lihat darah yang dirinya muntahkan, Yosef miliki ekspresi tidak percaya. Baru saja dia ngeluarkan serangan tercepatnya dan lawannya dengan mudah ntalkannya hanya dengan satu pukulan.
"Uhuk, uhuk!"
Yosef masih terus terbatuk sambil natap wajah tenang Randika.
Randika lalu berjalan nghampirinya. "Jadi kita bisa njadi orang suruhan keluarga Alfred dengan kemampuan sepertimu. Sayangnya aku ini jauh lebih kuat daripada ini. Kalau orang lain mungkin kau bisa nggertak reka."
Sambil tersenyum, Randika nggenggam tangan Yosef.
"Yang aku paling tidak suka adalah sikap sena-namu itu jadi kau harus nerima sebuah pelajaran. Kalau di hukum dunia bawah, pilih tangan yang mana?"
Yosef benar-benar ingin muntah darah lagi ketika ndengarnya.
"Aku adalah orang suruhan keluarga Alfred"
Bahkan sebelum Yosef selesai berbicara, Randika sudah nendang wajah Yosef hingga salah satu giginya copot.
"Coba tebak aku siapa? Aku adalah preman di kota ini, semua orang akan berputar kalau lihat aku." Randika ndengus dingin dan nendangnya lagi.
Rasa dominasi ini sudah lama tidak dia rasakan, masa-masa jayanya dia senang mukuli orang-orang arogan seperti Yosef ini.
"Tolong hentikan." Yosef sudah diambang batasnya. Rasa sakit ini benar-benar sudah tidak tertahankan. Kenapa hari ini tidak berjalan sebagaimana sestinya? Hari ini benar-benar mimpi buruk baginya, dia harusnya nikmati hari ini di pelukan polisi cantik justru sekarang dia dihajar oleh seorang bocah.
"Randika hentikan, sudah cukup. Kalau sampai ada yang mati maka masalah akan njadi rumit." Deviana dengan cepat nghentikan Randika dan nariknya. Bagaimanapun juga, pria itu adalah tamu kehormatan direkturnya. Keadaan benar-benar akan njadi rumit kalau dia sampai mati.
"Kalau bu Devi yang ngatakannya, aku akan mberimu wajah." Randika tertawa lalu berjalan berjongkok dan berkata pada Yosef yang masih ringkuk kesakitan di bawah. "Kenapa kau masih ada di sini? Cepat berdiri dan pergi dari sini."
Yosef, dengan perasaan malu, berdiri dan ngatakan dengan nada benci. "Ingat-ingat saja kejadian hari ini! Aku akan"
"Apa? Kau mau apa?" Randika dengan cepat nyela dan tangan kanannya sudah terangkat. Sepertinya dia akan mukul Yosef lagi.
lihat hal itu Yosef dengan cepat bergetaran. Lawannya kali ini benar-benar kuat, dia sama sekali tidak berdaya.
"Tunggu saja pembalasanku!"
Setelah berkata seperti itu, Yosef lari terbirit-birit tanpa lihat ke belakang. Kejadian berdarah ini mbuat penasaran staff hotel dan orang-orang yang lewat, tetapi pada akhirnya reka ncuekinya karena lihat ada seorang polisi di sana dan tidak ingin terlibat. Mungkin orang yang lari dan terluka itu seorang penjahat?
Deviana nutupi tawanya itu dengan kedua tangannya. "Kamu mang misterius."
"Kamu hanya nilai buku dari sampulnya saja, kamu masih belum ngenalku." Randika kemudian nghampiri Deviana dan nggandeng tangannya.
"Karena hari sudah siang dan aku masih belum makan, ayo kita lanjut ngobrol di tempat makan."
"Baiklah APA?" Deviana terkejut ndengarnya.
"Hmm? Bukankah tadi aku sudah ngatakannya? Aku ingin ngajakmu makan dan berbicara tentang masalahku, mungkin kita bisa mbahas yang lain juga." Randika lalu tersenyum.
"Siapa mangnya yang mau nemanimu?" Suasana hati Deviana kembali mburuk. "Aku tidak berjanji apa-apa padamu dan aku sedang sibuk. Aku harus laporkan kejadian ini."
Haloooo, bukannya aku barusan nyelamatkanmu?
Sepertinya saraf cinta perempuan ini benar-benar tumpul.
"Terkadang aku heran denganmu." Randika nghela napas lalu mbiarkan Deviana pergi. "Lupakan saja masalah hari ini, aku sudah capek."
ndengar kata-kata tersebut, Deviana rasa sedikit tidak enak. Dia lalu berputar dan berkata pada Randika sambil tersenyum. "Terima kasih atas bantuanmu tadi."
