Font Size
15px

Ah! Kok istrinya ini bisa tahu modus yang dilakukannya?

"Benar, eh maksudku bukan! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu? Aku hanya sedang njelaskan saja bagaimana ngoleskan tabir surya yang benar pada kedua perempuan ini. Tidak ada maksud lainnya! Bukankah kita perlu mbagi ilmu pada sesama?" Kata Randika sambil terbata-bata dan muka yang panik.

Inggrid ndengus dingin. Tanpa berkata apa-apa, dia pergi ninggalkan Randika begitu saja. Randika yang lihat hal itu njadi panik.

"Ah maaf, aku harus pergi. Lain kali kita bisa berbicara lebih leluasa." Setelah pamit pada 2 perempuan cantik itu, Randika ngejar Inggrid.

"Ah sayang sekali kamu Nadine, orang itu sudah punya pasangan. Kau benar-benar terlambat." Perempuan yang di sebelah kiri tertawa.

"Siapa mangnya mau sama orang itu? Bukannya kamu sendiri yang mukanya ngharapkan laki-laki itu?" Nadine tidak mau kalah.

Keduanya lalu tertawa lebar.

Randika berhasil ngejar Inggrid. "Sayang, jangan cemburu begitu dong. Cantiknya hilang lho nanti."

"HAH? Siapa yang cemburu?" Muka Inggrid benar-benar dingin. "Terserah kamu ingin berbicara dengan siapa, itu semua tidak ada hubungannya denganku!"

"Aduh sayang jangan begitu dong. Mukamu sekarang nakutkan lho. Jujur tadi aku hanya ngajari reka bagaimana caranya ngoleskan tabir surya, tidak lebih." Kata Randika sambil tersenyum.

"Oh ya? Cuma njelaskan saja?" Inggrid natap tajam Randika. "Bukankah kau ngoleskannya pada reka?"

"reka sudah makainya dari awal, ngapain coba aku ngoleskannya lagi?" Randika langsung nunjukan muka seriusnya. Untung Inggrid lihat dirinya yang sudah selesai ngoleskannya, kalau tidak bisa gawat!

"Kalau begitu, apakah kamu mau aku makaikannya padamu? Aku jamin kau akan nikmatinya." Randika luk Inggrid dari belakang.

"Huh siapa mangnya yang mau makainya?" Inggrid dengan cepat lepaskan diri. "Aku tidak butuh barang begituan."

"Sayang, jangan berbicara seperti itu." Randika nggenggam erat tangan istrinya itu. "Kalau kulitmu yang cantik ini njadi hitam, itu tidak baik untuk tubuhmu. Coba kau perhatikan matahari di atas, benar-benar nyengat! Kalau kau tidak makainya, bisa-bisa setelah kamu berjemur anak buahmu tidak akan ngenalimu!"

"Ayo sini, akan kubantu kamu makainya." Randika nyeret Inggrid ke kursi pantai yang kosong.

Inggrid sama sekali tidak bisa lawan, jadi dia hanya terdiam sambil digandeng Randika nuju kursi pantai.

"Baiklah, sekarang kamu berbaring dengan tenang dan biarkan suamimu ini manjakanmu dengan tekniknya." Randika nggosok-gosokan tangannya.

Inggrid natapnya dengan dingin. "mangnya kamu bawa tabir suryanya?"

Ah! Randika teringat bahwa dia sama sekali tidak mbawa barang semacam itu. Kedua perempuan tadi yang minjamkannya padanya.

"Jangan khawatir, aku akan ncarinya." Randika langsung berlari dengan cepat. Dia tidak boleh lewatkan kesempatan emas ini.

Namun, ketika Randika kembali ke tempat Inggrid, istrinya itu sudah tidak ada di sana.

"Padahal aku ingin bersraan denganmu." Gumam Randika dengan muka muram.

..........

Orang-orang bermain hingga sore di pantai ini. Tentu saja Randika juga nikmati mon-mon indah ini dengan berbicara dengan banyak perempuan cantik. Pada saat itu juga, dia sempat ngoleskan tabir surya pada tubuh sexy Viona.

Inggrid sudah malas berhadapan dengan Randika. Dia ncari tempat yang sepi dan berjemur di sana sendirian. Kelvin dan teman-temannya nikmati liburan ini dengan maksimal.

Waktu berjalan dengan cepat, sekarang waktu sudah nunjukan pukul 4 sore dan semua orang sudah bersiap-siap kembali ke hotel. Inggrid sudah nyampaikan pada reka semua bahwa reka bisa pulang sendiri-sendiri. Karena ini bukan tur kelompok, reka tidak perlu bersama-sama setiap waktu.

