Font Size
15px

Ternyata orang yang masuk tanpa ijin ini adalah mantan pacar Christina yaitu Jansen. Randika sedikit bingung, kenapa bisa dia punya kunci rumah ini kalau sudah njadi mantan?

"Christ, kau itu cewekku! Mana mungkin aku tidak ada hubungannya denganmu?" Jansen masih dalam keadaan marah.

"Siapa yang cewekmu? Kita ini sudah tidak ada apa-apa! Sudah cepat pergi sana, aku sudah muak lihat mukamu." Christina mulai nggila, pertama dia dihadapi Randika dan sekarang mantannya malah masuk tanpa ijin.

Ketika Jansen mau mbalas perkataan Christina, dia rasa bahwa pundaknya ditahan. Saat dia noleh ternyata itu adalah Randika.

"Jangan sentuh aku, orang hina sepertimu mang pantas mbusuk di penjara. Kau bisa-bisanya mperdayai cewekku, kau pasti maksanya berhubungan badan dengamu kan!" Kata Jansen dengan marah-marah.

"Sudah cukup!" Christina yang sudah makai bajunya dengan benar ini sudah ingin nampar mulut Jansen.

"Kau juga sama saja, sejak kapan kamu punya kunci rumahku? Aku tidak pernah mberikannya padamu, aku bisa laporkanmu ke polisi juga."

Muka Jansen terlihat sedikit tegang, dia lalu berkata dengan santai. "Tentu saja aku punya kunci, aku adalah pacarmu jadi wajar saja bukan?"

Christina sudah kehabisan kata-kata. Kenapa bisa dia dulu mau sama pria tidak tahu diri seperti ini?

Sudah nduplikat kunci rumahnya tanpa ijin, sekarang dia berceramah tentang apa yang tidak boleh dia lakukan di rumahnya.

Randika juga ngerti bahwa pria ini nduplikat kunci sembarangan dan ini mbuat kesal Christina.

Pria ini benar-benar ngekang Christina.

"Dan kau, kau jangan lari. Aku akan laporkanmu pada teman polisiku." Jansen nahan tangan Randika.

Namun, Randika bertanya sambil tersenyum. "mangnya kau tahu apa yang kami lakukan barusan?"

ndengar pertanyaan ini, Jansen sedikit njadi marah. "mangnya apa yang kalian lakukan?"

"Tentu saja.." Randika sengaja nghentikan kata-katanya dan mbuat jengkel Jansen. "Tentu saja kami lakukan hu-bu-ngan ba-dan." Kata Randika dengan nada yang njengkelkan.

Tentu saja, ekspresi Jansen benar-benar njadi marah. skipun reka telah putus, Jansen masih ncintai Christina. skipun reka tidak bertemu sama sekali sejak putus, dia diam-diam ngamati Christina dari jauh. Dan setelah ngetahui Christina masih belum mpunyai pacar baru, Jansen ngira bahwa Christina masih ncintai dirinya.

Jadi, demi mperbaiki hubungan reka, Jansen nduplikat kunci rumah Christina diam-diam. Tanpa diduganya, dia rgoki Christina yang tidak makai baju sedang bersama seorang pria.

Wajahnya benar-benar njadi rah setiap detiknya. Namun, Randika nyiram api ini dengan minyak. "Tadi, Tina benar-benar liar. Kelembutan dadanya di mukaku benar-benar luar biasa dan bibirnya tidak pernah lepas dariku."

Tina?

Christina yang ndengarnya juga mulai marah.

Namun, wajah Jansen justru lebih muram lagi setelah ndengarnya. Randika justru nyiram minyaknya lagi. "Tidak sampai di situ, Tina benar-benar dikuasai nafsu dan lepas semua bajunya sendiri. Oh ya, apa kau sudah tahu celana dalam kesukaannya apa? Dia suka celana dalam putih, benar-benar bagaikan malaikat."

