Font Size
15px

ndengar jawaban kakeknya ini, Randika nyaris muntah darah. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Viona.

"Kalau begitu aku pergi dulu ya kek." Kata Randika dengan nada kecewa.

"Ah tunggu dulu! Aku kan cuma bilang kalau aku tidak bisa nyelamatkannya bukan aku tidak tahu caranya." Kakeknya ini sudah rasa marah pada Randika. Bisa-bisanya bocahnya itu rehkan pengetahuannya?

Randika lalu kembali tersenyum. "Sudah kuduga kakek mau nggodaku, kakek mang tidak pernah ngecewakanku."

"Hum." Randika bisa lihat dengan jelas skipun reka terpisah jauh bahwa kakeknya ini sekarang sedang ngelus-elus jenggotnya sambil berwajah bangga.

"Jadi bagaimana caranya kek?" Tanya Randika.

"Kadang kau ini bodoh bukan main ya." Kakek ketiga nggaruk-garuk kepalanya lalu berkata dengan sedikit mbentak. "Boneka ginseng adalah jawabannya. Selama nenek dari temanmu itu minum darahnya boneka itu, dia harusnya bisa hidup beberapa tahun lagi."

Teman? Sepertinya kakeknya ini salah ngira, jelas-jelas Viona adalah ceweknya!

Namun, ndengar nama boneka ginseng mbuat Randika kembali kebingungan. Dia benar-benar tidak bisa nangkap boneka itu selama ini. Bahkan Randika tidak pernah bisa nyentuhnya sama sekali selama ini!

skipun dia punya hubungan baik sama boneka ginseng itu, mana mungkin ia mau mberikan darahnya padanya? Bukankah itu sama saja dengan motong sedikit bagian tubuhnya? Mana mungkin ia mau.

"Kek, tapi aku sama sekali tidak bisa nangkapnya. Boneka itu benar-benar lincah." Kata Randika dengan nada ngol.

"Itu bukan urusanku." Kata kakek ketiga sambil tertawa. "Tapi aku yakin bahwa kamu sama boneka ginseng itu ditakdirkan bertemu."

Ditakdirkan?

Sejak kapan kakek ketiganya ini belajar ramal seperti kakek keempat?

Randika lalu nggaruk-garuk kepalanya, bingung harus berbuat apa. Namun, tiba-tiba dari balik telepon terdengar suara ledakan yang keras. Seakan-akan atap rumah yang dijatuhi oleh bom. Suara keras itu segera mbuat Randika njadi cemas.

Apa rumah kakeknya diserang?

"Uhuk, uhuk, uhuk." Untuk beberapa saat, suara batuk terus terdengar dari handphonenya. Lalu tiba-tiba suara marah kakeknya terdengar sangat keras. "Jika kamu nelepon aku lagi saat aku mbuat ramuan obat, aku akan mbotakimu saat kamu pulang!"

"Tutttttttt"

Teleponnya langsung diputus oleh kakeknya. Randika tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa saat, apa mang salah dirinya kalau panci obat kakeknya itu ledak?

Setelah nyimpan handphonenya, Randika lalu berpikir bagaimana caranya dia bisa nemukan boneka ginseng itu. Seharusnya ia masih ada di kota Cendrawasih.

Setelah berpikir keras, Randika nyadari bahwa tempat favorit boneka ginseng itu mungkin adalah Universitas Cendrawasih, kantornya, dan tempatnya Indra. Setelah dipikir-pikir, kemungkinan boneka ginseng itu berada di tempat Indra lebih besar karena tenaga dalamnya Indra yang limpah dan murni.

Oleh karena itu, Randika segera nuju rumah kontrak yang Indra tinggali. Jika boneka itu tidak ada di sana, barulah dia akan berpikir lagi.

Lari bagaikan petir, tidak butuh waktu lama untuk Randika tiba di rumahnya Indra. Ketika dia masuk ke dalam kamar Indra, Randika lihat Indra sedang duduk di kasurnya. Kemudian boneka ginseng itu terlihat sedang duduk di sampingnya sambil nunjuk langit-langit kamarnya. Lalu kedua makhluk ini terjatuh dan terbaring di kasur sambil tertawa.

Ternyata tebakannya benar!

Randika benar-benar gembira, setidaknya dia nemukan keberadaan boneka ini.

