Christina lagi-lagi yang nghalanginya untuk berhubungan badan dengan Viona. Hal ini mbuat Randika mbencinya bukan main.
Tetapi, ketika lihat wajah Christina yang pucat itu, dia ngerutkan dahinya.
Pada saat ini wajah Christina sudah tidak berwarna dan pucat, benar-benar sudah seputih kertas.
Dan pandangannya kini sudah tidak bisa lihat apa-apa setelah berhasil ngebel rumah Viona. Seluruh badannya tidak bisa berhenti getar, dirinya seakan-akan bisa mati kapan saja.
"Tolong Aku"
Mulut Christina hanya bergerak sedikit, kalau bukan karena pendengaran supernya maka Randika tidak akan bisa ndengarnya.
Setelah ngatakannya dengan suara pelan, Christina sudah kehilangan kekuatannya dan tubuhnya jatuh ke depan.
Randika dengan cepat nahannya dan nggendong Christina.
"Sudah kubilang apa." Randika nggelengkan kepalanya. Dia sudah mperingatkan Christina tentang penyakitnya ini tapi dia tidak ndengarkannya. Untungnya, dia masih sempat datang ke sini dan bertemu dengan dirinya.
Dia lalu ngambil kunci yang dipegang oleh Christina dan masuk ke rumahnya. Setelah letakannya di kasurnya, Randika nulis pesan singkat pada Viona lalui handphonenya.
Rupanya Christina ijin pulang cepat karena rasa sakit di dadanya itu makin sakit. Namun, di tengah perjalanannya rasa sakit itu reda jadi dia tidak jadi riksakannya.
Ketika dia hendak mbuka pintu rumahnya, rasa sakitnya itu muncul kembali dan jauh lebih kuat.
Dengan sisa tenaganya, dia berjalan pelan ke tetangganya yaitu Viona.
Randika lalu mbuka baju Christina dengan cepat.
Sekarang, Christina hanya berbalutkan pakaian dalam saja.
Tetapi Randika tidak berhenti di situ, dia dengan cepat mutar badan Christina dan lepas pengait behanya itu.
Sekarang, dada Christina dengan jelas ncuat keluar dan nuhi mata Randika.
Bundar dan besar serta putingnya yang pink itu benar-benar mbuat Randika nelan air liurnya.
Hal ini mbuatnya kaget dan setelah mikirkannya, ternyata ukuran dada Christina yang sebenarnya adalah D!
Sialan, ternyata selama ini dia salah dan tertipu.
lihat bagian atas Christina yang telanjang itu dan wajahnya yang tenang, perempuan ini benar-benar terlihat cantik.
Oh! Mikir apa kau Randika? Selamatkan dia dulu dan mungkin nanti dirinya akan ndapatkan yang lebih!
Randika berhasil nenangkan dirinya dan ngeluarkan jarum akupunturnya.
Stok jarum akupuntur Randika telah berhasil kembali diisi ketika dia pulang ke gunung kapan hari oleh kakek ketiganya.
Randika sudah berkonsentrasi penuh. Tenaga dalamnya sudah ngalir deras pada jarumnya dan tangannya, dia lalu nusukannya ke dada Christina.
Penyakit Christina berkonsentrasi pada dadanya yang disebabkan oleh depresi dalam jangka lama dan bawaan sejak lahir. Penyembuhan ini miliki dua tahap. Yang pertama adalah nyalurkan tenaga dalam Randika dan nghentikan penyebaran penyakit itu. Tenaga dalamnya akan berfungsi sebagai pelindung sekaligus nekan penyakit tersebut.
Baru setelah tahap mudah ini berhasil maka sisanya adalah mon penentuan hidup dan mati.
Randika dengan cepat ngeluarkan jarum yang kedua dan nusukannya kembali. Dalam sekejap 9 jarum sudah nancap di dada Christina.
Puting milik Christina benar-benar nggoda di mata Randika, tetapi dia tidak boleh kehilangan fokus saat lakukan penyembuhan ini.
Randika selalu kehilangan fokus pada mon-mon krusial seperti ini, tidak jarang kakek ketiga akan makinya keras-keras karena hal ini. Oleh karena itu, berbagai cara telah dilakukan oleh kakeknya itu untuk mbuat Randika tetap terfokus.
Setelah rasa Randika sudah cukup mampu, kakeknya itu ngajarkannya pada tubuh manusia secara langsung. Ketika pengobatannya itu sudah tengah jalan, kakek ketiganya berdiri dan ngatakan bahwa pasien tersebut akan mati kalau dia kehilangan fokus.
Randika pada saat itu jelas gugup tetapi berkat arahan dan kepercayaan kakeknya itu, Randika bisa mahami betapa berharganya nyawa dan kebulatan tekad.
Oleh karena itu, walaupun nggoda, Randika tetap fokus pada pengobatannya dan lupakan puting yang indah itu.
Setelah ndudukkan Christina, Randika letakan tangannya di punggung Christina dan mbiarkan tenaga dalamnya ngalir.
Tiba-tiba, tangan Randika sudah panas bagaikan oven. Christina rasakan tubuhnya njadi hangat dan rasa sakitnya di dadanya mulai nghilang.
Dengan aliran tenaga dalamnya itu, wajah pucat Christina perlahan ndapatkan warnanya kembali. Bibirnya kembali ndapatkan warnanya dan tubuhnya mulai respon dengan baik.
Proses ini berlangsung beberapa nit. Lalu mata Randika terbuka dengan cepat dan tamparan tangannya pada punggung Christina mbuat seluruh tubuh perempuan ini berbalik. Dengan gerakan secepat kilat, Randika lepas semua jarum di dada Christina.
