Boneka ginseng ini berusaha lepaskan dirinya selama beberapa saat, tetapi semua itu percuma. Genggaman tangan Randika benar-benar luar biasa kuat.
Setelah sukses nangkap boneka ginseng ini setelah sekian lama, tanpa berpikir panjang Randika langsung nuju dapur dengan wajah penuh gembira.
Sebelum boneka ini diolah njadi obat, lebih baik nggorengnya atau rebusnya? Boneka ginseng ini benar-benar terlihat enak.
Tetapi apakah efeknya akan berbeda kalau tode ngolahnya berbeda?
Randika lalu berpikir sejenak sambil mandang boneka ginseng yang ada di tangannya. Namun, dia lihat bahwa wajah boneka itu terlihat sangat las dan kedua matanya mbengkak seakan-akan telah nangis seharian.
Randika tidak peduli dan rasa bangga. Sekarang di mana sikap arogan milik si boneka ginseng ini?
Setelah ngambil tali rafia, Randika ngikat erat si boneka ginseng ini dan mbuatnya layang di udara.
Kali ini boneka itu tidak akan bisa lepas dari dirinya.
Randika hanya tertawa lihat boneka itu bergelantungan di udara. Namun, boneka itu terlihat sedang mohon pada Randika agar dia lepaskan dirinya sambil ngeluarkan suara orang sedang bersedih.
lihat boneka ini, Randika rasa hatinya sedikit tergerak. Mungkin rebus dan mbuatnya njadi obat bukanlah keputusan yang bagus.
Tetapi pemikiran tentang luka di tubuhnya dan pengkhianatan Bulan Kegelapan dan yang lain, mbuat tekad Randika njadi bulat. Demi keberlangsungan hidupnya dan njaga teman-temannya, dia harus nyembuhkan dirinya.
Setelah rebus boneka ginseng ini, Randika berniat mbawanya kembali ke gunung untuk diberikannya pada kakek ketiga. Baru setelah itu kakeknya dapat mbuat obat bagi dirinya.
Terlebih dengan pengetahuan kakeknya ngenai teknik pengobatan tradisional, kakeknya itu bisa maksimalkan potensi dari boneka ginseng ini. Bagaimanapun juga, seluruh tubuh boneka ginseng itu rupakan harta karun.
Setelah sempat ragu, Randika nyalakan kompor dan rebus air. Dia lalu ngambil sehelai kain dan sudah siap untuk mbungkus boneka ginseng itu. Namun, boneka itu tiba-tiba ngeluarkan suara tangisnya.
Boneka ginseng, yang lihat dirinya akan mati, nangis sejadi-jadinya.
ndengar suara tangisan boneka ini, hati Randika kembali lunak. Dia hanya natap bingung pada boneka ginseng tersebut.
Boneka itu benar-benar rasa putus asa, dia nangis seperti bayi dengan tangannya terus nggosok matanya. Bahkan air matanya berwarna putih.
Boneka ini ternyata nangis sungguhan?
Randika terkejut, boneka ini benar-benar seperti makhluk hidup.
Tiba-tiba Randika langsung rasa tidak tega. Bagaimanapun juga, boneka ginseng ini rupakan makhluk hidup yang berhasil hidup setelah tertanam dan nyerap esensi bumi selama ratusan tahun.
Namun, pikirannya masih dipenuhi oleh godaan untuk nyembuhkan tubuhnya yang terluka itu. Randika benar-benar terjebak di dua pilihan yang sulit.
Di satu sisi dia rasa kasihan pada boneka ginseng ini, di lain sisi dia kepikiran dengan kondisi tubuhnya.
"Hei ayolah, kenapa kau tiba-tiba njadi cengeng?" Kata Randika. Tetapi boneka ginseng itu sepertinya tidak dapat ndengarnya karena masih ketakutan kehilangan nyawanya. Justru ia makin keras nangisnya.
"Aku sebenarnya tidak ingin mbuatmu njadi obat. Aku hanya ingin sebagian darimu untuk mbantuku mulihkan diriku." Kata Randika sambil nggarukan kepalanya.
Boneka ginseng itu masih tidak mperhatikan dirinya, bahkan daun di atas kepalanya ikut layu. Ia tampak nyedihkan.
Randika ngerutkan dahinya, hatinya masih rasa ragu. Setelah beberapa saat, Randika tersenyum pahit. "Lukaku ini sangat parah, aku harus bertahan hidup demi orang-orang sekitarku. Aku harap kamu ngerti."
