Font Size
15px

Ciuman pagi hari tadi benar-benar masih mbekas di bibir Randika. Bibir istrinya itu benar-benar lembut dan rasanya luar biasa nikmat.

Karena sudah tidak ada pekerjaan yang ndesak, tentu saja Randika ingin bersraan dengan Inggrid.

mbuka pintu ruangannya Inggrid, Randika tersenyum. Tetapi dia terkejut ketika lihat tidak ada orang di dalamnya.

Jarang sekali lihat Inggrid tidak ada di ruangannya jam segini. Apa dia sedang rapat?

Randika kemudian duduk di kursi Inggrid dan mutuskan untuk nunggunya di sini.

"Lama sekali rapatnya, aku lama-lama njamur." Setelah nunggu selama setengah jam, Randika sudah mbaca semua dokun yang ada di ja Inggrid dan Inggrid sama sekali belum datang.

"Kucari saja deh." Randika tidak mpunyai pilihan untuk ncari di mana Inggrid sedang rapat. Tetapi ketika dia sampai di ruang rapat, dia nyadari bahwa sama sekali tidak ada orang di sana.

Pada saat ini Randika sudah rasakan firasat buruk. Di manakah Inggrid? Kalau dia tidak rapat kenapa dia tidak ada di ruangannya? Apa dia pergi ke perusahaan lain?

Randika ngerutkan dahinya dalam-dalam, namun pada saat ini sekretaris Inggrid keluar dari salah satu ruangan.

"Kamu lihat Inggrid?" Tanya Randika.

"Tidak, bukannya Bu Inggrid hari ini tidak masuk?" Sekretaris itu ngerutkan dahinya. "Saya sudah nelepon handphonenya tapi sama sekali tidak diangkat. Bahkan aku rasa handphonenya mati."

Tidak masuk?

Firasat buruk Randika makin besar. Kalau Inggrid tidak masuk, kenapa dia ngatakan akan masuk ke kantor?

Dalam sekejap satu dugaan muncul di benak Randika, Inggrid ninggalkan dirinya!

mikirkan hal ini, Randika langsung berlari nuju pintu keluar.

"Pak, ada apa pak?" Sekretarisnya Inggrid itu benar-benar bingung lihat Randika yang tiba-tiba berlari. Randika tidak dulikannya dan cepat-cepat nuju lift. Hatinya sekarang dipenuhi dengan rasa cemas. Jika istrinya itu benar-benar ninggalkan dirinya, dia pasti akan ngambil barang-barangnya yang ada di rumah!

Randika dengan cepat berlari nuju rumahnya, kecepatannya benar-benar bagaikan cahaya. Orang-orang hanya bisa lihat sebuah bayangan hitam lewati reka, tidak ngerti sosok apakah itu.

Tanpa berhenti satu detik pun dan tidak peduli dengan tubuhnya, Randika berhasil ncapai rumahnya.

Saat dia masuk ke ruangan tengah, sudah tidak ada apa-apa. Semuanya telah kosong!

Randika langsung berlari ke lantai atas dan mbuka kamar Inggrid, kamar tersebut juga telah kosong.

Randika yang panik tidak bisa berpikir jernih, dia tidak tahu istrinya itu pergi ke mana.

Randika lalu duduk di sofa di lantai bawah. Pada saat ini, matanya tertuju pada sebuah kertas yang berada di atas ja.

Apabila diperhatikan, tulisan rapi itu ternyata adalah tulisannya Inggrid. "Terima kasih untuk selama ini, aku ncintaimu."

Randika terdiam ketika lihat tulisan itu.

Randika bingung kenapa Inggrid tiba-tiba ninggalkan dirinya, dia benar-benar cemas.

nemukan keberadaannya benar-benar rupakan hal terpenting untuk sekarang. Ke mana kira-kira Inggrid akan pergi?

Ah, Ibu Ipah!

Randika tiba-tiba teringat dengan pembantu super satu itu, dia pasti tahu ke mana Inggrid pergi. Dengan cepat Randika berlari ke kamar Ibu Ipah. Namun, ruangan tersebut juga kosong.

Randika benar-benar rasa tidak berdaya. ngingat-ingat pagi tadi, kelakuan istrinya itu benar-benar tidak biasa. Kenapa dia tidak nyadarinya?

Sambil rasakan darahnya ndidih, Randika ngepalkan tinjunya.

