Ketika berjalan dengan santai, Christina rasa pundaknya ditepuk.
Setelah noleh, senyuman yang dia harap tidak pernah dilihatnya lagi muncul di hadapannya.
"Hmm." lihat orang itu adalah Randika, Christina dengan cepat malingkan wajahnya. skipun ada sedikit rasa senang lihat Randika, dia tetap berusaha tenang.
lihat Christina yang cuek dan dingin itu, Randika tidak bisa berhenti tertawa. "Tina lihat sini dong."
ndengar nama itu, Christina hampir terpeleset.
"Hei, jangan panggil aku itu!" Christina noleh sambil marah-marah. Panggilan itu mbuat dirinya teringat ketika Randika lihatnya setengah telanjang. Terlebih, dia teringat akan Randika yang raba-raba dirinya di tengah kesulitannya itu.
Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Jika aku tidak manggilmu seperti itu, kau tidak mau noleh."
Christina hanya malingkan wajahnya. Kali ini wajahnya penuh dengan ekspresi dingin.
"Tina" Kata Randika lagi.
"Jangan panggil aku itu!" Lagi-lagi Christina marah dan mbentaknya. Namun, kali ini ada dua murid yang lewat.
"Selamat siang Bu Christina."
ndengar suara itu, Christina dengan cepat njadi seorang guru. Dia berbalik dan tersenyum manis. "Selamat siang."
Ketika kedua murid itu pergi, Christina natap tajam Randika yang sedang tertawa. Randika ndengar ucapan tersembunyi para murid itu yang nyangka dirinya adalah pacar dari gurunya.
Setelah kedua murid itu sudah cukup jauh, Randika bertanya pada Christina. "Apakah mantanmu berbuat masalah lagi?"
"Aku sudah ngganti kunci rumahku." Kata Christina.
"Oh?" Randika ngangguk. Ternyata perempuan ini cukup pintar tetapi dia sedikit khawatir bahwa karena kejadian itu, Christina akan mbangun dinding di sekitarnya agar tidak ada lelaki yang bisa ndapatkan hatinya lagi.
"Sekarang apalagi yang mbuatmu datang ke tempat ini?" Kali ini Christina yang bertanya.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu." Kata Randika sambil tersenyum. "Lagipula, anak-anak muda ini ngingatkanku masa-masa mudaku dulu."
"Aku tidak bisa mahamimu." Kata Christina sambil nghela napas. Dia sempat senang ndengar kata pertama Randika tetapi kata-katanya berikutnya mbuatnya tidak bisa mahami Randika sedang bercanda atau tidak.
lihat Christina yang sedikit kecewa itu, Randika nyadari betapa cantiknya orang ini skipun terlihat sedih.
"Apakah dadamu masih sakit?" Tanya Randika.
"Sudah jauh lebih baik." Kata Christina. "Sama sekali tidak terasa sakit."
Randika ngangguk puas. "Namun, jika kamu ingin itu sembuh total maka kamu perlu ndapatkan perawatan beberapa kali lagi. Kalau tidak, penyakit itu tidak akan pernah hilang."
"Oh ya?" Wajah Christina itu segera terlihat dingin. "Bukankah waktu itu kamu mberitahuku bahwa aku telah sembuh total?"
"Hahaha, apa aku berkata seperti itu dulu?" Randika terlihat malu dan malingkan wajahnya.
lihat Randika yang salah tingkah itu, suasana hati Christina njadi lebih baik.
"Kamu sedang apa?" Randika lirik Christina yang tersenyum itu dan ngalihkan topik pembicaraan.
"Aku sedang berlatih piano." Christina langsung nunjukan lembaran musik piano di tangannya.
Randika ngambilnya dan riksanya.
"Ada bagian yang aku tidak bisa mainkan dengan baik." Kata Christina.
"Gampang sekali, aku akan ngajarkanmu."
ndengar hal ini, Christina natap Randika tajam-tajam. Dia lalu ngambil lembarannya itu dari tangan Randika. "Kau bisa main piano?"
Jelas pria ini berbohong!
Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Tanganku ini serba bisa, piano hanyalah mainan bagiku. Jangan khawatir, aku tidak pernah berbohong. Sini, aku akan ngajarkannya padamu."
