Randika Cuma bisa nahan malunya, hari ini ditakdirkan njadi hari penuh dengan kemaluan dan acara las.
"Kak, biarkan aku yang ncoba untuk berbicara dengannya." Kata Indra pada Randika. Kemudian Indra berpaling ke arah boneka ginseng itu dan ngeluarkan setetes darah dari telunjuknya. Dengan cepat dan sekuat tenaganya, boneka itu nggelengkan kepalanya. Randika langsung nghela napas.
"Kami hanya mbutuhkan setetes darahmu saja." Kata Indra dengan wajah serius. "Dengan itu kakak seperguruanku ini bisa nyelamatkan nyawa orang."
Boneka itu masih nggelengkan kepalanya, tetapi ketika ia lihat wajah serius sahabatnya entah kenapa ia ekspresinya mulai berubah.
Randika, yang lihat dari samping, berdoa dalam hati bahwa hal ini akan berhasil. Indra terus-nerus natap boneka itu dengan wajah seriusnya dan ekspresi boneka itu berubah njadi sedih.
Setelah ditatap oleh Indra sekian lama, boneka itu berhenti nggelengkan kepalanya dan ngangkat kepalanya. Dia lalu ragu-ragu njulurkan tangannya dan dengan ekspresi tidak rela ia ngeluarkan darahnya dari tangannya itu. Tiba-tiba manik-manik berbentuk bola keluar di tangannya dan ia mberikannya pada Indra.
Randika lihat hal ini dengan ekspresi gembira, dia lalu njulurkan jarinya untuk ngambilnya dari Indra. Dan secara ajaib, manik-manik berisikan darah itu bergulir sendiri ke jari Randika.
Darah dari boneka ginseng ini mang unik, berwarna putih dan bertekstur lembut dan halus.
Setelah mberikan darahnya, boneka ginseng itu lompat dan ndarat di atas kepala Indra. Dia njambak rambut Indra dan berteriak ke dalam kepalanya, seakan-akan ngkomplain Indra karena maksanya berbuat seperti itu.
Indra hanya tersenyum ketika lihat sahabatnya itu sedangkan Randika berterima kasih pada Indra. Kemudian Randika dengan cepat mbeli tabung reaksi untuk nyimpan darah berharga itu dan langsung berangkat nuju rumah sakit.
Selain dari Viona yang duduk di samping ranjang neneknya, ada sepasang suami istri paruh baya yang duduk di sampingnya. Si istri tampak telah nangis seharian dan matanya sudah bengkak bukan main. Sedangkan yang laki berwajah serius namun tatapan matanya terlihat kosong.
Tanpa perlu bertanya, kedua orang itu pasti orang tuanya Viona.
Pada saat ini Viona masih nangis pelan ketika lihat banyaknya dokter dan perawat ngerubungi neneknya yang masih koma. Pengunjung yang lain dan pasien lainnya yang lihat hal ini hanya bisa nyampaikan belasungkawanya dalam hati.
"Dok, apakah tidak ada cara lain untuk nyelamatkannya?" Tanya ayahnya Viona.
"Kami telah berusaha sebaik mungkin." Seorang dokter senior natap ayahnya Viona. "Kondisi beliau terus nurun setiap detiknya. Sayangnya beliau sudah berada di tahap akhir kehidupannya, kami hanya bisa mperpanjang hidupnya selama mungkin tetapi itu tidak bisa lebih dari tiga hari."
ndengar hal ini, ibunya Viona ngusap air matanya dan berdiri. "Dok, tolong selamatkan ibuku. Uang bukanlah masalah, selamatkan saja ibuku ini!"
"Maaf, ini bukan perkara uang. Beliau mang sudah berumur dan tidak bisa diselamatkan." Dokter itu nghela napas. "Saya harap pihak keluarga siap relakan kepergian beliau."
Namun, pada saat ini Randika masuk ke dalam ruangan.
"Viona.."
ndengar suara familiar itu, Viona ngangkat kepalanya dan lihat sosok Randika.
"Randika" Viona masih neteskan air matanya.
"Sudah berhentilah nangis, aku akan nyelamatkan nenekmu itu." Kata Randika sambil tersenyum.
Namun ketika para dokter dan perawat ndengar hal ini, reka semua natap Randika dengan tajam.
"Anak muda, jangan berkata yang tidak-tidak." Dokter senior itu langsung ngerutkan dahinya. Dia sudah berpuluh tahun njadi dokter dan ribuan kasus sudah dia tangani, dan sekarang ada anak muda yang berkata lain? Bahkan dia sesumbar akan nyelamatkan pasiennya?
Baginya tidak semua pasien bisa diselamatkan, reka ini dokter bukan penyihir!
