Font Size
15px

Seperti kata pepatah, "Di alas bagai ngat." [1]

skipun telah berkata seperti itu, Randika nunjukan sikap tidak peduli siapa orang itu yang sebenarnya. Yang jelas siapapun yang berani macam-macam sama ceweknya, jelas dia akan nghajarnya.

Ketika kata-kata Randika itu terdengar di telinganya, Yosef berdiri diam di tempatnya berdiri.

Matamu aku mirip penjahat, apa dia tidak lihat kalung emas 24 karat ini? Apa dia tidak lihat jam tangan Rolex Daytona yang hanya ada empat di dunia ini?

Jelas perawakannya adalah seorang pengusaha kaya ataupun seorang bangsawan, bisa-bisanya orang itu ngatakan dirinya penjahat.

Tatapan mata Yosef sudah dipenuhi dengan api kebencian, pertama kali dalam hidupnya dia rasa terhina seperti ini. Siapapun yang berani nghinanya tidak akan lihat matahari keesokan harinya!

Deviana rasa lega ketika dia lihat senyuman wajah Randika itu. Dia lalu mbalas sapaan Randika. "Benar-benar kebetulan bertemu denganmu hari ini."

"Iya kebetulan aku sedang ncari makan siang. Terus aku lihat Bu Devi sedang ngawal penjahat ini. Tapi kenapa ibu tidak mborgolnya? Kalau dia lari bagaimana? Bisa-bisa dia akan nyerang dan nyandera orang-orang!"

Saat di tengah perkataannya itu, Randika natap Yosef dengan wajah cemas dan khawatir. Akting Randika benar-benar patut diacungi jempol.

Kerutan dahi Yosef sudah tidak bisa bertambah lagi.

Dalam hatinya Deviana rasa senang, Randika mang jago mbuat malu orang.

"Orang ini bukan penjahat." Namun pada akhirnya Deviana harus njelaskan sebenarnya. "Beliau adalah tamu kehormatan atasanku, dan aku bertugas untuk ngawalnya beberapa hari ini."

"Tamu kehormatan?" Wajah Randika tampak terkejut. Dia lalu tertawa canggung. "Kalau begitu maaf atas kata-kataku yang kasar tadi. Habisnya wajahnya mirip seorang penja Ah maksudku bukan begitu, ini semua salahku jadi aku minta maaf."

Kesalahan? Kenapa dirinya rasa tindakan pemuda itu disengaja?

nahan rasa amarahnya, Yosef hanya ndengus dingin sambil ngatakan. "Aku maafkanmu kali ini, tetapi lain kali kamu nghinaku lagi maka nasibmu tidak akan sebaik ini."

Randika hanya natapnya sambil tersenyum. "Terima kasih pak. Anda benar-benar berhati besar, pasti Anda orang terkemuka yang murah hati. Tetapi kenapa wajah Anda terlihat bengis dan kejam seperti itu? Apa dulu Anda mantan preman?"

ndengar kata-kata Randika ini Deviana hampir tertawa lepas. Randika terus ngontari wajah pria ini yang terlihat kejam, khususnya bagian terakhir dari kata-katanya. Mana mungkin seorang tamu kehormatan rupakan mantan preman?

Ketika ndengar pujian di awal kata-kata Randika, Yosef sudah rasa di atas awan. Namun ketika ndengar kata-kata selanjutnya mbuat dia murka kembali dengan orang itu.

"Hmm apakah mukaku senakutkan itu?" Tanya Yosef sambil berusaha nenangkan diri.

Randika justru terlihat nggeleng-gelengkan kepalanya dan ngatakan. "Ah tapi orang tidak boleh nilai buku dari sampulnya. Tetapi wajah Anda mang nakutkan, aku khawatir anak-anak akan nangis kalau lihat wajahmu."

lihat Randika yang terus nerus berkontar negatif tentang, akhirnya Yosef sudah tidak tahan dan seluruh amarahnya itu luap-luap.

Dia tidak peduli dengan anak-anak dari kota ini, dia datang ke kota kecil ini hanya untuk berbisnis dan bersenang-senang dengan beberapa perempuan.

"Bu Devi kalau sedang senggang mungkin bisa nemaniku makan? Aku ingin mbahas masalah yang kapan hari." Randika pura-pura lihat jam lalu natap Deviana.

