Font Size
15px

Christina sudah di ambang batas kesabarannya nghadapi Randika. Bahkan seorang terpelajar seperti dirinya miliki kesabaran. Dan dia rasa bahwa pria ini justru lebih tidak tahu diri daripada Jansen.

Setelah keluar dari rumah Christina, Randika nghampiri Viona terlebih dahulu untuk mastikan bahwa dia tidak apa-apa. Setelahnya dia kembali ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, dia lihat Ibu Ipah sedang nonton TV di ruang tamu.

"Wah nak Randika sudah pulang?" Kata Ibu Ipah sambil tersenyum.

"Iya Bu, tadi habis main dengan teman dulu." Kata Randika sambil tertawa.

Lalu Randika naik ke lantai 2 dan bertemu dengan Inggrid yang baru saja selesai mandi.

"Wah istriku ternyata juga sudah pulang. Tumben sekali kamu pulang cepat?" Randika nyunggingkan senyuman lembut.

Inggrid masih ngeringkan rambutnya. "Iya tapi masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan. Dan jangan coba-coba kamu langkah satu langkah pun. Ibu Ipah ada di bawah."

"Hahaha." Randika narik kembali tangannya yang nakal itu. Bagaimana dirinya tidak tergoda? Bau yang harum sekaligus baju santainya itu seakan ngundangnya untuk lakukannya.

"Tapi harus kuakui, kecantikanmu tiap hari selalu bertambah. Sungguh beruntung aku milikimu." Tiba-tiba Randika muji Inggrid.

Inggrid yang ndengarnya rasa hatinya nghangat, tetapi semua itu njadi rusak ketika Randika ngatakan. "Kemarilah dan peluk aku sayang."

Apakah bajingan ini tidak bisa sesekali diam?

"Pergi sana." Inggrid nampar tangan Randika yang hendak luknya, Inggrid lalu berjalan ke kamarnya.

Randika tentu saja ngikutinya tetapi Inggrid dengan serius ngatakan. "Aku masih ada pekerjaan ndesak, jangan ganggu aku."

nggaruk-garuk kepalanya, Randika hanya bisa kembali ke kamarnya dan tidur.

........

Keesokan harinya Randika masih bermalas-malasan di kasur sambil bermain handphonenya. Tiba-tiba dia ndapatkan telepon dari nomor tidak dikenal.

"Selamat pagi, saya dari Bank rah ingin nawarkan pinjaman kredit pada Anda. Bisa saya minta waktunya sebentar?"

"Halo? Halooo?"

......

Karena tidak njawab sama sekali akhirnya pihak penelepon nyerah dan matikannya.

Randika kembali lihat-lihat berita di handphonenya.

Namun, tidak sampai 2 nit handphonenya kembali bergetar.

Randika sudah tidak mau diganggu lagi dan ngangkatnya sambil berkata dengan nada kasar. "Tolong jangan ganggu aku dulu, aku sedang sibuk!"

Saat Randika mau nutupnya, suara familiar terdengar olehnya. "Kak Randika, boneka ginseng ini datang lagi di tempatku!"

Apa? Boneka ginseng?

Randika, yang masih tiduran, langsung berdiri tegak. Matanya yang sayu itu njadi terbuka lebar dan rasa malasnya dalam sekejap nghilang.

"Tunggu aku, aku akan segera ke sana."

Randika dengan cepat nutup teleponnya dan langsung ncuci mukanya sekaligus berganti baju. Bagaikan angin, dia berlari nuju pintu keluar.

"Eh nak, sarapannya lho." Ibu Ipah yang sedang nyiapkan sarapan terkejut ketika Randika pergi dengan buru-buru. Lalu Randika nghampiri ja makan dan hanya ngambil 2 pisang bersamanya.

"Maaf bu, aku ada perlu." Randika langsung lari ke rumah sewaan Indra.

"Kenapa akhir-akhir ini aku rasa kesepian." Kata Ibu Ipah sambil berkaca-kaca.

Dalam sekejap, Randika sudah berada di rumah Indra sambil ngunyah pisangnya. Dan tentu saja, boneka ginseng itu sedang bermain bersama Indra.

lihat sosok kakak seperguruannya, Indra tersenyum. "Kak! Cepat sekali kau datang!"

Ketika boneka ginseng itu lihat Randika, ia tertawa dan lambaikan tangannya seakan-akan mberi salam.

Kau tidak akan bisa kabur hari ini!

Randika nyalurkan tenaga dalamnya terlebih dahulu dan karena ini masih pagi, tenaganya masih berlimpah.

