknya pasti cantik ya pak, pantas rasanya dompet bapak terlihat tipis hari ini."
Para lelaki sum ini tidak pernah lepas dari guyonan sum, Randika tidak mpermasalahkannya. Justru lelucon seperti ini mbuatnya lebih dekat dengan bawahannya.
"Sudahlah, pak Randika ini pantas ndapatkannya. Lagipula uangnya juga banyak."
Randika kemudian tersenyum dan bercanda dengan reka. Namun, tiba-tiba ada suara mbentak datang dari belakang reka.
"Kalian ini ya, dilepas sedikit langsung malas. Sana kembali kerja."
lihat Kelvin yang datang, semuanya kembali bekerja. Kelvin sangat keras pada reka, semuanya takut padanya. Jika Kelvin mau, reka benar-benar akan dipecat.
Randika nyadari hari ini Viona tidak ada di tempat, rasanya dia masih cuti untuk rawat neneknya itu. Setelah mberikan arahan pada Kelvin, Randika segera berjalan nuju kantornya Inggrid.
Reviews
All reviews (0)