Christina benar-benar tidak percaya dengan kata-kata Randika. Tetapi setelah berpikir tentang bagaimana pria ini nyembuhkan penyakitnya, dia rasa mungkin saja dia tidak berbohong.
Apakah dia benar-benar bisa bermain atau tidak? Pertanyaan itu terus nerus muncul di pikirannya.
Christina lalu berkata pada Randika. "Ruangan praktik musik ada di sebelah sana."
Randika tersenyum dan berjalan berdampingan dengan Christina.
...........
Ruangan Praktik Musik
Tidak peduli sekolah manapun, ruangan musik rupakan tempat favorit para pria. Kenapa? Karena sarang para perempuan cantik dan elegan adalah tempat ini!
Bisa dikatakan bahwa orang-orang yang berada di jurusan musik biasanya adalah orang-orang tampan dan cantik, khususnya para perempuannya. Diiringi dengan lodi yang enak didengar, kecantikan reka ndapatkan nilai tambahan di mata Randika.
Apalagi jurusan musik di universitas ini adalah yang terbaik di kota Cendrawasih jadi para bunga-bunga ini berkumpul di satu tempat yang sama.
Selain jurusan musik, jurusan perhotelan juga dikenal sebagai tempat perempuan cantik berkumpul. Kecantikan reka cukup diacungi jempol dan njadi bahan pembicaraan para lelaki.
Selama perjalanan reka ke ruangan praktik musik, mata Randika terpaku pada kaki-kaki para perempuan cantik ini. Dia mberikan reka angka 8 untuk kemulusannya. Sedangkan perempuan yang sedang berlatih biola itu dia berikan nilai 10!
Ketika lihat Randika yang seperti anak kecil itu, Christina sedikit rasa jengkel. "Bisakah kau biasa saja lihat reka?"
Randika lalu narik tatapan matanya dan tertawa. "Tidak ada salahnya kan? Aku cuma ngapresiasikan kecantikan reka."
Kata-kata Randika benar-benar terus terang, Christina sampai tidak bisa berkontar.
Christina mbawa Randika ke sebuah ruangan di lantai 2. Setelah mbuka pintu, ruangan itu penuh dengan orang.
Ruangan kelas ini kedap suara dengan berbagai instrun musik yang terpasang. Di ruangan yang luas ini, terdapat 8 piano. Murid-murid jurusan musik ini sedang berlatih dan mbaca lembaran musiknya.
Di bagian pojok dekat jendela, ada piano yang tidak terpakai. Christina mbawa Randika ke piano itu.
"Baiklah." Randika lalu duduk sambil tersenyum. Dia lalu lemaskan jari-jarinya sambil nyesuaikan kursinya. Ketika dia hendak bermain, dia tiba-tiba berhenti.
Di tengah kebingungan Christina, Randika dengan nada malu ngatakan. "Aku tidak hafal lagunya."
"Aku kira kamu sudah nguasai lagu itu." Kata Christina sambil ndengus dingin. Dia lalu letakan lembaran musik pianonya di depan Randika.
Randika lalu mbolak-balik halaman tersebut dan nanyakan bagian mana yang Christina bingung. Christina lalu nunjukan Piano Sonata No. 8 Beethoven bagian 3rd Movents dan Croatian Rhapsody oleh Maksim Mrvica. Baginya kedua musik ini sedikit sulit
Setelah mbaca skor itu dengan baik, Randika noleh ke arah Christina. "Apa kamu tidak bisa mainkan musik yang cocok dengan gayamu?"
"Hmm? Kedua itu cocok dengan gaya bermainku." Kata Christina dengan wajah serius.
Lagu yang lankolis dan tragis seperti ini cocok buatmu?
Randika lalu nutup matanya dan nutup lembaran musiknya. Ketika dia mbuka matanya, dia sudah siap.
Tiba-tiba, alunan piano sudah dia mainkan.
Nada halus dan kecil, bagaikan orang depresi sedang berbisik.
Piano Sonata No. 8 Beethoven bagian 3rd Movents rupakan salah satu kesukaan Randika, jadi dia sangat nghayati lagu ini.
Randika bahkan bisa lihat sebuah ruangan gelap di mana api dari tungku nyala dengan kecil sambil ditemani air hujan. Seluruh ruangan itu terlihat kosong dan gelap, hanya ada seorang pria duduk sendirian di depan piano dan mainkannya dengan pelan.
lodi terus ngalir tanpa henti, lalu pria di ruangan itu seakan-akan ngeluarkan rasa depresinya yang terdalam dan tuts piano semakin cepat dimainkannya.
