Font Size
15px

Setelah nelepon beberapa orang dan ntransfer uangnya ke rekening Randika sebanyak 150 juta, Randika pergi ninggalkan Slat seorang diri. Sekarang, Slat bisa nghela napas lega. Setelah nghapus keringat dinginnya, dia bersumpah tidak akan ngganggu Randika lagi.

Perasaan ngeri ini baru pertama kali dia rasakan selama hidupnya dan dia tidak mau rasakannya lagi.

.......

Setelah beristirahat sendiri di kamarnya, Randika ngajak Inggrid untuk berselancar keesokan paginya.

"Benar-benar pemandangan indah!" Randika natap sekumpulan perempuan muda yang berlarian nuju ombak sambil mbawa papan selancar reka.

Randika ngangguk puas. Bikini dan dada yang gondal-gandul itu mbuat pagi harinya njadi indah. Belum lagi, dia nunggu mon di mana reka mbutuhkan bantuannya.

"Sudah lihat perempuan cantik lainnya?" Inggrid yang ada di samping Randika berkata dengan nada dingin. lihat mata Randika yang ke mana-mana itu, Inggrid hanya bisa nghela napas.

"Sebenarnya mataku selalu tertuju padamu sayang. Tidak ada keindahan di dunia ini yang bisa ngalahkan kecantikan istriku yang tercinta."

Tanpa nunggu lama, wajah Inggrid benar-benar njadi rah. Malas ndengar kata-kata manis Randika, Inggrid ninggalkan Randika dan nuju pinggir pantai.

lihat bikini Inggrid yang super ketat itu, Randika nghela napas. Kenapa istrinya makai yang seseksi itu? Bagaimana kalau ada orang yang nggodanya?

"Ran, ayo kita juga pergi!" Randika akhirnya tersadar dari linglungnya itu satelah Viona nghampirinya.

"Tentu saja, aku akan ngajarimu bagaimana caranya berselancar." Kata Randika sambil tertawa.

Hari ini Viona makai bikini warna kuning. Benar-benar mikat mata, khususnya betapa besar dadanya itu!

nyadari tatapan panas Randika, Viona dengan cepat tersipu malu. Namun, alih-alih kabur dan larikan diri, Viona justru mbusungkan dadanya. Hal ini mbuat dadanya nampak lebih besar lagi.

Mulut Randika sudah belepotan air liur. Ya ampun, kenapa dia rasa bahwa Viona tambah besar? Hari ini dada Viona benar-benar luar biasa!

"Ayo cepat!" Para perempuan lainnya juga nerjang maju ke arah ombak dengan gembira.

Randika lalu nyusul reka bersama Viona, dia takut kalau berlama-lama berduaan dengan Viona maka insting laki-lakinya akan mbuat dirinya lepas kendali.

skipun masih pagi ombak di laut ini tergolong banyak, cocok untuk berselancar. Terlebih, ombak-ombak di laut ini tergolong besar. Jadi jika orang awam yang berselancar maka reka akan kesusahan.

Pada saat ini, sudah banyak orang berkumpul di laut ini. Beberapa dari reka terlihat mpunyai keahlian, tetapi setelah berdiri di papan seluncur reka selama beberapa detik, pada akhirnya reka juga terjatuh.

"Wow, liat itu Ran! Orang itu jago ya." Viona mperhatikan seorang laki-laki yang sedang berselancar dengan indah. Orang itu berhasil ngatasi ombak besar yang ganas itu dengan mudah, jelas terlihat bahwa dia bukan orang awam.

Hmm? Aku juga jago berselancar lho. Apa kamu mau lihatnya?" Tanya Randika.

"Benarkah? Kamu juga bisa berselancar?" Viona terlihat kaget.

"Hahaha tidak ada di dunia ini yang tidak bisa aku lakukan. Tunggulah di sini, aku akan mperlihatkanmu keahlianku." Kata Randika dengan penuh percaya diri.

Karena kebanyakan orang belum bisa berselancar, Viona dan teman-temannya berlatih di pinggir pantai. skipun begitu, suasananya tetap heboh. Randika lalu berenang njauh dan ndekati ombak.

