Font Size
15px

Slat natap Randika, berusaha nekan rasa takutnya yang muncul dari dalam hatinya. Namun, badannya terus bergetar tanpa henti dan keringatnya tidak bisa berhenti ngalir.

"Kau boleh ngatakan ini adalah nasib buruk ketika kau bertemu denganku." Randika tertawa. "Aku sangat ahli ngubur orang-orang sepertimu. Tetapi karena aku orang baik, jadi aku ngampunimu. Jadi kau mau ngasih uangku atau tidak?"

ndengar kata-kata Randika dengan nada ngancam itu, Slat seakan ingin pingsan.

"50 juta?" Slat nelan air ludahnya.

"Benar, kalau tidak kau ngerti apa yang akan terjadi kan?" Randika nepuk bahu Slat.

"Sudah ayo cepat, bukankah kau tadi ngatakan kau ndapatkan puluhan juta tiap harinya?" Randika remas bahu Slat. "kesabaranku mulai nipis."

"Lagipula, ini bukan pertama kalinya kau lakukan perasan ini bukan?"

Slat benar-benar sudah berkeringat deras. Kali ini, dialah yang ada di ujung jurang.

"Aku tidak punya sebanyak itu, aku hanya punya 40." Kata Slat dengan nggertakan giginya.

Randika terkejut, pria ini kaya juga.

"Uang tetaplah uang, kamu beruntung aku adalah orang yang sabar." Randika nghela napas. "Jarang ada orang sesabar aku."

Wajah milik Slat sudah benar-benar jelek. Ketika dia mberikan uangnya pada Randika, Randika hanya tersenyum. "Kalau aku tidak punya uang lagi, aku akan kembali ke tempat ini."

ndengar hal tersebut, Slat benar-benar ingin pingsan.

Setelah ndapatkan uangnya, Randika beserta yang lain keluar dari tempat makan itu. Sedangkan Slat, dia hanya berdiri di tempat sambil lihat sosok Randika yang segera nghilang. Di tengah-tengah tempatnya yang berantakan itu, dia nghela napas dalam-dalam. Hatinya benar-benar dipenuhi dengan rasa takut bercampur benci.

Dia lalu mbalik sebuah ja sambil maki keras. Tatapan matanya benar-benar dikuasai oleh rasa marah dan benci.

Akan kubuat kau rasakan akibatnya!

...........

Randika dan para perempuan ini kembali berjalan-jalan. skipun hari sudah malam, tempat pariwisata ini dipenuhi dengan keramaian dan cahaya lampu yang terang.

Para perempuan kembali ngobrol dengan riang. Sekarang, topik obrolan reka bukanlah tentang make up ataupun makanan lainkan Randika.

"Pak, kenapa kau begitu hebat tadi?" Kata salah satu perempuan dengan mata berbinar.

"Pak, apakah kau dulu belajar silat?"

"Pak, apakah kau bisa ngajarkanku?"

Beberapa perempuan berbicara bersamaan mbuat Randika njadi pusing. Namun, situasi ini mbuat Randika rasa dirinya sangat keren.

Inggrid natap tajam Randika, yang wajahnya sudah nyengir tidak karuan. Bajingan ini akan dipuji-puji lagi?

"Itu semua rahasia, aku tidak bisa nceritakannya." Randika tertawa. "Lagipula, skipun para preman tadi itu kekar, reka sama sekali tidak kuat."

"Oh? Kenapa begitu?" Tanya para perempuan dengan rasa penasaran.

"Dari cara reka bergerak sudah kelihatan. Napas reka juga terburu-buru, otot reka juga tidak wajar berkembangnya jadi jelas itu pengaruh obat."

..............

Kelompok ini terus berjalan ngitari kota sambil ngobrol. Sekarang, topik reka berubah njadi lelucon.

"Aku punya jokes lucu. Makanan apa yang pandai nyanyi? Telor Swift!"

"Ah, punyamu kurang lucu. Aku punya cerita lucu yang kualami sendiri. Ketika aku naik pesawat kapan hari, ada bapak-bapak yang duduk di sampingku nyapaku dan nanyakan tujuanku. Setelah aku ngomong mau ke Cendrawasih, dia dengan santainya ngangguk dan ngatakan kalau tujuannya kita sama. Ya iya kita kan satu pesawat masa dia mau turun di tengah-tengah perjalanan? Hahaha"

"Masih kurang lucu, coba dengarkan punyaku! Jadi ada seekor katak nemui seorang peramal untuk ngetahui apakah dia akan beruntung dalam urusan asmara atau tidak. Peramal itu kemudian mbaca telapak tangan si katak dan ngatakan bahwa dia miliki kabar buruk dan baik. Karena ingin ndengar kabar baik dulu, si peramal ngatakan bahwa si katak akan bertemu dengan seorang gadis cantik. Perempuan itu akan tertarik padanya dan ingin ngetahui segala sesuatu tentang dirinya. Dia ingin ndapatkan hati si katak. ndengar hal tersebut, si katak benar-benar senang dan bertanya apa kabar buruknya. Si peramal hanya nghela napas dan berkata bahwa dia akan nemuinya di kelas biologi."

