Font Size
15px

Randika penasaran sedang apa belahan jiwanya itu sekarang.

Setelah berpikir sesaat, Randika mutuskan untuk ndatangi ruangannya Inggrid. Toh dia juga sekarang sedang nganggur.

Ketika dia ndorong pintu ruangan Inggrid, sekretaris Inggrid tiba-tiba keluar dan reka bertabrakan. Setelah minta maaf, sekretaris itu dengan cepat pergi.

Randika tidak terlalu mikirkannya dan masuk ke dalam ruangannya. Dia lihat Inggrid sedang gangi kepalanya sambil mbaca sebuah dokun.

"Sayang." Randika nghampiri Inggrid dan mulai mijat pundaknya.

"Kenapa?" Inggrid sama sekali tidak marah. Dia sudah terbiasa dengan hubungannya dengan Randika. skipun kesan Randika di dalam dirinya sama sekali tidak berubah yaitu tidak tahu malu, penuh hawa nafsu dan tidak tahu diri. Tetapi, Randika punya suatu pesona yang tidak biasa. Inggrid tidak bisa ngatakannya secara jelas tetapi perasaan itu tumbuh setelah reka hidup bersama selama ini.

Randika lalu berbisik di telinganya Inggrid. Sudah makan belum? Kenapa kamu terlihat sibuk setiap saat?"

"Kamu pikir semua orang bisa santai sepertimu?" Kata Inggrid sambil nghela napas. "Aku masih banyak urusan yang perlu penilaianku. Belum lagi rapat dengan perusahaan lain."

"Tugasmu sebanyak itu dan kamu belum makan? Sayang, skipun kamu sibuk kamu harus tetap makan. Cukup, sekarang kamu harus ikut aku dan kita akan makan bersama." Randika nggenggam tangan Inggrid, hendak ngajaknya pergi.

"Aku tidak punya waktu untuk itu." Kata Inggrid sambil marah-marah, dia kurang suka dipaksa seperti itu. Kemudian dia nambahkan. "Sekretarisku sudah aku suruh mbelikanku makan.

Randika, sambil tersenyum, duduk di seberang Inggrid dan natap istrinya yang sedang sibuk itu. Randika lalu ngatakan. "Sayang, aku tadi berhasil nyelamatkan orang saat nyari makan siang tadi."

"Hmm? Kok bisa?" Inggrid masih terus nulis sambil nyimak kata-kata Randika.

"Hahaha." Randika kagum dengan dedikasi istrinya itu, dia lalu bersemangat bercerita. "Jadi tadi aku lihat ada seorang bapak-bapak sedang berjalan dengan muka sumnya. Kamu tahu dia sedang apa? Dia sedang nggoda cewek dan mau ngajaknya ke hotel. Semua orang hanya malingkan wajahnya ketika lihat perempuan itu dilecehkan seperti itu. Tetapi kamu tahu kan sifat suamimu ini? Jelas sifat heroik dan titisan surga ini tidak bisa malingkan wajahnya dari kejahatan seperti itu. Jadi aku dengan gagah berani marahinya."

Inggrid kemudian natap Randika yang masih asyik nceritakan sepak terjangnya tadi siang itu. Sifat kekanakan itu terbilang lucu bagi Inggrid.

Randika masih tenggelam dalam fantasinya. "Tapi bapak-bapak itu masih saja tidak mau mundur, dan dia malah nantangku berkelahi! Kemudian aku mberi dia pelajaran agar tidak berbuat jahat lagi. Aku mberikannya pukulan seribu tangan hanya dalam 1 detik, aku juga tidak lupa nendangnya di kemaluannya agar tidak ada orang lagi semacam dia."

Setelah lihat ekspresi Inggrid yang biasa-biasa saja itu, Randika bertanya. "Sayang, bagaimana ceritaku tadi?"

Inggrid ngangkat wajahnya. "Aku rasa tahun depan kamu akan nang piala Oscar."

Yah bisa dibilang sindiran istrinya ini cukup ngena di hatinya.

Randika lalu sambil tersenyum ngatakan. "Tapi yang aku tidak habis pikir itu ya, orang itu sangat arogan dan tidak tahu malu. skipun dia sudah ringkuk kesakitan, sifatnya itu tidak berubah!"

"Oh ya? mangnya ada orang yang tidak tahu malu lebihimu?" Kata Inggrid dengan nada dingin.

"."

Randika rasa malu beberapa saat sedangkan Inggrid tersenyum ketika lihat Randika yang rah itu.

