Font Size
15px

Seorang perempuan akan berdandan habis-habisan kalau demi pujaan hatinya, Randika rasa hal ini cukup benar.

Sepertinya Viona sudah jatuh di dalam pelukannya.

Jadi neruskan ini sampai ke babak utama harusnya tidak masalah!

Kemudian Randika kembali rangkul Viona. Sambil nggigit telinganya, kedua tangannya remas-remas pantatnya yang kenyal itu.

Asyik!

Viona tidak bisa nahan desahan nikmatnya. Dia sendiri tidak percaya bahwa dia bisa ndesah erotis seperti itu. Randika mang benar-benar ngenal dirinya baik tubuhnya maupun hatinya.

Viona sudah tidak bisa nahan perasaan sukanya ini. Sudah lama dia mbuka hati dan tubuhnya pada Randika.

"Vi, jawab aku dengan jujur atau aku akan nghukummu." Randika berbisik di telinga Viona.

Viona saat ini sudah tenggelam dalam kenikmatan dan napasnya sudah terengah-engah. lihat Viona yang sudah mulai lemas ini, Randika teringat sosok kucing yang tidak mau lepas dari majikannya.

Sepertinya dia berhasil mbuat Viona keluar?

Randika sedikit terkejut sekaligus rasa senang. Sepertinya teknik miliknya ini tidak berkarat skipun sudah lama tidak bermain. Di masa lalu, dia berhasil mbuat perempuan-perempuan Eropa yang liar itu keluar dalam hitungan detik berkat tekniknya itu.

Ah, kenapa aku lantur seperti itu?

Yang mbuat Randika khawatir adalah reka sekarang masih berada di perusahaan tempat reka bekerja. Terlebih reka sedang ada di ruangan kosong dan tidak ada kasur, apakah reka akan lakukannya dengan berdiri?

skipun Randika tidak masalah dengan hal tersebut, bagaimanapun juga, ini adalah pengalaman pertama Viona, tidak mungkin Randika lakukannya di tempat seperti ini. Belum lagi nanti cara berjalannya Viona tidak karuan.

Viona sendiri masih berdiri linglung lihat Randika, dia baru pertama kali rasakan sensasi keluar yang nikmat seperti ini. mang dibuat keluar oleh orang lain berbeda dengan lakukannya sendiri.

Setelah berpikir sejenak, Randika mutuskan tidak neruskannya. Dia sendiri sudah rasa puas berciuman dan mbuat Viona keluar. Kalau reka sampai lakukannya, dia khawatir rumor akan beredar dan itu tidak bagus untuk karier Viona.

Setelah nenangkan diri, Viona mbetulkan roknya. Roknya njadi saksi bisu kebrutalan tangan Randika sebelumnya. Belum lagi celana dalamnya yang basah itu harus dia tutupi seharian ini.

Setelah mpersiapkan diri, keduanya keluar dari ruangan dengan santai. Randika lalu tersenyum saat lihat sosok punggung Viona. Sepertinya dia harus latih Viona beberapa kali lagi sampai dia benar-benar tidak bisa lepas dari dirinya. Sifat masokis Viona mungkin juga akan makin kuat seiring berjalannya waktu.

Viona hanya bisa berjalan sambil nundukan kepalanya. Ketika reka berduaan Viona tidak bisa nahan rasa sukanya pada Randika tetapi, ketika reka di depan publik Viona masih rasa malu untuk ngungkapkannya.

Keduanya lalu kembali bekerja.

...

Saat makan siang, Randika awalnya ingin ngajak Viona untuk makan bersama. Tetapi, dia lihat bahwa Viona sudah diajak oleh ahli parfum lainnya. Demi kerahasiaan reka, Randika hanya bisa pasrah.

Di perusahaan ini mang ada kantin tetapi kebanyakan orang senang makan di luar sambil nghirup udara segar ataupun san makanan. Bahkan Inggrid seringkali san makanan dari luar.

Karena bosan dengan makanan kantin dan sedang tidak ada promo delivery, Randika mutuskan untuk makan di luar.

Dia berjalan keluar dari gedung dan langsung disambut teriknya matahari. Randika cuma bisa nghela napas nghadapi panas matahari ini. Mau tidak mau, dia berjalan nuju restoran di dekat perusahaannya.

lihat-lihat restoran yang ada, Randika nyadari ada sosok familiar yang juga sedang berjalan.

Bukankah itu Deviana? Sedang apa bunga indah dari kepolisian Cendrawasih ini?

lihat sosok Deviana yang tidak sendirian, Randika ngerutkan dahinya dan mutuskan untuk ngikutinya.

Suasana hati Deviana sedang tidak bagus. Dia benar-benar masang ekspresi jijik dan tegas di wajah cantiknya hari ini. Mungkinkah karena teman berjalannya itu?