"Vi, ayo kita pulang." Randika ngajak Viona kembali ke hotel. Di lain sisi, Inggrid tiba-tiba ndekati Randika.

Cepat masuk ke mobil, aku tunggu di sana." Kata Inggrid dengan wajah dingin.

Hei, hei, ternyata kamu masih cinta denganku. Dasar malu-malu kucing!

Sambil tersenyum, Randika segera nuju mobil Inggrid bersama dengan Viona. reka bertiga akhirnya berangkat nuju hotel reka.

Hotel Oceana lumayan jauh dari tempat reka sekarang, butuh 10 dengan mobil.

Karena ada sekretaris Inggrid bersama reka, Randika dan Viona duduk di belakang bersama. Randika dan Viona sama-sama nikmati pemandangan tetapi mata Randika justru tertuju pada baju Viona yang basah dan nempel di dadanya itu.

Viona dan Inggrid mang bukan sembarangan, reka berdua mang perempuan kelas atas. Baik dari wajah maupun tubuh, reka mampu mbuat pria manapun nelan air ludahnya. Untuk sifatnya, sifat malu-malu tapi mau milik Viona itu mbuatnya imut. Sedangkan sifat dewasa dan keras milik Inggrid terdapat hati lembut di baliknya. reka berdua mang unik dengan cara reka sendiri.

Ketika Randika nikmati pemandangan 'indah' itu, tiba-tiba mobilnya ngerem ndadak. Randika dan Viona yang tidak siap, hampir saja nabrak kursi depannya. Untung saja, Randika dengan cepat lindungi kepala Viona.

"Ada apa?" Randika bertanya pada Inggrid dengan nada cemas.

"Aku... nabrak orang." Wajah Inggrid benar-benar njadi buruk. skipun sambil mbahas pekerjaan, matanya tidak pernah lepas dari jalan. Namun, tiba-tiba ada orang berlari nuju mobilnya dan terjatuh.

nabrak?

Randika ngerutkan dahinya. Inggrid nyetir mobil ini pelan-pelan dan tidak ada suara tabrakan yang terdengar. Jelas bahwa ada hal yang aneh sedang terjadi.

Mobil-mobil belakang reka sudah ngklakson tanpa henti dan orang yang reka tabrak masih tergeletak di depan mobil reka.

"Tunggulah di sini, aku akan turun sebentar." Inggrid tidak punya pilihan selain turun dan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Randika minta Viona dan sekretarisnya Inggrid untuk duduk dan jangan keluar dari mobil. Setelah itu Randika nyusul Inggrid.

Ketika dirinya turun, dia nemukan sudah banyak orang ngerumuni mobil reka. Tepat di depan mobil reka si korban masih tergeletak kesakitan.

Namun, ketika Randika mperhatikan mobil bagian depannya dia tertawa.

Karena orang ini tidak pandai nghitung jarak, dia maju perlahan ndekati mobil reka sambil pura-pura kesakitan.

Benar-benar sandiwara yang murahan.

lihat si pengemudi turun dari mobilnya, si korban makin keras nyuarakan kesakitannya.

"Ah! Sakit sekali! Tolong, aku akan mati!"

Suara yang keras dan bertenaga itu mbuat orang-orang kasihan padanya.

reka tidak tahu siapa yang salah ataupun apa yang telah terjadi, tetapi bagi reka kejadian seperti ini cukup narik ditonton khususnya nentukan siapa yang salah.

"Kau yang nabrakku ya! Kalau punya mata itu dipakai dong, jangan dibuat pajangan. Sekarang aku minta ganti rugi sebagai tanda permintaan maafmu." Si korban raung minta ganti rugi. Inggrid yang panik tidak bisa berpikir apa-apa.

"Serahkan padaku." Randika narik tangan Inggrid dan ndatangi korban.

Mau rasku hah? Mari kita lihat siapa yang lebih pintar bersandiwara.

"Aduh maaf ya, apa perlu kami mbawamu ke rumah sakit?" Kata Randika sambil tersenyum.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 119: Mau Memerasku? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Am the Fated Villain cover
Similar genre

I Am the Fated Villain

Fated Villain ·Harem

ImmediatelyafterGuChanggerealizedhehadtransgressedintoafantasyworld,theworld’sprotagonist,andfortune’schosen,vowedtotakerevengeonhim.Enviedbyall,he...

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.