Bagi Randika semua ini sepadan, siapa yang tidak leleh lihat senyuman manis itu? Sekarang dia perlu lihat senyuman itu ketika reka di atas ranjang.

"Dan kamu tahu apa ancaman yang dia berikan?" Randika berdiri dan berdiri di belakang Inggrid.

"Apa?" Inggrid penasaran.

"Dia dengan sombongnya ngatakan bahwa dia berasal dari keluarga Alfred dari Jakarta, jika aku nyinggungnya maka aku akan ndapat akhir yang jelek. Dia juga nambahkan bahwa keluarga Alfred bisa nghancurkan kota kita ini hanya dalam semalam." Randika lalu nghela napas. "Bukankah orang seperti itu benar-benar sudah gila? Aku tidak ragu mukulnya biar dia bisa segera sadar dari halusinasinya itu."

Namun ketika Inggrid ndengar nama keluarga Alfred, badannya mulai getaran. Nama itu ingin dia kubur dalam-dalam di tanah dan lupakannya.

Apakah keluarga Alfred akan datang ke kota Cendrawasih?

Beberapa saat Inggrid tidak bisa berhenti getaran, dia sama sekali tidak siap.

"Hmm, kenapa sayang? Kamu kok terlihat takut begitu?" Randika nyadari tubuh Inggrid yang getaran itu.

"Ran, apa kata-katamu itu benar?" Inggrid nggigit bibirnya dan natap Randika.

"Tentu saja benar, ngapain aku bohong? Jangan-jangan kamu kira aku sedang ndongeng tadi?" Randika sedikit terkejut. Setelah bercerita dengan sepenuh hati, tega-teganya Inggrid ngira bahwa dia sedang mbual?

"Apakah kamu ndengar orang itu ngatakan keluarga Alfred dengan jelas?" Tanya Inggrid dengan wajah serius.

"Dengan pendengaran super suamimu ini, suara nyamuk 1 km jauhnya saja bisa terdengar. Tentu saja aku ndengarnya dengan jelas. Nama orang itu kalau tidak salah Yosef."

Ternyata benar!

Inggrid rasa tidak bisa ngontrol dirinya selama beberapa waktu. Bahkan dokun yang dia pegang sudah remuk karena tangannya. Dia benar-benar kehilangan fokusnya.

Bisa dikatakan bahwa dia pergi ke kota Cendrawasih ini dan mbentuk perusahaannya karena keluarga Alfred yang ada di Jakarta. Dan sekarang keluarga Alfred telah ngirim orang.

Bisa dikatakan bahwa kepentingan keluarganya lebih penting daripada kepentingan pribadi.

Inggrid berdiri sambil terhuyung-huyung. lihat tingkah laku Inggrid ini, Randika ngerutkan dahinya. Selama ini dia belum pernah lihat Inggrid panik.

Benar, seorang Inggrid Elina panik! Sepertinya ini berhubungan dengan keluarga Alfred dari Jakarta karena setelah ndengar nama itu, ekspresi Inggrid njadi berubah.

Berjalan nuju belakangnya Inggrid, Randika luk istrinya itu dengan kedua tangannya.

Tiba-tiba, aroma harum segera nyebar dan masuki hidung Randika. Sedangkan Inggrid rasakan tangan yang kuat yang bisa dia andalkan dan perasaan hangat yang mbuat hatinya bimbang.

"Sayang, ada apa?" Tanya Randika dengan lembut. "Aku tidak pernah lihatmu seperti ini."

"Tidak apa-apa." Inggrid mutar kepalanya dan berusaha tersenyum. Tetapi setitik air mata tidak bisa dia sembunyikan.

"Apakah kamu tidak percaya denganku?" Randika lalu berbisik di telinga Inggrid. "Kalau kamu tidak mau percaya denganku, apa perlu aku nghukummu dengan hukuman keluarga kita?"

ndengar kata-kata itu, Inggrid hanya tersipu malu.

"Apa ini berkaitan dengan keluarga Alfred dari Jakarta?" Tanya Randika.

Inggrid ngangguk pelan.

"Kenapa dengan reka?" Randika tidak tahu kalau Inggrid punya koneksi dengan keluarga Alfred.

Inggrid ingin njelaskan tetapi tiba-tiba dia ngurungkan niatnya.

lihat keraguan Inggrid, Randika ngerutkan dahinya. Pasti ada rahasia di antara Inggrid dan keluarga Alfred.

