Posisi Randika dan Viona ini sangat canggung. skipun ini adalah perusahaan besar, satu bilik toilet didesain untuk nampung satu orang jadi keadaan reka berdua bisa dikatakan sangat sempit.
Pada saat ini, keduanya benar-benar berdekatan dan bisa ndengar suara napas masing-masing.
Viona duduk nghadap pintu di pangkuan Randika sedangkan Randika rangkulnya di pinggangnya. Bau harum dan kelembutan kulit Viona benar-benar bagaikan ekstasi bagi Randika. Apalagi salah satu tangannya itu sedang beristirahat di paha putih Viona.
Benar-benar perasaan yang nyaman baginya.
ndengar napas Randika, Viona sedikit tersipu malu. Namun, dia rasakan bahwa napas Randika semakin keras dan tangan Randika perlahan mulai bergerak, benar-benar tidak bisa diam.
"Ran" Viona berkata dengan suara pelan.
Randika tersenyum dan berbisik pada telinganya. "Tenanglah, reka tidak akan nemukan kita di sini."
Pada saat ini, terdengar suara besi dari sabuk yang natap lantai. Orang di samping bilik ternyata buang air besar.
Setelah itu, tidak butuh waktu lama untuk ncium aroma tidak sedap dan suara bom terjatuh.
ndengar suara air yang keras itu, Randika tidak tahu harus tertawa atau nangis. Wajah Viona semakin rah dan perasaan aneh mulai muncul di dalah hatinya.
Tangan Randika tidak berhenti sama sekali dan raba-raba tubuh Viona. Viona hanya bisa nggigit jarinya, takut suara desahannya itu terdengar.
Dua orang yang di luar tidak selesai-selesai dan masih saja berbincang-bincang. reka terus nceritakan keseharian reka yang penuh warna.
"Hei, sabtu malam nanti kau mau ke bar untuk bersenang-senang?"
"Hahaha, kau tahu kalau aku tidak bisa bukan? Macan di rumahku bisa ngamuk dan aku bisa-bisa tidur di teras." Temannya itu langsung tertawa lebar.
Bersamaan dengan tawa itu, suara air diguyur terdengar. Setelah itu reka berjalan keluar sambil terus tertawa.
Akhirnya aku bebas!
Viona nghela napas lega. Ketika dia hendak keluar, terdengar suara orang berjalan masuk dan mbuka pintu kamar mandi ini.
"Kau tidak perlu khawatir." Randika berbisik di telinga Viona sambil nyuruhnya duduk lagi.
"Ran, aku sedang buru-buru." Wajah Viona sudah benar-benar rah, perasaannya benar-benar sudah bercampur aduk antara malu dan kebelet.
"Tunggulah sebentar, reka seharusnya akan pergi sebentar lagi." Randika berusaha nenangkan.
Namun, reka terlupa dengan bilik samping reka. Sekarang setelah dia selesai, dia ngguyur dan keluar. Setelah itu dia nyapa temannya yang sedang pipis di luar. Lagi-lagi reka harus nunggu kedua orang itu.
Byur!
Setelah suara urinal itu terguyur terdengar, kedua orang itu ninggalkan kamar mandi sambil terus bercanda.
"Nah, cepat keluar sekarang!" Randika berbisik pada Viona, seharusnya sekarang kamar mandi cowok ini sudah kosong.
Viona dengan cepat berdiri dan hendak mbuka pintu bilik toiletnya. Tetapi, suara pintu kamar mandi itu terbuka lagi dan beberapa orang terlihat masuki kamar mandi ini.
Viona sudah benar-benar ingin nangis. ngapa pagi hari banyak orang yang ke kamar mandi? Biasanya yang pergi berbondong-bondong adalah perempuan, dia sama sekali tidak tahu ternyata laki-laki juga sama dengan perempuan.
Randika tidak berdaya, dia mangku Viona lagi.
"Ran, aku sudah tidak tahan." Viona berbisik padanya sambil rasa malu.
"Kalau begitu, lakukanlah di sini." Kata Randika dengan nada serius.
"Ah?" Viona tersipu malu. lakukannya di sini? Di hadapan orang yang dia suka?
Gila! Tidak akan!