Ketika lihat ombak datang, Randika mulai berdiri di atas papannya dan bergerak ngikuti ombak.

"Wow! Randika mang hebat!" Viona, yang dari awal mperhatikan Randika, njadi bersemangat ketika lihat Randika berdiri di atas papannya.

Randika nyadari tatapan Viona dan tersenyum kecil. Cuma ombak kecil gini apa susahnya coba?

Ketika ombak makin besar, Randika mulai berenang ndekatinya. Sekarang, ada beberapa orang yang ngikuti dirinya.

Posisi reka yang berdampingan berdiri di tengah ombak ini njadi tontonan orang-orang. reka ngira bahwa reka yang berselancar itu sedang berlomba.

Ketika ombak yang dinaikinya itu mbesar, bagian bawah ombak mulai ngancam para peselancar ini. Randika dengan sigap nyesuaikan tubuhnya dan berhasil berdiri dengan stabil. Dia ngikuti ombak bersama para saingannya itu.

Namun, ombak ini tidak berhenti begitu saja. Di belakangnya, ada ombak lagi yang berusaha nghantamnya dari belakang.

"Kau pasti bisa!" Viona semakin bersemangat nyoraki Randika. Tatapan mata orang-orang juga semakin bersemangat lihat reka. lihat ombak yang nyusul itu, reka rasa bahwa akan ada beberapa yang jatuh.

Ketika ombak susulan itu nghantam, Randika sudah siap dan bersiaga.

Ombak itu berhasil nenggelamkan reka semua, para penonton berteriak histeris lihatnya. Namun, pada saat-saat terakhir, terlihat 3 sosok peselancar yang berhasil keluar dan berdiri di papan reka.

Awalnya ada 5 orang yang berselancar dan sekarang tersisa 3. Kedua peselancar lainnya sudah tersapu ombak dan tersingkir dari perlombaan ini.

Tatapan mata orang-orang sekarang jatuh pada Randika dan dua orang lainnya. Pada saat yang sama, ombak mulai naik lagi. Kali ini, ombak benar-benar tinggi. skipun masih sedikit jauh, ombak itu sudah ncapai 2 ter tingginya. Namun, Randika dan kedua orang lainnya berhasil berdiri di papan reka di tengah-tengah ombak tersebut. Yang ngejutkan adalah reka tidak turun-turun, lainkan ombak itu semakin tinggi.

"Ah!" Semua yang nonton reka mulai berteriak histeris. reka lihat ombak yang dinaiki ketiga peselancar itu ncapai 3 ter dan masih belum terlihat akan turun.

Pada saat ini, ketiga orang ini terlihat hebat nguasai ombak yang ganas itu. Namun, hanya naiki ombak dan berdiri diam bukanlah gaya Randika. Dia lalu bermanuver dengan papannya.

"Wow!" Viona benar-benar terpukau, Randika mang hebat!

Pada saat yang sama, salah satu peselancar itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke air. ninggalkan Randika dan seorang peselancar sendirian.

Randika masih rasa bahwa ombak ini masih belum ada tanda-tanda untuk turun jadi dia mutuskan untuk pergi ke puncak ombak.

Dan akhirnya ombak itu akan jatuh!

Ketika Randika sudah ncapai puncak, ombak itu mulai turun dengan cepat.

Para penonton mulai nahan napas reka, ombak yang turun itu bagaikan air bah yang siap nghantam siapapun yang ada di bawah lajunya.

Namun, pada saat-saat seperti inilah kehebatan dan kemampuan peselancar diuji.

Randika lalu ncondongkan tubuhnya agar nurunkan titik pusat gravitasinya. Ketika ombak itu nghantam ke bawah, lawan dari Randika nampak tidak bisa mpertahankan keseimbangannya.

Dalam sekejap, orang tersebut tercebur dan jatuh dari papannya.

Bagaimana dengan Randika?

Seluruh orang bertanya-tanya apakah Randika berhasil lewati ombak besar tersebut atau tidak. Kemudian, Randika terlihat baik-baik saja dan masih berdiri di atas papannya selagi ombak mbawanya.

lihat hal ini, para penonton bersorak dan bersemangat lihat Randika.