Deviana tahu Randika sedang mberinya jalan keluar untuk pergi dari tempat ini, tetapi dirinya masih terjebak di pilihan yang sulit.

lihat bahwa dirinya dicuekin, Yosef lalu berkata dengan nada dingin pada Deviana. "Jangan lupa masa depan kariermu ada di tanganku, kalau kau masih ingin njadi polisi maka kau harus nuruti kata-kataku."

ndengar kata-kata ini, wajah Deviana segera berubah njadi cemberut dan jijik.

Randika tiba-tiba natap Yosef dan berkata dengan keras. "Aku tidak peduli kamu siapa tetapi kalau aku sedang berbicara dengan orang, jangan pernah nyela aku. Kalau tidak aku akan nendangmu keluar dari kota ini."

Simpel dan arogan, ancaman Randika terdengar nyata.

Wajah Randika terlihat sangar pada saat ini, seakan-akan dia ingin nantang orang ini bertarung. Deviana terkejut ketika lihatnya, sayang sekali Randika tidak bekerja sebagai aktor.

"Oh? mangnya bisa?" Yosef ndengus dingin. "Aku rasa orang kasar sepertimu tidak mungkin bisa berbuat seperti itu. Aku bisa nghancurkanmu hanya dengan jentikan jari. Dengar ya bocah, aku ini Yosef, suruhan dari keluarga Alfred dari Jakarta."

Bersamaan dengan ini, Yosef nutup matanya, hanya ngatakan asalnya biasanya cukup mbuat orang kabur ketakutan. Keluarga Alfred benar-benar terkenal di Jakarta, kekuatan keluarga itu sudah ngakar di hati para masyarakat.

Namun, kata-kata Randika berikut ini mbuat Yosef ingin muntah darah.

"Keluarga Alfred dari Jakarta? Siapa itu?"

Randika tidak yakin keluarga Alfred sekuat itu karena dia sendiri tidak pernah ndengarnya. Jadi buat apa dia takut? Kalau pun tahu ngapain dia takut?

Yosef mbuka matanya dan natap Randika dengan wajah bingung. Dengan cepat ekspresinya berubah njadi marah. Dia langsung nceritakan sejarah keluarga Alfred yang legenda pada Randika.

Namun, jika kamu nyebut nama gajah pada semut maka si semut tidak akan takut karena dia tidak tahu apa itu gajah. Dengan kata lain, Randika belum ncapai level di mana dia ngenal seluruh keluarga aristokrat di Indonesia.

Setelah selesai nceritakan, Yosef yang sudah tertatih-tatih itu ngatakan. "Yang hanya kau perlu tahu adalah keluarga Alfred bukanlah lawan yang ingin kau lawan. Hanya dengan satu perintah maka kota ini bisa hancur lebur dalam 1 malam."

Setelah lihat ekspresi kagum Randika, Yosef rasa puas. Untuk seekor semut seperti bocah di hadapannya untuk ngenal betapa luasnya dunia ini mbuatnya sedikit bangga atas asal-usulnya.

Namun, Randika natap Deviana sambil bertanya. "Apakah kamu pernah ndengar keluarga Alfred dari Jakarta?"

"Tidak." Deviana nggelengkan kepalanya, dia tidak pernah ndengar nama keluarga itu.

Randika lalu natap Yosef dan ngatakan. "Tuh kan, bualanmu ini tidak ada yang pernah ndengarnya. Aku juga berasal dari keluarga besar di kota ini, satu kata dariku bisa mbuat kota ini gelap gulita. Bahkan aku bisa minta walikota Cendrawasih turun dari jabatannya! Jadi jangan terus mbual, tidak baik nyebar hoax. Kalau keluarga Alfred mang punya kekuatan seperti itu, kenapa kalian masih napak di bumi? Lebih baik kalian berakar di atas sana saja."

Kata-kata Randika ini sudah hampir mbuat Yosef muntah darah. Nama besar yang telah dibangun oleh keluarga Alfred ini bisa-bisanya direndahkan oleh preman muda seperti ini. Dia rasa malu telah berdebat dengan seekor semut seperti dia.

"Aku sudah muak berdebat denganmu, cepat pergi sana sebelum aku marah. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau kakimu atau tanganmu patah."

"Wah masih saja terus mbual." Randika nggelengkan kepalanya. "Sudah biar sama-sama enak bagaimana kalau begini? Aku akan pergi bersama Deviana dan mbicarakan masalah kami dan kau jangan ngganggu kami."

ndengar kata-kata ini, Deviana natap tajam Randika. Siapa mangnya yang mau pergi sama kamu?