Lagi-lagi dia masih dicueki dengan si boneka ginseng itu. Ia masih nangis sambil terkadang mohon pada Randika untuk lepaskannya.
Dihadapi dengan keimutannya, Randika benar-benar sudah tidak tahan. Jika boneka ginseng ini hanya sebuah ginseng biasa, dia sudah rebusnya sejak lama. Tetapi boneka ini berbeda.
Bisa dikatakan ginseng ini rupakan makhluk hidup bukan tanaman. Kehidupan yang dibentuk oleh ratusan tahun.
Randika nghela napas dalam-dalam, lalu dia motong tali rafianya dan lepaskan ikatan pada boneka ginseng. Randika lalu berkata dengan wajah sedih. "Aku akan mbiarkanmu pergi kali ini. Lain kali kalau aku berhasil nangkapmu jangan harap ini terulang lagi. Pergilah."
Setelah motong tali tersebut, hati Randika masih nyimpan rasa tidak rela. Sejak kapan dia lunak seperti ini? Benar-benar disayangkan.
malingkan wajahnya, Randika kemudian rebus sup obat resep kakeknya itu. Suara tangis boneka ginseng itu perlahan sudah tidak terdengar. lihat sosok Randika yang ngabaikannya itu, boneka ini masih tidak dapat mpercayai apa yang telah terjadi.
Tatapan matanya njelaskan semuanya, kamu akan lepaskanku?
ngangkat tangannya, boneka ini tersadar bahwa tali yang ngikatnya sudah tidak ada dan dia benar-benar bisa pergi dari sini.
Randika terlihat motong-motong dan sibuk rebus. Ketika dia tersadar bahwa boneka ginseng itu masih ada di sini, dia ngerutkan dahinya. "Kenapa kamu tidak pergi? Kamu mau ikut masuk ke dalam panci ini?"
Namun, boneka ginseng ini terlihat tersenyum dan lari ke arah kaki Randika. Ia lalu rangkak naik dan duduk di pundak Randika.
Baru saja dia lepaskannya ternyata boneka ini sudah mau ngejeknya lagi?
Namun, ternyata boneka ginseng itu malah ncium pipi Randika!
MUACH!
Suaranya sangat keras dan sangat jelas. Hal ini mbuat Randika njadi bingung, boneka ginseng ini juga miliki perasaan?
Di dalam hatinya Randika tidak tahu harus nangis atau bahagia. Dia adalah orang yang miliki prinsip. Selain dari laki-laki, orang yang sudah tua, orang jelek, siapapun boleh ncium dirinya. Dia tidak nyangka bahwa makhluk supernatural seperti boneka ginseng ini akan nciumnya.
Sepertinya prinsipnya ini harus diubah ke depannya, hanya manusia yang boleh nciumnya. Sekarang wajah Randika dipenuhi dengan senyuman pahit.
Namun, boneka ginseng itu benar-benar sedang gembira. Dia masih duduk di pundak Randika dan rangkul lehernya. Kemudian dia ncium pipi Randika sekali lagi.
"Sudah terserah kamu saja deh." Randika hanya bisa pasrah dicium. Sejak kapan boneka ginseng ini punya perasaan padanya, bukannya senit yang lalu dia berusaha rebusnya?
Kemudian boneka ginseng itu tetap duduk di pundak Randika dan lihat panci rebusan obat itu. Setelah berpikir sesaat ia njulurkan tangannya.
Randika natapnya dengan ekspresi penasaran, setelah itu dia lihat bahwa ada manik-manik berwarna putih keluar dari tangan si boneka ginseng.
Sesaat kemudian boneka ginseng itu njulurkan tangannya pada Randika. Randika terkejut karena boneka ginseng ini mau mberikan darahnya yang berharga itu padanya.
"Untukku?" Tanya Randika untuk mastikan.
"Hmm."
Boneka itu nganggukan kepalanya sambil mberikannya pada Randika.
lihat manik-manik ini, Randika rasa senang. Dia sudah lihat sendiri keajaiban yang dibawa oleh setetes darah dari boneka ginseng.
Dia dengan cepat ncari tabung reaksi dan nyimpannya. Lalu Randika berkata sambil tersenyum. "Kalau begitu kita impas."
Pada saat yang sama, pintu rumahnya terbuka. Randika lalu nyadari bahwa Ibu Ipah telah kembali dari pasar.
"Selamat datang." Kata Randika sambil tersenyum.
"Lho nak Randika kok sudah pulang?" Wajah senyum Ibu Ipah itu segera berubah ketika dia lihat sosok boneka yang ada di pundak Randika.