Randika ndengar semua ini dari samping. Entah kenapa baginya jokes-jokes seperti ini kurang lucu baginya.

"Mungkin pak Randika punya sesuatu?" Randika tiba-tiba ditanya oleh salah satu perempuan.

"Ah?" Randika yang lamun terkejut ndengarnya.

"Ayo pak! Beri kami satu." Beberapa lainnya mulai ngompori.

Tatapan mata Inggrid dan Viona juga berharap Randika mau bercerita juga.

"Baiklah kalau begitu." Randika nelan air ludahnya dan mulai bercerita. "Suatu hari, ada seorang pria yang ingin nurunkan berat badannya. Tetapi karena malas berolahraga dan mbatasi makannya, dia ndatangi sebuah gym yang nawarkan program nurunkan badan dengan cepat."

Randika berhenti berbicara sebentar dan lihat bahwa tatapan mata semua perempuan tertuju pada dirinya.

"Saat dia ndatangi resepsionisnya, dia ditawari mau mbakar berapa kalori. Ada yang 500, 1000 dan 1500. Setelah mikirkan matang-matang, pria itu milih yang 500 kalori. Saat dia masuk ke dalam sebuah ruangan, sudah ada wanita cantik yang nunggu dirinya. Perempuan itu ngatakan bahwa jika dia bisa ngejar dirinya, maka dia akan mperlihatkan dadanya."

ndengar lelucon sum ini, wajah para perempuan njadi rah. reka tidak nyangka lelucon Randika akan njadi sum.

"Dengan semangat nggebu-gebu, pria itu berhasil ngejar perempuan itu setelah 30 nit. ndapatkan hadiahnya dan sebuah ciuman, pria itu ngetahui bahwa dia berhasil turun 1 kg dalam sehari. rasa bahwa efek yang diberikan gym ini bagus, pria ini datang lagi besoknya. Kali ini dia minta yang 1000 kalori. Setelah dia masuk ke ruangan, sudah ada wanita cantik lainnya yang nunggunya. Kali ini perempuan itu ngatakan bahwa jika dia berhasil ngejar dirinya, dia akan berhubungan badan dengannya. Setelah ngejarnya lebih dari 45 nit, pria itu berhasil ngejar dan berhubungan badan dengan wanita itu selama 1 jam."

Inggrid sudah tidak berani natap Randika. Bisa-bisanya dia bisa sevulgar itu?

"Pria ini jelas rasa senang dan berat badannya terus turun dua hari ini. Untuk ketiga kalinya dia ndatangi gym itu dan milih 1500. Seperti biasa, dia masuk ke sebuah ruangan." Tiba-tiba Randika berhenti bercerita.

Para perempuan ini penasaran. "Kenapa? Ayo lanjutin."

"Pria itu nemukan seekor orang utan sedang duduk." Randika tersenyum. "Perawat orang utan itu terus ngatakan bahwa jika orang utan ini berhasil ngejarnya maka dia akan berhubungan badan dengannya. Alhasil, orang itu berlari dengan sekuat tenaga."

Viona tertawa sembunyi-sembunyi, ending tak terduga Randika benar-benar lucu baginya.

Setelah selesai bercerita, Randika nyadari bahwa beberapa perempuan sudah tersipu malu. Sepertinya reka jarang ndengar lelucon sum.

"Bisa-bisanya kau bercerita vulgar seperti itu?" Inggrid nggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hahaha kita semua sudah dewasa, pengalaman kita juga sudah banyak." Kata Randika sambil tertawa.

Inggrid lalu malingkan wajahnya. Dia lalu berpikir, Aku belum pernah lakukannya!

"Sekarang giliran bu Inggrid!" Kata salah satu perempuan.

Tiba-tiba semuanya nyemangati Inggrid. "Ayo bu, ibu pasti punya kan!"

Inggrid rasa tidak berdaya. "Aku tidak pandai beginian."

"Santai aja bu, semua orang pasti punya lelucon lucu yang pernah dia dengar." Beberapa perempuan tidak nyerah.

"Kalau begitu baiklah. Jadi suatu hari .." Inggrid benar-benar payah dalam bercerita. Namun, untuk nghormati atasan reka ini, para perempuan ini tertawa kecil.

Setelah berkeliling kota selama 1 jam, reka mutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 123: Randika adalah Orang yang Sabar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.