Aku tidak akan lepasmu begitu saja. Walau ke ujung bumi, aku akan nemukanmu!

Namun, Randika tidak bisa lakukan semua ini sendirian. Dia harus ncari bantuan. Dia lalu teringat pada Elva dan Deviana, minta bantuan reka pasti akan nghemat waktunya. Tidak tahu cara untuk nghubungi Elva, Randika mutuskan untuk nemui Deviana. Dia akan minta bantuannya dan riksa kara di bandara dan stasiun kereta api.

Tanpa ragu-ragu, Randika berlari nuju kantor polisi di mana Deviana berada.

Di kantor polisi, dua polisi sedang asyik ngobrol. Randika tiba-tiba ndobrak pintu masuk.

"Hei, kamu tidak bisa ndobrak masuk begitu saja." Kata seorang polisi yang marah terhadap Randika.

"Aku ncari Deviana." Kata Randika dengan napas tertatih-tatih.

"Dia mang ada di sini, kamu siapanya ya?"

ndengar basa basi ini, Randika tidak punya waktu dan langsung nerobos masuk.

"Hei, kamu tidak boleh masuk sembarangan." Kedua polisi ini segera ngejar Randika. Pada saat ini, Randika berhasil nemukan Deviana.

"Randika?"

Deviana terkejut ketika lihat sosok Randika, kenapa dia bisa ada di sini?

Pada saat ini, kedua polisi tadi akhirnya berhasil ngejar. "Pria ini nyarimu dan tiba-tiba nerobos masuk tanpa ijin. Apa dia mang kenalanmu?"

"Benar ini temanku." Kata Deviana sambil ngangguk.

ndengar respon Deviana, kedua polisi ini kembali ke posisinya semula. Namun pada saat ini, polisi muda yang ada di dekat Randika itu ngerutkan dahinya.

Mau apa pria tidak dikenal ini sama pujaan hatinya?

"Aku minta tolong carikan seseorang dari kara CCTV." Kata Randika.

Deviana natap Randika, dia tahu bahwa Randika sedang terburu-buru dan terlihat cemas. Tanpa berpikir panjang Deviana ngangguk setuju.

"Terima kasih!"

Polisi muda yang mperhatikan reka dari samping tiba-tiba rasakan firasat buruk. Dia sudah lama ngejar dan berusaha rebut hati Deviana tetapi dia tidak pernah ndapatkan respon yang bagus. Kedatangan pria tidak dikenal ini mbuat dirinya cemburu dan tidak rela lepas Deviana begitu saja.

Terlebih, kenapa tatapan pujaan hatinya itu terlihat lembut?

Hati Ruhul benar-benar rasa cemas.

"Dev, kamu tidak boleh mberi bantuan seperti itu pada orang asing." Ruhul tiba-tiba nimbrung.

"Tidak apa-apa, orang ini temanku. Dia sudah mbantu kita berkali-kali." Kata Deviana sambil ngoperasikan komputernya.

"Mau dia temanmu atau bukan, kamu tetap langgar peraturan." Kata Ruhul.

Deviana natap Ruhul dan berkata dengan nada dingin. "Aku akan bertanggung jawab kalau ada masalah."

ndengar kata-kata Deviana yang dingin, Ruhul sama sekali tidak bisa apa-apa.

Sedangkan Randika, dia tidak punya waktu dan tenaga untuk ladeninya. Pikiran dan tenaganya sekarang benar-benar terfokus untuk ncari Inggrid.

"Kamu ingin riksa kara pada jam berapa?" Tanya Deviana.

"Dari jam 8 pagi. Periksalah kara bandara terlebih dahulu." Jawab Randika.

Deviana ngangguk. Setelah nelepon beberapa kali dan nggunakan otoritasnya, video dari kara bandara Cendrawasih berhasil didapatkannya. Randika langsung lototi video tersebut.

"Percuma kamu ingin riksa itu dengan mata telanjang. Mana mungkin bisa kamu nemukannya di antara lautan manusia itu?" Sindir Ruhul.

Randika tidak njawab, matanya terfokus pada video tersebut dan sama sekali tidak lewatkan satu wajah pun. Jika Inggrid benar-benar ninggalkan kota, dia hanya punya dua cara : bandara dan stasiun kereta api. Namun, bandara seharusnya miliki persentase yang lebih besar.

"Hush, siapa suruh kamu berkontar?" Deviana ngangkat kepalanya, tatapan matanya benar-benar dingin. Kenapa Ruhul masih ada di sini?

