Font Size
15px

"Kau pikir udang ini lobster? Mana ada udang kecil kayak punya kalian bisa semahal ini!" Beberapa dari reka mulai raung. "Kita tidak akan mbayar makanan ini."

"Tidak mbayar?" Pelayan itu nyeringai. "Saat kalian masuk ke tempat kami dan san makanan, kenapa kalian tidak mbaca nu kami sampai habis? Sekarang kalian malah nyalahkan kami dan bahkan ngancam tidak mbayar. Jangan sampai aku manggil bosku, bisa-bisa kalian mbayar lebih mahal lagi."

Setelah berkata seperti itu, pelayan itu nunjuk ja bosnya. Bosnya yang tinggi dan kekar itu natap tajam pada ja Randika dkk.

"Bagaimana ini?" lihat tatapan tajam itu, salah satu dari reka mulai khawatir.

"Aku juga tidak nyangka tempat ini adalah tempat perasan."

mang di seluruh tempat di Indonesia terdapat tempat-tempat seperti ini. Kejadian seperti ini biasanya narget para turis khususnya turis asing.

"Bu Inggrid, kita tidak boleh nyerah begitu saja. Kita lebih baik manggil polisi." Saran salah satu perempuan.

Inggrid tidak mbalasnya sama sekali, dia hanya noleh ke arah Randika. Dia sama sekali tidak nyadarinya, tetapi di saat terdesak seperti ini, dia mulai bergantung pada Randika terhadap masalah-masalah penting seperti ini. Sepertinya sosok dan pendapat Randika dapat nenangkan hatinya.

"Jangan khawatir." Randika tersenyum. "Lebih baik kita tunggu sebentar dan lihat keadaan, mungkin saja bosnya itu tidak segalak penampilannya."

"Ah? Pak Randika sudah gila? Jelas ini tempat perasan, mana mungkin bosnya itu tidak galak? nurutku manggil polisi adalah langkah yang benar." Kata salah satu dari reka.

"Sudah tenang saja." Kata Inggrid dengan tenang.

Pada saat ini, terdengar suara teriakan dari ja samping. "Apa? Mana mungkin total semuanya 10 juta?"

ndengar hal itu, mata semuanya tertuju pada suara orang itu.

Di ja itu, orang dengan setelan jasnya itu sedang makan bersama istri dan anaknya yang masih kecil.

Maaf salahnya di mana ya? Totalnya sudah tertera dengan benar di tagihan bapak." Pelayan lainnya lakukan hal yang sama dengan pelayan dari ja Randika, dia nunjukan tulisan kecil di bagian paling bawah nu.

Setelah pria itu mbacanya, dia mbentak si pelayan. "Kalian ini sampah! Aku tidak akan mbayar makanan-makanan sampah ini."

"Bisa diulangi lagi?" Pria berbadan kekar ndekati pria berjas ini. "Jika kau tidak mau mbayar maka aku akan nghajarmu hingga babak belur. Lagipula, apakah kau tidak khawatir dengan istrimu yang cantik itu kenapa-kenapa?"

"Apa maksudmu itu?" Si pria berjas itu terlihat panik.

"Percayalah, kau tidak ingin itu semua terjadi." Pria kekar itu mbanting janya.

Istrinya sudah berwajah pucat dan narik lengan suaminya. Anaknya yang masih kecil itu sudah ketakutan dan berlindung di balik pelukan ibunya.

lihat istri dan anaknya yang ketakutan itu, pria berjas itu nggigit bibirnya dan ngatakan. "Baiklah. Aku akan mbayarnya."

Setelah itu, dia ngambil amplop yang ada di balik jasnya dan ngeluarkan segepok uang. lemparnya ke ja, dia lalu pergi dengan istri dan anaknya itu.

Tiba-tiba, seluruh tamu yang duduk ternung sentara waktu. Bahkan orang-orang yang makanannya baru datang ada yang langsung ngamuk.

"Hei, aku tidak san makanan ini."

"Bajingan, berarti harga makanan ini 300 ribu?"

"Cepat kita pergi saja sebelum dipalak."

"Tidak secepat itu!" lihat orang-orang mau pergi, beberapa pria kekar segera nghampiri ja itu.

