Setelah itu Randika terus bermainkan beberapa lagu. Setelah suasana njadi tenang, Randika ngajarkan Christina bagian mana yang nurutnya susah dingerti.
Sekarang Christina lah yang bermain dan Randika berdiri di sampingnya. Jika ada kesalahan, Randika langsung nyela dan mbuat Christina mainkannya ulang.
Bukan namanya Randika kalau tidak aji mumpung, sesekali dia akan nggenggam tangan halus milik Christina itu sambil nyenggolkan sikutnya di dadanya.
Tujuan Randika adalah manfaatkan kesempatan kecil ini sebanyak mungkin oleh karena itu dia sama sekali tidak berbicara dan berwajah tegas ketika mperbaiki kesalahan Christina.
Waktu-waktu indah berlalu dengan cepat, tidak sadar sudah setengah jam reka telah berlatih.
Setelah itu reka berdua keluar dari ruangan musik tersebut.
"Aku masih tidak percaya kamu bisa bermain piano." Permainan Randika benar-benar mbekas di benak Christina, dia masih tidak percaya Randika bisa bermain seindah itu. Bisa dikatakan bahwa permainan Randika tidak jauh berbeda dengan para profesional.
"Lelaki sejati tidak akan pernah berbohong." Kata Randika sambil tertawa. "Bukan hanya piano, aku bisa alat musik lainnya lho. Aku bisa bermain gitar, biola, selo dan alat-alat musik lainnya. Apa lain kali kamu ingin ndengarnya?"
Christina sangat tidak mpercayai kata-kata Randika barusan. Mustahil orang biasa dapat nguasai alat musik sebanyak itu.
Pada saat ini, Christina nyadari ada seorang bayi sedang berjalan nghampirinya sambil tertawa.
Ah? Sejak kapan bayi bisa berjalan?
Tetapi detik berikutnya Christina sadar bahwa itu adalah monster yang nghampiri rumahnya! Monster yang ncuri pakaiannya sambil tertawa sum!
mikirkan malam itu, Christina teringat dia hampir dibugili oleh sebuah boneka seperti ini. Dia benar-benar rasa malu.
Namun, apabila dia perhatikan boneka ginseng ini benar-benar lucu dan imut!
Apalagi mulutnya yang kecil dan caranya berjalan sudah cukup mbuat hati para perempuan luluh.
Randika masih belum sadar karena dia berjalan dengan nghadap lurus. Ketika dia lihat Christina yang terdiam, barulah dia sadar bahwa ada boneka ginseng!
Randika senang setengah mati lihat boneka ginseng ini masih berada di kota ini.
Namun perasaan senang ini segera berubah njadi kenangan pahit. Boneka satu ini benar-benar sulit untuk ditangkap. Kecuali boneka itu nyerahkan dirinya, hampir mustahil untuk nangkapnya.
Randika sendiri sudah gagal berulang kali hingga dia rasa frustasi. Selama boneka ginseng itu berada di tanah, sangat mustahil untuk nangkapnya. Dia harus nangkapnya di tengah udara, itulah satu-satunya kesempatan yang dia punya.
Namun, nangkapnya di tengah udara masih aja sulit jadi hingga sekarang ia masih berkeliaran dengan bebas. Namun hal ini tetap tidak mbuat Randika patah semangat, justru darahnya ndidih setiap dia bertemu dengan boneka ginseng ini.
Boneka ginseng ini nyadari keberadaan Randika dan, dengan mata bulatnya, ia natap Randika. Aura yang keduanya pancarkan benar-benar luar biasa pekat.
Christina terlihat bingung. Kenapa Randika tiba-tiba terlihat serius ketika lihat boneka yang imut ini?
Christina lalu lihat sesuatu yang mampu mbuatnya tertawa terbahak-bahak setelah sekian lama.
Ketika boneka itu beberapa detik natap Randika, ia berbalik dan nunjukan pantatnya yang ia goyang-goyangkan. Tindakan seperti ngejek ini mbuat Randika benar-benar murka. Hari ini dia pasti nangkapnya!
Sambil berwajah serius dan tenaga dalamnya yang ngalir deras, Randika nerjang!
Terjangan Randika benar-benar cepat, dia langsung berusaha nangkapnya dengan kedua tangannya. Namun, boneka ginseng itu lebih cepat lagi. Di saat Randika bergerak, ia segera berubah njadi gumpalan asap dan nghilang tanpa jejak.
Saat Randika jatuh tersungkur di tanah, dia tidak bisa lihat jejak boneka ginseng itu sama sekali. Dia sudah ingin nangis darah.
Ternyata boneka ginseng itu bersembunyi di saku celana Randika! Di saat Randika masih kebingungan, boneka ginseng itu luncur turun sambil lepaskan tali sepatu Randika yang terikat.
