"Hahaha kalian tadi lihat wajahnya seperti apa?"
Selama reka berjalan, para perempuan ini masih ngobrol dengan semangat. reka mbahas ekspresi malu dan ketakutan lelaki yang minta maaf pada reka.
"Pak Randika mang luar biasa! Omong-omong apakah kamu sudah miliki pacar?" Tatapan mata Bella penuh dengan makna. Dia seakan bertemu dengan pangeran berkudanya.
ndengar pertanyaan ini, perempuan yang lain mulai tertawa. Namun, Viona dan Inggrid miliki ekspresi yang berbeda. Hati Viona ngepal sedangkan Inggrid terbatuk keras tanpa henti.
"Ah! Bu Inggrid kau tidak apa-apa?" Bella bertanya pada Inggrid.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku hanya tersedak saja." Kata Inggrid sambil tersenyum.
Randika sendiri bingung harus berkata apa, pertanyaan ini benar-benar susah dijawab.
"Hahaha." Randika hanya tertawa lalu nambahkan. "Rahasia."
Entah kenapa Viona rasa kecewa dengan jawaban Randika. Sedangkan Inggrid hanya natapnya dengan tajam. Hubungan reka berdua sepertinya belum terekspos ke publik. skipun rumor sudah tersebar di perusahaan, hal tersebut masih belum ada kepastian.
"Ah! Dari jawaban bapak yang ragu-ragu itu pasti ada ya!" Bella terlihat kecewa. "Sayang sekali, aku padahal tertarik dengan bapak."
"Aku juga mau!" Teriak salah satu dari reka. "Aku juga ingin jadi pacar pak Randika."
Para perempuan ini bagaikan serigala ngelilingi ayam, Randika benar-benar dibuat terpojok.
......
Saat ini hari sudah berganti njadi siang, reka semua telah makan dan berganti baju. Karena besok pagi reka harus pulang, hari ini rupakan hari terakhir reka berjalan-jalan.
Tentu saja, ngingat hari ini adalah hari terakhir reka bebas, para perempuan tentu harus belanja!
ndengar kata belanja, hati Randika ngepal. Stamina perempuan saat berbelanja sangatlah kuat sampai-sampai bisa dibilang ngerikan. Bahkan seorang Ares pun sangat malas ketika nemani perempuan belanja.
Randika ncari-cari alasan untuk kabur saat reka masih makan siang. Tetapi dia tidak nyangka akan ditanya oleh bawahannya itu. "Pak Randika mau ikut?"
Bahkan sebelum Randika njawab, Inggrid berkata dengan santai. "Tentu saja dia ikut, dia tidak punya kegiatan apa-apa."
Karena istriku sudah berkata demikian, mana mungkin dia kabur?
Usut punya usut, akhirnya Randika nemani para perempuan berbelanja.
Jalanan di pulau kura-kura ini sangat bersih dan suasana riah selalu nuhi jalanan selama 24 jam.
Karena pulau ini terkenal akan lautnya tentu saja aksesoris, baju, celana dll bernuansa laut. Dan juga, harga reka jauh lebih murah daripada di kota Cendrawasih!
Sambil lihat kanan-kiri, reka nelusuri kota kecil ini.
"Wah, toko ini barangnya bagus-bagus! Ayo masuk!"
"Ayo, ayo!" Semua perempuan terlihat antusias ketika masuk ke toko souvenir itu. Randika, tentu saja, tidak tertarik dan nunggu di luar.
Setelah beberapa saat, para perempuan itu keluar dan berjalan kembali ke toko lainnya. Sedangkan Randika? Dia ngekori reka dan mbawakan barang belanjaan reka dengan wajah suntuk.
Inilah yang dia takutkan ketika nemani perempuan belanja, benar-benar neraka!
"Bawain ini." Pada saat ini, Inggrid keluar dari toko, mberikan tas barang belanjaannya dan berjalan kembali ke toko lainnya tanpa noleh ke arah Randika. Randika hanya bisa lihat senyuman kecil di wajah Inggrid.
Kesempatan bagus untuk manfaatkan Randika tentu tidak akan disia-siakan oleh Inggrid!
Karena biasanya dia telah dipermainkan Randika, sekarang gilirannya untuk mainkan dirinya!
Randika hanya bisa longo dan ngekori para perempuan ini.
