Font Size
15px

"Tidak masalah." Randika langsung berjanji akan mbantu Inggrid dan perusahaannya. "Ingatlah akan satu hal ini, kau itu milikku. Buat apa khawatir aku akan nolak? Bukankah wajar suami mbantu istrinya yang kesusahan?"

Inggrid nggigit bibirnya. Ketika dia lihat wajah Randika, dia rasa bahwa lelaki ini mang vulgar dan tidak tahu diri. Dia ingin mbalas perkataan suaminya tetapi dia tidak bisa mbuka mulutnya sama sekali. Inggrid berambisi untuk nguasai pasar internasional dan mbuat perusahaannya njadi perusahaan terbesar di dunia. Salah satu cara untuk langkah masuk ke dalam pasar ini adalah dengan produk parfumnya. Dan kemampuan Randika dalam mbuat parfum sangatlah berharga.

Selama keberadaan Randika di Perusahaan Cendrawasih ini solid maka tidak butuh waktu yang lama bagi reka untuk masuk ke dalam jajaran perusahaan besar berskala internasional.

Yang njadi permasalahannya, hal ini mbutuhkan sosok Randika yang dapat nghasilkan parfum dengan kualitas tinggi. Bagaimana caranya Inggrid nahan Randika agar terus bekerja bagi dirinya? Terutama setelah masa kawin kontrak reka habis nanti, apakah Randika akan segera pergi dari hidupnya dan apabila itu terjadi apakah dia juga akan keluar dari perusahaan ini?

Untuk sesaat hal ini mbuat pusing Inggrid.

'Istriku cantik juga kalau sedang kebingungan seperti ini. Kenapa dia tidak mau ngatakan yang sejujurnya? Ayo kita lihat seberapa lama kau bisa nahan dirimu ini!' Randika tentu saja telah berhasil lihat niatan Inggrid jadi dia nunggu mangsanya narik umpannya.

Setelah beberapa saat, Inggrid pun akhirnya ngatakan, "Aku ingin mpekerjakanmu sebagai ahli parfum dari perusahaanku."

Hahaha, aku tahu bahwa kamu akan bilang seperti itu.

Randika segera luruskan badannya dan tersenyum, "Hmmm apakah aku masih harus tidur di jalan?"

Inggrid pun tersipu malu dan mbalas, "Tentu saja tidak."

"Kalau begitu" Randika segera natap mata Inggrid. "Apakah aku tidur sekamar denganmu?"

"Bajingan! Jangan kelewatan kalau ngomong!" Kata Inggrid.

Bahkan ketika marah, Randika nganggap istrinya sangatlah cantik dan dia tidak sabar ncicipinya kembali.

"Jangan marah dong, nanti cantikmu hilang lho." Kata Randika sambil berkedip. "Atau kalau tidak kamu yang tidur di kamarku?"

"Hei Randika!" Inggrid benar-benar dibuat pusing oleh tingkah laku Randika. Kenapa bajingan ini sering mancing emosinya?

"Kenapa kau malu-malu? Bukankah wajar kalau suami istri tidur bersama?" Kata Randika sambil tersenyum.

"Kalau kau hanya ingin nguji kesabaranku, lebih baik kau keluar saja dari sini!" Inggrid benar-benar sudah tidak tahan, dia ngambil sebuah buku di janya dan hendak lemparnya.

"Tunggu! Aku hanya bercanda kok hahaha. Maafkan suamimu ini!" Randika segera panik ketika istrinya itu hendak lemparinya. Dia segera ngambil buku tersebut dan nyuruh Inggrid nenangkan dirinya kembali. Sejujurnya, tindakan Inggrid ini dianggap imut oleh Randika.

"Baiklah kalau begitu, aku akan mbantumu." Kata Randika. "Tapi aku tidak bisa mbantumu setiap harinya. Aku tidak ingin terjebak di ruangan untuk terlalu lama."

Inggrid nampak sudah tenang kembali dan ngangguk, "Kalau begitu aku akan mbayarmu 3x lebih banyak dari gaji Kelvin."