Tatapan mata Randika masih terfokus pada sosok boneka ginseng yang muncul di kakinya secara tiba-tiba. Dia tidak akan mbiarkannya kabur lagi.
Boneka ginseng itu sudah lari cukup jauh dan noleh ke belakang. Setelah mastikan Randika natap dirinya, sekali lagi dia nggoyang-goyangkan pantatnya dengan liar.
Hal ini semakin mbuat Randika jengkel. Dia bersumpah akan ncincang, nggoreng, mbakar, nggorengnya lagi sampai sosok boneka itu hancur lebur!
ngalirkan tenaga dalamnya ke kakinya, Randika nerjang kembali!
Namun, Randika ternyata nginjak tali sepatunya dan dirinya terjatuh cukup keras.
Christina yang lihat hal ini bingung harus tertawa atau tidak lihat Randika.
Randika sendiri rasa malu sekaligus marah. Sempat-sempatnya boneka itu lepas ikatan sepatunya, selain lincah ternyata dia cukup pintar juga.
Ketika dia berusaha berdiri kembali, Randika tidak langsung nerjang kembali. Dia lalu berlutut dan nali tali sepatunya. Seorang jenteln harus tetap berpenampilan rapi dalam keadaan apa pun!
Tiba-tiba, Christina rasa ada seseorang yang gang pundaknya. Namun setelah noleh ke kiri dan ke kanan ternyata tidak ada orang. Ketika dia noleh ke arah boneka ginseng itu berada, ternyata ia sudah tidak ada.
Apakah boneka itu berhasil lari lagi?
Christina terlihat bingung. Namun, tiba-tiba dia rasa ujung celananya ditarik-tarik. Ketika dia noleh ke bawah, ternyata boneka ginseng itu sedang narik-narik celananya. Tindakannya ini benar-benar imut!
Christina tidak tahu harus berbuat apa, tetapi boneka ginseng itu sudah ndaki celananya hingga sampai ke pundaknya.
Christina jelas rasa terkejut dan mau berteriak tetapi mulutnya dihentikan oleh boneka ginseng itu. Lalu boneka itu hanya duduk sambil tersenyum di pundaknya sambil ngayun-ayunkan kakinya. Benar-benar lucu!
Tidak tahan lagi dengan kelucuan boneka ginseng ini, Christina lalu berusaha rasakan pipinya. Ketika ia rasakan jari Christina di pipinya, boneka itu terlihat malu-malu sambil tertawa.
lihat boneka itu tertawa, Christina juga ikut tertawa. Ternyata monster ini lucu juga pikirnya.
Randika yang berada di kejauhan hanya bisa lihat semua adegan ini dengan ekspresi bingung, taktik apalagi yang harus dipakainya.
Sambil bercanda dengan Christina, boneka ginseng itu nyadari bahwa Randika telah selesai ngikat sepatunya. Setelah natapnya dan lambaikan tangannya, boneka itu loncat dan berlari tanpa jejak.
Lagi-lagi boneka ginseng itu berhasil kabur.
Randika benar-benar frustasi. Boneka itu seakan tidak miliki kelemahan sama sekali. Baginya ini sudah bukan acara nangkap lagi lainkan ajang ngejek Randika.
Sambil nghela napas dalam-dalam, Randika natap langit. Dia sempat terpikir kenangan masa lalunya saat dia masih berkeliling dunia. Saat-saat di mana tidak ada rintangan ataupun musuh yang tidak bisa dia hadapi. Dan sekarang, boneka ginseng ini mpermainkan dirinya hingga sedemikian rupa.
Ternyata di atas langit masih ada langit.
"Itu monster yang di rumahku itu bukan?" Christina sudah nghampiri Randika.
"Benar, jangan tertipu sama penampilannya yang lucu." Kata Randika dengan wajah serius. "Monster itu jelmaan iblis!"
"Pfft!" lihat wajah serius Randika, entah kenapa Christina tertawa sekali lagi. Sudah lama dia tidak tertawa sebanyak ini dalam sehari.
"Aku pergi dulu ya, aku harus ngajar." Kata Christina sambil tersenyum.
lihat sosok Christina yang perlahan nghilang itu Randika masih dipenuhi rasa sedih di hatinya.
Randika lalu mutuskan untuk kembali ke ruangan Hannah dan lihat sudah seberapa jauh adik iparnya nyiapkan toko bajunya.
Tak lama kemudian Randika tiba di toko baju milik Hannah.
"Kak, cepat ke sini dan bantu aku." lihat Randika datang, Hannah rasa senang. Siapa yang tidak suka dengan tenaga kerja gratis?
Reviews
All reviews (0)