"Wow! Hebat sekali!" Para perempuan dari kantornya terlihat bertepuk tangan. reka tidak nyangka bahwa Randika miliki keahlian berselancar yang luar biasa.

Randika kemudian berenang bersama papannya hingga ke pinggir pantai. Di sana dia sudah dikerubungi oleh perempuan-perempuan cantik.

"Hai tampan, mau ajari aku tidak?"

lihat kemunculan para perempuan ini, Randika njadi besar kepala. "Maaf, aku sudah punya pacar."

lihat Randika yang nolak reka secara langsung, para perempuan ini pergi dengan hati yang kecewa.

Satu per satu perempuan yang ndekatinya dia tolaki dan akhirnya Randika berada di samping Viona.

"Bagaimana? Aku keren bukan?"

"Sangat keren!" Viona bertepuk tangan dengan gembira.

"Kalau begitu, aku akan ngajarimu secara cuma-cuma." Kata Randika sambil tertawa.

Tentu saja Viona ngangguk dengan cepat. Kemudian Randika mbawa Viona ke perairan yang lebih dalam.

Pertama-tama, kau perlu belajar cara berdiri di atas papanmu. Sekarang coba kau tiduran dulu di papanmu." Kata Randika.

Viona nuruti setiap kata yang diucapkan Randika.

Randika sendiri sedang berjuang nahan diri, pantat Viona benar-benar nggoda!

"Uhuk! Kalau begitu, coba kamu berenang di atas papanmu ini. Setelah itu aku akan mbetulkan posturmu."

"Oke." Viona segera lakukannya.

"Ah! Salah, seharusnya seperti ini." Randika lalu gang pinggang Viona yang ramping itu. "Tubuhmu harus tetap tegak selama kamu berenang."

Wajah Viona sedikit rah, tangan Randika yang ada di pinggangnya ini benar-benar mbuatnya ngingat masa-masa reka di rumahnya. Terlebih lagi, bagaimana bisa dia berenang jika Randika terus-nerus gangi dirinya!

Sedangkan Randika sendiri, dia sedang asyik nikmati situasi ini sampai-sampai lupa bahwa dia nahan Viona.

"Vi, sekarang justru kakimu yang bermasalah. Kakimu tidak boleh bergerak sama sekali. Coba kamu berenang lagi selagi aku nahan kakimu." Randika berpindah ke paha mulus Viona.

Wajah Viona semakin rah, tapi dia sama sekali tidak ngatakan tidak pada Randika. Justru dia sendiri nikmati mon intim ini.

"Oh? Vi, apa kamu gendutan?" Randika remas-remas paha milik Viona. Dia rasa bahwa pahanya semakin besar.

"Ah? Masa?" Viona terkejut. Dia percaya diri dengan tubuh yang dimilikinya. Bagaimana mungkin dia tambah gemuk?

"Yah maksudku kamu lebih berisi daripada dulu. Tapi tidak apa-apa, justru seperti ini aku lebih suka." Kata Randika sambil tersenyum.

Wajah Viona semakin rah, dia lalu netapkan tekad di dalam hatinya. Setelah liburan ini selesai, dia harus berdiet dan berolahraga untuk njaga bentuk tubuhnya. Dia tidak boleh mbiarkan Randika mbencinya gara-gara dia bertambah gemuk.

Setelah setengah jam, tidak ada kemajuan di pembelajaran Viona. Selama ini Viona cuma belajar cara berenang dengan tiduran di papan sambil terus-terusan dipegang oleh Randika. Untungnya, para perempuan lainnya datang untuk mbantu Viona.

Randika secara otomatis lepaskan tangannya dan bermain aman.

Waktu mang cepat berlalu kalau sedang senang, itulah yang dirasakan Randika yang dikelilingi wanita-wanita cantik. Tanpa sadar, waktu sudah berlalu 2 jam sejak reka datang di pantai ini.

Semuanya mulai capek dan lapar.

"Hei, ayo kita keluar dan nyari makan." Saran salah satu orang.

"Ayo!" Dengan cepat beberapa perempuan nyetujui saran tersebut.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 125: Berselancar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.