"Istriku, kenapa kau berkata seperti itu?" Randika segera ngayunkan tangannya dan lihat sedikit perubahan dalam wajah Inggrid. Dia lalu ngatakan, "Aku tidak butuh uang. Aku hanya butuh sebuah janji darimu sebagai gantinya."

Inggrid sudah nduga hal ini akan terjadi. "Apa syaratmu?"

"Hanya tambahkan beberapa alat yang kubutuhkan." Kata Randika. "Nanti aku akan mberikan daftar untukmu."

Inggrid pun ngangguk.

"Kalau begitu, adakah yang bisa kubantu lagi untuk istriku tercinta?" Tanya Randika dengan nada genit.

"Sudah cukup." Balasnya

"Kalau begitu aku akan pulang dulu." Randika segera berdiri dan natap Inggrid, "Aku sudah cukup capek berkeliling di perusahaanmu dan aku akan kembali nanti kalau aku sempat."

ndengar hal ini Inggrid sedikit tertawa pahit dalam hatinya. Dia berpikir bahwa dirinya lah yang lebih capek. lihat sosok Randika yang hendak pergi, entah kenapa mbuat Inggrid ngatakan, "Ingatlah untuk makan malam di rumah ya."

Ketika ndengarnya, Randika kaget dan sempat berputar badan. lihat wajah Inggrid yang tersipu malu, hatinya tersentuh. Istrinya yang cantik mperlakukan dirinya seperti seorang suami? Hal ini cukup langka dan mbuat dirinya tambah semangat.

"Hahaha, malam hari nanti aku hanya ingin makan dirimu." Kata Randika sambil berkedip.

"Dasar kau!" Wajahnya segera rah kembali karena amarah. Setelah beberapa saat, dia berpikir pada dirinya sendiri, Kenapa pria itu selalu vulgar dan berpikiran sum?

mikirkan bagaimana tindakan Randika hari ini mbuat dirinya entah bahagia atau marah. Tetapi satu hal yang pasti, dia tidak bisa berhenti tersenyum ketika lihat sosok Randika yang berhasil cahkan masalah terbesarnya.

........

Ketika dia sudah berada di luar gedung, Randika kebingungan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia ngatakan ke Inggrid bahwa dia akan pulang, sebenarnya dia masih cemas dengan masalahnya sendiri jadi mana mungkin dia bisa bekerja secara maksimal.

Masih belum ada kabar dari Yuna dan Shadow masih dalam proses penyelidikannya. Sedangkan Bulan Kegelapan dan musuhnya yang lain masih bersembunyi dalam kegelapan, ngintai dirinya.

Randika rasa semua ini lelahkan dan akhirnya mutuskan sesuatu. "Aku sudah lama berada di kota ini tapi aku tidak pernah berkeliling. Lebih baik hari ini aku jalan-jalan saja dengan santai."

Setelah nelusuri kota selama setengah jam, Randika tiba di taman kota yang paling luas di kota Cendrawasih.

Terkenal akan keindahan dan kebersihannya, taman ini njadi tempat favorit orang-orang di kota ini untuk bercengkerama ataupun berolahraga. Taman ini juga dilengkapi dengan danau buatan seluas 3 kiloter. Banyak orang juga senang mancing di sini.

Di taman ini, syarat untuk mancing adalah orang harus nyewa peralatan yang ada di toko yang ada di samping danau. Ikan yang didapat tidak dipungut biaya jadi hal ini mbuat orang berbondong-bondong untuk mancing di taman ini. mancing njadi hobi para warga kota Cendrawasih baik itu laki maupun perempuan.

mancing?

Kata tersebut ngingatkan dirinya pada kenangan saat dia kecil yang mancing ikan di sungai bersama kakeknya. ngingat hal ini mbuat dirinya tersenyum. Dia akhirnya mutuskan untuk mancing di taman ini.

Ketika dia sudah berada di depan toko alat penyewaan, dia tiba-tiba berhenti.