Jansen sudah tidak bisa nahan diri lagi.

Christina justru tersipu malu ketika ndengarnya. Bajingan itu benar-benar tidak tahu diri!

Sedangkan Randika sepertinya masih nghayati peran pendongeng. "Terus di tengah-tengah ciuman panas kami, perlahan aku mbuka pengait behanya itu."

"Randika!" Christina dengan cepat motong. Entah ini karena dirinya marah atau malu, yang penting dia tidak bisa ndengar ini lebih jauh. Jansen yang ndengar semua dongeng panas ini sudah hampir gila. Christina yang motong cerita pria tidak dikenal ini malah makin mperjelas situasi.

"Aku tidak nyangka bahwa kamu sesum itu. Bukankah dulu kau tidak ingin lakukannya sebelum nikah? Sekarang coba lihat dirimu itu? Bisa-bisanya seorang guru sepertimu berhubungan badan di siang hari! Dada Jansen sudah terasa sakit. Dia lalu nunjuk Randika. "Ambil perempuan murahan itu, aku tidak mbutuhkan barang bekas."

Setelah lampiaskan kekesalannya, Jansen sudah berniat untuk pergi dari tempat terkutuk ini. Namun, Randika dengan santai ngatakan. "Apakah aku nyuruhmu untuk pergi?"

"Maksudmu?" Jansen ndengus dingin.

"Kau datang ke sini hanya untuk nceramahiku lalu ingin pergi begitu saja?" Wajah Randika njadi dingin. "Kau itu makhluk yang lebih hina dariku. Kau tanpa ijin masuk ke rumah orang dan sudah mata-matai orang. Aku juga punya teman di kepolisian yang akan senang berbincang-bincang denganmu."

"Kau pikir aku takut?" Setelah berkata seperti itu, Jansen rasa tubuhnya layang. Ternyata Randika sudah ngangkat dirinya.

Setelah mbantingnya ke tembok, Randika berkata dengan nada serius. "Kau adalah orang yang paling tidak tahu diri yang pernah kutemui. Kau benar-benar telah langgar privasi Christina, lelaki macam apa kau?"

Christina hanya lihat ini sambil ngerutkan dahi. Bukannya Randika yang tidak tahu diri dengan nyentuh dirinya? Tetapi lihat Randika mbela dirinya, dia sedikit bernapas lega.

"Setidaknya aku lebih baik dari pencuri macam kamu! Sudah ambil saja pelacur itu, aku tidak butuh barang bekas semacam dirinya!"

Tiba-tiba, sebuah pukulan layang ke arah mata Jansen. Sekarang, mata kiri Jansen benar-benar hitam dan tidak bisa dibuka.

"Kau bisa nghinaku tapi jangan sekali-kali ngata-ngatai Christina!" Randika lalu berbisik padanya. "Sepertinya kau belum paham apa maksudku, jadi biarkan aku nemanimu hari ini."

"Kau mau aku bilang apa? Jelas-jelas dia selingkuh dari aku!" Setelah itu, mata kanan Jansen terkena pukulan. Sekarang kedua matanya njadi hitam.

Serangan kedua ini lebih pelan jadi Jansen masih bisa mbuka mata kanannya.

"Sepertinya kamu masih belum paham terhadap situasimu. Kau dan Christina itu sudah MANTAN. Kalian sudah tidak punya hubungan apa pun." Kata Randika.

"Bah!" Jansen natap Christina dengan jijik. "Perempuan itu njanjikan segalanya untukku, dan sekarang pelacur itu sudah lupakan janjinya?"

Tanpa aba-aba, Randika mukul perut Jansen dengan keras. Jansen hanya bisa rintih kesakitan.

"Ah! Kenapa kau nyiksaku seperti ini? Lepaskan aku!" Cara bicara Jansen masih tidak berubah.

"Kenapa aku harus nurutimu?" Randika lalu natap tajam Jansen. "Apa kau pikir aku bodoh?"

