"Tidak butuh! Kau hanya perlu mberikanku uang dan aku akan pergi sendiri nanti." Ketika si korban ndengar penawaran Randika, dengan cepat dia nolak.
"Bagaimana mungkin aku mbiarkanmu?" Randika ngerutkan dahinya. "Aku adalah orang yang bertanggung jawab. Jika aku nabrak orang maka aku akan mbawanya ke rumah sakit. Jangan khawatir, aku yang akan mbayar biayanya."
Setelah itu Randika berusaha mbantu ngangkat si korban tersebut.
"Aduh, duh, duh, sakit! Jangan paksa aku berdiri, sakit tahu!" Si korban langsung rintih kesakitan. "Kau nabrakku dengan keras, kakiku sampai tidak bisa dibuat jalan. Sudah cepat beri aku uangnya dan aku akan pergi sendiri."
Sambil tersenyum dingin Randika ngatakan. "Jadi kau tidak mau ke rumah sakit? Kebetulan aku sempat belajar ilmu pengobatan jadi biarkan aku rawatmu."
Setelah itu Randika riksa denyut nadi si korban.
"Ah! Apa yang akan kau lakukan, jangan sentuh aku!" Teriak si korban.
"Santai saja. Orang sakit harus dirawat jadi jangan bergerak." Tangan Randika sudah dipenuhi oleh tenaga dalamnya. Tiba-tiba, si korban rasa tangan Randika ini benar-benar panas yang berusaha untuk manggang dirinya. Setiap detiknya dia rasa seluruh tubuhnya terasa gatal sekali!
Ekspresi si korban benar-benar buruk dan tangan Randika yang nyentuhnya semakin panas dan mberikan sensasi gatal terus nerus.
"Waduh, kau benar-benar sakit!" Randika pura-pura terlihat terkejut. Tetapi dalam hatinya, Randika hampir tidak bisa nahan tawanya itu.
Si korban sudah tidak tahan dengan rasa gatal ini, dia berusaha lepaskan diri dari Randika.
Randika sudah di ambang tertawa lepas, dia mutuskan untuk nggodanya lebih lanjut.
"Tulang rusukmu sepertinya patah, jantungmu berada dalam bahaya. Belum lagi ginjal dan ulu hatimu bermasalah." Kata Randika dengan wajah serius, dia rasa seakan-akan telah njadi dokter. Tetapi ketika orang-orang yang lihat ndengar Randika reka justru terlihat bingung. Apa orang ini kepalanya ikut terbentur? Bagaimana mungkin riksa denyut nadi bisa tahu penyakit sebanyak itu.
Tetapi pada saat itu, si korban tiba-tiba berteriak. "Ahhhh! Aku sudah tidak tahan!"
Dalam sekejap dia nggigit tangan Randika.
"Ah! mangnya kau anjing?" Randika kesakitan.
Namun, si korban ini sudah tampak nggaruk-garuk seluruh badannya dengan kedua tangannya. Semakin keras dia nggaruknya, semakin nyaman dirinya.
"Katanya tidak bisa jalan sekarang lari-lari kayak orang gila hahaha!" Semua orang tertawa ketika lihat si korban berlarian tidak jelas.
Randika terlihat bingung. "Lho? Kau ternyata bisa jalan! Bukankah ini bagus? Kalau begitu kau tidak perlu ke rumah sakit."
Si korban yang sedang nggaruk-garuk ini terkejut ndengarnya, dia lupa dengan pengaturan sandiwaranya. Dengan pura-pura pucat, orang ini kembali berkata pada Randika.
"Ah Aku rasa pusing." SI korban pura-pura terhuyung-huyung lalu getaran dan terjatuh di tanah lagi.
lihat adegan nyedihkan ini, para penonton tertawa keras. Pertama kalinya reka lihat ada orang yang bersandiwara seburuk ini.
lihat orang itu pura-pura mati lagi, Randika hanya berkata dengan santai. "Bro, aktingmu itu payah sekali. Sudahlah nyerah saja dan kita akhiri sandiwara nyedihkan ini."
Si korban masih pura-pura ringkuk kesakitan. Dia berpikir kenapa hari ini triknya tidak bekerja seperti biasanya, harusnya saat ini dia sudah nerima uang miliknya itu.