"Aduh harusnya aku tadi minta uang ke istriku." Kata Randika sambil tersenyum pahit. Untuk mancing di taman ini orang perlu nyewa peralatan mancingnya.

Apa boleh buat, dia akhirnya mutuskan untuk lihat orang mancing karena itu tidak dipungut biaya.

skipun ini bukan akhir pekan, taman terbesar di kota ini masih dikerumuni oleh banyak orang dan juga pemancing. Baik itu keluarga, pasangan, manula, semuanya ngunjungi taman ini khususnya para manula yang ngisi keseharian reka dengan mancing.

Di saat dia lihat-lihat orang-orang sedang mancing, Randika nemukan seorang wanita yang sangat cantik. Pada saat ini, mata Randika benar-benar terpaku pada dirinya.

Sepasang kaki putih yang bergelantungan di pinggir danau dengan paha mulus yang kencang mbuat Randika terpana lihatnya.

Wanita ini makai hot pants yang nonjolkan kaki panjangnya yang putih. Tatapan mata Randika terfokus pada sekitar paha. Selama perempuan itu bergerak sedikit saja maka dirinya bisa lihat warna dalaman apa yang sedang dipakainya.

Dari selera bajunya, Randika ngerti bahwa perempuan ini ngerti dunia busana. Di bagian atasnya dia makai tema Cropped Top dengan dibalut oleh blus. Dia ingin nonjolkan perutnya yang rata dan figur tubuhnya yang seksi. Terlebih lagi, dadanya yang besar njadi sorotan utama dari mata para lelaki.

"Wahhh cantik sekali perempuan ini." Kata Randika dalam hati.

Perempuan ini miliki rambut pirang, bibir mungil dengan wajah yang terlihat masih muda. Bulu matanya yang lentik terus bergetar, bibirnya nampak sedang bersiul dan tatapan matanya terlihat serius ketika dia mperhatikan alat pancingnya dengan seksama.

lihat betapa cantiknya perempuan ini mbuat Randika ingin lihatnya lebih dekat.

Perempuan ini tidak nyadari keberadaan Randika karena dia masih fokus terhadap alat pancingnya. Alat pancingnya dari tadi terus bergetar sehingga dia rasa sudah ada ikan yang terkait di kailnya. Ketika dia ngangkat alat pancingnya, ternyata tidak ada ikan sama sekali.

Randika tersenyum ketika lihatnya. Bukannya mustahil mancing dengan cara seperti itu tapi sangat sulit. Apalagi orang awam yang nggunakan teknik seperti itu.

Pada saat ini, terdengar suara orang tua dari sampingnya yang ngatakan, "Hei kau! Bisa-bisanya kau mancing dengan cara seperti itu?"

Setelah suara itu terdengar, suara-suara lain ikut nyusul, "Benar, kau tidak bisa mancing dengan cara seperti itu!"

"Perempuan itu tidak mancing, dia hanya sedang bermain dengan ikan." Sindir orang lain.

"Kalau kau seperti itu terus, kau akan ngganggu kami para pemancing yang lain!"

Viona yang ndengar sindiran-sindiran tersebut rasa ketakutan. Dia hanya ingin bersantai dengan mancing di taman ini, ngapa para manula ini terlihat serius sekali?

Dengan adanya dukungan, si manula yang pertama kali mulai hal ini njadi sangat percaya diri. "Aku tidak tahu kau berasal dari mana, tapi kalau kau tidak berniatan untuk mancing dengan serius dan hanya bermain-main saja, lebih baik kau berhenti saja."

Viona rasa malu dengan perkataan pak tua ini. mangnya ada apa dengan dirinya? Dia hanya ingin bersantai sambil mancing dan nikmati suasana santai ini.

"Sudahlah pak Kris, wajar kalau perempuan tidak tahu cara mancing. Apalagi dia masih sangat muda." Kata teman pak Krisna.

"Hei kukasih tahu ya, masalahnya dia itu duduk di sampingku. Dia hanya akan ngusir para ikan kalau begini terus. Kau ingin aku makan kerikil hari ini?" Pak tua Krisna terdengar sangat marah. "Sudah dari pagi aku tidak dapat ikan, pasti gara-gara ulah gadis ini!"

