lihat kunci kamarnya, Randika entah kenapa rasa murung. Kenapa dirinya bisa pisah kamar dengan istrinya itu?
ngingat kejadian di kota rak, Randika tersenyum lebar.
Dia harus tidur dengan istrinya mala mini!
Berdiri di koridor, Randika mperhatikan sekelilingnya. Di serong kanannya adalah kamar Viona dan kamar Inggrid berada di samping kanannya persis. Ketika Viona lihat tatapan Randika, dia tersenyum manis dan masuk ke kamarnya. Sedangkan Inggrid natapnya tajam lalu masuk ke kamarnya.
Orang-orang dari perusahaannya juga sudah masuki kamar reka.
Dalam sekejap tinggal Randika saja yang ada di koridor.
Setelah beberapa saat, Randika berjalan ke kamar Inggrid dan ngebelnya.
"Siapa?" Suara Inggrid terdengar dari dalam.
"Sayang, aku ada perlu sama kamu." Kata Randika sambil tertawa.
Ketika Inggrid mbuka pintunya, Randika langsung nerjang masuk dan duduk di sofa.
"Kenapa? Masalah apa yang ingin kau bicarakan?" Inggrid terlihat waspada sekaligus penasaran.
"Tidak ada apa-apa." Randika lalu berdiri dan luk Inggrid. Dia lalu berbisik. "Apakah kamu sudah lupa dengan hari-hari indah kita di kota rak?"
"Jangan sekali-kali kau punya pemikiran seperti itu." Inggrid ndorong Randika. "Cepat kembali ke kamarmu. Aku tidak mau terlihat bersamamu di kamarku sama para bawahanku."
"Sayang, tidak ada orang yang akan lihat kita." Randika lalu duduk di sofa. "Lagipula, kamarmu yang luas ini terlalu luas untuk satu orang. Aku khawatir kamu akan kesepian."
Inggrid hanya natap tajam Randika. "Kamu sudah masuk ke kamarmu? Semua kamar yang kupesan semuanya seluas ini."
"Hahaha." Randika tertawa canggung. "Yah bagiku itu tidak sama. Aku hanya ingin nghabiskan hariku dengan istriku tercinta. Dan aku sudah mutuskan untuk tidur di kamar ini bersamamu."
"Terserah kau mau ngomong apa, aku tidak akan mbiarkanmu nyentuhku." Kata Inggrid dengan muka dingin.
"Lho, kamu mau ke mana?" Randika terlihat panik, dia berusaha ncegah Inggrid pergi. "Aku hanya ingin tidur di sampingmu, tidak ada niatan lain."
Inggrid sama sekali tidak noleh. Pria ini mang bajingan dan tidak tahu diri, pikirnya.
"Tidur sendiri sana, aku mau mandi."
Inggrid lalu pergi ke kamar mandi dan nguci pintunya rapat-rapat.
Dalam sekejap Randika duduk sendirian di ruangan yang luas ini.
Randika lalu mperhatikan baju dan celananya. Dia baru saja kembali dari pantai dan banyak pasir nempel di pakaiannya. Perasaan gatal mulai landa tubuhnya. Dia lalu berpikir untuk mandi.
"Kalau begitu, aku juga mandi ah."
ninggalkan kamar Inggrid, Randika pergi nuju kamarnya.
............
Setelah rasa segar setelah mandi, bel pintu kamar Randika bunyi. Randika lalu mbukanya dan beberapa perempuan berdiri di depan pintunya.
Rupanya orang-orang ini adalah Inggrid, Viona dan beberapa perempuan lainnya dari departennya.
"Kita mau pergi nyari makan, apakah kamu mau ikut?" Kata Viona sambil tersenyum.
"Makan?" Randika tersenyum. "Tentu saja aku mau!"
Setelah berganti baju, Randika pergi dengan para perempuan ini.
Awalnya Randika ngikuti reka karena khawatir pada Inggrid. Dia takut status Inggrid sebagai bos akan mbuat para perempuan lainnya sungkan dan takut padanya.
Namun, kekhawatirannya ini ternyata berlebihan. reka nganggap Inggrid sebagai temannya saat di luar pekerjaan. skipun Inggrid jarang berbicara, terlihat bahwa reka semua berteman baik.
Randika berjalan di paling belakang sambil ndengar omongan reka. Mulai dari pembicaraan ngenai artis idola reka, makeup, kehidupan sehari-hari reka bahkan hewan peliharaan reka, akhirnya topik ngarah pada apa yang akan reka makan.
"Makanan di dekat pantai itu enak-enak. Kapan hari aku pernah makan seafood reka dan itu benar-benar luar biasa enak! Jadi lebih baik kita ke sana sambil nikmati bir." Saran salah satu orang.
"Aduh aku kurang suka seafood nih, malas kotor-kotornya aku. Bagaimana kalau Chinese food saja?" Kata salah satu lainnya. "Kita bisa makan tengah."