Tetapi, bahkan Randika belum bergerak sama sekali, boneka ginseng itu berdiri dan lompat ke lantai lalu berlari ke arah jendela dan nghilang.

Randika benar-benar longo beberapa nit. Kali ini boneka ginseng itu sama sekali tidak mberinya kesempatan untuk dirinya berbuat apa-apa. Benar-benar kurang beruntung!

"Yah dia hilang lagi kak." Indra terlihat sedih.

"Aku tahu." Randika justru lebih sedih lagi, dengan lunglai dia hendak pergi dari sini.

"Kak, mau ke mana kamu?" Tanya Indra.

"Tidur lagi."

Pada saat yang sama, Randika lempar sebuah pisang pada Indra.

"Wah kakak baik sekali mbawakanku makan." Kata Indra sambil tersenyum.

Randika benar-benar sedang bersedih. Dia sudah repot-repot datang sekuat tenaga untuk nangkap boneka ginseng itu, eh boneka itu malah sama sekali tidak mberinya kesempatan.

Bagaimana caranya nangkapnya!

Randika benar-benar marah pada dirinya sendiri. Jika saja dia tahu trik untuk mbuat boneka itu lengah pada dirinya. Dia sama sekali tidak punya cara untuk nangkapnya.

lihat jam pada handphonenya, sudah terlambat baginya untuk tidur lagi. Dia lalu ncari makan pagi di pinggir jalan dan makan di tempat. Setelahnya dia ncari taksi dan langsung berangkat nuju kantornya.

Seperti biasa, Randika segera ke lantai 9 dan nuju ruangannya. Tetapi, panggilan alam manggilnya.

Jadi Randika mampir dulu di toilet.

Lalu dengan kecepatan dewanya, Randika mbuka celananya dan ngeluarkan isi perutnya.

Ketika sudah selesai, dia segera keluar tetapi pintunya itu natap wajahnya.

Hendak makinya, Randika terkejut ketika lihat siapa yang ndorong keras pintunya itu.

"Viona?"

Terlebih lagi, Viona tidak makai pakaian kerjanya sekarang lainkan hot pants yang dipadu dengan tank top hitam. Kakinya yang putih dan belahan bajunya itu mbuat dia terlihat sexy sekali. Dari tipisnya bajunya itu, Randika jelas lihat bahwa hari ini Viona makai dalaman berwarna biru.

Pada saat ini Viona terlihat gang perutnya, sepertinya dia sudah benar-benar kebelet.

"Randika?" Viona juga terkejut lihat Randika. Ngapain dia ada di toilet perempuan?

"Hei kenapa kau bisa ada di toilet perempuan?" Viona hampir lupa bahwa dia kebelet pipis.

Randika nampar dahinya, bisa-bisanya Viona lakukan kesalahan seperti ini.

"Vi, ini toilet laki-laki. Kamu salah masuk."

"Ah?" Viona tersipu malu. "Maaf aku buru-buru tadi, aku tidak lihat dengan jelas.

Viona langsung bergegas keluar tetapi, terdengar suara tawa beberapa orang dari luar. Sepertinya sekumpulan orang hendak makai toilet ini.

Gawat!

Viona tidak bisa lari, jika dia keluar sekarang jelas reka berpapasan. lihat adanya Randika di toilet ini, bisa-bisa gosip tidak benar akan nyebar dengan cepat.

Apa yang harus dia lakukan?

Viona benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat ini, Randika sudah luk Viona, mbuka pintu toiletnya dan masuk bersama.

Setelah reka masuk dan ngunci pintunya, beberapa orang masuk sambil bercanda ria dan pipis di urinal. Tetapi, ada seseorang yang masuk ke toilet di samping Randika.

"Hei, aku dengar sahammu jatuh ya kemarin?" Salah satu dari reka bertanya.

"Aduh jangan ingatkan aku lagi. Aku benar-benar ingin bunuh diri kemarin itu." Suara orang paruh baya terdengar sedih.

"Hahaha, anggap saja itu pajak dari kapan hari. Kamu kan sudah dapat banyak yang waktu itu. Sabar saja, beberapa hari lagi harusnya saham mbaik kok."

"Aduh aku sudah tidak punya uang, aku rasanya baru investasi lagi tahun depan. Hei aku dengar ponakanmu masuk ke universitas ternama di kota ini kan?"

"Hahaha tahu saja, dia mang pintar." Suara temannya ini terdengar bangga.

Di dalam bilik, Randika sedang mangku Viona. reka berdua ndengarkan pembicaraan bapak-bapak ini dengan tenang.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 115: Salah Masuk on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.