Font Size
15px

"Ayo kak cepat! Keburu malam nanti!" Kata Hannah sambil nyeret Randika masuk.

Randika rasa tidak berdaya dan mulai mbantu letakan baju di etalase dan ngurus barang-barang yang lain.

Karena adik iparnya yang butuh bantuannya, skipun ogah-ogahan Randika tidak punya banyak pilihan.

"Han, apa kamu terus yang akan njaga toko ini?" Tanya Randika.

Sebagai mahasiswa, Hannah jelas punya kewajiban sebagai pelajar jadi mustahil dia akan njaga toko ini setiap harinya.

"Tidak, tapi aku kenal banyak orang di sekolah ini. Aku akan minta bantuan reka untuk nyebarkan bahwa aku sedang ncari pekerja paruh waktu." Kata Hannah sambil tersenyum.

Randika ngangguk puas. "Kau harus mpercayai para karyawanmu nanti. Kalau sudah nyangkut masalah uang, banyak masalah yang bisa timbul."

Hannah lalu njawab keraguan Randika dengan nada bangga. "Jangan khawatir, aku sudah mikirkan sistem di mana komunikasi berjalan dua arah dan aku juga akan masang kara."

Ketika reka masih sibuk nyiapkan, terdengar suara orang dari pintu. "Permisi, siapa yang bertanggung jawab terhadap ruangan ini?"

Randika dan Hannah noleh. Ternyata orang itu adalah mahasiswa yang berpakaian ala anak-anak nakal, dari kelakuannya itu Randika nyimpulkan bahwa mahasiswa itu sudah di sester akhir.

"Iya ada apa?" Hannah nghampirinya sambil tersenyum.

"Aku dengar ruangan ini bisa disewa?"

"Ah maaf, aku sudah nyewa tempat ini dari kak Al." Kata Hannah sambil minta maaf.

lihat dada Hannah yang besar itu, mahasiswa akhir ini benar-benar terpukau. Sesuai dugaannya, adik kelasnya ini benar-benar nawan!

"Baiklah kalau begitu." Lelaki itu nghela napas. "Aku sebenarnya tertarik sama ruangan ini tetapi kalau kamu sudah nyewanya apa boleh buat."

"Terima kasih kak, sekali lagi aku minta maaf." Kata Hannah sambil tersenyum. Dia lalu kembali ke ruangan tengah.

"Ah, aku akan mbantumu." Mahasiswa akhir ini langsung dengan sigap mbantu Hannah ngangkat kardus. "Dari jurusan mana kamu?"

Randika geleng-geleng lihat hal ini. Dia rasa mahasiswa akhir ini hanya pura-pura tertarik sama ruangan ini untuk ndekati adik iparnya. Lebih parahnya lagi dia ncueki dirinya? Jangan harap kau akan ndapatkan restunya!

"Maaf, kami sedang tidak mbutuhkan bantuanmu." Kata Randika sambil tersenyum.

Mahasiswa akhir itu noleh dan natap Randika. Dengan nada dingin dia ngatakan. "Aku tidak peduli kau siapa, tetapi kalau aku sedang berbicara dengan adik kelasku ini tolong jangan ganggu aku."

Arogan sekali?

Randika lalu natap Hannah. "Han, karena kamu sedang belajar bagaimana lika-liku mbangun usaha, tidak baik kamu nerima bantuan orang luar."

ndengar kata-kata Randika, Hannah lalu noleh ke kakak kelasnya itu. "Maaf kak, aku sedang tidak butuh bantuan pada saat ini."

Lelaki ini terlihat tersenyum tetapi kepalan tangannya semakin erat tiap detiknya. "Oh tidak apa-apa, kalau butuh apa-apa panggil aku saja."

Lalu mahasiswa akhir itu berjalan nghampiri Randika dan nabrak pundaknya. "Kau ingin mati?"

Randika hanya tersenyum. "Tidak, tidak, tidak, di luar sana masih banyak perempuan cantik. Kenapa kau terlihat sedih hanya karena satu orang nolakmu? Kau itu masih muda, hidupmu masih lama. Selama kau miliki hati yang baik dan perilaku dewasa, maka para perempuan akan datang dengan sendirinya. Jangan terlalu mikirkan penolakan ini terlalu dalam."

lihat Randika yang sok bijak, Hannah hanya bisa tertawa kecil. Kakak iparnya ini mang suka mpermalukan orang.

ndengar hal ini, mahasiswa akhir itu njadi marah. "Biarkan aku mberitahumu, jika kau tidak segera nghilang dari tempat ini maka akan kubuat wajahmu babak belur."

Randika lalu njulurkan jari telunjuknya dan nggoyangkannya. "Kau salah teman. Pertama-tama, para perempuan yang aku kenal ncintaiku dengan sepenuh hati jadi ski wajahku tidak berbentuk reka masih ncintaiku. skipun aku tahu kau tidak terima bahwa aku lebih tampan darimu dan lebih populer, cara kasar seperti itu tidak akan mbuatmu populer di kalangan wanita. Jadi pikirkan baik-baik sebelum kau malu sendiri. Kedua, tidak mungkin kau bisa mbuatku babak belur."

