"Ah?"
Viona yang masih ragu itu tiba-tiba sudah digendong oleh Randika. Dalam sekejap wajahnya njadi rah. Tetapi, perasaan aman dan nyaman ini benar-benar baru dia rasakan ketika bersama dengan Randika.
Bersandar di dada Randika yang kekar itu, Viona bisa ndengar detak jantung Randika yang berdegup dengan tenang.
Si supir taksi hanya bisa lihati reka dengan tatapan iri. Sialan anak muda ini, reka malah bersraan di depanku!
"Tahan sebentar ya." Randika tersenyum pada Viona.
"Baik." Viona nutup matanya.
Randika nyukai aroma yang mancar dari Viona ini, baginya dia benar-benar harum.
Langkah demi langkah, Randika masuk ke rumah dan ngantarnya ke kamar tidurnya di lantai 2. Viona yang digendong itu rasa waktu seakan berhenti, perasaan nyaman ini benar-benar nenangkan bagi dirinya. Bahkan selama dirinya digendong, wajahnya benar-benar dekat dengan Randika.
"Sudah sampai." Randika tersenyum natap Viona yang terlihat malu-malu itu.
Ha? Cepat sekali!?
Tatapan mata Viona sedikit ngandung rasa nyesal.
Setelah ndudukan Viona di atas kasurnya, Randika mbantu nyimpankan tas yang dibawa Viona ke tempatnya sekaligus mbawakan air untuknya.
"Vi, kakimu akan kupijat lagi ya biar enakan." Randika lalu ncopot sepatu Viona dan nyuruhnya untuk nyender di ujung kasur. Dengan pelan, Randika mulai mijat kakinya itu.
Wajah rah Viona itu dia sembunyikan di balik bantal. skipun tidak ada orang selain reka berdua, Viona masih rasa malu ketika berduaan dengan Randika yang dicintainya itu.
"Vi, kakimu ini mulus sekali." Randika mijat bagian tumit Viona dengan pelan dan lembut. Setiap kali dia ngurutnya, tenaga dalamnya akan ngalir ke dalam tumit Viona dan redakan rasa sakitnya.
Selama dia mijatnya, tatapan matanya tidak bisa lepas dari kaki panjang dan mulus milik Viona. Kakinya itu benar-benar putih seperti kain sutera. Belum lagi pahanya yang nggiurkan itu, dia harus nahan dirinya kuat-kuat agar tidak mbenamkan kepalanya di situ.
Di balik bantalnya itu, Viona sudah ndesah erotis berkali-kali. Setiap pijatan Randika itu mbuat dirinya tidak bisa nahan dirinya untuk ndesah nikmat.
Setelah beberapa saat, Randika bertanya. "Bagaimana? Apakah sudah mbaik?"
Viona lalu letakan bantalnya dan nggerak-gerakan kakinya beberapa saat. Dia benar-benar terkejut. "Wah sudah tidak sakit!"
"Hahaha tentu saja." Randika tertawa namun masih belum lepaskan kaki Viona dari pelukan tangannya itu.
"Vi Apakah kita sebaiknya lanjutkan apa yang tertunda kapan hari?" Randika mulai nyerang, dia tidak akan lepaskan kesempatan ini.
"Hmm? Yang mana?" Tatapan mata Viona terlihat bingung, jelas dia tidak ngerti apa yang Randika maksud.
"Sini akan kuberitahu." Randika langsung luk pinggang Viona dengan tangan kanannya dan nariknya hingga ke pelukannya. Tangan kirinya lalu ngelus rambut Viona.
"Apakah kau masih tidak tahu maksudku?" Randika tersenyum. Sekarang wajah reka berdua sudah sangat dekat.
Wajah Viona njadi rah dan sambil nundukan kepalanya sambil ngatakan. "Ran ini masih pagi."
"mangnya kenapa?" Randika lalu nempelkan dahinya ke dahi Viona. "Di rumah ini hanya ada kita berdua dan kita tidak perlu khawatir akan ada orang yang ngganggu kita."
Jantung Viona sudah berdetak sangat cepat. "Aku masih belum siap."
"Jangan khawatir, serahkan padaku." Randika lalu nyebul telinga Viona. Dalam sekejap yang ada hanyalah suara desahan Viona. Hanya satu tarikan napas, Randika berhasil mbuat tubuhnya kehilangan kendali.
rasakan Viona mulai lemas di pelukannya, Randika tertawa. Sepertinya dia mang ahli mbuat perempuan terangsang.