Tiba-tiba, pada saat ini suara tawa terdengar keras.

"Terkadang ada orang yang tidak bisa nyadari seberapa besar bahaya yang dia terlibat." Yosef bergumam pada dirinya sendiri lalu natap dingin Randika.

"Kau pikir orang akan ketakutan lihat tatapan matamu itu?" Randika ndengus dingin. "Maju sini, perlihatkan padaku kekuatan keluarga Alfred seperti apa."

Arogan!

ndengar kata-kata itu, Yosef sudah tidak tahan lagi. Setelah beberapa langkah berjalan pelan, seluruh tubuhnya lesat bagaikan panah. manfaatkan kecepatannya, dia ngincar dada Randika dan akan mberikan bocah kasar ini tinjunya yang matikan.

Yosef tidak nahan diri sama sekali. Serangannya ini bisa mbunuh orang dengan sangat mudah.

skipun enggan mbuat keributan seperti mbunuh orang, Yosef benar-benar sudah muak dengan sikap Randika. Dan apabila kasus pembunuhan ini njadi sorotan, dia akan nggunakan koneksinya untuk bisa lolos dari tuntutan tersebut.

Yosef sudah sangat percaya diri bisa mbungkam lawannya ini, tetapi kadang ekspetasi tidak sesuai dengan kenyataan.

Karena dia rupakan bawahan kepercayaan keluarga Alfred, dia telah mpelajari ilmu bela diri kuno dari sejak dia muda. Selama ini tidak ada lawan yang pantas rasakan kekuatannya yang sebenarnya.

Namun, lawannya kali ini berhasil nangkis serangannya! Dan dilihat dari ekspresinya, lawannya ini bahkan tidak makai kekuatan sama sekali untuk nahan serangannya!

Randika nangkap tinju Yosef hanya dengan tangan kirinya. Tidak peduli seberapa kuat Yosef mberontak, dia sama sekali tidak bisa narik tangannya.

Sambil nyengir Randika bertanya. "Cuma ini?"

Yosef yang ndengar ejekan ini semakin marah. Tangan kirinya dengan cepat nyerang wajah Randika. Serangannya ini cepat dan bertenaga, tetapi Randika justru nghantam tinju Yosef dengan tinjunya sendiri!

Kedua tinju orang ini beradu di udara dan suara tulang retak dapat terdengar dengan jelas.

Di bawah serangan tidak terduga ini, Yosef ngambil langkah mundur. Randika sudah lepas genggamannya. Yosef sepertinya tidak bisa berhenti mundur dan pada akhirnya dia terjatuh dan duduk di tanah.

Dia rasakan rasa sakit yang luar biasa dari jari telunjuk dan jari tengahnya. Sudah jelas bahwa suara tulang retak tadi adalah tulang jari Yosef.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

Yosef natap Randika dengan keterkejutan sekaligus marah. Bukannya bocah itu hanya preman pasar biasa? Tidak mungkin orang seperti itu ngalahkan dirinya? Apa dia makai senjata tersembunyi?

lihat wajah tenang Randika, Yosef takut bahwa dia akan dihabisi.

Randika lalu nggelengkan kepalanya. "Ternyata bualanmu mang kamu hiperbolakan, apanya keluarga besar dari Jakarta? Dengan kekuatan seperti itu, seharusnya keluarga Alfred hanyalah keluarga sampah."

"Tutup mulutmu itu!"

Terprovokasi dengan kata-kata Randika, Yosef kembali nyerang. Tetapi kali ini, Deviana hanya bisa lihat sesuatu lesat di sampingnya. Dia lihat sosok Yosef yang layang dan nabrak tembok parkiran hotel.

Petugas keamanan hotel sedikit terkejut ketika reka lihat ada orang yang tergeletak secara tiba-tiba di area reka.

Randika lalu nggelengkan kepalanya. "Kalau kamu bisa njadi tamu kehormatan direktur polisi, bukankah aku bisa njadi tamu kehormatan presiden?"

Yosef terbatuk-batuk sejak dia natap dinding, dia sudah muntah darah dari tadi.

Serangan Randika benar-benar kuat!

[1] Kalau berkata pikirlah dahulu baik buruknya agar tak dicela oleh orang lain.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 144: Keluarga Alfred dari Jakarta? Siapa itu? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.