Font Size
15px

Ketika dirinya dipamiti oleh Randika, ibunya Viona ini juga makin nyukai calon nantunya itu. Tatapan Randika pada Viona juga terlihat tulus, jelas dia ingin Viona rayakan suasana sukacita ini dengan keluarganya jadi dia sebagai orang luar lebih baik pergi dari sana.

lihat niat baik Randika ini, Viona ingin nyusulnya namun dia rasa malu. Pada saat ini dia rasa dirinya didorong dari belakang. "Pergilah, biar mama dan papa yang ngurus nenek." Kata ibunya.

Setelah dimotivasi oleh ibunya sendiri, Viona langsung tersipu malu dan ngangguk. Dengan cepat dia nyusul Randika.

"Randika tunggu!" Viona yang mbuka pintu ruangan itu segera berlari namun lihat Randika ternyata sedang bersandar di tembok luar ruangannya.

"Ran, aku sungguh berterima kasih padamu kali ini." Kata-kata Viona ini benar-benar tulus dari dalam hatinya. Kalau bukan karena Randika mungkin neneknya sudah tiada.

"Sudah Vi, aku turut bahagia untuk keluargamu." Randika juga terlihat tulus ngatakannya. Ketika dia lihat Viona yang nangis sejadi-jadinya sebelumnya, entah kenapa dia tidak tega lihatnya. Oleh karena itu dia bersusah payah hingga las pada boneka ginseng itu.

Setelah reka berdua tersenyum satu sama lain, Randika tiba-tiba luk Viona.

"Hei, apa sebenarnya hubungan kita ini? Kamu masih bersikap bahwa aku adalah atasanmu. Apa nurutmu aku ini bukan calon suami yang baik?" Randika berkata seperti ini dengan senyuman nakalnya.

Ketika Viona ndengar kata-kata ini, dia tidak bisa nahan rasa malunya dan nundukan kepalanya. Sepertinya Randika ndengar pembicaraannya dengan ibunya sebelumnya.

Lalu dengan tangan kanannya, Randika ngelus kepala Viona dengan lembut dan mintanya untuk natapnya. Ditatap oleh mata lelaki yang dicintainya, Viona ngambil inisiatif untuk nciumnya. Randika yang tiba-tiba dicium itu tidak bisa nghentikan dirinya untuk minta lebih dari sekedar ciuman.

Setelah tangan Randika bermain di seluruh tubuhnya, Viona justru nyukai perasaan ini. Sambil terus mainkan lidahnya, Viona rasa seluruh tubuhnya njadi panas.

Randika dan Viona benar-benar tenggelam dalam dunia reka sendiri hingga lupa di mana reka berada.

Setelah beberapa detik berciuman panas, tiba-tiba ada suara mbentak terdengar dari samping reka. "Hei! Kalian tidak punya malu atau apa? Ini rumah sakit bukan hotel!"

Bentakan keras ini mbuat Viona tersadar dan terkejut. Randika sendiri rasa malu dengan sendirinya ketika dia dimarahi oleh seorang perawat yang natapnya dengan tajam.

Viona tidak tahu kerasukan apa hingga berani lakukannya di tempat umum seperti ini. Randika hanya terus minta maaf pada perawat itu dan langsung keluar dari rumah sakit.

lihat sosok kedua pasangan itu pergi, si perawat bergumam pada dirinya sendiri. "ntang-ntang lagi kasmaran par ke orang lain. Aku sendiri juga kepengin par seperti itu tahu!"

Ternyata perawat itu hanya iri pada reka karena dirinya sudah njomblo sejak lahir.

Setelah keluar dari rumah sakit, Randika berencana pulang ke rumah. Sup obat jatah hari ini belum dia minum. Lagipula kantornya sedang tidak ada pekerjaan hari ini jadi tidak ada alasan untuk dirinya tidak bermalas-malasan hari ini.

Saat tiba di rumah, ketika dia mbuka pintu, hidungnya rasakan aroma yang pekat.

Kenapa ada aroma wine yang pekat nyebar di dalam rumahnya?

Dengan wajah kebingungan, Randika ngendus dan ngikuti jejak-jejak bau itu hingga ke sumbernya.

Lalu dia akhirnya sadar bahwa bau itu berasal dari basen rumahnya. Basen rumahnya rupakan tempat Inggrid nyimpan wine miliknya. Namun, Inggrid tidak sering minumnya. Dia hanya ngeluarkannya ketika njamu orang-orang penting jadi dia tidak sering mbuka pintu basen ini.

Ketika dia semakin ndekati basen, aroma wine ini semakin pekat dan bervariasi. Aroma yang mabukan ini mbuat dirinya ingin minum juga.