"Tenanglah dan nikmati sensasinya, aku akan lakukannya selembut mungkin." Kata Randika di telinga Viona. Randika lalu nggigit telinga Viona dengan lembut.
Kedua tangan Randika sudah berenang-renang di seluruh tubuh Viona. Dengan rangsangan tangan Randika dan telinganya yang tergigit itu, Viona sudah seakan layang di awan.
Randika tidak terburu-buru untuk masuk ke babak utama, kali ini tidak akan ada yang bisa ngganggu reka. Dia sudah diganggu oleh Christina 2x dan tiap monnya hampir ncapai babak utama. Randika sudah lama nantikan mon penyatuan ini. Sebagai dosen, Christina pasti masih ada di tempat kerjanya jadi sekarang adalah mon sempurna.
Tangan kiri Randika nahan kepala Viona, bibirnya sedang sibuk njelajahi leher Viona yang mulus dan tangan kanannya sedang berusaha lepas baju Viona.
Viona sudah tidak bisa berpikir apa-apa. Dia rasa seluruh tubuhnya njadi panas. Detak jantungnya sudah berdetak tidak karuan dan tiap helaan napasnya terasa panas.
Namun, perasaan ini sangat nikmat baginya. Setiap tubuhnya yang disentuh oleh Randika akan mberikan sensasi nikmat yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia ingin lanjutkannya tetapi masih ada sedikit rasa takut nggenang di hatinya.
"Vi, tenanglah." lihat Viona yang sedikit bergetar itu, Randika berusaha nenangkannya dan ncium dahinya. "Aku tidak akan pernah nyakitimu."
Sekarang baju Viona sudah berhasil dilepas oleh Randika, sekarang hanya beha berwarna ungu lah yang nutupi kedua gunung milik Viona.
Randika tidak pernah bosan lihat dada Viona yang besar dan sempurna itu, skipun belum terbuka semuanya, keempukan dan keindahan itu tidak bisa tertutupi oleh apa pun.
Tidak mau buru-buru, Randika lalu mfokuskan diri ke bagian atas Viona dulu. Mulai dari nciumnya hingga hanya berpelukan, Randika berusaha yakinkan Viona bahwa dia tidak perlu takut. Perasaan tenang ini mbuat Viona semakin rileks dan terfokus pada bagian nikmatnya saja.
Sedangkan untuk babak utamanya, Randika mutuskan semuanya bergantung pada Viona.
"Vi, lepaskan celanamu." Ketika reka berpelukan, Randika berbisik pada telinga Viona.
Viona yang sudah rileks ini nuruti kata-kata Randika. Tidak lama kemudian, Viona dengan sendirinya lepas celananya.
lihat Viona yang hanya makai pakaian dalamnya mbuat Randika semakin bersemangat. Senyuman wajahnya nunjukan bahwa inilah saatnya reka berdua bersatu.
Asyik!
Randika benar-benar bersemangat dari lubuk hatinya, masih tidak terdengar suara ketukan pintu ataupun teriakan orang.
Saat tangan Randika sudah hendak ncopot celana dalam itu, tiba-tiba suara bel pintu terdengar.
Ya ampun, lagi!?
Viona yang terkejut itu ngatakan. "Ran, ada orang."
Viona lalu berdiri dan makai bajunya lalu keluar dari ruangan itu dan bersembunyi. Seluruh proses ini sangatlah cepat tidak sampai 20 detik.
Randika hanya duduk longo di tempat, sambil neteskan air mata darah dia bergumam. "Ya Tuhan, kenapa kau mberi cobaan seperti ini? Selalu di detik terakhir aku akan lakukannya selalu saja ada masalahnya."
Muka Randika njadi serius, bajingan mana yang ngganggunya kali ini.
Ketika Randika turun untuk lihat siapa pengganggunya itu, mukanya tidak terkejut.
Tentu saja tetangga Viona satu itu selalu ngganggunya dan ini sudah ketiga kalinya!
Randika nggertakan giginya kuat-kuat, dosa apa yang diperbuatnya pada perempuan itu sampai-sampai dia selalu diganggu olehnya.
Reviews
All reviews (0)