"Aku hanya berkata apa adanya. Itu sama saja ncari jarum di tengah tumpukan jerami." Ruhul nghela napas.

Randika sama sekali tidak berkontar. Dia masih lototi layar komputer, kara keamanan benar-benar banyak. Namun, Deviana nyarankan Randika untuk berfokus pada pintu masuk. Jika orang yang dicarinya itu benar-benar pergi lewat bandara maka dia pasti muncul di kara pintu masuk.

"Siapa yang kamu cari?" Tanya Deviana.

"Inggrid Elina." Jawab Randika sambil terus lototi layar.

Deviana terkejut, Randika ncari bos perusahaan Cendrawasih?

Tetapi Ruhul yang di samping justru terlihat sedang tersenyum. "Bos perusahaan Cendrawasih nghilang? Kamu ini sungguh lucu. Kalau dia benar-benar nghilang bukankah itu sudah njadi berita nghebohkan dan kantor kita sudah penuh dengan wartawan."

"Kenapa kamu masih ada di sini? Pergi sana." Deviana sudah muak, wajah cantiknya sudah hilang.

"Aku cuma ngatakan yang sebenarnya." Ruhul nggelengkan kepalanya. Namun, lihat Randika yang tetap tidak njawab, dia makin besar kepala. "Kejujuran mang nyakitkan."

Deviana ndengus dingin, tetapi lihat Randika yang tidak berkontar dia hanya bisa pasrah.

"Ah, tapi aku sendiri penasaran. Apa hubunganmu dengan wanita tercantik dan terkuat di kota ini?" Ruhul makin besar kepala karena Randika sama sekali tidak lawannya. "Atau jangan-jangan kamu ini laki-laki yang ngincarnya juga? Dan Inggrid berusaha lepas darimu jadi dia ninggalkan kota ini?"

Api amarah mulai berkobar di hati Randika, tetapi dia harus fokus ncari keberadaan Inggrid. Dia sama sekali tidak punya waktu ladeni cecunguk!

"Hahaha atau jangan-jangan dia kekasih gelapmu? Dan sekarang setelah dia tidak puas denganmu dan kabur kamu berusaha ncarinya?" Ruhul tertawa keras dan pada saat ini, Randika yang sama sekali tidak berkontar akhirnya berbicara.

"Jika satu kata lagi keluar dari mulutmu, aku akan mbunuhmu." Aura mbunuh Randika mulai bocor!

Ancaman kosong itu mbuat Ruhul sama sekali tidak takut, dia justru tertawa. "Aku akan dengan senang hati lihatmu ncoba mbunuhku."

lihat Randika sama sekali tidak lawan, Ruhul makin njadi-jadi. "Aku heran kenapa kau masih ngejarnya? Bahkan kau sampai datang ke tempat ini dan ncarinya dengan susah payah. Kau tahu kenapa kau tidak bisa nemukannya? Karena dia sudah mbuangmu!"

Ruhul tertawa sekali lagi, tetapi, dia lihat Randika natap dirinya dengan tatapan mata seekor serigala. Suara tertawanya itu berhenti dengan cepat.

Kenapa tatapan pria itu seperti hewan yang buas?

Ruhul tiba-tiba rinding, dan pada saat ini, tiba-tiba Randika sudah berada di depannya!

Dalam sekejap, tangan kanan Randika sudah ncekik erat tenggorokan Ruhul. Kekuatan tangannya itu benar-benar mbuat Ruhul tidak bisa bernapas.

Dia rasa lehernya akan patah, tangan yang remas lehernya itu sama sekali tidak lemah.

KRAK!

Sepertinya suara tulang patah sebentar lagi akan terdengar keras. Ruhul sudah takut bukan main, dia natap Randika dengan ekspresi panik.

"Randika!"

Deviana dengan cepat berteriak, dia sangat paham kekuatan Randika. Dia khawatir Randika akan nggila lagi seperti kapan hari. Hari di mana dia mbuat atasannya makan peluru hingga masuk rumah sakit. Namun saat ini berbeda, Randika lakukannya di markas polisi dan di hadapan para polisi.

Polisi yang makan peluru itu, Rohim, sudah keluar dari rumah sakit dan ngundurkan diri tanpa njelaskan apa-apa. Dan sekarang Ruhul sedang dalam bahaya.

