Font Size
15px

"Tidakkk!"

Christina berteriak keras sampai-sampai telinga Randika terasa ingin pecah.

Christina bertindak dengan cepat. Dia ngambil selimut yang ada di kasur untuk nutupi tubuh bagian atasnya yang telanjang itu.

"Aku tidak nyangka kamu adalah pria seperti itu, kau bahkan hendak mperkosaku!" Christina sudah di ambang nangis, pengalaman pertamanya hampir saja dipaksa ambil.

"Dengarkan aku dulu sebelum kau ngambil kesimpulan oke?" Randika mulai kesal. Benar mang aku yang mbuka pakaianmu itu. Benar aku ncuri-curi kesempatan rasakan buah lonmu itu. Tapi bukankah aku sudah nyelamatkanmu? Anggap itu sebagai imbalannya.

Lagipula, aku bermain-main dengan dadamu itu malah mberikan sensasi nikmat bukan?

"Dasar pria sum!" Christina sudah tidak peduli. Dia dengan cepat layangkan sebuah tamparan lagi pada Randika.

Tapi kali ini tangannya dicengkram erat di tengah udara.

skipun sudah ronta-ronta, Christina tidak bisa lepas dari genggaman Randika.

"Tidak! Lepaskan aku!" Christina mulai panik.

"Kalau kau ingin aku njadi bengis, aku akan nunjukannya." Randika nyeringai, wajahnya terlihat marah.

"Mau apa kau!" Christina njadi takut.

"Bukannya kamu bilang aku orang sum? Akan kutunjukan bagaimana orang sum akan bertindak."

Setelah berkata seperti itu, Randika nindih Christina di atas kasurnya. Selimut yang nyelimuti bagian atasnya terjatuh dan dia kembali telanjang. Randika tidak mberinya kesempatan untuk lepaskan diri.

"Bagaimana? Apakah ini disebut mperkosa? Sayangnya ini masih belum apa-apa."

Setelah itu Randika ncium paksa Christina, tidak mbiarkan dia lari.

Christina awalnya ingin lawan tetapi bibir Randika dengan sempurna nghalangi bibirnya. skipun dia berusaha untuk berteriak, yang keluar hanya desahan dan air liur.

Mata Christina terbuka lebar, tetapi dia berhasil nampar Randika dengan keras. Namun, bagi Randika tamparan itu bagaikan sengatan kecil saja.

Saat reka berciuman, Christina mati-matian nggertakan giginya untuk ncegah Randika masuk lebih jauh. ngetahui hal ini Randika tersenyum, berani lawanku?

Tangan Randika sudah berenang-renang di tubuh mulus Christina. Hal ini mbuat Christina makin panik, di tengah kepanikannya itu dia berteriak keras untuk minta tolong. Namun, hal ini dimanfaatkan Randika untuk ngincar lidahnya.

Di saat reka bertemu, Christina berusaha nggigitnya. Untung saja Randika berhasil narik miliknya tepat waktu.

"Hei!" Randika lepas bibir Christina sambil marah-marah. "mangnya kau anjing?"

Serangan Christina itu hampir saja mutus lidah Randika.

"Dasar bajingan! Lepaskan aku!" Christina ronta-ronta.

"Aku benar-benar akan mperkosamu kalau kau tidak diam!" Randika pura-pura terlihat kejam.

"Kugigit hingga putus kalau kau berani!" Christina sudah tidak mau tunduk lagi.

"Aku pria sum, yang di otakku hanyalah wanita dan sex." Canda Randika. "Aku sarankan kau jangan bergerak dan markan tubuhmu itu. Jangan salahkan aku kalau aku tergiur lakukannya."

ndengar ancaman Randika itu Christina sedikit takut. Dia dengan cepat nutup dadanya dengan satu tangannya.

"Dengarkan aku." Muka Randika njadi serius. "Aku hanya akan njelaskannya sekali."

Christina malingkan wajahnya, mangnya siapa yang mau ndengar penjelasanmu?

"Aku sudah mperingatimu untuk berhati-hati terhadap penyakit di dadamu itu. Kalau aku tidak rawatmu tepat waktu tadi, kau benar-benar sudah mati sekarang." Kata Randika dengan nada serius. Dia lalu ngeluarkan jarum akupunturnya dan mperlihatkannya. "Ini alat-alat yang kugunakan padamu, dulu aku sudah bilang bukan kalau aku bisa teknik akupuntur."

Christina lalu liriknya diam-diam. Setelah dipikir-pikir mang dadanya sudah tidak sakit lagi, berarti perkataan Randika ini mang benar! Tapi mana mungkin dia ngakui kesalahannya? Wanita tidak pernah salah!

"Akupuntur perlu akses langsung ke kulit agar titik-titik tertentu itu ndapatkan hasil maksimal. Penyakitmu ini terpusat di dadamu jadi wajar saja aku perlu kau bertelanjang dada atau aku tidak bisa nyelamatkanmu." Muka Randika lalu terlihat khawatir. "Pada saat itu mukamu benar-benar sudah putih pucat, aku kira kau akan mati. Jadi aku terpaksa mbuat keputusan sepihak."

Christina ndengus dingin. "Jadi dengan alasan itu kau raba dadaku sesuka hatimu?"