"Jangan khawatir, percayalah padaku." Kata Randika dengan nada nenangkan di telinga Inggrid.

ndengar ketulusan Randika, hati Inggrid terasa hangat. skipun Randika punya banyak kekurangan, dia punya kekuatan untuk mbuat orang rasa nyaman dan tenang, khususnya di tengah-tengah situasi berbahaya.

Mungkinkah ini adalah pesona Randika?

Inggrid lalu berputar sambil terus luk Randika. Setelah terdiam beberapa saat dia berbisik pada telinga Randika. "Apa kamu tidak takut?"

"Takut?" Randika berwajah bingung untuk sentara waktu. Lalu sambil ngusap rambut istrinya itu, dia ngatakan. "Sayang, ingat tidak saat kita pertama kali bertemu? Kamu ngancamku bisa lenyapkanku dengan ratusan cara. Pada saat itu aku sama sekali tidak takut dan ternyata yang aku takutkan hanya satu yaitu kehilangan dirimu."

ndengar kata-kata romantis Randika itu, Inggrid semakin erat luk Randika.

"Kamu adalah istriku, skipun langit nculikmu, aku akan ndaki dan nyelamatkanmu ski nyawaku adalah taruhannya." Randika lalu ngangkat kepala Inggrid. "Percayalah padaku."

"Masalah ini terlalu besar." Inggrid terlihat masih ragu. "Aku takut kamu akan mati apabila ikut terlibat."

"Sayang, jika kamu ragukanku sekali lagi aku akan mukul pantatmu." Kata Randika. "Jangan khawatir, serahkan semua masalahmu pada suamimu ini."

ndengar kata-kata Randika itu, Inggrid njelaskan. "Sebenarnya aku bukan berasal dari kota ini. Kota asalku adalah Jakarta dan aku adalah anggota keluarga Alfred."

Randika ndengar semuanya dalam keadaan diam. Dia tidak peduli dari mana asal Inggrid, yang terpenting sekarang dia adalah istrinya. Selama dia masih istrinya, tidak akan ada kekuatan di bumi ini yang bisa ngubah hal tersebut.

"Ketika aku masih kecil, entah dengan alasan apa, keluargaku nandatangani perjanjian dengan keluarga Alfred yang ngatakan bahwa aku akan nikahi salah satu dari keturunan reka. Bagiku, perjanjian sepihak itu sangat langgar hakku. Terlebih, aku tidak tahu siapa yang akan nikahiku."

"Kamu tidak tahu?" Tanya Randika.

"Benar, aku sama sekali tidak tahu. Dalam perjanjian itu tidak disebutkan anak yang mana hanya keturunan saja. Lalu keluarga Alfred mutuskan untuk nikahkanku dengan anak ketiganya."

ndengar penjelasan Inggrid ini, Randika kehabisan kata-kata. Hubungan seperti itu benar-benar tidak masuk akal, tega sekali keluarganya njual Inggrid seperti itu?

"Pernikahan seperti itu mbuatku muak." Inggrid nghela napas. "Apalagi aku sudah lihat sendiri tingkah laku anak ketiga dari keluarga Alfred itu, benar-benar seorang playboy."

Randika tidak heran dengan sifat dan perilaku dari anak-anak orang kaya. Dengan banyaknya uang dan dimanja oleh orang tua reka, tentu saja reka dengan bebas ncicipi perempuan manapun yang dia suka. Benar-benar kehidupan yang nyenangkan!

Ah, maksudnya benar-benar didikan orang tua yang salah!

Randika kemudian kembali ndengarkan penjelasan Inggrid. "Lalu aku mutuskan untuk ninggalkan Jakarta dan datang ke kota ini dan ndirikan perusahaanku sendiri. Aku kira aku bisa lari dari masalah itu tetapi ternyata aku nyeret keluargaku bersamaku. Aku juga tidak nyangka keluarga Alfred akan ngirim seseorang ke kota ini."

Randika mulai paham dengan seluruh situasinya, intinya istrinya ini kabur dari calon suaminya itu demi kebebasannya.

"Jadi itu masalahku." Inggrid lalu natap Randika. "Sayangnya kamu tidak akan bisa nghentikan kekuatan keluarga Alfred. Bagi orang-orang keluarga Alfred adalah puncak kekuatan, jika ada orang yang berani nyinggungnya maka reka akan mati. Aku rasa lebih baik kamu lari saja."

lihat ekspresi Inggrid, Randika tanpa sadar ngangkat tangannya dan nampar Inggrid.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 146: Keluarga Alfred on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.