Tidak! Aku tidak akan nyerah, jika aku tidak nerima uangku maka aku akan terus pura-pura sakit!
lihat kekeras kepalaan orang ini, Randika hanya berjongkok dan nyentuh salah satu titik akupunturnya. Orang tersebut langsung lompat kaget.
Para penonton langsung tertawa ketika lihatnya, akting orang itu benar-benar payah.
"Cukup berpura-puranya, kami sama sekali tidak nabrakmu." Kata Randika sambil nghela napas.
"Kata siapa kau tidak nabrakku? Jelas-jelas kau nabrakku dan tubuh bagian dalamku terluka. Jika kau tidak mberiku uang sekarang maka aku tidak akan pernah pergi dari sini."
Jika tidak bisa las, maka ancam dia!
Randika hanya tersenyum. "Jelas-jelas kau bisa berlarian dengan mudah tadi, bagian mana yang sakit mangnya?"
"Hahaha." Para penonton tertawa sekali lagi.
Si korban ini pura-pura marah. "Aku kasih tahu sesuatu ya, kenalanku adalah orang terkuat di dunia bawah tanah dari pulau ini. Jika kau nyinggungku, jangan salahkan aku kalau dia nyuruh orang untuk mbunuhmu. Sudah cepat kasih uang atau aku akan manggilnya."
Randika hanya nyeringai. "Siapa kenalanmu itu? Aku sudah njadi gangster bertahun-tahun tapi belum pernah ndengar adanya orang kuat di pulau ini."
ndengar hal tersebut, si korban sedikit terkejut. Dia tidak nyangka bahwa orang ini adalah gangster juga.
Tapi, dia tidak boleh nyerah! Hari ini dia akan minum-minum sepuasnya dari hasil kerja kerasnya ini!
"Halim!" Kata si korban itu dengan muka bangga. Dia adalah penguasa di pulau ini. Bahkan ketika pejabat datang, dia saja harus nunduk hormat padanya. Jadi beri aku uang dan kau akan selamat."
Halim?
Randika ngerutkan dahinya, dia tidak pernah ndengar nama orang itu.
"Panggil dia, aku sama sekali tidak pernah ndengarnya." Kata Randika dengan santai.
Si korban itu tidak nyangka bahwa Randika akan responnya seperti itu. "Baiklah, karena kau tidak mau mberikan aku uang jangan nangis kalau dia nghajarmu sampai babak belur."
Randika nggelengkan kepalanya. "Apakah kau rela mati demi uang?"
Para penonton mulai tegang lihatnya. Randika nampak mulai lawan balik ketika dia diancam seperti itu.
"Jangan pikir kenalanmu itu bisa mbantumu, aku bisa mbunuhnya dengan mudah. Jadi lebih baik kau akhiri sandiwaramu itu dan pergi dari sini." Kata Randika sambil tersenyum.
lihat Randika yang hendak kembali ke mobilnya, si korban dengan cepat nerjang dan berusaha ncegatnya. Semua orang berteriak histeris, reka nganggap orang itu mau mukul Randika dari belakang.
Namun, Randika benar-benar cepat. Dalam sekejap dia berbalik badan dan nyentil dahi si korban dengan keras. Orang tersebut jatuh ke tanah dengan keras.
"Karena kau keras kepala, aku akan mbantumu untuk nyerah." Randika lalu nekan titik akupuntur pada orang itu. Dalam sekejap si korban rasa seluruh tubuhnya terasa aneh.
"Hahaha! Hahaha!" Tiba-tiba, si korban ini tidak bisa berhenti tertawa sambil nari-nari ninggalkan reka.
Semua orang terkejut, kenapa orang-orang itu tiba-tiba nari tidak jelas?
"Ran Apakah orang itu baik-baik saja?" Inggrid yang dari tadi lihat dari samping mulai cemas.
"Jangan khawatir, dia hanya akan seperti itu selama 10 jam." Randika tertawa. "Ayo kita kembali ke hotel."
Setelah nyelesaikan masalah ini, reka kembali nuju hotel reka.
Hotel Oceana adalah hotel terbaik dan terbagus di pulau kura-kura ini. Tiap-tiap orang miliki kamarnya sendiri dengan fasilitas terbaik hotel.
Namun, Randika terlihat tidak puas dengan pengaturan ini. Kenapa dia bisa pisah kamar dengan istrinya itu?
Reviews
All reviews (0)