"Akupuntur adalah tahap pertama dan tahap kedua adalah ngeluarkan penyakit itu keluar dari tubuhmu. Aku harus nyalurkan tenaga dalamku tepat di mana penyakit itu berada."

"Apa kamu tidak rasakan sensasi hangat saat aku nyentuhnya tadi? Bukankah rasa sakit itu sudah hilang?"

Christina mikirkan kata-kata Randika ini, penyakitnya mang sudah tidak terasa sama sekali.

"Dan saat kau mbuka matamu itu, aku sudah hampir selesai nyembuhkanmu. Setelah rasakannya sendiri, apakah kau masih berpikir aku berbohong?"

Christina ngerutkan dahinya, ekspresi sum Randika saat raba dadanya itu tidak mungkin dia lupakan. Dirinya tidak akan salah nilai orang!

Setelah beberapa saat, Christina ngatakan. "Baiklah Lepaskan aku dulu."

"Minta maaf padaku dulu." Kata Randika dengan nada serius. "Kamu selalu ngira aku ngejar hatimu selama ini dan bahkan nuduhku perkosa. Minta maaf atau aku tidak akan lepaskanmu."

Randika pintar manfaatkan keadaan untuk ndapatkan keuntungan. skipun aksinya tadi benar-benar berlandaskan nafsu, dia berhasil mutar balikan fakta njadi dirinya yang benar. Bahkan dia berhasil mbuat Christina terlihat bersalah.

Kemampuan ini cuma dimiliki dirinya seorang!

Christina ndengus dingin, mana mungkin dia lakukannya.

Karena Christina tidak mau ngatakannya, keduanya terdiam beberapa saat.

"Hah, ya sudahlah. Aku sudah capek ladenimu." Randika lalu lepaskan Christina.

"Jangan lihat ke sini!" Kata Christina.

"Hah? mangnya kenapa?" Randika penasaran.

"Apa kau ingin aku tidak makai baju terus-terusan?" Kata Christina sambil marah-marah.

Randika aslinya ingin ngatakan jangan tetapi takut.

"Sudah jangan lihat ke sini!" Bentak Christina.

Randika lalu nuruti Christina. Sambil lototi Randika, Christina dengan cepat ngambil pakaiannya yang berserakan dan makainya.

"Hei tidak usah lirik-lirik!" Christina nyadari bahwa Randika natapnya dari sudut matanya.

Randika hendak bercanda tetapi dia ndengar ada suara langkah kaki orang.

"Kau tinggal sendirian?" Randika ngerutkan dahinya.

"Iya, kenapa?"

Lalu tatapan mata Randika lalu berubah njadi serius. "Kenapa kok aku ndengar ada orang yang masuk dari pintu?"

"Hah? Ngomong apa kamu?" Christina kelihatan bingung. Tetapi, pada saat ini terdengar suara pintu tertutup dari lantai bawah.

Setelah beberapa saat, pintu kamar Christina dibuka. Sebuah kepala seperti sedang ncungul dari baliknya.

Randika dan Christina terkejut tetapi yang paling terkejut adalah pria di balik pintu.

Setelah beberapa saat hening, Christina terkejut dan ngatakan. "Jansen!?"

Muka Jansen terlihat pucat pasi. Christina sedang bersama seorang pria dan yang lebih parahnya adalah Christina yang hanya makai beha itu sedang makai bajunya. Sudah jelas bahwa reka telah selesai lakukannya.

"Kalian habis ngapain hah!" Sebelum Christina bisa berbicara, Jansen sudah ledak-ledak. Dia sudah mbuka lebar pintu dan mbentak reka dengan keras.

Randika kebingungan dengan situasi ini dan mutuskan untuk diam. Pria ini jelas ngenal Christina, kalau tidak maka pria ini tentu tidak mpunyai kunci rumahnya bukan?

Jadi diam adalah emas sekarang.

"Aku tidak nyangka kau adalah perempuan murahan seperti ini Christina." Ekspresi Jansen benar-benar terlihat sedih. Dia lalu nunjuk Randika. "Hari masih pagi tapi kenapa kau tega lakukannya dengan orang hina ini!"

"Maksudmu apa hah!" Christina juga ikut marah. Jansen mang orang yang keras kepala dan tak tahu diri, kejadian sekarang tidak ada hubungannya dengan dia. Apa yang sedang dia lakukan adalah haknya.

"Jangan pura-pura kau tidak tahu maksudku. Kau ini guru tahu, pembimbing bibit-bibit negara ini." Jansen lalu natap Randika dengan tajam. "Dan kau, aku akan manggil polisi dan nyerahkanmu."

Pura-pura takut, Randika tampak getaran. "Apa dia suamimu?"

"Mana mungkin aku mau sama pria macam dia?" Christina ndengus dingin. "Aku sudah ngakhiri hubunganku dengan dia, dia sudah tidak punya hak untuk ikut campur dengan hidupku." Christina lalu natap Jansen. "Lagipula kenapa kau bisa masuk ke rumahku? Apa yang sedang kulakukan juga bukan urusanmu."

Mantan pacar? Randika rasa ini semakin narik.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 113: Kutunjukan Betapa Bengisnya Diriku on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.