"Jangan khawatir, aku tidak akan ngintip." Ekspresi Randika terlihat tulus, skipun dari luar saja dia terlihat tulus.
"Perlu aku nutup mata atau aku nghadap pintu saja?" Kata Randika.
Viona masih rasa ragu, kejadian ini benar-benar malukan kalau benar-benar terjadi. Tetapi, dia tidak bisa nahan pipisnya lebih lama lagi.
Beberapa orang masuki kamar mandi ini lagi, suara dan tawa reka seakan tidak akan pernah berhenti. Bisa dikatakan bahwa dirinya terjebak di dalam bilik selama beberapa nit lagi.
Viona sudah tidak tahan, seharusnya dia tidak minum sebanyak itu sebelum ke sini.
"Tutup matamu dan berdirilah nghadap pintu." Kata Viona.
Ini benar-benar malukan.
Randika dengan cepat berdiri dan nutup matanya. "Jangan khawatir Vi, jika kamu belum selesai aku tidak akan bergerak sama sekali."
lihat Randika matuhi kata-katanya dia sendiri, Viona dengan cepat mbuka risleting dan ngangkat dudukan toiletnya.
Sudah terlambat untuk nyesal, Viona nutup matanya dan duduk di toilet.
Randika yang nutup matanya justru mbuat indera pendengarannya lebih tajam. Dia sebentar lagi akan ndengarkan air mancur itu keluar dan dia sudah bersiap-siap mbayangkan posisi dan wajah Viona seperti apa sekarang.
Namun, kenapa dia rasa bersalah?
Tetapi, Randika tidak ndengar suara air keluar sama sekali. Dengan nada bingung, Randika bertanya. "Vi, kau baik-baik saja?"
"Aku aku tidak bisa lakukannya." Suara Viona seperti orang yang mau nangis.
"Sudah tenang saja, jangan terlalu tegang seperti itu." Randika masih tidak noleh. "Sudah lepaskan saja, aku tidak lihat apa-apa kok."
skipun suara di luar semakin sedikit, orang-orang baru akan kembali ramaikan kamar mandi cowok ini.
Viona yang berkonsentrasi itu semakin gugup ndengar orang-orang itu. Semakin dia mikirkannya, semakin dia tidak bisa lakukannya. Namun, tubuhnya tidak bisa nahan perasaan ingin buang air kecilnya ini.
Randika tidak mbuatnya buru-buru, dia hanya berdiri dengan tenang. Masalah seperti ini perlu sebuah ketenangan.
ndengar tidak ada orang lagi di luar, Viona bernapas lega. Suara air mancur itu akhirnya terdengar.
ndengar suara air mancur itu, otak Randika langsung mbayangkan muka malu Viona yang terlihat imut itu.
Setelah beberapa detik, suara air mancur itu berhenti. Viona sudah mbuka matanya dan ngintip sosok Randika yang berdiri di depannya. Sepertinya dia tidak noleh sama sekali. Entah kenapa dia nyukai sifat jenteln Randika ini.
"Ran aku sudah selesai." Viona sudah kembali makai celananya.
Randika noleh dan lihat wajah rah Viona itu. Dia lalu ngingat gambaran Viona yang pipis tadi dan tidak bisa nahan dirinya. Dia segera ngangkat dagu Viona dan nciumnya.
Hm!!
Viona terkejut tetapi tidak lawan. Perasaan nyaman ini dirindukan olehnya.
Tetapi, suara orang cuci tangan tiba-tiba terdengar dan reka berdua langsung tersadar.
Viona sudah tidak bisa natap wajah Randika saking malunya. Setelah ndengar tidak ada orang, Randika keluar dari bilik toilet dan ngatakan dengan pelan. "Aku akan keluar dulu, setelah aku mastikan tidak ada orang barulah keluar."
Viona ngangguk.
Tidak lama kemudian, Randika mperhatikan sekelilingnya dan lihat sudah tidak ada orang di sana. Randika lalu manggil Viona agar segera keluar.
lihat Viona yang lari terbirit-birit njauhi dirinya mbuat Randika tidak bisa berhenti tersenyum. Masih pagi tetapi dia sudah ngalami kejadian nyenangkan, apakah hari ini adalah hari keberuntungannya?
Reviews
All reviews (0)