"Ah kakak seperguruan, tumben kamu datang ke sini?" Kata Indra dengan muka polosnya. Ketika ndengar Indra berbicara dengan seseorang, boneka ginseng itu natap tamunya dan ternyata itu adalah Randika. Mulut kecilnya terlihat ngecap-ngecap, bagaikan sedang tertawa pada Randika. Kemudian boneka itu dengan cepat manjat pundak Indra.

Sepertinya ia miliki hubungan persahabatan yang kuat dengan Indra.

Randika rasa jengkel ketika lihat aksi boneka ginseng itu yang benar-benar arogan. Akan tiba waktunya tawa nyebalkan itu njadi tangisan minta tolong tetapi waktu itu rasanya masih lama. Hari ini dia harus mohon pada boneka ginseng itu agar mberikannya darahnya.

Randika lalu berjalan nghampiri Indra dan boneka ginseng itu secara perlahan. "Apakah kau ngerti apa yang kukatakan?"

lihat Randika yang mbuka mulutnya, boneka ginseng ini juga nirunya; ia bagaikan bayi yang sedang belajar berbicara.

Baiklah, boneka ini tidak ngerti bahasa manusia.

Namun, hari ini Randika tidak boleh gagal. Nyawa nenek Viona adalah taruhannya jadi dia tidak boleh mbiarkan boneka ini kabur lagi.

"Bisa aku minta darahmu?" Tanya Randika pada boneka ginseng.

Randika rasa bodoh ketika dia bertanya. Mana mungkin boneka ini akan mberikannya secara cuma-cuma? Selama ini reka adalah musuh.

Tidak ngerti apa yang dimaksud Randika, boneka ginseng ini cuma tertawa sambil niru gerakan mulut Randika.

"Kak, apa yang akan kamu lakukan dengan darah itu?" Tanya Indra dengan wajah yang kebingungan.

"Aku rlukannya untuk nyelamatkan nyawa orang." Randika lalu duduk dengan wajah tidak berdaya di sisi Indra. Dia akhirnya sadar betapa pentingnya komunikasi.

Setelah mikirkannya, Randika ngubah caranya berbicara njadi bahasa isyarat.

"Tolong beri aku setetes darahmu." Randika njulurkan jari telunjuknya dan berkat tenaga dalamnya, setetes darah keluar dari telunjuknya.

lihat darah yang keluar dan ekspresi mohon Randika, ekspresi boneka ginseng tiba-tiba berubah. Lalu dia nggelengkan kepalanya sekuat tenaga. Dia lompat dari pundak Indra dan ndarat di lantai, seperti bersiap hendak kabur kapan saja.

Reaksi dari boneka ginseng ini tidak ngherankan. Karena selama ini dia nyerap esensi bumi dan langit selama beratus tahun, seluruh bagian tubuhnya rupakan harta karun khususnya darahnya yang miliki semua esensi itu. Dan sekarang Randika terus terang ngincar dirinya karena nginginkan darahnya, siapa yang tidak takut karenanya?

"Tunggu! Tolong cegah dia untuk pergi!" Kata Randika pada Indra.

Indra dengan cepat berusaha mbujuk boneka itu agar tidak pergi. Di bawah tatapan serius kakak seperguruannya, Indra berhasil mbujuk sahabatnya itu untuk tetap berada di sini. Namun, tatapan mata boneka ginseng itu pada Randika terlihat penuh dengan kebencian.

Boneka itu rasa bahwa Randika adalah orang yang egois, manusia mang makhluk yang hanya mikirkan dirinya.

Mulut dari boneka ginseng itu tidak berhenti bergerak, tampak seperti ibu-ibu yang ngoceh. Ia ngekspresikan unek-uneknya selama ini.

"Aku benar-benar mbutuhkan darahmu setetes saja. Kalau tidak orang yang kusayang akan mati." Terlepas dari boneka itu ngerti apa yang dikatakan oleh Randika, dia berusaha njelaskannya secara perlahan lalui gerakan tangan dan isyarat lainnya.

"Orang itu akan mati, kau tahu mati bukan? Seperti ini." Lalu Randika mutar matanya hingga terlihat putih dan wajahnya njadi pucat. Lalu dia terjatuh ke belakang sambil tidak bernapas. lihat hal lucu ini, boneka ginseng itu tidak bisa berhenti tertawa.

Randika lalu berdiri dan lihat boneka itu tersenyum padanya. Dia sedikit rasa bodoh karena berusaha berkomunikasi dengan makhluk supernatural seperti dia.

Namun, boneka ginseng itu justru tidak bisa tertawa ketika Randika berusaha njelaskannya kembali dengan cara yang sama.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 137: Pentingnya Komunikasi on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.