Suasana belanja ini tetap riah, para perempuan ini tidak ada capek-capeknya ngunjungi satu per satu toko. Ketika reka hendak masuk, seorang lelaki nghentikan reka.
"Hei kakak-kakak cantik, aku punya sesuatu yang bagus nih. Coba dilihat dulu." Kata orang dengan nada manis.
"Apa itu?" Beberapa orang mulai penasaran.
Lelaki itu ngeluarkan kotak kayu kecil dari balik bajunya. Dan ketika dia mbukanya, itu adalah sebuah kalung kecil.
"Apa itu?" Bella penasaran.
"Kalian tahu ketika perahu VOC Belanda masih berlayar, salah satu dari kapal reka yang sedang mbawa barang-barang berharga tenggelam di laut sekitar sini." Lalu lelaki itu nunjuk kalung tersebut. "Inilah salah satu dari barang berharga tersebut!"
"Aku sedang kesusahan dan mbutuhkan uang dengan cepat jadi aku nawarkan harta karun ini pada kakak-kakak cantik ini. Dari penampilan kalian, aku nduga bahwa kalian bisa mbeli harta karun ini dengan mudah."
Randika nyaksikan sandiwara lelaki itu dengan tatapan dingin. Benar-benar nyedihkan.
Para penipu jaman sekarang benar-benar semakin ahli.
Kalung itu benar-benar kecil, bahkan bagian perhiasannya terlihat sekali bahwa itu kaca. Seharusnya barang itu tidak lebih dari 20 ribu rupiah.
"Aku rasa kita tidak mampu mbeli barang sewah itu." Jelas Bella dkk tidak akan tertipu dengan mudah.
"Aku rasa kalian tidak ngerti arti dari kalung ini." Kata lelaki itu. "Dikatakan bahwa kapal yang karam itu mbawa banyak barang berharga untuk dibawa kembali ke negara asalnya. Benda ini benar-benar miliki nilai sejarahnya."
"Kalau aku tidak butuh uang, aku tidak akan njualnya. Jika kalian mberikan aku satu juta maka barang ini milik kalian." Lelaki itu terlihat pura-pura nyesal, dia berusaha mbangun koneksi.
ndengar kata 'nilai sejarah', beberapa mulai tertarik tetapi sekaligus ragu. "Satu juta benar-benar terlalu mahal."
"Kalau begitu, kalian ingin harga berapa? Aku sedang butuh uang cepat, kalau kalian nawarnya terlalu jauh maka aku akan ncari orang lain."
Ketika Viona lihat kalung itu, dia juga ingin mbelinya. Ayahnya yang nyukai benda-benda sejarah mungkin akan senang.
"Tapi hargamu benar-benar terlalu mahal, aku harap kau bisa nurunkannya." Kata Viona.
Lelaki itu lihat ketertarikan Viona terhadap kalungnya, dengan cepat dia ngatakan. "Kalau begitu, bagaimana kalau 900 ribu? Aku tidak bisa nurunkannya banyak-banyak."
"Masih terlalu mahal." Viona nggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu 800." Lelaki itu malingkan wajahnya, seakan tidak rela njualnya. "Maaf itu batasku."
"Kau bercanda? 800 ribu buat barang rongsokan itu?" Pada saat ini Randika buka suara. "Kalung itu benar-benar cuma sampah yang kau pungut bukan?"
"Tega-teganya kau berkata seperti itu? Ini adalah kalung yang didapat dari kapal yang karam beratus-ratus tahun yang lalu, mana mungkin benda ini tidak mahal?" Lelaki itu marah.
"Jika itu adalah benda peninggalan sejarah, maka itu tidak apa-apa." Randika nggelengkan kepalanya.
"Maksudnya pak Randika barang ini palsu?" Para perempuan ini terkejut ndengarnya.
"Tentu saja palsu, coba perhatikan. Karena kalung itu berada di laut selama ratusan tahun, kenapa tidak ada tanda-tanda berkarat? Terus perhatikan bagian perhiasannya, jelas-jelas itu kaca. Berharga dari mana coba?"
ndengar kata-kata Randika itu, lelaki itu rasa nasibnya sial.
"Ternyata kau mau nipu kami!" Para perempuan ini njadi marah.
