Randika dan yang lain segera berjalan kembali nuju hotel reka sambil tetap ngobrol dengan riah.
Namun, tiba-tiba beberapa petugas polisi ncegat reka.
"Itu reka!"
Ketika Randika ndengar dan lihat para petugas ini, dia nyadari bahwa Slat tidak jauh dari posisi reka. Slat natap reka dengan dingin.
"Kalian semua harap ngikuti kami ke kantor."
Para polisi ini benar-benar tidak ngenal kata tidak. Tanpa nunggu jawaban dari Randika dkk, reka segera nghampiri dengan borgol di tangan reka.
Randika hanya natap dingin selama kejadian ini. Tangannya lalu bergerak dengan cepat, tanpa bisa diikuti oleh pergerakan mata orang awam. Polisi yang hendak nangkap Randika tiba-tiba nyadari bahwa tangannya telah terborgol!
"Kau berani nyerang seorang polisi?!" Polisi ini njadi murka. Ketiga polisi lainnya ninggalkan para perempuan dan ngepung Randika dengan wajah marah.
"Aku sarankan kalian untuk tidak berbuat macam-macam." Kata Randika dengan santai.
"Kalian juga tidak berhak nangkap kami!" Beberapa perempuan juga mulai marah. "Tidak peduli kalian polisi, maksudnya apa tiba-tiba nangkap dan mau mbawa kami?"
"Iya! Kami sama sekali tidak langgar hukum apa pun, buat apa kalian tiba-tiba nangkap kami?"
"Kalian hanya perlu diam dan ikut kami ke kantor." Para polisi ini tetap bersikukuh ingin mbawa Randika dkk bersama reka.
Randika lalu minta teman-temannya itu untuk diam dan nyerahkan semua masalah ini pada dirinya. Dia lalu berkata dengan santai. "Sayangnya, tangan kotor kalian tidak bisa nyentuhku."
"Oh? Kalau begitu tangan kotormu yang telah ngobrak-abrik usaha orang justru lebih bersih dari kita begitu?" Kata salah satu polisi dengan nada dingin.
"Oh? Jadi begitu?" Randika lalu natap dingin Slat, yang tidak jauh dari posisi reka, dan tersenyum. Ketika Slat lihat senyuman itu, dia tidak bisa nahan tubuhnya untuk tidak rinding.
"Kalau begitu kenapa kalian tidak nanyakan padaku kenapa aku ngobrak-abrik tempat itu?" Kata Randika dengan santai.
"Tidak ada penjelasan yang cukup baik untuk njelaskan kenapa penjahat sepertimu nghancurkan usaha orang." Salah satu polisi ndengus dingin. "Ceritakan semua dosamu itu di kantor!"
"Eh? Bukankah kalian polisi? Bukankah kalian harusnya lihat semuanya dengan baik?" Seorang perempuan dari kelompok Randika ini tiba-tiba maju ke depan sambil marah-marah. "Tempat itu adalah tempat perasan! reka mberikan kita harga yang tidak masuk akal dan ngancam mbunuh kita kalau tidak mau bayar. Sudah untung temanku ini mau bertindak agar orang-orang tidak bernasib sama seperti kita."
Randika lalu motong perempuan itu dan berkata dengan nada dingin. "Para preman itu pantas ndapatkan apa yang reka dapatkan. Jika kau ingin nangkap kami, tangkap reka dulu."
Para polisi itu natap satu sama lain beberapa saat. Akhirnya, salah satu dari reka ngatakan. "Kita akan ngurus hal itu nanti. Sekarang, kalian semua perlu ikut kami ke kantor polisi. Tindakan kalian tadi telah langgar hukum."
Randika nggelengkan kepalanya. "mangnya kalian dibayar berapa sampai bisa keras kepala seperti ini?"
"Coba ulangi apa yang kau katakan barusan!" Salah satu polisi njadi marah ketika ndengarnya.
"Kenapa? Sekarang kau jadi tuli?" Randika rasa jijik dengan polisi korup seperti ini. "Sudah jelas bahwa kalian berempat dibayar oleh orang itu. Jadi aku akan bertanya pada kalian. Apakah kalian masih ingin nerima uang itu ataukah kalian ingin pulang dengan keadaan selamat?"
Para polisi yang sudah ketahuan ini langsung mbentak. "Omong kosong! Jika kalian tidak ikut dengan kami, status kalian akan njadi buronan."
"Ancaman seperti itu tidak berguna untukku." Kata Randika dengan wajah serius. "Aku tidak masalah njadi buronan. Tetapi, kalian berempat akan tergeletak tidak berdaya di rumah sakit selama beberapa bulan dan ndekam di penjara setelahnya."
"Sudah cukup berbicaranya, tangkap dia!" Kata salah satu polisi sambil ngeluarkan borgolnya.