"Sama-sama, tetapi aku tidak akan lakukannya lagi." Kata Randika sambil berusaha terlihat keren.
"Ran, berhati-hatilah sama orang itu." Kata Deviana dengan wajah serius. "skipun aku tidak tahu asal-usulnya, dia miliki latar belakang yang kuat. Kalau tidak direkturku tidak akan nghormatinya sebegitu besar."
"Aku tidak peduli sama reka. Bahkan jika seekor naga yang datang padaku, aku akan ngulitinya. Terlebih lagi cecunguk tadi hanyalah seorang suruhan. Jika dia berani datang lagi maka aku jamin tubuhnya tidak akan ninggalkan kota ini utuh-utuh." Kata Randika.
Deviana mbalasnya dengan wajah marah. "Maksudku berhati-hatilah sama keluarga Alfred."
"Keluarga Alfred?" Randika miringkan wajahnya. "Aku tidak pernah ndengar nama itu, mangnya kamu pernah?"
"Aku tidak pernah ndengarnya tetapi tetap saja kamu harus hati-hati." Deviana rasa berbicara dengan orang bodoh.
"Jangan khawatir, bukannya keluarga itu cuma keluarga kaya lainnya?" Randika ngibaskan tangannya. "reka tidak akan bisa nyentuhku kalau aku tidak keluar dari kota ini."
"..."
Deviana sudah kehabisan kata-kata, kenapa bisa Randika bersikap begitu arogan?
"Pokoknya ingatlah kata-kataku tadi, aku sekarang harus pergi." Kata Deviana.
"Ah! Tunggu! Kenapa kamu terburu-buru begitu? Kita sudah tidak lama berjumpa." lihat Deviana yang hendak pergi, Randika dengan cepat ncegatnya sambil tersenyum.
Deviana sedikit rasa aneh dan mundur selangkah, tetapi pada saat ini, Randika berhasil rangkul pinggangnya. Kali ini Deviana tidak bisa kabur.
"Bukankah aku tadi nyelamatkanmu? Berdasarkan perjanjian kita, aku harus minta imbalan sebagai gantinya." Kata Randika sambil natap bibir mungil milik Deviana.
skipun Deviana tidak kalah cantik dengan Inggrid maupun Viona, karena rasa keadilannya yang tinggi dan pekerjaannya yang penuh dengan aksi, naklukan hatinya benar-benar lebih sulit daripada manjat langit.
Deviana awalnya mberontak dan berusaha lepaskan diri tetapi genggaman Randika ini benar-benar kokoh. Sambil tersenyum, Randika berkata padanya. "Sudahlah, ngapain kamu malu-malu begitu?"
Pada saat ini, sepasang tamu keluar dari hotel lirik reka terus mbuang tatapan reka. Sedangkan sepasang kakek-nenek yang sedang berjalan natap Randika dan Deviana hanya bisa bergumam.
Dasar anak muda, selalu ncari rangsangan baru. Sejak kapan ada orang yang suka roleplay dengan njadi polisi dan penjahat? Dunia ini benar-benar sudah njadi gila!
"Lepaskan aku!" Deviana terus-nerus lawan tetapi dia benar-benar bukan lawan Randika. Di tengah perlawanannya itu, bibir rahnya itu tiba-tiba dicium oleh Randika.
Ah!
Mata Deviana terbuka lebar dan untuk sejenak reka berdua tenggelam dalam dunia reka. Namun, setelah beberapa detik Deviana tersadar dan dia dengan cepat njadi marah. Bisa-bisanya Randika nciumnya!
Randika, tentu saja, tidak berhenti nciumnya sebelum dirinya puas. Setelah beberapa saat, dia mundur sambil nghindari tamparan Deviana dan berkata sambil tersenyum. "Dev, bibirmu terasa manis. Tadi kamu minum es campur?"
ndengar kata-kata itu Deviana semakin marah. Setelah ngoli Randika selama beberapa nit, dia dengan cepat ninggalkannya dengan wajah cemberut.
Dia sudah tidak ingin berbicara dengan Randika lagi, dia juga tidak peduli apabila Yosef akan mbalas dendam padanya.
Randika hanya nggelengkan kepalanya, dia lalu pergi ncari makan.
Setelah makan, dia kembali ke kantornya.
Saat dia kembali ke ruangannya, tidak ada pekerjaan sama sekali untuknya. Tugasnya hanya sebagai pengawas dan mberi arahan pada Kelvin, sekarang keadaan masih berjalan lancar jadi Randika tidak mpunyai pekerjaan.
Reviews
All reviews (0)