"Pesanan kalian sudah dibuat dengan susah payah. Kalian tidak bisa pergi begitu saja tanpa mbayar." Kata pria kekar itu.

"Kalau begitu berapa maumu?" Tamu itu nelan air ludahnya.

"Tidak banyak, 250 ribu."

Tanpa berkata banyak, orang itu langsung mbayar 250 ribu. Dia berpikir keadaannya masih baik daripada pria berjas tadi sebelumnya.

Pelanggan-pelanggan yang lain mandangi makanan reka yang sudah termakan setengah itu. reka ragu apakah harus nghabiskannya atau tidak.

Dalam sekejap, tempat ini hanya tinggal Randika dan beberapa ja saja. reka yang masih belum pergi tidak berani pergi karena ja reka penuh dengan piring makanan.

"Hahaha ja itu totalnya juga 10 juta." Tawa salah satu pria kekar sambil gang tagihan salah satu ja.

"Hahaha bisnis seperti ini sangat mudah." Kata salah satu pelayan. "Besok kita akan malak orang-orang bodoh ini lagi."

"Benar, banyak orang bodoh yang datang ke pulau kita setiap harinya." Pria kekar itu tertawa. Semakin banyak turis yang datang, semakin banyak uang yang dia dapat.

ndengar obrolan njijikan pria kekar yang rupakan dalang di balik kejadian ini, seluruh orang di ja Randika benar-benar tidak habis pikir. Ini namanya sudah perampokan bukan bisnis lagi.

Pada saat ini, pelayan sebelumnya ndatangi ja reka lagi bersama bosnya yang kekar itu.

Ketika Randika lihat pria kekar itu, dia lihat tato yang nutupi seluruh tubuhnya, telinga yang ditindik, gaya pakaian yang berantakan, bisa dikatakan bahwa orang ini adalah preman yang sudah bergelut di dunia gangster bertahun-tahun.

Slat, pria berbadan kekar itu, nghampiri ja Randika sambil ngemut sebuah tusuk gigi. Tatapan matanya benar-benar bengis, didukung oleh wajah sangarnya itu. Orang-orang yang lihatnya pasti segera ketakutan.

"Aku dengar kalian nolak untuk mbayar?" Slat natap dingin mangsanya sambil ngangkat kakinya ke ja. Para perempuan di ja ini segera panik.

Randika hanya berdiri dan tersenyum. "Oh? Siapa mangnya kamu?"

"Aku adalah Slat, bos dari tempat ini."

"Hahaha." Randika lalu tertawa tanpa sebab.

"Pelayanku ini ngomong kalau kalian keberatan dengan harga makanan kalian?"

"Siapa yang mangnya mau mbayar orang jahat semacam kalian? Ini jelas-jelas perampokan." Salah satu perempuan mberanikan diri mprotes.

"Kalian mang pintar, aku dulu mang perampok." Slat tertawa. "Tagihanmu ini mang salah. Sebentar aku akan nghitungnya lagi. Untuk makanan dan minuman kalian habis 5 juta, untuk mbuang waktu dan tenagaku kalian kukenakan 5 juta lagi. Karena kalian telah nyinggung perasaan kami, maka totalnya ncapai 15 juta."

ndengar penjelasan Slat ini, semua orang di ja terkejut. Pria ini dengan santainya nagih reka 3x lipat dari sebelumnya. Bahkan salah satu dari reka rasa ingin pingsan.

"Kenapa? Harga ini sudah termasuk adil nurutku." Slat lalu ngangkat kakinya ke ja. Tiba-tiba aura ngerikan terpancar dari dirinya.

Slat rasa targetnya kali ini sangat mudah. Dia harus rasnya sekeras mungkin.

Para wanita ini, khususnya Inggrid, benar-benar terlihat kaya. Dia sangat yakin bahwa para wanita ini pada akhirnya akan mbayarnya.

"Lha kok murah sekali? Seharusnya tidak semurah itu." Randika cah keheningan. Tawa Randika itu juga narik perhatian Slat.

"Oh? Kok bisa begitu?" Slat pertama kali lihat orang yang seperti ini.

"Tentu saja ini masih kemurahan. Bagaimana mungkin 3x lipat sudah cukup? Aku juga telah nghitung waktu dan tenaga yang kami perlukan untuk datang ke sini dan makan. Jadi nurutku kau perlu mbayar kami 50 juta."