Keempat polisi ini nerjang Randika. Sosok Randika hanya terlihat bergerak sedikit. Tiba-tiba, borgol keempat polisi ini sudah terlempar cukup jauh dari posisi reka.
Randika lalu bertanya dengan santai pada reka. "Segini aja kemampuan kalian?"
Terdapat rasa takut di tatapan mata para polisi ini. reka benar-benar tidak bisa lihat kapan dan dengan cara apa borgol reka diambil dan dilempar dengan mudah.
Slat, yang tidak jauh, nghela napas dalam-dalam ketika lihat aksi Randika. Jauh di dalam hatinya dia rasa bahwa dirinya telah salah ngajak geger orang.
"Hajar saja dia!" Beberapa perempuan mulai nyoraki Randika. "reka para polisi korup yang tidak layak makai seragam itu! Bisa-bisanya dia nerima uang suap dan tidak nangkap para preman tadi!"
Inggrid ngerutkan dahinya, skipun dia ingin sekali ngubur para polisi itu tetapi dia ngerti inti permasalahannya apa. Jika Randika benar-benar nghajar para polisi itu, tuduhan reka akan berubah njadi pemukulan terhadap polisi. Hal ini benar-benar tidak bagus buat reka.
Randika masih berdiri diam di hadapan para polisi itu. Para polisi itu natap Randika dengan tatapan waspada, bagaikan reka natap teroris. Orang ini sepertinya bukan orang biasa.
"Aku akan mberikan kalian kesempatan." Kata Randika dengan muka serius. "Pergi sebelum aku marah."
"Kau pikir kau ini siapa?" Salah satu polisi yang sudah naklukan rasa takutnya itu njadi marah. ngeluarkan pistolnya, dia mbidik Randika. Sesaat itu juga, hembusan angin kuat berhembus dari arah Randika. Dia sudah mancarkan tenaga dalamnya yang kuat itu dan bergerak dengan cepat.
"Sekarang kalian semua akan ikut dengan kami! Kalau tidak, jangan salahkan aku nembak kalian karena tidak nuruti kata-kata seorang penegak hukum!" Kata polisi itu dengan nada dingin.
"Kamu yakin?" Randika kemudian ngangkat tangan kanannya.
Polisi itu terkejut ketika lihatnya. Dia lihat apa yang ada di tangan Randika dan riksa pistolnya. Pistolnya tidak ada pelurunya! Dia natap Randika dengan wajah terkejut, bagaimana caranya pria itu lakukannya?
Randika lalu lempar peluru yang ada di tangannya ke kaki para polisi itu sambil tersenyum. "Kesempatan terakhir, pergi dan jangan ganggu kita."
Para polisi itu rinding ketika lihat senyuman Randika.
lihat tidak ada tanggapan, Randika lalu bergerak dengan cepat. Yang dirasakan para polisi ini hanyalah hembusan angin yang kuat. Sesaat setelah itu, reka hanya rasakan rasa sakit yang luar biasa di perut reka.
reka hanya rasakan kesadaran reka perlahan-lahan nghilang dan jatuh di tanah secara serentak.
"Malam ini kalian akan tidur di luar." Kata Randika yang sudah berdiri di belakang reka. Sekarang, tatapan matanya jatuh pada Slat yang masih natap takut pada Randika.
lihat tatapan mata Randika, Slat hanya bisa langkah mundur sambil getaran.
lihat Slat yang terus nerus mundur, Randika mbentaknya dan nyuruhnya berhenti.
"Kita bertemu lagi, sungguh kebetulan." Kata Randika dengan santai.
"Jangan khawatir, setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. Percayalah padaku." Slat sudah bermandikan keringat dingin.
"Tentu saja aku percaya pada temanku." Randika tersenyum lebar. Namun bagi Slat, kenapa senyum itu seperti ngandung sesuatu yang nakutkan?
"Sebelumnya aku sudah ngomong bukan bahwa aku akan nemuimu jika butuh uang?" Randika nghampirinya sambil terus tersenyum. "Sekarang karena kita sudah bertemu, bagaimana kita berbicara tentang bisnis? Karena kau nyinggung perasaanku dan nghabiskan energiku nangani para suruhanmu itu, setelah kuhitung-hitung mungkin totalnya 150 juta."
"Ah! Aku tidak punya uang sebanyak itu." Slat nelan air ludahnya.
"Sayang sekali, setelah semua hal ini terjadi aku sedang tidak ingin mberi diskon. Kalau begitu, kau ingin tangan atau kakimu yang aku patahkan?" Kata Randika dengan santai.
ndengar hal ini, Slat benar-benar ketakutan setengah mati. Nasibnya benar-benar sial, dia tidak nyangka bahwa dia akan bertemu setan seperti orang ini.
"Maksudku, aku akan ncarinya! Aku mohon kakak nunggu uangnya!" Kata Slat dengan cepat.
Reviews
All reviews (0)