Kemudian tangan Randika nempel di tengah-tengah dada Christina.
Inilah tahap terakhir dan paling krusial. Ketika tangannya itu nyentuh Christina, tenaga dalamnya langsung ngalir deras dari tangannya. Saking terkonsentrasinya, Randika lupa kalau Christina ini adalah perempuan.
Sensasi empuk dari apitan dada Christina itu terasa nikmat. Tanpa sadar, tangan Randika satunya malah ncubit pucuk gunung milik Christina itu. Christina yang tak sadarkan diri itu rasakan cubitan itu dan sensasi hangat dari dadanya.
Namun, karena tindakan nakalnya ini, tenaga dalamnya Randika njadi kacau dan wajah Christina njadi pucat kembali.
Randika lengah, dia dengan cepat berkonsentrasi kembali dan nyalurkan kembali tenaga dalamnya.
Namun, wajah Christina berangsur kembali normal dengan cepat.
Randika nutup matanya kembali, inilah saat-saat penentuan. Dia tidak boleh lengah ataupun terlalu rileks.
Setelah 10 nit berlangsung, rona wajah Christina sudah kembali sedia kala dan Randika sudah bernapas lega.
mbuka matanya dan dia lihat Christina sudah bernapas dengan normal. Randika tersenyum lebar, perempuan ini berhutan budi padanya.
Pada saat ini, Randika justru ngamati kecantikan Christina.
Christina mang bukan sembarangan perempuan. Kecantikannya yang terpancarkan benar-benar natural. Wajahnya yang bulat dan bibirnya yang kecil mbuat Randika tidak tahan ingin nciumnya.
Belum lagi, puting milik Christina ini benar-benar indah sekali.
Warna pinknya sangat cerah.
skipun Christina sudah tergolong tidak muda di usianya sekarang, tubuhnya ini bisa mbuat para supermodel nangis. Randika diam-diam muji Christina yang benar-benar rawat dirinya ini.
lihat Christina yang masih nutup matanya itu, Randika teringat akan sensasi tangannya yang diapit oleh kedua gunung ini. Benar-benar empuk!
Seharusnya gangnya lagi tidak masalah bukan? Lagipula dia masih belum bangun dan dia sudah nyelamatkan hidupnya. Yah anggap saja ini pajak.
Semakin Randika mikirkannya, semakin dia tergoda lakukannya. Kemudian dia njulurkan tangannya itu.
Sekali lagi, hati Randika njadi gembira bukan main.
Kedua tangannya itu berhasil nopang kedua gunung ini dan baginya ini adalah sensasi empuk yang sudah lama dia dambakan.
Tanpa sadar, Randika nyebul salah satu pucuk yang njulang tinggi itu.
Tiba-tiba, Christina ngeluarkan desahan. Randika yang terkejut langsung narik tangannya. Setelah beberapa detik, Christina tampak masih belum bangun.
Randika terkejut bukan main barusan, benar-benar nakutkan.
Kemudian, Randika mutuskan lagi untuk berpetualang.
Christina rasa dadanya itu seakan tertutup oleh sesuatu dan seperti ada yang remas-remas dadanya itu. Sensasi aneh ini mbuatnya ngangkat kelopak matanya tetapi rasa lelah mbuatnya tertidur sekali lagi.
Namun, sensasi aneh itu terasa lagi di dadanya. Kali ini sensasi itu terasa seperti sebuah tangan gang dadanya dan ncubit putingnya. Terlebih, tangan itu tidak bisa berhenti bergerak.
Lalu Christina yang masih setengah sadar itu terbangun dan nyadari sesosok orang muncul di hadapannya.
Siapa dia? Kenapa dia di depanku?
Dalam hitungan detik sosok orang ini mulai terlihat jelas di matanya.
skipun masih buram, sosok orang ini jelas seorang laki-laki dan entah kenapa senyumannya itu familiar sekali. Saat dia nutup matanya kembali, dia rasakan sensasi aneh di dadanya itu masih berlangsung.
Tiba-tiba, Christina dengan cepat mbuka matanya dan lihat ke bawah. Tangan lelaki itu ada di dadanya!
Dan dia tidak makai apa-apa selain celana dalam!
Randika yang masih fokus mainkan mainan barunya itu benar-benar tidak sadar bahwa Christina sudah terbangun.
Dia terus nilai manakah yang lebih empuk dan lebih bundar, milik istrinya atau Viona atau Christina?
Christina sudah naik darah dan ngangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Dasar sum!"
ndengar suara ini, Randika ngangkat wajahnya dan ndapatkan souvenir yang nyenangkan.
PLAK!
Nyaring dan enak didengar, Randika yang tertampar itu tidak bisa berkata apa-apa.
Kapan dia bangun?
Ada sedikit kecanggungan di senyuman Randika. "Yah setidaknya kamu sehat kembali. Biarkan aku jelaskan semua ini.
"Penjelasan apa? Jelas-jelas kamu ingin mperkosaku!" Christina sudah nutupi dadanya dengan tangannya.
"Wow, tunggu dulu, dengarkan penjelaskan dulu." Randika mulai panik.
"Tidak perlu berdalih, lelaki macam kamu selalu ngincar perempuan rapuh sepertiku." Christina sudah ingin nangis tetapi dia nyadari Randika hanya mandanginya sambil terdiam.
Dia lalu tersadar bahwa dia masih setengah telanjang, dia lalu berteriak keras.
"Ahhh!"
Reviews
All reviews (0)