"Dev, makanan hotel itu enak-enak. Terakhir kali aku nginap, makanannya benar-benar ngena di perut." Teman berjalan Deviana hari ini adalah pria paruh baya bernama Yosef. Dengan senyuman di wajahnya, dia dengan santai njulurkan tangannya dan berniat untuk rangkul pinggal Deviana.

Namun reaksi Deviana jauh lebih cepat, dalam sekejap dia sudah nghindar. Tetapi Yosef sendiri juga cepat dan berhasil gang pinggang ramping Deviana itu.

Deviana terkejut dengan kecepatan pria ini, tangannya dengan cepat nyingkirkan tangan Yosef itu dari pinggangnya sambil ngatakan. "Maaf, aku gila kebersihan."

"Ha ha ha." Yosef hanya bisa tertawa. "Kamu mang narik. Tidak banyak orang yang berani lawanku. Sifat keras kepalamu itu cukup narik."

"Baiklah cepat kita pergi!" Kali ini Yosef tidak rangkul maupun nggandeng Deviana, dia hanya berjalan nuju hotelnya nginap.

Tatapan mata Deviana benar-benar sedingin salju, tetapi dia hanya bisa ngikuti orang itu.

Deviana benar-benar tidak ingin nemani pria berengsek itu, tetapi dia terpaksa. Lebih tepatnya dia bukan nemani pria itu tetapi dia sedang njalankan tugas. Ketika dirinya pagi ini datang ke ruangan direktur karena panggilan tugas, dia nemukan atasannya itu sedang berbicara dan bercanda dengan pria bernama Yosef itu. Lalu secara tiba-tiba Yosef ingin dirinya nemaninya hari ini.

Tentu saja Deviana nolaknya tetapi direkturnya berkata padanya dengan nada dingin. "Orang ini adalah tamu kehormatan dari kota besar. Kamu tidak bisa nolak permintaannya. Tuan Yosef akan berada di kota ini selama beberapa hari dan kamu harus nemaninya selama dia ada di sini."

Dengan kata lain, Deviana sedang dijual!

Ketika Deviana ingin nolaknya, atasannya itu dengan cepat mbentak dirinya. "Ini adalah perintah!"

Mau tidak mau, Deviana nemani Yosef pergi ke mana pun selama dia di kota Cendrawasih.

Sepanjang jalan Deviana hanya bisa masang ekspresi cemberut dan dingin, sama sekali tidak mau berbicara. Namun, Yosef sama sekali tidak peduli. Dia hanya terus berbicara tanpa henti dan muji pemandangan kota Cendrawasih yang berkembang ini. Sekarang dia telah mbeli sebotol wine dan akan nikmatinya di kamar hotelnya.

Dia akan lihat bagaimana polisi cantik ini layani dirinya ketika sudah berada di kamarnya.

"Jangan khawatir, setelah beberapa hari bersamaku aku bisa njamin posisimu hanya lebih rendah dari direktur. Bahkan ketika bajingan itu pensiun, kamu akan nggantikannya!" Lalu Yosef natap Deviana dengan wajah tersenyum. "Tapi tentu saja, itu semua tergantung dengan pelayananmu padaku selama beberapa hari ini. Aku harap kamu bisa muaskan diriku."

"Huh!" Deviana hanya malingkan wajahnya.

"Ha ha ha, kau mang perempuan yang narik." Yosef tidak marah, justru dia tertawa. "Beberapa hari ini kau akan nemaniku siang dan malam. Kalau tidak, siap-siaplah lepas seluruh atributmu itu dan ncari pekerjaan yang lain."

"Kau ngancamku?" Deviana ngerutkan dahinya dan tatapan matanya dipenuhi dengan api kemarahan. Sebuah ancaman adalah hal yang paling dibencinya dalam dunia ini.

"Sepertinya kau salah mahami kata-kataku." Kata Yosef sambil tersenyum. "Aku tidak pernah ngancam orang, aku hanya mberikan orang pilihan."

lihat Deviana yang pasrah, Yosef berkata sekali lagi. "Kamu ingin berhenti njadi polisi?"

lihat senyuman njijikan itu, Deviana benar-benar ingin mukulnya hingga mati.

Dasar pria bajingan!

Dalam hatinya Deviana sudah maki habis-habisan orang ini. Namun pada saat ini, tiba-tiba suara orang terdengar dari arah belakang. "Oh? Selamat siang Bu Devi! Sedang ngintai lagi?"

ndengar suara ini hati Deviana benar-benar rasa lega. Entah sejak kapan namun sejak ada Randika, dia rasa bahwa ada orang kuat yang bisa dia andalkan. Mungkin hari ini dia akan bersandar pada temannya itu.

Yosef juga noleh ke arah Randika dan ngerutkan dahinya. Namun sebelum dia berhasil ngontari kedatangan Randika, kata-kata berikut yang keluar dari mulut Randika mbuatnya murka.

"Hmm? Pria itu adalah penjahat yang kamu tangkap?"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 143: Pertemuan Randika dengan Deviana on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.