Lelaki itu benar-benar bersemangat setelah berhasil narik perhatian dua orang kaya itu. Dia tanpa henti njelaskan dan bercerita tentang kelebihan tokonya.
"Di tempatku ini, kualitas bajunya yang terbaik daripada toko-toko lainnya."
Hannah natap Randika sambil tersenyum dan lihat ekspresi Randika tetap datar. Hannah akhirnya tidak bisa terdiam terus dan bertanya. "Harga dari baju ini berapa?"
"Hahaha tidak mahal. Satu buahnya 100 ribu." Mata lelaki itu mulai berputar.
"Murah sekali!" Hannah tersenyum lebar. Ketika dia ingin mbelinya, Randika dengan cepat bertindak.
"100 ribu? Itu sedikit mahal. Han, lebih baik kita lihat-lihat toko yang lain dulu."
Setelah itu, Randika mbawa pergi Hannah dari tempat itu.
"Ah!" Penjaga toko itu njadi panik. "Baiklah, untuk kalian hari ini harganya njadi 90! Bukan 80 ribu!"
ndengar teriakan orang itu, Randika tetap berjalan tanpa noleh. Setelah berjalan cukup jauh, dia nyadari wajah Hannah yang terlihat bingung dan polos itu.
Setelah nghela napas, Randika ngatakan. "Han, aturan berbisnis yang paling sederhana yang perlu kau ingat adalah mbeli dengan harga semurah mungkin dan njualnya semahal mungkin untuk ndapatkan keuntungan besar. Jika kau tadi mbeli tanpa nawar, bagaimana mungkin kau bisa ndapatkan keuntungan yang tinggi?"
"Oh!" Hannah dengan cepat ngangguk. "Baiklah, aku sudah ngingatnya!"
"Terlebih, kalau kamu tidak ngerti harga pasar berapa, lebih baik kita riksa beberapa toko. Kita perlu mbandingkan harga sekaligus kualitas yang diberikan, tapi ingat juga kalau beberapa style baju miliki harga yang berbeda."
Hannah terus-terusan ngangguk seperti ayam yang sedang matok tanah. Tatapan matanya terlihat kagum. "Kak Randika mang luar biasa!"
"Tentu saja, kakak iparmu ini mang yang terbaik!" Randika njadi besar kepala.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Hannah sambil tersenyum.
Randika ngatakan. "Tentu saja kita harus riksa beberapa toko dan mbandingkan harganya nanti. Setelah nemukan tempat yang cocok, baru kita akan mborong dari reka."
"Baik!" Hannah dengan antusias njawab.
"Kalau begitu, lebih baik kita berpencar." Randika lalu nunjuk ke arah sebelah kanan. "Kamu periksa arah sana dan aku akan ke situ. Setelah 30 nit kita akan bertemu di tempat kita sekarang."
Sungguh jarang Randika mau mbantu orang tanpa pamrih, mungkin baginya ini adalah pertama kali dia lakukannya. Bagaimanapun juga, Hannah adalah adik dari istrinya jadi mungkin Hannah sudah dia anggap keluarganya.
Di lain sisi, Hannah nuruti saran Randika dan mulai njelajahi toko-toko. Sambil mperhatikan style baju serta harga, Hannah mulai ngerti harga pasarannya. Dia benar-benar rasa bodoh ketika dia senang ndengar kata 100 ribu saat pertama kali dia datang. Harga toko-toko lain benar-benar jauh di bawahnya, hampir ncapai angka 50-60 ribu.
Dalam hatinya dia semakin kagum pada kakak iparnya itu.
Setelah keluar masuk beberapa toko, akhirnya Hannah sudah miliki pemikiran bagaimana mana nanti dia akan njualnya. Namun, pada saat ini muncul lelaki gendut yang nghampirinya.
"Hai cantik, sedang lihat-lihat baju?"
Hannah noleh dan nemukan bahwa pria gendut dengan wajah berkeringat itu sedang berusaha nggodanya.
Tanpa njawab, Hannah hanya ngangguk.
"Kalau begitu mau aku antar?" Pria gendut ini langsung njadi bersemangat. "Aku sudah bertahun-tahun bekerja di tempat ini, aku tahu selak beluk tempat ini dan aku punya selera baju yang bagus."
"Tidak usah terima kasih." Hannah dengan sopan nolak.