Ketika lampu basen dia nyalakan, Randika langsung nyapu seluruh ruangan dengan penglihatan supernya. Apa yang dia lihat benar-benar ngejutkan dirinya.

Benar, seorang Ares terkejut. Setelah berkeliling dunia bertahun-tahun, dia telah lihat hampir seluruh kejadian yang belum pernah orang alami seperti kejamnya perang, dikejar oleh ratusan orang bersenjata. Tetapi kejadian di depan matanya ini baru pertama kali dia lihat seumur hidupnya. Dia tertawa dalam hati dan suasana hatinya benar-benar senang.

Ini benar-benar seperti reka berdua ditakdirkan bertemu.

Di basen ini, seorang bayi dengan setinggi lutut itu tampak sedang berteriak keras tidak jelas. Suara itu terdengar jelas seperti rengekan seorang bayi yang dotnya diambil.

Di tangan putihnya yang gemuk itu dia masih terlihat gang erat botol wine yang dia sayang bagaikan harta karun. Dia tampak kesusahan mbuka penutupnya.

Di rak terlihat sudah ada 2 botol yang nghilang dari sana dan ternyata 2 botol itu sudah terguling hingga nabrak tembok dalam keadaan kosong.

Boneka ginseng itu sedang mabuk!

Harus dikatakan bahwa boneka ini benar-benar kuat minum, 2 botol wine sendirian benar-benar bisa mbuat orang dewasa tergeletak tidak sadarkan diri.

lihat hal ini, Randika tidak segera nangkapnya. Hari ini suasana hatinya sedang baik dan berkat bantuan boneka ini nenek Viona juga selamat dari maut.

DIa mutuskan untuk mbiarkannya dan lihat situasi terlebih dahulu.

Dia ingin lihat bagaimana boneka itu akan lari dalam keadaan mabuk berat seperti itu. Randika perlahan ndekatinya.

"Ah!"

Boneka ginseng ini jelas sedang mabuk berat, ia sama sekali tidak sadar kalau Randika ndekat. Dan ketika Randika 2 langkah sebelum ncapai dirinya, barulah ia berteriak terkejut dengan wajah rahnya.

Boneka itu tetap gang botol wine yang hendak diminumnya. Tubuh kecilnya itu terhuyung-huyung terus nerus, bahkan berdiri saja susah baginya. Bahkan hanya butuh hembusan angin untuk robohkan tubuhnya. Namun, tiba-tiba boneka ginseng ini nghentakan kaki kanannya ke depan dan mulutnya berteriak "Ciat!". Tangannya masang pose nyerang, ia rasa dirinya adalah dewa mabuk.

lihat boneka ini, Randika rasa kejadian berikutnya akan narik. Tentu saja, botol wine yang dipegangnya ia taruh dan dengan satu sapuan kakinya ia berhasil cahkan ujung botol tersebut dan minumnya.

Setelah selesai minumnya, boneka itu kembali terhuyung-huyung. Kali ini dia bagaikan sedang nari dengan irama musik yang liar. Terkadang pantanya itu bergoyang-goyang ke arah Randika.

Boneka ini rasa bumi ini terus berputar, ia tidak tahu di mana ia sekarang berada.

Randika lalu duduk bersila di depan boneka ini. Sambil tersenyum, dia njulurkan tangannya dan mintanya untuk naik ke atasnya. Namun, boneka ginseng itu justru nampar tangan Randika. Seolah mintanya untuk pergi dari tempat ini.

Dasar orang mabuk!

skipun begitu, Randika masih tersenyum dan justru ngelus-elus pipi si boneka. Dengan kaki yang tidak bertenaga, jari Randika itu justru mbuatnya tidak bisa berdiri dengan stabil.

"Ah!"

Boneka itu terus-nerus ncoba bertahan untuk berdiri di bawah serangan jari Randika, setiap detiknya ia akan berjalan mundur. Akhirnya dia tidak bisa bertahan lagi dan akhirnya jatuh dan terduduk di lantai.

lihat hal ini Randika tidak bisa nahan tawanya.

Setelah terjatuh, boneka ini rasa dirinya tersadar kembali. Setelah nggeleng-gelengkan kepalanya, ia nyadari ada sesosok manusia berdiri di hadapannya.

Setelah pandangannya mulai kembali, entah kenapa dia rasa familiar dengan wajah itu.

Kemudian wajah senyum Randika nampak jelas di mata si boneka ginseng ini. Dalam sekejap ia langsung panik. Ketika dia hendak kabur ke dalam tanah, Randika sudah berhasil nangkapnya.

"Kali ini kau tidak bisa lari." Kata Randika sambil tertawa. Tangan kanannya berhasil nggenggam erat boneka ginseng ini.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 140: Boneka Ginseng yang Sedang Mabuk on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.