"Kau harus manggil perempuan dengan namanya, bukan dengan sebutan kasar seperti tadi." Randika lalu namparnya. "Dan dia itu sudah mantanmu bukan pacarmu."

"Pelacur tetap pelacur!" Jansen tidak peduli, namun Randika namparnya lagi.

"Coba ulangi lagi?" Kata Randika.

"Murahan!" Jansen nggertakan giginya. Randika sudah tidak tahan lagi. Tangan kanannya lintir pinggang Jansen dengan keras.

"Ah!" Jansen sudah rintih bagai babi berteriak. Namun, Randika nutup mulutnya mbuat Jansen tidak bisa lampiaskan rasa sakitnya itu.

"Baiklah, kita ulangi lagi." Kata Randika sambil tersenyum.

"Christina Namanya adalah Christina!" Jansen sudah ketakutan, dia nyadari bahwa pria di depannya ini benar-benar kejam. Jika dia tidak nurutinya mungkin saja dia akan dibunuhnya.

"Nah begitu dong." Randika ngangguk puas. "Nah sekarang kau perlu tahu kesalahanmu apa saja sampai-sampai repotkan Christina seperti ini. Sekarang aku akan bertanya dan kau akan njawab."

Jansen hanya rinding ketakutan ketika lihat senyuman Randika tersebut.

"nduplikat kunci rumah ini rupakan kejahatan, ngerti?"

Jansen ngangguk.

"Karena kalian sudah putus, apakah kau miliki hak untuk ngatur apa yang dia lakukan pada waktu luangnya?"

Jansen ngangguk. Tetapi setelah lihat wajah Randika yang njadi marah itu dia segera nggelengkan kepalanya.

Dia tidak nyangka akan ada permainan kata di tengah-tengah interogasi yang nakutkan ini.

"Karena kau sudah ngerti, apakah berarti selama ini yang kau lakukan itu salah?" Randika sudah seperti guru anak TK yang nghukum muridnya.

Jansen ngangguk.

"Karena kau salah, apa yang harusnya kamu lakukan?" Randika lalu letakan Jansen dan mbantunya rapikan bajunya.

"minta maaf." Kata Jansen sambil nundukan kepalanya.

"Bukan ke aku." Lalu Randika nunjuk ke arah Christina.

Jansen lalu noleh dan ngatakan. "Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu diri selama ini. Aku tidak akan pernah nemuimu lagi."

Jansen sudah ingin muntah darah setelah ngatakannya. Lalu Christina ngerutkan dahinya. "Kalau begitu pergilah dari rumah ini."

Ketika Jansen hendak pergi, Randika ncegahnya. "Mana kuncinya."

Jansen lalu ngambil kuncinya dari saku dan berjalan keluar dari rumah dengan wajah suram.

Ketika Jansen sudah benar-benar pergi, Randika berkata sambil tersenyum. "Tina, kenapa kau tidak pernah mberitahuku bahwa kamu pernah punya pacar?"

"Hah? Kenapa kau sok akrab begitu?" Christina ngerutkan dahinya. "Sana kamu juga pergi."

"Kenapa aku harus pergi?" Randika terlihat bingung. "Bukankah barusan aku mbantumu ngusir mantanmu yang agresif itu? Harusnya aku ndapatkan hadiahku dari kamu."

"Apakah kau ingin aku lepas bajuku lagi?"

"Tentu saja!" Randika dengan cepat ngangguk tetapi sebuah bantal sudah layang ke wajahnya.

"Mati sana dasar pria sum!"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 114: Mantan yang Kurang Ajar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Am the Fated Villain cover
Similar genre

I Am the Fated Villain

Fated Villain ·Harem

ImmediatelyafterGuChanggerealizedhehadtransgressedintoafantasyworld,theworld’sprotagonist,andfortune’schosen,vowedtotakerevengeonhim.Enviedbyall,he...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.