"Kalau begitu, Bu Inggrid mau makan apa?" Tanya salah satu dari reka pada Inggrid.
"Aku makan apa saja bisa kok." Kata Inggrid sambil tersenyum.
Semuanya mulai berdebat ingin makan apa. Semua yang reka sarankan terdengar enak.
"Kalau begitu, mungkin Randika ada saran apa?" Viona lempar tanggung jawab ini pada Randika.
Randika yang sedang lamun ini terkejut, dia lalu berkata dengan santai. "Bagaimana kalau kita ke food truck? Aku tadi lihat ada sekumpulan food truck parkir di dekat pantai."
Food truck?
Viona tersenyum dan salah satu temannya juga ndukung saran Randika. "Itu terdengar enak."
Semuanya ngangguk dan terlihat setuju. Inggrid lalu berkata sambil tersenyum. "Baiklah, kalau begitu kita akan makan di food truck yang ada di pinggir pantai."
"Wah Bu Inggrid saja sampai setuju, ayo tunggu apalagi! Aku sudah lapar nih."
Semuanya tertawa lepas dan tidak butuh waktu lama untuk reka sampai di tujuan.
"Di sana kosong!" Setelah ndapatkan 2 ja berjejer, reka lalu ngambil nu dan pesan satu per satu.
Randika lalu mperhatikan kumpulan food truck ini. Tempatnya tidak terlalu besar tetapi orang-orang nuhi tempat ini.
Bermodalkan pemandangan pantai dan konsep makanan yang berbeda, tempat ini berhasil narik minat para pengunjung.
Di ja, obrolan para perempuan ini semakin njadi-jadi. Bahkan Randika dipaksa ikut berdiskusi dengan reka.
Untungnya saja, makanan reka akhirnya datang dan semuanya langsung fokus dengan makanan reka.
"Wah ternyata enak sekali makanannya." Beberapa orang mulai berkontar. Randika di lain sisi hanya terdiam. Dia belum makan apa-apa dari siang tadi dan setelah berbicara terus-nerus dengan para perempuan ini, dia sangat lapar.
Setelah makan dan bercanda ria, akhirnya reka mutuskan untuk pulang. Inggrid berinisiatif minta tagihannya dan berniat untuk mbayarnya. Namun, dia segera ngerutkan dahinya. "Apa? Semuanya ini 5 juta?"
"Lima juta?" Semuanya terkejut. Lelucon macam apa ini? Cuma 7 orang yang makan dan habisnya 5 juta?
"Sini aku lihat."
Randika dengan cepat ngambil tagihan itu, dia lihat angka-angka ini tidak masuk akal. Sebagai contohnya dia lihat harga udang yang ncapai 200 ribu! Padahal reka hanya ndapatkan udang berukuran sedang sebanyak 5 biji.
Semua makanan harganya sama seperti udang itu, tidak masuk akal.
"Permisi, apakah saya bisa ngambil tagihannya." Orang yang mberikan tagihan pada Inggrid kembali ke janya dan ingin ngambil uangnya.
"Permisi, apakah ini tidak salah? Bagaimana mungkin totalnya sampai 5 juta?" Inggrid ngerutkan dahinya.
"Permisi boleh saya lihat dulu tagihannya." Pelayan itu lalu ngambil tagihan tersebut. "Tidak ada yang salah nurut saya, harga yang terlampir dengan total seharusnya tidak ada masalah."
"Aku bukan mpermasalahkan itu. Yang aku permasalahkan adalah harga di nu dan di tagihan benar-benar berbeda!"
"Oh maksud Anda adalah harga di nu." Pelayan itu nyeringai. "Maaf, mungkin Anda tidak lihatnya dengan baik."
Inggrid lalu ngambil nu yang ada di janya dan lihatnya kembali. Dia lalu nunjukan perbedaannya, tetapi si pelayan itu hanya berkata dengan santai. "Tolong dilihat bagian bawahnya."
"Harga makanan kami akan naik apabila berada di musim liburan dan kami bisa naikannya sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Apabila ada keluhan, maka pelanggan dianggap lalai tidak mperhatikan peringatan yang sudah kami cantumkan di bawah ini." Inggrid mbaca peringatan yang ukurannya sangat kecil ini. Tiba-tiba semua orang mulai maki-maki.
"Kalian ini perampok?" Salah satu dari reka mulai marah. "Kok tidak sekalian saja kau rampok tas kami?"
"Ibu, Anda terlalu berlebihan. Kami ini pedagang, kami ncari untung dengan lihat kondisi pasar. Kami sudah mberikan peringatan sebelumnya di nu kami. Jadi kalau Anda rasa tertipu, itu bukan tanggung jawab kami." Pelayan itu nyeringai pada tamu-tamunya itu.
Reviews
All reviews (0)