Pria gendut itu tidak mau nyerah, lihat sosok Hannah yang njauh dia segera nyusulnya. "Sudah santai saja, aku akan ngenalkanmu ke toko-toko yang bagus dan murah secara gratis! Jadi baju seperti apa yang kamu inginkan?"
Hannah hanya ngerutkan dahinya, pria ini benar-benar nyebalkan.
Namun, sekarang pria gendut itu ncegat laju Hannah sambil tersenyum. "Sayang, kalau kau tidak njelaskan bagaimana bisa aku mbantumu?"
"Aku sudah bilang kalau aku tidak butuh bantuanmu." Kata Hannah dengan nada dingin.
"Hahaha ternyata kau malu-malu kucing, aku suka itu." Pria gendut itu tertawa. Dia masih ngekori Hannah dari belakang.
"Hari ini aku akan nemanimu belanja." Pria gendut itu tersenyum. "Kau benar-benar beruntung."
Hannah sudah tidak peduli, dia hanya berjalan sambil ncuekinya. Tetapi, pria gendut itu tetap ngekorinya. Dan ketika dia mau nyentuh pundak Hannah, Hannah dengan cepat nampar tangannya itu.
"Kau sudah gila apa?" Hannah njadi marah, kok ada orang tidak tahu diri seperti ini?
"Kenapa kau tiba-tiba marah sayang?" Pria gendut itu terlihat bingung sambil ngerutkan dahinya.
"Jangan ngikutiku terus!" Kata Hannah dengan nada marah.
Pria gendut itu justru tersenyum. "Aku ngikutimu rupakan anugerah bagimu."
Bersamaan dengan itu, pria gendut ini berusaha nggandeng tangan Hannah. Untungnya Hannah bereaksi dengan cepat dan mbuat jarak dengan pria itu.
Ketika pria gendut itu berusaha nghampirinya lagi, Hannah nyadari bahwa orang-orang di sekitarnya benar-benar tutup mata terhadap situasinya. Seolah-olah reka telah njadi orang buta.
Ada peribahasa yang ngatakan 'Terpegang di abu dingin' [1]. Jadi, orang-orang tidak ingin terlibat dengan reka. Apalagi reka tahu latar belakang dari pria gendut itu.
"Jika kau berani ngikutiku lagi, jangan salahkan aku kalau bertindak kasar." Kata Hannah sambil masang kuda-kuda bertarungnya yang dia pelajari di klub karate.
"Oh, ternyata selain cantik kau cukup liar juga." Wajah pria gendut itu terlihat semakin bengis. "Aku penasaran bagaimana liarnya kamu di tempat tidur. Aku akan mbuatmu tidak akan pernah lupakan diriku."
Pada saat ini, pria gendut itu rasa pundaknya dipegang seseorang. Setelah dia noleh, sebuah tinju sudah layang dan ndarat di wajahnya.
DUAK!
Tinju itu ndarat di mata pria gendut ini dengan sempurna. Dia lalu rasa pusing sambil berjalan mundur beberapa langkah.
"Kakak!" Hannah tersenyum gembira ketika lihat sosok Randika. Dengan cepat dia bersembunyi di belakang punggung Randika.
Randika lalu natap pria gendut itu dengan tatapan jijik. Berani nyentuh adik iparnya? Nyari mati apa? Aku sendiri saja belum pernah rasakannya secara langsung. Ah! Maksudku dia adalah adik iparnya yang berharga!
Terlebih, pria ini jelek dan gendut. Kalau jelek saja mungkin masih tidak apa-apa orang ini sudah jelek, tidak tahu diri, bahkan nguntit orang.
Akhirnya pria gendut ini sudah mulai kembali sadar. Tetapi rasa sakit di matanya masih belum hilang, sambil gangi matanya itu dia natap Randika. "Siapa kamu?"
Randika tidak njawab, pria gendut itu lalu lihat Hannah bersembunyi di belakangnya. "Ah, kau pacarnya?"
"Berani-beraninya kau mukulku! Kau tahu siapa aku di tempat ini?" Bentak pria gendut itu.
"Aku tidak tahu, coba kau bantu aku." Kata Randika dengan santai.
"Aku dijuluki si Gajah Penghancur! Tidak ada orang yang berani nyinggungku di tempat ini, jika kau macam-macam maka aku pastikan tidak ada toko yang akan layanimu!" Kata pria gendut itu.
Gajah?
Randika dan Hannah tertawa bersama, julukannya itu benar-benar cocok lihat betapa gendutnya orang itu.
