Font Size
15px

Para penonton masih terpukau dengan teknik mancing Randika yang sangat ndewa tersebut. Randika pun ninggalkan reka dengan wajah yang terlihat puas.

Sedangkan Viona, gadis ini rasa hatinya berdebar-debar terus nerus dan wajahnya terus tersipu malu. Senyuman puas Randika dan hangatnya pelukannya masih lekat erat di dalam benaknya.

nggigit bibirnya, dia mutuskan untuk ngejar pria tersebut.

Ketika Randika pergi ninggalkan area mancing dia sedikit rasa kecewa. Tindakannya tadi sudah keren dan dia langsung pergi tanpa ngatakan sepatah kata pun kepada gadis itu. Kenapa gadis itu belum ngejarnya? Apakah pesonanya masih kurang? Kalau benar gadis itu tidak ngejarnya, apakah terlihat aneh kalau dirinya kembali dan minta nomor handphonenya?

Perempuan secantik itu jarang dia lihat terutama dengan dadanya yang besar itu. Akhirnya dia mutuskan apabila gadis itu tidak ngejarnya, dia akan kembali dan nanyakan nomor handphonenya. Persetan dengan gengsi!

Pada saat itu juga, terdengar teriakan dari belakang punggungnya, "Tunggu!"

Yes! Tampaknya pesona milikku tidak pudar!

masang wajah sok serius, Randika berputar dan lihat Viona yang berusaha nghampirinya.

Viona tampak sedang berlari ngejar Randika. Dadanya yang besar itu bergerak ke atas dan ke bawah secara konstan dan mbuat Randika nelan air liurnya. Tidak ada satu detik pun tatapan matanya berubah arah.

Mungkin punya istrinya tidak kalah besar tetapi dia rasa punya gadis ini lebih besar dan indah.

"Aku belum berterima kasih atas kebaikanmu tadi Namaku Viona, senang bertemu denganmu." Dengan napas terengah-engah, Viona segera berterima kasih kepada Randika. Wajahnya pun kembali tersipu malu ketika lihat sosok pria ini.

"Namaku Randika." Randika lalu ngambil sapu tangannya dan ngusap keringat yang ada di wajah Viona.

Ya tuhan lembut sekali kulitnya! Belum lagi pipinya yang begitu empuk dan bibirnya yang mungil ini, dia ingin ncicipinya.

Wajah Viona semakin rah karena tindakan Randika yang jenteln.

Setelah selesai ngusap keringatnya, Randika nggenggam tangan Viona dan berkata dengan muka datar, "Tidak apa-apa, aku hanya tidak suka ketika orang mpermalukan seorang gadis di depan umum."

Viona yang tersipu malu mbalas, "Aku tetap ingin ngucapkan terima kasih atas tindakanmu. Belum pernah ada orang yang mbelaku sebelumnya."

Setelah itu Viona narik Randika agar lebih dekat dengannya dan berbisik, "Hei, kasih aku nomormu dan kita bisa bertukar kabar setiap harinya."

Randika langsung tersenyum, si Viona ini ternyata agresif juga dan dia tidak perlu repot-repot minta nomornya.

Setelah Viona mberikan nomor handphonenya dia ngatakan, "Kalau kau senggang dan bosan, kau bisa manggilku kapan saja!"

Setelah ngatakan hal tersebut, wajah Viona njadi sangat rah. Bisa-bisanya dia ngatakan hal ambigu seperti itu. Randika juga tertegun ketika ndengarnya. Bukankah ini seperti ngatakan bahwa datanglah ke rumahku kapan saja, aku siap bermain denganmu kapan saja!

Viona rasa kata-katanya benar-benar ambigu. Dia ingin mbenarkan tetapi akhirnya dia mutuskan untuk berlari pergi.

Randika yang lihat sosok Viona yang pergi rasa bahwa sifat seperti Viona ini cukup nyenangkan. Gadis polos yang bingung antara cinta dan nafsu sangatlah nggemaskan. Hal ini sangat berbeda dengan istrinya Inggrid.

Setelah dia larikan diri dari Randika dengan hati yang berdebar-debar, Viona tersadar bahwa dia hanya mberikan nomor miliknya dan tidak minta nomor milik Randika. Kalau begini jadinya, dia takut bahwa pria tersebut tidak akan nghubunginya dan lupa terhadap dirinya.

Dia lalu berpikir dalam hatinya, Apakah pria itu akan lupakan aku?

Sesaat setelah dia berpikir seperti itu, handphonenya bergetar. Ternyata ada pesan dari nomor tidak dikenal.

"Hei ini aku Randika, kamu tidak ncatat nomorku tadi. Lain kali kalau kau senggang, aku ingin ngajakmu makan malam berdua."

lihat pesan ini mbuat Viona tersenyum lebar.

.....

Ketika kembali ke rumah, waktu sudah nunjukan pukul 4 sore. Ibu Ipah tidak terlihat ada di rumah, dia pasti sedang berbelanja untuk makan malam.

manfaatkan keadaan sepi ini, Randika segera pergi ke kamarnya dan nyalakan komputernya. Dia segera nghubungi Yuna. Yuna yang berpakaian minim itu pun segera muncul di layar komputernya.