"Ah?" Semua orang yang ada di ja terkejut bukan main. reka sudah nahan napas ketika ndengar kata 50 juta tetapi reka justru lebih kaget lagi ternyata Randika minta pria jahat itu untuk mbayar reka 50 juta! Pemikiran seperti itu benar-benar gila.

"Apakah Randika sudah gila?" Semua pertanyaan ini nggenang di hati reka.

Slat juga bingung ndengarnya. "Maksudmu apa?"

"Kau tidak dengar? Aku minta kalian mbayar kami 50 juta karena sudah nghabiskan waktu dan tenaga kami. Tentu saja jika kau rasa itu kemahalan, aku akan mberi potongan. Bagaimana kalau 45?"

Slat benar-benar rasa bodoh. Orang yang diajaknya berbicara ini sehat atau tidak?

"Hahaha pertama kalinya aku bertemu dengan orang sebodoh kamu ini." Slat tertawa lepas.

Randika lalu berkata dengan muka serius. "Aku orang yang rasional bukan bodoh. Sebaiknya kamu segera mberi uangku atau aku akan ngobrak-abrik tempatmu ini."

Slat lalu berhenti tertawa. "Orang dengan keberanian itu masih belum lahir."

Randika tersenyum ngejek. "Mau dicoba?"

"Baiklah." Ekspresi Slat segera berubah njadi dingin. "Kalian berdua, hajar dia!"

Dalam sekejap, dua pria kekar ndatangi ja Randika dengan wajah bengis reka.

Beberapa perempuan sudah ketakutan ketika lihat wajah kedua orang tersebut. ngapa makan malam reka yang nyenangkan njadi nakutkan seperti ini?

Tetapi, Randika tiba-tiba nghilang bagaikan asap. Dia sudah tiba di depan kedua orang itu dan nghajarnya.

Tanpa nahan kekuatannya, Randika mukul wajah kedua orang itu sampai terpental jauh dan nabrak ja.

DUAK!

Suara ja yang patah dan kursi yang berterbangan terdengar keras.

"...."

Kedua preman itu terlihat sama sekali tidak bergerak dan langsung pingsan.

Tindakan tiba-tiba Randika ini ngejutkan semua orang. Para pengunjung manfaatkan keadaan ini untuk kabur dari tempat itu.

Sedangkan bos dari para preman itu, Slat, hanya natap bodoh ke arah Randika.

Lawannya ini benar-benar terlihat seperti seorang dewa, dia dengan mudah nghajar kedua bawahannya itu.

Sambil nggigit bibir bawahnya, Slat raung keras. "Mati kau!"

ndengar raungan bosnya, pria kekar lainnya nerjang maju ke Randika. Randika yang berdiri di tengah-tengah itu hanya terdiam.

Inggrid, Viona dan perempuan lainnya hanya lihat Randika yang sudah terkepung oleh preman-preman itu.

Randika dengan cepat njadi setitik cahaya dan ngayunkan tinjunya. Dalam sekejap semua preman itu sudah layang jauh dan jatuh kesakitan.

Yang paling parah adalah ketika Randika ncekik salah satu preman dan lemparkannya pada salah satu food truck hingga mobilnya ikut terjatuh!

Dalam sekejap preman-preman berbadan kekar itu sudah ringkuk kesakitan. Namun, Randika hanya tersenyum ke arah Slat. "Hargaku naik lagi setelah berolahraga seperti ini."

Slat yang mulutnya ternganga lebar itu masih tidak dapat percaya dengan pemandangan di hadapannya ini. Kenapa yang jatuh malah para bawahannya?

Teman-teman Randika juga tidak percaya dengan adegan ini. Randika mang luar biasa!

Viona yang sudah tahu kekuatan asli Randika itu justru terlihat bangga ketika teman-temannya itu nyadari kehebatan Randika.

Dia adalah orang terkuat yang reka kenal!

lihat Randika yang nghampirinya, Slat mulai berkeringat dingin. Sekarang dia mandang mangsanya ini dengan kacamata yang berbeda. Dari lubuk hatinya muncul rasa kagum sekaligus takut.

Hanya kekuatan sejati yang bisa rintah dunia!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 122: Aku adalah Orang yang Rasional on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.