"Kau enak ngomong begitu karena sudah dapat 5 ikan, aku dari pagi tahu kailku tidak disentuh sama sekali. Setelah ndengar ini kau masih ingin mbela gadis ini?"

Lalu pandangan pak tua Krisna ngarah ke Viona, "Karena kamu tidak bisa mancing, buat apa kamu mancing?"

Viona benar-benar rasa malu dan berurai air mata. Setelah nenangkan diri sebentar dia ngatakan, "Maafkan aku, aku akan pergi dan ncari tempat lain."

"Pergi sejauh mungkin! Kuberitahu ya, kalau kamu mancing seperti itu terus kamu tidak akan ndapatkan apa-apa dan hanya akan njadi pengganggu untuk orang lain!"

ndengar hal ini Viona kembali nangis, "Kalau begitu aku akan berhenti mancing."

Pak tua Krisna nganggukan kepalanya, "Itu bagus. Jangan ganggu orang lain lagi."

Ketika Viona hendak pergi dari tempat duduknya, sebuah tangan nahan pundaknya.

"Kata siapa orang tidak bisa mancing dengan teknik seperti ini?"

Viona noleh dan lihat Randika yang datang untuk mbelanya. Randika lalu mbisiknya agar dia diam di tempat dan jangan mau ngalah kepada pak tua itu.

"Anak muda, kau berkata sembarangan." Pak tua Krisna lihat Randika yang muncul di samping Viona dengan muka tidak nyenangkan, "Gadis itu daritadi ngusik para ikan dan mbuat kami kehilangan ikan. Bukankah seperti itu teman-teman?"

Orang yang ada di samping kiri Viona ngangguk pelan. "Nona sebaiknya kau pindah saja biar kita sama-sama enak."

"Omong kosong! Danau ini diperuntukkan bagi semua orang dan ikan di dalamnya adalah hak semua orang. Kalau kau tidak ndapatkan ikan satu pun ngapa kau nyalahkan gadis ini bukan ikannya?"

"Hei bocah, aku sudah mancing selama lebih dari 20 tahun dan kau pikir aku tidak tahu faktor apa yang mbuat para ikan tidak nggigit kailku?"

Viona semakin takut berada di sini dan ingin segera pergi. Tetapi tangan Randika masih nahan dirinya dan dia pun lihat wajah Randika yang penuh dengan percaya diri, wajahnya pun rah.

Randika tidak nanggapi perkataan pak tua itu. Dia tahu bahwa tindakan lebih berarti daripada perkataan.

Duduk dengan mangku Viona, Randika mbantu Viona mancing kembali dengan cara dia sebelumnya yaitu dengan nggoyang-goyangkan kailnya ke sana kemari.

lihat kedua pemuda ini tidak mpedulikan dirinya, pak tua Krisna rasa muak. "Oke aku akan berhenti mancing untuk hari ini. Aku akan lihat bagaimana caramu bisa mancing ikan dengan teknik seperti itu. Tanpa bantuan hantu ataupun jin, jangan harap ndapatkan sesuatu."

Orang yang disamping kiri Viona juga rasa terganggu dengan reka, "Dasar anak muda, reka nganggap dirinya tahu segalanya. Kalian hanya bisanya mancing keributan."

Orang-orang yang mancing di danau ini sudah nghentikan kegiatan reka dan mperhatikan drama ini dari awal. Sekarang reka penasaran dengan sosok Randika yang terlihat seperti orang bodoh itu. reka tidak sabar untuk mpermalukan dirinya.

"Pffttt, lelaki itu hanya ingin sok keren di hadapan perempuan itu. Bagaimana mungkin dia bisa mancing dengan cara seperti itu?"

"Kau benar. Selama bertahun-tahun mancing, aku belum pernah lihat orang berhasil mancing dengan cara amatiran seperti itu."