"Tertawain apa kalian?" lihat kedua orang itu tertawa, pria gendut itu semakin marah.
"Bukan apa-apa, julukanmu itu bagus kok." Randika justru makin tertawa keras.
lihat pria gendut itu yang marah-marah sendiri tidak jelas, Randika bergerak dengan cepat dan nekan titik akupunturnya. Tiba-tiba pria gendut ini rasa suaranya tidak bisa keluar sama sekali.
Apa yang sedang terjadi?
Pria gendut ini njadi panik dan natap Randika dengan perasaan ngeri.
"Jika kau macam-macam denganku, kakimu selanjutnya yang tidak bisa bergerak." Kata Randika dengan santai sambil mbawa Hannah pergi.
lihat sosok Randika yang pergi, pria gendut ini tidak tahu harus berbuat apa. Dia lalu mutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
"Kak, untung kakak datang." Hannah tersenyum sambil luk tangan kakak iparnya itu. "Laki itu benar-benar njijikan."
"Aku tidak bisa nyalahkannya, kecantikanmu itu mang tidak ada duanya. Aku sendiri harus nahan diri supaya tidak sama seperti dia." Kata Randika sambil tersenyum.
ndengar pujian kakaknya itu, entah kenapa Hannah rasa malu.
"Jadi bagaimana? Sudah tahu apa yang akan kamu borong?" Randika lalu kembali ke bisnis.
reka berdua lalu berdiskusi dan nukar harga dan pendapat.
"Baiklah." Setelah selesai berdiskusi, Hannah dengan cepat ngambil keputusan. Dia lalu pergi ke toko tempat yang telah reka diskusikan.
Randika terus ngikuti Hannah. Hari ini dia akan njadi ntor dari Hannah, sedangkan masalah ncari uang nantinya, itu bukan hal yang harus diperhatikan. Yang dia perlu ajarkan adalah perencanaan serta eksekusi yang benar, setelah itu uang akan datang dengan sendirinya.
Tapi, kekhawatiran Randika mungkin sedikit berlebihan. Hannah rupakan orang yang ahli dalam berbisnis dan tawar-nawar, hal ini sedikit ngejutkan Randika.
Setelah setengah jam berkeliling, Hannah sudah mbeli puluhan baju yang populer di kalangan anak muda dengan harga yang sangat murah.
Ketika Hannah ncari-cari baju di toko lain, Randika ncegatnya. "Han, mungkin ini sudah cukup. Kita coba dulu seberapa dalam airnya baru setelah itu kita bisa mikirkan bagaimana ke depannya."
Hannah ngangguk setuju, dia lalu ngatakan. "Kalau begitu, kita ke sekolahku!"
Kemudian reka dengan cepat masuk ke dalam mobil.
Randika tidak lupa mbeli hanger dan rak untuk nggantung baju-baju ini. Setelah selesai, reka langsung nuju Universitas Cendrawasih.
"Han, apakah ruanganmu itu sudah siap?" Tanya Randika.
"Ada kakak kelasku yang masih nempati ruangan itu. Dia seharusnya keluar hari ini, sebentar akan kutelepon dia sekarang untuk mastikan."
Tak lama kemudian, teleponnya itu diangkat.
"Halo kak Al? Ini aku Hannah, apa kakak sudah beres-beres tokonya kakak? Kalau begitu.." Hannah ngeluarkan kemampuan negosiasinya.
Tak lama kemudian Hannah nutup teleponnya dan ngangguk pada Randika.
Sepuluh nit kemudian akhirnya reka sampai di sekolahnya. Hannah dengan cepat turun untuk bertemu dengan Al terlebih dahulu untuk serah terima ruangan.
"Oke kak, semua sudah beres." Ketika Hannah kembali ke mobil, napasnya sudah terengah-engah. Namun, tatapan matanya terlihat bersemangat. Dia lalu ngeluarkan baju-baju serta barang-barang lainnya ke ruangan yang akan njadi toko kecilnya itu.
Ketika Randika mbantunya nyiapkan toko ini, dia lihat sosok yang familiar.
Dia lihat sosok Christina tidak jauh dari tokonya itu. Hari ini perempuan itu terlihat cantik dengan rok ketat rahnya itu.
"Han, aku keluar sebentar ya." Kata Randika.
"Baiklah." Hannah dengan cepat setuju.
[1] ncampuri sesuatu (urusan) yang nyusahkan atau ncelakakan diri sendiri.
Reviews
All reviews (0)