Inggrid kembali berusaha lawan, tetapi karena tangannya terikat dan ditindih oleh Henry, dia sama sekali tidak berdaya.
"Semakin kau lawan, aku semakin senang." Kata Henry sambil tertawa.
natap Henry dengan tatapan marah, Inggrid berteriak keras. "Bahkan seribu tahun pun, aku tidak akan tunduk dengan pria sum sepertimu!"
"sum? Aku suka dengan julukan itu." Kata Henry sambil tersenyum. Dia lalu mulai robek baju Inggrid, sudah tidak sabar lihat dada yang ada di balik baju tersebut.
Apakah kesucianku akan diambil hari ini?
Pemikiran seperti itu langsung terlintas di benak Inggrid. Tetapi di tengah keputus asaannya itu, sosok Randika tiba-tiba muncul. Dia dapat dengan jelas lihat sosok suaminya itu tersenyum padanya, hatinya lalu ngepal keras.
Akankah kau datang untuk nyelamatkanku?
Pada saat yang sama, di luar pintu ruangan, Randika masih bertarung dengan kedua pendekar andalan keluarga Alfred. Detik demi detik, aura mbunuh Randika semakin besar. Inggrid yang ada di balik pintu itu sudah pasti sedang nunggu dirinya. Aura mbunuh yang kian besar itu mbuat kedua pendekar ini ketakutan dan sulit bernapas.
ngepalkan tinjunya, tatapan mata Randika njadi serius. Dengan kecepatan cahaya, dia lesat ke arah kedua pendekar itu. Tangan kanannya yang bagaikan peluru dan jari-jarinya yang sudah penuh dengan tenaga dalamnya, lesat dan nusuk ke salah satu tenggorokan pendekar!
Pendekar itu sudah tahu dan siap dengan serangan tersebut tetapi dia tetap tidak bisa nghindar. Kecepatan Randika benar-benar jauh lebih cepat darinya.
Pendekar satunya benar-benar terkejut. Ketika dia ingin mbantu temannya, Randika nghantamnya dengan tinjunya hingga dia terdorong mundur.
Pukulan Randika benar-benar kuat, dia sama sekali tidak bisa berhenti mundur. Tahu-tahu dia sudah nabrak keras tembok.
Pendekar paruh baya ini ingin kembali berdiri tetapi rasa sakit yang nyakitkan mulai nguasai tubuhnya. Dan di saat yang bersamaan, Randika sudah berdiri di hadapannya.
lihat tatapan matikan Randika, pendekar ini ingin mohon ampun atas nyawanya. Tetapi Randika dengan keras nendang selangkangannya dan mbuatnya pingsan.
Sambil tangannya berlumuran darah, tatapan Randika jatuh pada pintu ruangan yang tidak terjaga.
Pada saat ini, Henry sudah neteskan air liurnya ketika lihat wajah tidak berdaya Inggrid. Dia sudah bersiap nurunkan celana dalamnya dan nanamkan benihnya.
Namun pada saat ini, dari arah pintunya terdengar suara ledakan yang keras. Pintu itu dengan mudah lepas dari engselnya dan natap tembok.
Henry terkejut bukan main, dia lalu natap ke arah pintu. Inggrid juga mbuka matanya, apakah itu benar-benar dia?
Sosok Randika muncul di mata reka berdua, Henry langsung ngerutkan dahinya. "Siapa kamu?"
Inggrid sudah natap Randika dengan perasaan bahagia dan setetes air mata. Dia benar-benar datang untuk dirinya!
Randika natap kedua orang itu di atas kasur, dia lihat istrinya hendak diperkosa oleh anak manja dari keluarga kaya itu. Rasa marahnya itu segera muncak dan mbuat udara bergetar. Dalam sekejap dia sudah berada di depan Henry dan nendangnya. Dengan cepat Henry tergeletak di lantai dan ringkuk kesakitan.
"Maaf aku terlambat." Tatapan mata Randika langsung lunak ketika berbicara dengan Inggrid, dia lalu lepas ikatan di tangannya.
Setelah lepas, Inggrid langsung luk erat Randika. Hatinya rasa lega dan air matanya tidak bisa berhenti.
Randika mbalas pelukannya itu dan ngelus-elus rambut istrinya.
"Maafkan aku, kamu ngalami semua ini gara-gara aku."
