Font Size
15px

"Kita mau nyari makan apa?" Tanya salah satu perempuan.

Kalau berbicara pantai, tentu saja seafood!

Setelah berdiskusi selama beberapa waktu, salah satu perempuan berkata dengan santai. "Lebih baik kita mancing dan minta restoran untuk masakannya buat kita nanti."

"Hahaha masuk akal juga, pasti nanti jatuhnya juga lebih murah. Kadang kau ini pintar juga." Para perempuan ini tertawa dan hendak pergi nyewa alat pancing.

"Kalian ingin mancing untuk dimakan? Aku rasa otak kalian agak rusak." Pada saat ini, seorang lelaki tiba-tiba nimbrung di tengah percakapan reka. Sindiran itu segera narik perhatian reka.

"Ha? mangnya ada yang minta pendapatmu?" Salah satu perempuan bernama Bella njadi marah ketika ndengarnya. Lelaki itu benar-benar tidak tahu diri, sudah tiba-tiba nimbrung, dia juga ngejek secara terang-terangan. Justru otak orang itu yang jauh lebih rusak daripada reka.

Randika geleng-geleng ketika lihat hal ini. Dia paling malas bertemu dengan orang semacam itu, dia pasti rasa paling benar dan keras kepala. Orang yang pantas untuk mati sendirian.

Lelaki itu hanya nggelengkan kepalanya. "Aku hanya berkata apa adanya. Kau kira mancing itu mudah? Mana ada ikan besar yang ada di pinggir pantai? Atau jangan-jangan kalian mau berenang dan nangkap reka dengan tangan kosong?" Lelaki itu tertawa keras.

"Itu bukan urusanmu!" Salah satu perempuan juga ikut marah lihat tingkah laku laki-laki ini.

"Ah, kau beneran mau berenang? Kalian orang kota mang aneh, mana mungkin bisa kalian nangkapnya dengan tangan kosong?" Lelaki itu lalu nghela napas. "Aku hanya berkata apa adanya."

"Dari mana kau tahu kalau kami tidak bisa ndapatkannya?" Bella tidak mau ngalah.

"Benar! Siapa yang bilang kalau kita tidak bisa ndapatkannya?" Yang lain mulai mbela.

Lelaki itu tertawa sekali lagi. "Hahaha sudahlah hentikan mimpi kalian yang fana itu. Cepat bangun dan hadapi kenyataan."

Kata-kata itu benar-benar nusuk hati para perempuan ini. Orang ini benar-benar tidak tahu diri.

"Siapa yang bilang tidak bisa nangkap ikan dengan tangan kosong?" Suara itu berasal dari Randika yang daritadi cuma terdiam.

Lelaki itu noleh dan natap Randika, tatapannya terlihat jijik terhadap Randika.

"Logika saja, jika kau tidak bisa lebih cepat dari para ikan, bagaimana bisa kau nangkapnya?" Lelaki itu nghela napas. "Seperti kata peribahasa 'Bagai pungguk rindukan bulan' [1]"

"Oh? Kalau begitu kau berani bertaruh denganku?"

"Siapa yang takut? Apa yang kita pertaruhkan?" Lelaki ini langsung setuju dengan usul Randika. Baginya ini adalah taruhan yang mudah, siapa mangnya yang bisa nangkap ikan di laut lepas dengan tangan kosong?

"Jika aku ndapatkan ikan dengan tangan kosong, kau harus berlutut dan minta maaf pada perempuan ini." Kata Randika.

"Ha? Cuma itu? Kalau kau bisa dapat ikan apa pun, aku akan makannya ntah-ntah di sini!" Lelaki ini benar-benar rehkan Randika.

"Baiklah, kau sendiri yang ngomong begitu. Jangan nyesal karena telah ngatakannya." Kata Bella.

"Tentu saja." Lelaki itu natap Randika dan ngatakan. "Aku percaya diri bahwa kau tidak mungkin bisa nangkap 1 ikan pun. Ah! Jangan sampai kau cuma nangkap ikan kecil ataupun udang. Itu sama saja dengan curang."

"Jangan khawatir, aku seorang jenteln. Aku tidak akan berbuat selicik itu." Kata Randika dengan santai.

"Hahaha, aku suka orang sepertimu." Lelaki itu tertawa dan berbalik lalu berteriak. "Semuanya dengar! Orang ini mau nangkap ikan dengan tangan kosong!"