Randika ngatakan semua hal itu dengan cepat, mahasiswa akhir itu hanya mbiarkannya masuk ke telinga kiri dan keluar di telinga kanan.

lihat Randika yang sudah diam, dia mbunyikan tulang tangannya. "Kuberitahu, aku berlatih tinju dan sudah nangkan beberapa kejuaraan. Pikir baik-baik kata-katamu berikutnya."

"Justru karena aku tidak berlatih bela diri sepertimu, aku makai otakku secara sempurna. Jadi skipun aku kalah kekar darimu, setidaknya aku lebih berkharisma dan cerdas."

lihat senyuman di wajah Randika, mahasiswa akhir ini sudah tidak bisa nahan amarahnya. "Aku benar-benar ingin lihat apakah temanmu itu akan tetap mau bersamamu setelah wajahmu sudah tidak berbentuk."

"Oh? Kalau begitu kita lakukan ini di luar saja." Randika lalu berjalan ke arah pintu. "Aku tidak ingin ruangan yang susah payah aku bereskan malah njadi berantakan."

Setelah itu Randika keluar dari ruangan dan nunggu mahasiswa itu untuk keluar.

Setelah reka berdua di luar, Randika mulai mberikan bumbu agar musuhnya nyerang duluan. Randika ngacungkan jempolnya terbalik!

lihat provokasi itu, mahasiswa akhir ini benar-benar sudah tidak tahan lagi.

"Kau sendiri yang milih mati." Tatapan mata mahasiswa akhir ini sudah benar-benar dipenuhi api kebencian. Dia lalu nerjang dan layangkan pukulannya.

Tapi di nghantam udara kosong dan pundaknya seakan telah dipegang oleh orang. Ketika dia noleh, Randika sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

Bukankah orang itu ada di depannya? Kenapa dia bisa muncul di belakangnya?

Sedikit rasa ragu lintas di pikirannya, namun dia dengan cepat berusaha nangkap tangan Randika yang ada di pundaknya.

Lagi-lagi dia gagal dan Randika sudah berada di belakangnya lagi!

Sekarang tatapan mahasiswa akhir ini benar-benar bingung. Musuhnya ini bisa nghilang dengan cepat dan berada di belakangnya dalam sekejap. Gerakan apa itu?

"Hei, hei, aku di sini. Coba tangkap aku." Kata Randika sambil tertawa. lihat bocah itu masih nerjangnya, Randika berlarian tanpa henti.

Randika sama sekali tidak lawan balik, dia terus ngajak mahasiswa itu berlarian ke sana kemari tanpa mbuat dirinya tersentuh.

Setelah beberapa nit, dahi dan punggung mahasiswa itu sudah basah oleh keringat. Selama ini dia bahkan belum bisa nangkap ujung baju Randika.

"Ternyata bukan hanya kamu tidak sering makai otakmu, kemampuan fisikmu ternyata lemah juga. Gimana caranya perempuan mau sama kamu kalau begitu?" Kata Randika sambil tertawa.

ndengar ejekan itu, mahasiswa ini raung keras dan berusaha nangkap Randika.

Kali ini, Randika tidak lari lainkan diam di tempatnya. Namun ketika mahasiswa itu berusaha nangkapnya, Randika hanya nghindarinya dengan gerakan sederhana.

"Aduh nyaris saja, ayo sedikit lagi."

lihat kedua laki-laki ini sedang kejar-kejaran, Hannah hanya bisa nghela napas dan bekerja kembali tanpa banyak kontar.

Sedangkan para murid yang berjalan lewati reka, hanya mandang reka dengan tatapan bingung. Sudah gede tetapi masih main kejar-kejaran?

Setiap kali Randika hampir mbuat dirinya tertangkap, dia berhasil nghindar dan mbuat jarak di antara reka. Mahasiswa itu sudah kecapekan bukan main, dia rasa lututnya sudah lemas.

"Kau. Sebutkan namamu!"

Mahasiswa itu natap Randika dengan tajam.

"Lho sudah selesai?" Randika lalu tersenyum. "Julukanku adalah pendekar tampan, tidak ada orang yang tidak ngenalku di jurusan bahasa inggris."

"Baiklah, lihat saja kau nanti!" Kata mahasiswa itu dengan nada dingin. Dia lalu pergi ninggalkan Randika.

lihat lawannya kabur, Randika tertawa. Ketika dia noleh, dia lihat Hannah sedang sibuk sendirian.

"Han, aku ada urusan jadi aku pulang dulu ya." Randika tidak akan nyia-nyiakan kesempatan untuk kabur!

Sukses mpermainkan laki-laki yang arogan dan berhasil kabur dari jeratan adik iparnya, hari ini benar-benar nyenangkan bagi Randika.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 135: Kejar-kejaran on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.