Setelah nyelesaikan masalah klub karate, Randika dengan cepat beranjak keluar dari universitas itu dan mutuskan untuk nuju perusahaan Cendrawasih.
Saat dia berada di lobi, dia berkedip pada resepsionis perempuan yang biasanya berjaga disitu. Perempuan itu terlihat malu dan Randika lewatinya sambil bersiul.
Dengan cepat dia tiba di kantor Inggrid.
Randika masuk ke ruangannya dengan pelan dan ndapati biasa Inggrid duduk sambil mbaca beberapa dokun seperti biasanya.
Tidak ingin ngejutkannya, Randika pura-pura ngetuk pintu yang sudah tertutup rapat itu dengan pelan.
ndengar suara ketukan pintu yang pelan itu, Inggrid njawab tanpa noleh. "Masuk."
Randika tersenyum dan berjalan ngendap-endap.
lihat sosok bayangan yang ndekatinya, Inggrid langsung noleh dan ndapati Randika sedang tersenyum pada dirinya. Dia tidak bisa tidak nghela napas. Kenapa bajingan ini selalu mainkan dirinya?
"Sedang ngeliatin apa kamu?" Randika berusaha ngintip.
"Peduli apa kau mangnya?" Inggrid mberinya tatapan dingin lalu dia ngatakan. "Bukannya kamu tadi pagi pergi bersama Hannah?"
Randika terkejut, bagaimana mungkin istrinya yang pergi dari pagi itu tahu?
lihat wajah bingung Randika, Inggrid dengan santai njawab. "Ibu Ipah yang mberitahuku."
"Oh begitu." Randika lalu njelaskan. "Aku tadi khawatir terhadap teman-temannya yang masih setengah sadar itu mangkanya aku mbantu Hannah mulangkan reka. Adikmu itu mang benar-benar bertanggung jawab."
Tenang Hannah, kakak iparmu berusaha semampunya demi kamu!
"Apanya yang bertanggung jawab." Inggrid nghela napas dalam-dalam. Adiknya itu manfaatkan ketidak hadirannya untuk ngadakan pesta diam-diam.
"Sayang, adikmu itu masih muda. Sudah tugas kita untuk nuntunnya." Kata Randika.
Inggrid ngangguk. "Oh ya, bagaimana dengan produk parfum baru yang dikembangkan itu? Aku berniat mberi sampelnya pada perusahaan Yosua dan nyuruh reka untuk ngetes pasar."
"Kelvin seharusnya sebentar lagi selesai dengan produk itu. Tidak lama lagi harusnya dia mbawakannya padamu." Kata Randika.
"Bukannya kamu yang bertanggung jawab sama produk itu? Kenapa kamu terdengar tidak yakin seperti itu?" Inggrid ngerutkan dahinya. "Apa selama ini kamu tidak kerja sama sekali?"
"Mana mungkin aku seperti itu!" Randika dengan cepat mbantah. "Aku hanya bertanggung jawab ngajari reka dan ngetes hasil akhir, rekalah yang tetap harus nyelesaikannya. mangnya kau pernah lihat pelatih sepakbola bermain bersama timnya?"
"Jangan khawatir." Randika lalu berjalan ke belakang Inggrid dan berbisik di telinganya. "Apa pun yang diinginkan istriku pasti akan aku wujudkan, jika reka tidak bekerja dengan benar maka aku akan marahinya."
marahinya? Jadi dia mang malas untuk bekerja begitu? Inggrid kehabisan kata-kata ketika ndengar Randika. Dan tentu saja, Randika tidak hanya berbisik di telinganya.
"Hei! Sedang apa kau?" Wajah Inggrid sudah rah, bajingan ini lagi-lagi aji mumpung.
"Tentu saja manjakan istriku." Randika mijat pundak Inggrid sambil nggigit telinganya itu. Dalam sekejap sensasi nikmat itu langsung nuhi benak Inggrid.
Inggrid benar-benar nikmatinya, tetapi tiba-tiba pintunya diketuk.
Randika langsung njadi cemberut, kenapa mon intim seperti ini selalu dirusak oleh orang?
"Masuklah." Inggrid lalu ndorong Randika, isyarat agar Randika tidak macam-macam.
Ternyata sekretaris Inggrid lah yang ngetuk pintu. Ketika dia masuk, dia lihat wajah bosnya itu rah, dua kancing bajunya yang paling atas terbuka dan napasnya terengah-engah.
Terlebih, dia lihat sosok Randika berdiri di samping Inggrid. Apakah reka benar-benar telah nikah?