"Aku kira aku tidak akan pernah lihatmu lagi." Inggrid tidak bisa berhenti nangis. Apabila dia benar-benar diperkosa oleh Henry, Inggrid tidak pernah akan berani bertemu dengan Randika lagi.
"Sudah, sudah, tidak akan ada orang yang bisa misahkan kita lagi." Randika kembali nenangkan Inggrid. Dan pada saat ini, Henry mulai berdiri dan lihat reka berdua sedang berpelukan.
Henry lalu ndengus sambil ngatakan. "Ternyata si suami yang datang."
"Sayang, biarkan aku ngatasi orang itu dulu ya." Kata Randika sambil ngusap air mata Inggrid. Dia lalu datang nghampiri Henry.
"Apa Apa maumu?" Henry benar-benar ketakutan, celana dalamnya terlihat mulai basah.
"nurutmu apa yang akan kulakukan?" Randika natap anak kelima dari keluarga Alfred itu dengan tatapan jijik, nada suaranya penuh dengan ancaman.
Henry sudah rasakan niat mbunuh Randika yang luap-luap. Dia lalu berteriak. "Berani nyentuhku maka kau akan mati, aku punya anak buah yang mampu mbunuhmu hanya dengan satu jari!"
"Maksudmu dua kakek tua di luar itu?" Kata Randika dengan santai.
ndengar nada Randika itu, Henry mulai miliki perasaan tidak enak. Dia narik napas dan berteriak keras. "Oi tua bangka, ada musuh nerobos masuk!"
Setelah beberapa saat, tidak ada orang yang njawabnya.
"Orang mati tidak akan bisa ndengar suaramu." Tatapan Randika njadi dingin, dia lalu nampar Henry dengan keras. Dalam sekejap Henry rasa pusing dan salah satu giginya copot! Benar-benar kekuatan yang ngerikan.
Henry benar-benar rasa bumi berguncang, dia sudah tidak mampu berdiri lagi dan jatuh di tanah.
Setelah beberapa saat, Henry sudah kembali normal. lihat wajah ngerikan Randika itu, dia mulai njadi panik. "Kau tahu aku siapa? Aku adalah keturunan dari keluarga Alfred, kau tidak bisa nyentuhku! Jika kau macam-macam, keluargaku tidak akan tinggal diam."
ndengar ancaman kosong Henry itu, Randika hanya nggelengkan kepalanya. Semut tetaplah semut, di hadapan singa reka bukanlah apa-apa.
"Keluarga Alfred dari Jakarta?" Tanya Randika dengan wajah datar.
Henry rinding ketika lihat ekspresi Randika. Dia lalu ngatakan. "Benar, aku adalah anak kelima dari keluarga Alfred dari Jakarta. Sekarang, lepaskan aku atau kau akan nerima takdir yang lebih kejam daripada kematian."
"Oh ya? Kalau begitu aku akan mbunuh reka satu per satu." Tatapan Randika njadi dingin dan tanpa berpikir panjang, dia nginjak keras selangkangan milik Henry!
Dalam sekejap, suara telur pecah terdengar dengan jelas. Wajah Henry benar-benar pucat pasi seperti kertas. Randika sudah nghancurkan garis keturunan milik Henry.
"AGHH!"
Suara kesakitan seperti rintihan babi langsung terdengar, Henry rasakan rasa sakit yang bukan main. Dia gangi buah zakarnya dan berputar-putar di lantai.
Randika mastikan Henry tidak bisa lagi berbuat seperti ini pada wanita lain untuk selamanya.
Henry resmi njadi kasim, mungkin ini adalah waktu yang tepat baginya untuk bertobat.
"Sialan Kau Berani-beraninya kau!" Henry masih kesakitan, tetapi nggunakan sisa tenaganya dia natap Randika dengan tatapan kebencian. Dia ingin nguliti Randika hidup-hidup.
"Jika aku lihat kau masih ada di kota ini, aku akan mbunuhmu." Kata Randika dengan muka serius.
Setelah ndengar hal tersebut, Henry sudah tidak berani natap Randika.
Randika lalu berkata sekali lagi. "Kali ini aku akan mbiarkanmu pergi dari sini. Tetapi kalau kau ingin mbalas dendam, datanglah kapan saja dan aku akan ladenimu. Tetapi kalau kau berani nyentuh Inggrid ataupun keluarganya, aku akan mburumu dan keluargamu. Mayat kalian akan kugantung di depan rumah kalian!"
Reviews
All reviews (0)