Christina benar-benar terkejut ketika lihat Randika bermain piano dengan penuh penghayatan. Di depan piano, sosok Randika benar-benar berubah. Sosok yang biasanya bercanda dan tidak pernah serius itu benar-benar terlihat elegan. Christina sendiri rasa dirinya larut dalam lodi dan hatinya benar-benar rasakan kisah tragis dari lagu ini.
Bagaimana bisa?
Christina yang nutup matanya itu bisa mbayangkan bahwa dia sedang berada di ruangan gelap bersama dengan Randika. reka sedang duduk berdampingan tetapi jarak Randika semakin jauh dari dirinya tiap detiknya.
Suara dari piano ini semakin keras dan kencang, tiap tuts mberikan sensasi tragis.
Tiba-tiba, suara yang cepat itu dengan cepat turun drastis dan njadi tenang. Seakan-akan seluruh hatinya sudah dia luapkan semua dan sekarang dia sedang ncari orang untuk dia ajak bicara.
Christina mbuka matanya. Tanpa sadar dia ternyata duduk di samping Randika. Lalu setelah nutup matanya lagi, suara tuts piano itu tetap tenang dan mberikan sensasi unik yang mbuat Christina larut di dalamnya.
Sambil ncuri-curi pandang, Christina nyukai wajah serius Randika. Randika yang diam dan terlihat dewasa ini terlihat tampan.
Akhirnya, perasaan depresi keluar dengan deras. Seperti air terjun, perasaan depresi ini luap keluar dari hati pria yang duduk sendirian di ruangan gelap itu. Kesedihan, depresi, penyesalan Beethoven benar-benar bisa dibawakan oleh Randika dengan baik.
Para murid di ruangan ini juga terkejut. reka semua ngerti bagaimana sulitnya Sonata yang dikenal sebagai Sonata Pathetique itu. Namun, orang itu bisa mainkannya dengan sempurna.
Tidak bisa dipungkiri, semua orang berhenti beraktivitas dan mperhatikan Randika.
Para murid ini nutup mata reka, ndengarkan alunan lodi dan mbayangkan hal yang sama dengan Christina.
Sekarang suara piano terdengar lambat lagi. Setelah mainkan bagian terakhir dengan tangan kanannya, Randika mbuka matanya.
Sesaat setelah mbuka matanya, Randika benar-benar terkejut. Semua orang di ruangan itu natapnya lekat-lekat. reka semua berhenti beraktivitas dan lihat dirinya bermain piano bahkan Christina yang duduk di sampingnya masang wajah serius.
Ada apa ini? Apakah ada makanan nyangkut di gigiku?
Tidak, aku tadi pagi sudah gosok gigi.
Randika yang tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba ndengar suara tepuk tangan yang keras.
Plak, plak, plak, plak!
Semua orang bertepuk tangan dengan semangat, reka kagum dengan permainan orang itu. Bahkan Christina tersenyum lebar lihat Randika, dia benar-benar mbuatnya kagum.
"Terima kasih, terima kasih." Randika tertawa sambil tersipu malu. Dia hanya bermain nuruti isi hatinya, entah kenapa dia malah dipuji orang-orang.
lihat sosok serius itu njadi sosok pria yang genit dan tidak tahu diri lagi, Christina sedikit bingung. Dia berharap Randika tetap njadi sosok tampan seperti sebelumnya.
"Lagi! Lagi!"
Tiba-tiba semua murid itu bersorak minta Randika bermain sekali lagi.
"Lagi! Lagi!"
Suasana ruangan musik ini njadi heboh dan antusias.
Randika sambil tersipu malu ngatakan. "Baiklah, karena semuanya yang minta maka aku akan bermain beberapa lagu lagi."
Setelah itu, Randika kembali duduk dan bermain sekali lagi.
Tiba-tiba, seluruh ruangan sudah dipenuhi oleh lodi ledak-ledak seakan-akan reka berada di tengah dan tempur. Seiring berjalannya lagu, pemandangan ini berubah njadi pemandangan pasca perang. Di tengah tanah tandus itu, tumbuh sebuah bunga yang akhirnya kar.
Reviews
All reviews (0)