"Bagaimana keadaan di sana?" Randika sedang tidak ingin berbasa-basi.

Ketika ndengarnya, tubuh Yuna sedikit bergetar "Tuan tidak perlu khawatir, markas baru kita telah mulai dibangun kembali. Lokasi markas hanya diketahui olehku dan orang-orangku jadi tidak ada orang lain yang ngetahui lokasi ini."

Randika ngangguk puas. Pembangunan markasnya ini juga rankan peran penting. Tanpa ramuan X, sangat sulit baginya untuk nahan kekuatan misteriusnya. Bahkan dengan bantuan Safira sekalipun, itu hanya bertahan 10 hari dengan catatan dia tidak bisa nggunakan tenaga dalamnya terlalu banyak. Jika orang-orang yang sedang bersembunyi di balik kegelapan itu keluar, dia yang sekarang tidak bisa lawan balik.

"Baguslah kalau begitu, kalau ada apa-apa segera kabari aku."

"Randika kau tidak perlu khawatir. Aku akan ramu ramuan X milikmu dalam sebulan." Yuna ngatakannya dengan muka serius. "Aku juga ngutus beberapa orang milikku untuk nyelidiki Bulan Kegelapan dan Harimau. Namun aku masih belum ndapat kabar dari reka."

"Susah bagimu untuk nemukan markas maupun keberadaan reka," Kata Randika. "Kau tidak perlu repot-repot ngatasi reka berdua, serahkan reka kepadaku!"

Ketika ngatakan hal ini, aura mbunuh Randika sedikit keluar. skipun ada kemungkinan Bulan Kegelapan yang dia bunuh adalah palsu, mau yang asli keluar atau dalang yang asli juga ikut keluar, hal ini tidak mbuatnya takut. Di bawah tatapan mata Ares, tidak ada orang yang bisa bersembunyi!

Setelah nyelesaikan percakapannya dengan Yuna, Randika mulai berpikir kembali ngenai masalah-masalahnya. Tidak diragukan lagi bahwa pengkhianatan Bulan Kegelapan dan Harimau disebabkan oleh sesuatu tetapi yang ngganjal dirinya adalah kenapa reka bisa nemukan dirinya begitu cepat?

Hanya beberapa hari setelah dirinya tiba di Kota Cendrawasih, Naoki Moretti berhasil nemukan dirinya. Apakah Bulan Kegelapan dan Harimau manfaatkan para mafia Italia itu? Randika tidak percaya akan hal itu.

Apakah salah satu anggota dari 12 Dewa Olimpus bisa dilacak oleh sekumpulan cecunguk? Kalau hanya ngandalkan para mafia itu rasanya susah untuk dipercaya.

Setelah mikirkan hal ini, Randika ngambil handphonenya dan manggil Shadow.

"Ares sang Dewa Perang!"

"Selamat sore tuan!" Shadow mbalas.

"Bagaimana dengan penyelidikanmu?"

"Bawahanku telah mastikan bahwa Bulan Kegelapan telah mati."

Mati?

Wajah Randika ngkerut ketika ndengar hal ini.

"Tuan, laboratorium Anda telah dihancurkan oleh Naoki Moretti, Bulan Kegelapan dan Harimau." Suara Shadow terdengar tenang. "Aku ngetahui bahwa Bulan Kegelapan berada di Arika dan aku ngejarnya hingga ke Eropa, tetapi ketika aku di Perancis aku kehilangan jejaknya. Kemudian aku ngetahui bahwa dia berada di Indonesia."

Wajah Randika semakin ngkerut ndengarnya. Jadi Bulan Kegelapan yang dia bunuh ternyata adalah asli?

"Shadow, apakah kau tahu bahwa Bulan Kegelapan telah kubunuh pada hari itu?" Kata Randika ragu-ragu.

"Jika tuan berkata demikian, pasti Bulan Kegelapan telah mati." Kata Shadow. "Laporan intelijenku tidak nyinggung keberadaan sekaligus kabar ngenai Bulan Kegelapan sejak lama."

Kali ini Randika bingung. Apakah orang yang dia bunuh sebelumnya adalah Bulan Kegelapan yang asli? Kenapa dia rasa bahwa orang itu adalah palsu? Keraguannya ini bukanlah dengan alasan tidak ndasar. Ini adalah insting, insting yang telah dia asah selama bertahun-tahun yang mbuatnya pantas nyandang nama Ares.

Tetapi Randika percaya akan kemampuan Shadow. Laporan intelijen Shadow tidak pernah nginformasikan hal yang salah. Jika dia ngatakan bahwa lawannya mati, pastilah orang itu mati. Keberhasilan Ares bertahan hidup hingga hari ini juga berkat informasi yang dikumpulkan oleh Shadow.

Bisa dikatakan bahwa Shadow adalah mata dan telinganya di seluruh dunia!

"Tetap perhatikan masalah ini dan jangan lengah." Kata Randika.

"Baik tuan!"

Setelah nutup percakapan reka, Randika masih dilanda kebingungan. Jadi selama ini dugaannya salah?

Tidak mungkin! Selama ini instingnya tidak pernah salah. Orang yang dia bunuh pada malam hari itu jelas bukan Bulan Kegelapan.

Jadi di mana letak kunci permasalahan ini?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 14: Viona on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.