Apakah itu adalah boneka sesuai dugaannya?
Ibu Ipah ngerutkan dahinya dan nyipitkan matanya. Boneka itu benar-benar mirip dengan apa yang dilihatnya dalam buku.
"Ah iya, perkenalkan ini adalah boneka ginseng. Ini semacam keajaiban alam." lihat Ibu Ipah yang terdiam, Randika segera njelaskan.
Dugaannya benar!
Ibu Ipah benar-benar terkejut. Dan ketika Ibu Ipah berusaha gangnya, boneka ginseng ini ngeluarkan suara "ah!" dan lompat turun dari pundak Randika.
Boneka itu benar-benar hidup!
Keterkejutan Ibu Ipah sudah ncapai puncaknya. Dia awalnya tidak mpercayai isi buku yang dibacanya tetapi setelah lihat secara langsung dia hanya bisa tertegun.
Keajaiban alam, esensi bumi dan langit yang nciptakan kehidupan.
Namun pada saat ini boneka ginseng itu terlihat lambaikan tangan pada Randika dan nghilang tanpa jejak.
"Ke mana dia pergi?" Ibu Ipah berusaha ncarinya.
"Oh, dia mungkin pergi lagi. Lain kali pasti dia kembali ke rumah ini lagi." Kata Randika sambil tersenyum.
lihat senyuman dan ketenangan dalam diri Randika, Ibu Ipah rasa harus ninjau ulang Randika. Pada awalnya dia hanya ngira Randika hanyalah orang biasa. Namun, setelah beberapa serangan dalam rumah dan di rumah sakit, dia rasa bahwa Randika bukan orang biasa. Tetapi dia tidak terlalu mikirkannya karena ilmu bela diri yang dikuasai Randika itu mungkin berasal dari ajaran orang tuanya agar dia bisa mpertahankan dirinya.
Jadi Ibu Ipah tidak terlalu dulikannya. Dalam hatinya selama ini, Ibu Ipah hanya nilai bahwa Randika adalah orang biasa yang bisa berkelahi. Tetapi setelah kejadian ini nampaknya dia harus ngubah penilaiannya.
Bisa dikatakan bahwa boneka ginseng itu sangat tidak ternilai harganya. Bagaimana mungkin Randika terlihat akrab dengannya?
nurut buku yang dibacanya, boneka ginseng benar-benar sulit untuk ditemukan dan ditangkap. Jelas Randika miliki teknik tersembunyi hingga boneka ginseng itu tidak nganggap Randika sebagai ancaman.
Sekarang sosok Randika njadi sosok ncurigakan dan perlu diawasi dalam hati Ibu Ipah.
"Sepertinya nona berurusan dengan orang tidak biasa." Ibu Ipah nghela napas di dalam hatinya. Namun, dia rasa sedikit lega karena kabarnya ayahnya Inggrid ngirim orang untuk mbantu dirinya. Dengan bantuan tambahan itu, jika Randika macam-macam dengan nona mudanya maka dia tidak perlu khawatir lagi.
"Oh iya, ibu hari ini mau masak kepiting lho. Nanti ibu akan masaknya untuk makan malam."
Randika langsung bergembira, masakan Ibu Ipah benar-benar enak. ndengar kata kepiting mungkin dia bisa nghabiskan 10 kg kepiting kalau dia mau.
"Aku sudah tidak sabar!" Kata Randika sambil tersenyum.
Setelah minum sup obatnya, Randika kembali ke kamarnya dan nghubungi Yuna tentang kemajuan pembangunan markasnya. reka berbincang-bincang cukup lama dan tanpa sadar waktu nunjukan pukul 6 sore, istri tercintanya harusnya sudah pulang.
Dengan cepat Randika mandi dan turun ke lantai 1.
lihat bahwa Inggrid belum pulang, Randika ngobrol dengan Ibu Ipah yang sedang masak itu sambil nunggu.
Kali ini Inggrid tidak terlalu sibuk jadi dia pulang tepat waktu.
Sambil nunggu Inggrid ganti pakaian, Randika sedang ncicipi bumbu yang ada pada kepiting itu.
Benar-benar enak seperti Inggrid. Eh! Maksudku bukan begitu, kenapa dirinya miliki pemikiran seperti itu?
Tapi pemikiran itu tidak sepenuhnya salah. Ketika dia lihat istrinya yang cantik itu, dia benar-benar ingin makannya.
Reviews
All reviews (0)