Randika sama sekali tidak berbicara, tangan kirinya tampak mukul perut Ruhul. Ruhul rasa nyawanya kian ndekati ujungnya dan rasa sakit di perutnya sudah hampir tidak terasa.

Deviana bisa rasakan niatan Randika yang hendak mbunuh Ruhul. Dia dengan cepat nahan Randika dan berbisik di telinganya. "Ran sudah, pikirkan Inggrid. Kamu masih ada tugas yang lebih penting."

Randika tidak njawab, dia hanya natap Ruhul yang layang itu. Para polisi sudah siaga ketika lihat adegan ini. Bahkan beberapa polisi sudah ncabut pistol reka dan mbidik Randika.

lihat wajah Ruhul yang sudah pucat pasi, Randika lepas genggamannya. Tiba-tiba Ruhul jatuh dengan keras di lantai.

Tanpa berkata apa-apa, Randika kembali duduk dan lototi layar komputer. Deviana akhirnya bisa bernapas lega.

Sedangkan untuk Ruhul, yang sedang duduk di lantai, bernapas dengan terengah-engah. Dia lihat sosok Randika yang diselimuti aura ngerikan itu, dia rasa bahwa pria itu bisa mbunuhnya kapan pun dia mau.

Ketakutan nyelimuti mata Ruhul dan rasa sakit di lehernya masih terasa. Belum lagi perut yang ditinju Randika tadi benar-benar nyakitkan.

Dia lalu berdiri denan susah payah dan ninggalkan tempat itu.

Randika benar-benar tidak peduli dengannya, matanya kembali fokus pada layar.

Pada saat ini, setengah jam sudah berlalu. Tiba-tiba Deviana berhasil nemukan sosok Inggrid. "Itu dia!"

Randika langsung mperhatikannya. Seorang wanita cantik dengan topi jeraminya dan seorang wanita paruh baya ngikutinya dari belakang.

Jelas reka adalah Inggrid dan Ibu Ipah!

Hati Randika langsung bergembira, akhirnya dia nemukan Inggrid!

"Bisa kamu periksa tujuan reka ke mana?" Randika natap Deviana.

"Tunggu sebentar, aku akan mintanya."

Randika nunggu dengan sabar, Deviana rlukan beberapa kali telepon. Setelah njelaskan situasi dan nggunakan otoritasnya sebagai penegak hukum, Deviana berhasil ndapatkan informasinya.

"reka berdua san tiket untuk ke Jakarta." Kata Deviana.

Tentu saja, kenapa Randika sama sekali tidak nyadarinya.

"Apa kamu akan ngejarnya?" Deviana natap Randika. Dia samar-samar nduga bahwa Inggrid adalah orang penting di hidup Randika.

Sambil ngangguk pelan, Randika ngatakan. "Terima kasih atas bantuanmu."

"Kamu sudah berkali-kali nolongku dan aku belum pernah berterima kasih. Kenapa sekarang kamu berterima kasih?" Deviana ngerutkan dahinya.

Randika sedikit terkejut, dia lalu tersenyum. "Kalau begitu, lain kali biarkan aku ntraktirmu makan."

"Nah itu baru Randika yang kukenal." Kata Deviana sambil tersenyum.

lihat sosok Randika yang pergi, Deviana rasakan akan ada badai yang landa kota ini.

Setelah pergi dari kantor polisi, Randika dengan cepat san tiket untuk ke Jakarta. Namun, tiba-tiba dia kepikiran soal Indra.

Indra datang bersamanya ke kota ini karena arahan kakeknya. Dia tidak tahu akan berapa lama berada di Jakarta. Jadi lebih baik dia ngabari keadaannya pada Indra.

Saat dia tiba di rumah Indra, dia lihat Indra sedang nyuapi boneka ginseng. Boneka itu sedang makan bubur, boneka itu disuapi Indra dan makannya dengan mulut kecilnya. Indra seperti ayah yang baru mpunyai anak.

"Lho kakak! Kenapa kau datang lagi?" lihat Randika yang tiba-tiba datang, Indra sedikit bingung.

"Aku ingin mberitahumu kalau aku akan pergi ke Jakarta sentara waktu. Aku tidak tahu kapan akan pulang." Kata Randika.

"Ngapain kakak mau ke Jakarta?" Indra tampak bingung, mau apa mangnya kakak seperguruannya itu pergi ke ibukota?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 157: Aku Tidak Akan Melepasmu Begitu Saja on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.