"Nak, aku tahu kamu ingin nghibur anak kami." Kata ayah Viona pada Randika. "Tetapi kita tidak bisa lawan kehendak Tuhan dan kami keluarganya sudah siap lepas beliau ke tempat yang lebih baik."
Para pasien dan pengunjung di samping reka nghela napas lagi. Keluarganya begitu baik dan nyayangi si nenek, reka tidak bisa mbayangkan betapa kehilangannya reka setelah nenek itu pergi ninggalkan keluarganya.
Randika hanya tersenyum. "Om, aku tidak pernah berkata omong kosong. Aku yakin bisa nyelamatkannya!"
Ayah Viona terdiam beberapa saat, dalam sekejap tatapan matanya penuh dengan harapan. "Apakah itu benar?"
"Hei kau, hentikan omong kosongmu itu." Salah satu dokter sudah muak dengan Randika. "Kami sudah berusaha sebaik mungkin rawat nenek ini. Sudah jelas bahwa diagnosa kami ngatakan bahwa nenek ini sudah tidak bisa bertahan karena gejala usia yang sudah tua, organ-organnya sudah mulai tidak berfungsi dengan baik. Hal seperti ini sudah tidak bisa diselamatkan, mati karena usia adalah hukum alam!"
Nada suara si dokter itu penuh dengan amarah dan para perawat di sampingnya tidak bisa berhenti ncemooh Randika. reka nganggap Randika benar-benar arogan.
"Aku mahami dan rasakan ketulusanmu ingin nyelamatkannya." Ibu Viona berdiri sambil ngusap air matanya. "Tetapi nak, kita tidak bisa lawan yang namanya usia. Mungkin Tuhan sudah ingin bertemu dengan ibuku ini jadi yang bisa kita lakukan hanyalah nerimanya dan lepasnya dengan tulus."
ndengar kata-kata istrinya dan dokter, ayah Viona yang berwajah gembira itu segera njadi murung kembali. "Apa yang reka katakan benar, aku tidak nyangka kamu akan tega berkata seperti itu untuk nghibur anak kami."
"Om, biarkan aku ncoba." Kata Randika dengan nada penuh percaya diri. "Aku yakin bisa nyelamatkannya."
lihat kekerasan kepalanya Randika, tatapan mata Viona njadi penuh harapan. Ketika Randika penuh dengan percaya diri, keajaiban selalu terjadi.
Hal ini numbuhkan rasa percaya seiring berjalannya waktu. Jadi kalau Randika ngatakan bisa maka dia pasti bisa!
Dan sekarang, wajah Randika benar-benar penuh dengan percaya diri. Viona benar-benar senang di dalam hatinya, dia yakin Randika bisa. Lalu dia natap ayahnya dengan tatapan penuh makna.
"Baiklah." lihat tatapan mata anaknya itu, ayahnya Viona akhirnya setuju.
lihat keluarga pasien setuju, para dokter ini tidak bisa berbuat apa-apa. reka hanya bisa natap tajam Randika, orang ini benar-benar ncela nama reka!
"Permisi, tolong minggir." lihat seorang dokter nghalangi jalannya, Randika mintanya untuk minggir.
"Cih." Dokter itu ndengus dingin dan mberi jalan untuk Randika. Para dokter ini tidak pergi namun ingin lihat bagaimana pemuda ini akan nyelamatkan pasien reka.
Dalam lubuk hati reka, reka sama sekali tidak percaya bahwa Randika bisa nyelamatkan nenek itu. Jelas bahwa organ-organnya sudah kehilangan fungsinya, kematian adalah hal yang pasti jadi mana mungkin bisa nyelamatkannya.
Terlebih lagi, tubuh nenek itu sudah terlalu tua dan tidak bisa nerima obat yang terlalu keras jadi estimasi 3 hari hidup itu sudah sangat bagus.
lihat tatapan mata para dokter itu, Randika hanya bisa tersenyum dan natap reka. "Bisa minta tolong bantu aku ngangkat badannya?"
Dokter senior yang sebelumnya terdiam ngangguk pada perawat di sampingnya. Lalu dua perawat nghampiri Randika dan mbantunya ngangkat si nenek.
"Tolong lepaskan pakaiannya."
Randika lalu ngeluarkan tabung reaksi yang berisikan darah dari boneka ginseng itu dan jarum akupunturnya.
"Buat apa kamu mbuka bajunya?" Seorang dokter ngerutkan dahinya.
"Oh? Cara perawatan itu tidak biasa, aku nggunakan teknik akupuntur." Kata Randika sambil tersenyum. "Karena nenek ini sudah tua, kulitnya sudah kendur jadi aku kesusahan rasakan titik akupuntur dari balik baju. Jadi aku perlu lepas pakaiannya dan rasakannya langsung dari kulitnya."
Reviews
All reviews (0)