Namun sebagai seorang pegawai dan sekretaris pribadi, dia tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh.
lihat dari tingkah laku sekretarisnya itu, Inggrid bernapas lega. Untung sekali tindakan reka tadi itu tidak ketahuan, lain kali dia harus berhati-hati dengan Randika.
Randika lihat bahwa yang dibahasnya itu terlihat penting, dia perlahan-lahan keluar dengan sendirinya dan ngunjungi laboratorium milik Kelvin.
Dengan cepat Randika nemukan Kelvin sedang bereksperin dengan produk terbaru reka.
"Ah! Pak Randika tumben ada di sini?" Kelvin terkejut.
"Apakah produk parfum baru itu telah selesai?" Tanya Randika.
"Sudah ada beberapa contoh yang telah jadi tetapi aku masih kurang puas dengan hasilnya. Seharusnya semua akan selesai 1 hari lagi." Kelvin lalu ngambil salah satu produk dan mbiarkan Randika nciumnya.
Randika nciumnya dan ngatakan. "Hmm Kamu lebih baik ngganti proporsinya."
Setelah mberikan instruksi, Randika nyuruh Kelvin ngulang lagi.
Pada saat ini, Randika nyadari sosok Viona di tengah ruangan. Karena laboratorium miliknya sedang tidak ada kerjaan, sebagian besar orang yang bekerja di bawah Randika dipindah untuk mbantu Kelvin.
Dan terlebih, Viona nyukai parfum dan mpunyai kemampuan sehingga dia dengan cepat beradaptasi.
"Vi"
Viona yang masih berkonsentrasi bekerja itu tiba-tiba terkejut karena ada suara yang manggilnya, hasilnya dia njatuhkan tabung gelasnya.
Tapi dengan cepat sebuah tangan ncegah tabung itu jatuh ke lantai.
Viona dengan cepat berubah njadi malu. "Randika"
"Hahaha bekerjalah seperti sebelumnya." Kata Randika sambil tersenyum.
Karena istrinya itu sedang sibuk, tidak ada salahnya dia bersraan dengan Viona.
"Sebentar, cara kerjamu bisa lebih sempurna lagi. Sini aku ajari." Randika dengan lihai nemukan cara terselubung untuk bersraan. Dia lalu gang tangan lembut Viona itu.
"Randika jangan" Viona rasa malu, reka sedang berada di ruangan penuh orang.
Randika hanya tertawa. "Hahaha aku hanya ngajarimu kok."
Di tengah ajarannya ini tentu saja Randika nyempatkan diri ncuri-curi kesempatan.
Hari berlalu dengan cepat.
Sekarang, jam kerja sudah selesai dan semuanya sudah siap-siap pulang.
Namun, tiba-tiba Randika ndengar Viona berteriak.
Randika dengan cepat nghampiri Viona yang sedang duduk di lantai itu. Wajahnya terlihat kesakitan.
"Kenapa kamu?" Randika bertanya dengan nada cemas.
lihat high heels Viona yang patah itu, Randika bisa nyimpulkan.
Randika dengan hati-hati lepaskan kedua high heels milik Viona dan mulai mijat kakinya yang kesakitan itu.
"Vi, kenapa kau begitu ceroboh?" Randika nggoda Viona, dia tahu bahwa Viona jarang makai sepatu seperti itu.
Wajah Viona terlihat rah. Dengan bantuan pijat Randika itu, kakinya berangsur-angsur mbaik.
Setelah beberapa lama, kakinya benar-benar sudah tidak sakit lagi.
"Vi, aku akan nemanimu pulang." Randika mbantu Viona untuk berdiri dan nopangnya.
"Ran" Viona ingin mberontak tapi tidak bisa, kakinya masih tidak kuat untuk nopang dirinya sendiri.
"Hei jangan bergerak seperti itu, lama-lama kugendong kamu." Kata Randika sambil tertawa.
Wajah Viona justru makin rah, reka masih berada di ruangan kerja dan orang-orang lihati reka.
nuntun Viona ke mobil taksi, Randika ikut dengannya.
Tangannya yang ngtowel-towel dada Viona itu benar-benar bahagia. Benar-benar hari yang nyenangkan baginya.
Tak lama kemudian reka telah sampai di depan rumah Viona.
Setelah mbayar taksi itu, Randika lalu keluar dan mbukakan pintu untuk Viona.
Ketika Viona hendak berjalan, Randika sudah berlutut di hadapannya.
"Ayo cepat, aku akan nggendongmu ke kamarmu."
Reviews
All reviews (0)