"Bukankah pak Krisna adalah pemancing terhebat di taman ini? Bagaimana bisa lelaki itu percaya diri bisa ngalahkan pak tua itu dengan cara seperti itu?"

Viona yang berada di pelukan Randika mulai gelisah, tetapi ketika dia lihat raut muka Randika, dia rasa hatinya tenang.

"Jika kau tidak bisa ndapatkan ikan satu pun hari ini, jangan pernah datang ke sini lagi." Pak tua Krisna lalu natap Viona, "Dan kau jangan pernah duduk di sampingku lagi ke depannya."

"Kalau aku ndapatkan ikan bagaimana?" Nada suara Randika terdengar tenang. Ternyata, tenaga dalamnya sudah nyebar ke dalam danau lewati kail pancingnya.

"Apakah kau bisa? Kau pikir kau dewa mancing? Bahkan lebih mudah bagi si Marlin untuk nemukan anaknya Nemo daripada kamu ndapatkan ikan!" ndengar lelucon ini, para penonton pun ketawa.

"Baiklah, lihat saja nanti." Kata Randika dengan santai. Tiba-tiba dia ncengkram erat tangan Viona dan narik kembali kail pancingnya. Disertai teriakan Viona, ikan berukuran besar keluar dari dalam danau.

Pak tua Krisna, yang awalnya tertawa, ketika lihat ikan besar yang berhasil dipancing Randika, dia benar-benar tercengang. Raut wajahnya segera njadi jelek.

"Apa? Dia bisa mancingnya?"

"Ya tuhan, ternyata ada ikan sebesar itu di sini?"

"Benar-benar lihai!"

Para penonton di belakang reka segera bersorak. Untuk pertama kalinya, reka lihat ikan sebesar itu berhasil terpancing di danau ini.

Viona rasa sangat bahagia di dalam hatinya. Dia berhasil mbuktikan bahwa cara dia mancing tidak salah berkat bantuan lelaki ini.

Randika masih bermuka datar selagi dia ngambil ikan dari kailnya. Lalu dia segera masukkannya kembali ke dalam danau. Dalam beberapa detik, lagi-lagi ikan besar berhasil dia tangkap.

"Gila! Hanya hitungan detik!"

"Dewa Benar-benar dewa!"

Pak tua Krisna dan temannya benar-benar terkejut, reka saling natap dan terheran-heran.

reka lihat bahwa tidak sampai 30 detik si Randika lempar kailnya dan dia sudah ndapatkan ikan yang sama besarnya dengan yang pertama. reka rasa bahwa ikan-ikan ini pasti sedang kesurupan karena reka dengan bodohnya mau tertangkap oleh Randika.

Semua penonton terus bersorak ketika Randika berhasil mancing ikan satu per satu.

"Gila Ikan-ikan di danau ini sudah njadi gila semua!" Pak tua Krisna hanya bisa bergumam pada dirinya sendiri.

"Hei kalau kau lihat baik-baik, bukankah ikan-ikan ini sudah seperti ngantri untuk ditarik?"

ndengar hal ini mbuat pak tua Krisna bernapas lega, ternyata yang berpikiran seperti itu bukan hanya dirinya. Dia sudah nganggap dirinya gila ketika dia lihat ikan-ikan tersebut seperti sudah nunggu kail Randika begitu saja. Setiap kail itu masuk ke dalam air, dalam hitungan detik seekor ikan sudah pasti nggigit kail tersebut.

Kejadian ini mbuat semua orang kebingungan. Bukan Randika yang ncari ikan dengan kailnya, para ikan ncari kail Randika!

Pak tua Krisna berpikir bahwa lelaki ini pasti jelmaan dewa mancing.

Randika pun tersenyum lihat semua ini. Dia lalu lepas genggamannya pada tangan Viona dan pergi begitu saja.

"Hei apa aku sudah gila? Aku rasa bahwa ikan-ikan itu mang sengaja nghampiri kailnya."

"Ini pertama kalinya aku lihat orang mancing dengan cara seperti itu Dunia mang luas!"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 13: Menangkap Ikan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.