"Hei maksudmu apa? Orang sedang nyari sesuap nasi malah kau permalukan?" Lelaki itu ndatangi Randika sambil marah-marah. Karena identitasnya terbongkar, dia sudah tidak peduli dengan para perempuan itu.
"Lha aku cuma ngatakan apa adanya, mangnya salah?" Randika natap penipu ini.
"Oh? Sok bijak ternyata kamu?" Wajah lelaki itu njadi hitam kelam.
"Teman kami tidak salah, dia hanya mperingatkan kami untuk tidak mbeli barang palsumu itu. Seharusnya kau yang kami laporkan pada polisi karena berusaha nipu kita." Seru salah satu perempuan.
"Hahaha, manggil polisi?" Lelaki itu tersenyum. "Aku rasa itu percuma, semua polisi di pulau ini adalah kawanku. Lagipula, kalian tidak akan pergi ke mana-mana sebelum mbeli kalung ini!"
"Kau ngancam kami?" Semuanya njadi marah.
"Di pulau ini, tidak ada bisnis yang tidak berada di bawah kendaliku." Tatapan orang itu njadi bengis. "Aku bisa mbuat kalian semua diusir dari toko-toko dan tidak akan ada tempat yang nyambut kalian dengan ramah."
"Kau njual barang palsu pada kami, mangnya siapa yang mau beli?" Bella ngamuk.
Randika juga berkata dengan nada serius. "Aku juga bisa mberikanmu pilihan, kau ingin kaki atau tanganmu patah atau kau sekarang pergi dan tidak ngganggu kami."
"Kau berani ngancamku?" Lelaki itu tertawa dan nepuk tangannya 2x. Tiba-tiba, beberapa pria kekar dengan wajah bengis muncul dari samping dan berjalan ndekati Randika. reka natap tajam pada Randika.
"Masih berani lawan?" Kata lelaki itu sambil tertawa.
"Tentu saja, kumpulkan semua orang-orangmu dan majulah bersamaan." Kata Randika sambil tersenyum.
Randika lalu naruh barang belanjaannya, maju ke depan. Sambil natap para pria kekar itu, dia ngacungkan jempolnya ke bawah.
Arogan!
Para preman ini jelas terprovokasi oleh Randika dan sudah tidak sabar lumatnya. reka akan nghajar Randika hingga tidak berbentuk dan nikmati jarahannya.
Kelima pria kekar itu nerjang ke arah Randika bersamaan. Si penipu tadi sudah tertawa keras, nunggu bawahannya itu selesai bekerja. Tetapi, ekspresi penipu ini segera berubah hanya dalam 10 detik.
Randika masih berdiri dengan wajah datar dan ncekik salah satu preman itu. Randika sama sekali tidak bergerak, dia mbiarkan lawan-lawannya ndekatinya.
Dua preman lainnya terlihat sudah layangkan pukulan ke arah wajahnya dan kedua lainnya berusaha ngitarinya dan nyerang dari belakang.
Setelah lempar orang yang dia cekik, Randika dengan cepat ninju kedua preman yang di depan hingga pingsan.
Sedangkan kedua preman yang berada di belakangnya, reka hanya sempat lihat teman reka tergeletak sebelum akhirnya rasa sakit nghilangkan kesadarannya.
Sambil mbersihkan debu di tangannya, Randika berjalan pelan nuju si penipu.
Penipu ini nggosok-gosok matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kelima bawahannya yang kuat itu ringkuk tidak sadarkan diri di tanah.
Apa yang sudah terjadi?
lihat Randika yang semakin ndekatinya, penipu ini terus berjalan mundur hingga nabrak dinding.
DUAK!
Randika nampar dinding sampingnya sambil tersenyum. "Hahaha, masih berani lawan kah kamu?"
"Maafkan aku! Aku tidak akan berani nipu orang lagi."
"Oh? Semua sudah terlambat." Dengan cepat Randika mukul penipu itu hingga pingsan. Untuk mberinya pelajaran, Randika nusukan jarum akupunturnya secara diam-diam dan mbuat sensasi digigit semut pada orang ini selama 1 bulan.
Untuk orang tidak tahu diri semacam ini, Randika benar-benar tidak mberi ampun.
"Wah pak Randika mang tampan!" Beberapa perempuan nyoraki dan terpukau oleh Randika.
Reviews
All reviews (0)