Tiba-tiba, sekumpulan orang sudah ngerubungi reka.

"nangkap ikan dengan tangan kosong? Mustahil lha!"

"Apalagi ini ikan laut, dikira nangkap di kolam ikan apa?"

Ketika suasana mulai ra, lelaki itu dengan cepat berkata pada Randika. "Jangan kembali kalau tidak mbawa ikan 20 kg! Omong-omong, apakah kau butuh perlengkapan nyelam?"

"Tidak butuh. Randika tidak peduli dengan sindiran orang tersebut. Di bawah tatapan orang-orang, Randika nceburkan diri ke laut dan nyelam.

Dalam sekejap sosoknya sudah tidak terlihat dan ninggalkan sekumpulan orang ini berdiri terdiam.

"Orang itu benar-benar sakit, kenapa kau tidak mbawanya ke rumah sakit sebelumnya?" Lelaki itu berkata pada Viona dan yang lain.

"Kau yang sakit!" Viona langsung tidak terima ketika Randika diejek.

"Hahaha jelas kalianlah yang sakit. Semua orang ini sudah tahu bahwa nangkap ikan laut dengan tangan rupakan hal yang mustahil. Tapi mang kata-kataku tadi mungkin kurang tepat, dia bukan sakit tapi jelas sudah gila!"

Laki-laki itu tertawa keras, mbuat para perempuan ini semakin marah. Namun, pada saat ini Inggrid datang.

"Ada apa?" lihat bawahannya yang berkumpul bersama banyak orang, Inggrid rasa penasaran.

"Bu, orang ini bertaruh sama pak Randika. Sekarang pak Randika sedang berusaha nangkap ikan dengan tangan kosongnya." Salah satu dari reka njelaskan.

"Oh? Ya sudah, kalian tunggu saja." Inggrid hanya ngangguk dan natap ke lautan.

Lelaki itu dan orang-orang rasa Inggrid adalah wanita yang cantik, benar-benar cantik! reka berhenti berbicara satu sama lain dan nikmati pemandangan yang cantik tersebut.

Pada saat ini, Randika masih sibuk ncari ikan di tengah laut. Dia lihat ada ikan besar tetapi tidak yakin kalau beratnya ncapai 20 kg.

Dia lalu mutuskan untuk ncari yang lain. Namun, dia tetap tidak bisa nemukan ikan yang nuhi harapannya.

Tanpa sadar sudah 2 nit dia nyelam tanpa ngambil udara

Ah!

Tatapan mata Randika terlihat berbinar-binar, dia nemukannya! Beratnya pasti lebih dari 20 kg.

Di tepi pantai, lelaki itu tertawa sekali lagi. "Sudah hampir 3 nit dan dia tidak keluar-keluar, jangan-jangan dia mati tenggelam? Sudah kubilang mancing dengan tangan kosong itu mustahil. Sekarang malah nyawanya yang hilang."

"Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Randika, kau tunggu saja." Kata Viona dengan nada dingin. Dalam lubuk hatinya dia sendiri mulai sedikit rasa khawatir, kenapa Randika tidak muncul-muncul?

"Kamu kira ada orang yang bisa nahan napas lebih dari 2 nit?" Lelaki itu natap Viona sambil nggelengkan kepalanya. "Sudah jangan berharap terlalu banyak, panggil polisi dan ambulans. Kalian harus ngambil mayatnya dulu secepatnya sebelum dimakan oleh ikan."

Para perempuan ini segera marah, tetapi Inggrid hanya natap lautan dengan wajah yang tenang. Viona sendiri mulai bimbang, tetapi setelah dia mikirkan kejadian-kejadian sebelumnya, dia rasa lebih percaya diri terhadap Randika.

"Tunggu saja, dia pasti akan keluar sebentar lagi." Kata Viona dengan wajah penuh percaya diri.

"Aku punya waktu, sayangnya dia sudah tidak punya waktu lagi hahaha." Kata lelaki itu sambil tertawa. Pada saat yang sama, orang-orang juga mulai tertawa. Bahkan ada yang ikut nimbrung. "Sudah telepon saja ambulans, seharusnya mayatnya akan ngambang sebentar lagi."

Pada saat ini, seseorang nyadari ada pergerakan di laut dan nunjuknya. "Itu dia!"

Tiba-tiba, semua orang natap Randika dan pancingannya. Semua orang terkejut bukan main, bahkan ada yang sampai nampar dirinya sendiri.

Bukankah itu lebih dari 80 kg?

Tatapan mata lelaki itu benar-benar terbelalak, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

Viona dan lainnya justru bersorak dan tertawa lihat sosok Randika.

Sambil tersenyum, Randika naruh kura-kura yang dia tangkap di depan kaki lelaki itu. "Bagaimana? Beratnya harusnya lebih dari 20 kg."

Jelas seekor kura-kura berbobot lebih dari 20 kg!

Inggrid tidak bisa berhenti tertawa. Kenapa Randika mutuskan untuk nangkap kura-kura?

Para penonton mulai berkontar. "Orang ini kuat nyeret kura-kura?"

"Aku baru pertama kali lihat hal seperti ini."

Bella justru yang paling besar kepala. "Tuh kan, siapa bilang tidak bisa mancing dengan tangan kosong? Mau bilang apalagi kau?"

"Benar! Sekarang tepati janjimu makan tangkapan kita ntah-ntah. skipun agak sulit, dagingnya terkenal enak." Kata salah satu perempuan sambil nahan tawa.

Para penonton mulai tertawa, orang itu mau makan kura-kura di tempat ini? Giginya bisa-bisa patah hanya untuk ncoba cahkan tempurungnya.

"Aku tidak akan makannya." Lelaki itu nggeleng dengan cepat.

"Ah! Kau mau ngingkari kata-katamu sendiri?" Semua perempuan ini tidak habis pikir. Lelaki ini sendiri yang ngusik reka, sekarang setelah kalah malah mau kabur. Lelaki macam apa dia coba?

"Itu bukan ikan." Kata lelaki itu.

"Kura-kura termasuk seafood!"

"Maksudku adalah kura-kura itu lambat, sangat mudah nangkapnya. Perjanjian kita adalah ikan, jadi bisa dianggap taruhan kita tidak terpenuhi." Kata lelaki itu.

Bella benar-benar marah ketika ndengarnya. "Kura-kura ini jelas rupakan hewan laut yang bobotnya lebih dari 20 kg. Jangan kira kura-kura ini lebih bodoh darimu, di laut dia bisa berenang lebih cepat dari manusia."

"Hahaha." Tiba-tiba para penonton tertawa ketika ndengarnya. Kata-kata wanita itu ada benarnya juga.

"." Wajah lelaki itu sudah rah karena marah. Namun, Randika berkata dengan santai. "Baiklah, aku akan nyelam lagi dan nangkap ikan sesuai kriteria."

"Tidak usah!" Beberapa perempuan ingin nghalangi Randika.

Randika hanya tersenyum pada reka. "Santai saja, aku tidak lama kok."

Setelah itu, Randika kembali nyelam lagi. Kali ini, dia tidak rlukan waktu selama tadi. Dan kali ini dia mbawa ikan besar bersamanya.

"Seharusnya ikan ini lebih dari 20 kg." Randika lempar ikan yang ditangkapnya. Ketika lihat ikan itu, semua orang ternganga lihatnya.

Lelaki itu juga terkejut, wajahnya benar-benar sudah berantakan.

Ini pasti mimpi bukan?

Tetapi, ikan besar itu ada di bawah kakinya dan banyak orang yang nyaksikan aksi Randika ini.

"Mau alasan apalagi?" Bella dengan cepat berdiri di depan lelaki itu.

"Aku Aku nyerah." Kata lelaki itu dengan nada lesu.

"Cepat makan! Katanya mau makan tangkapan kita ntah-ntah!" Seru yang lain.

"..." Wajah lelaki itu benar-benar buruk. Dia hanya ngatakan apa yang terlintas di pikirannya tanpa berpikir panjang. Dia tidak nyangka bahwa dia akan kalah.

"Sudah, orang itu sudah nerima pelajarannya. Aku harap kau tidak akan berbuat seperti ini lagi." Inggrid berusaha nengahi.

lihat atasan reka yang bijak itu, semuanya setuju untuk lepaskan lelaki itu. Namun, hanya satu orang yang tidak lepaskannya dengan mudah.

"Berlutut dan minta maaf pada reka." Kata Randika dengan wajah sangarnya.

[1] Seseorang yang mbayangkan atau ngkhayalkan sesuatu yang tidak mungkin.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 126: Menangkap Ikan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.