Saat reka di ruangan kerja, Viona diam-diam lirik Randika. Dia tidak bisa nghilangkan rasa malunya ini.
"Pak Randika selamat pagi." Kelvin masuk ke dalam sambil tersenyum.
"Bagaimana dengan sampel produk barunya?" Randika tidak mau berbasa-basi.
"Sukses sekali berkat bantuan Anda!" Kelvin tertawa puas. "Sampel produk baru telah disebarkan ke pasar untuk dites. Sekarang kami sedang ngembangkan produk baru lainnya. Tetapi tentu saja, produk baru ini tetap butuh bantuan Anda dan kelompok Anda. Setidaknya, kau harus minjamkan tenaga Viona untuk kelompokku selama beberapa hari."
Randika noleh ke arah Viona dan nyadari bahwa Viona sedang liriknya. Sepertinya dia sedang curi-curi dengar.
"Demi perkembangan kemampuannya, tolong ajari Viona dengan baik."
Pada saat ini, sekretaris yang biasanya bersama Inggrid masuk ke ruangannya.
"Pak Kelvin dan Pak Randika, Anda sudah ditunggu oleh Ibu Inggrid di ruang rapat. Mohon ngumpulkan kelompok Anda masing-masing."
"Ibu Inggrid minta kita semua hadir?" Kelvin bingung dan khawatir.
"Benar, Ibu Inggrid nginginkan kehadiran semuanya." Sekretaris itu tersenyum. "Jangan khawatir, suasana hati Ibu Inggrid sedang bagus. Jadi seharusnya tidak ada masalah."
"Baiklah, kami akan berkumpul di ruang rapat segera mungkin." Kata Kelvin sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian, seluruh kelompok Kelvin dan Randika sudah berkumpul di ruangan rapat. Inggrid sudah nunggu reka dan duduk di kursi pemimpin.
"Baiklah, silahkan duduk." Kata Inggrid sambil tersenyum.
Hampir 20 orang berkumpul di ruangan ini, tetapi karena ruangan rapat ini besar reka berkumpul di satu sisi saja.
"Baiklah, aku hanya ingin ngabarkan berita bagus buat kalian semua." Kata Inggrid sambil tersenyum. "Seperti yang sudah kalian ketahui, produk baru parfum kita telah disebarkan di pasar kemarin lusa. Setelah tim kita mpromosikan dan njual beberapa sampel, bisa dikatakan bahwa kita sukses besar. Dari segi kualitas dan kontar orang-orang, ini semua benar-benar jauh lebihi ekspektasi perusahaan. Bisa dikatakan bahwa ini adalah langkah besar pertama kita nuju kesuksesan."
"Benarkah?" Kelvin dan para ahli parfum lain masih belum bisa mproses informasi ini. Beberapa minggu ini reka benar-benar bekerja keras dan bisa dikatakan bahwa produk baru itu adalah darah dan keringat reka. Dan setelah reka ngetahui bahwa produk baru reka itu sukses di pasar, perasaan lega dan senang lebur njadi satu.
"Dengan tahap pertama yang sangat bagus ini, aku rasa penjualan besar-besarannya akan sukses. Tahap berikutnya adalah bagian promosi jadi kalian tidak perlu khawatir." Inggrid lalu berdiri. "Tanpa usaha kalian semua, perusahaan kita tidak akan bisa langkah sejauh ini. Untuk itu aku ingin berterima kasih pada kalian secara langsung." Setelah itu Inggrid mbungkuk hormat pada orang-orang.
"Bu Inggrid tidak perlu terlalu berlebihan." Kelvin dengan cepat minta Inggrid naikan kepalanya. "Ini adalah pekerjaan kami. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami untuk bisa layani dan maju bersama-sama dengan perusahaan ini." Kelvin dan para ahli parfum lain tergerak dengan tindakan Inggrid barusan. reka semua setuju dengan kata-kata Kelvin.
"Sebagai hadiah dari kerja keras kalian, aku mutuskan bahwa kalian semua berhak ndapatkan libur selama 3 hari!"
Kali ini semua orang bersorak gembira. Empat hari libur benar-benar luar biasa!
"Ditambah lagi, perusahaan akan ngatur kegiatan liburan bersama secara cuma-cuma." Kata-kata Inggrid ini makin mbuat reka bersorak gembira.
"Namun, sayangnya kalian harus milih apakah kalian akan liburan sendiri selama 3 hari atau berpartisipasi liburan bersama yang diatur oleh perusahaan."
Setelah ndengar hal tersebut, semua orang saling mandang satu sama lain. Beberapa ingin pergi tetapi beberapa juga mikirkan ingin bersantai di rumah bersama keluarganya. Bagaimanapun juga, 3 hari libur ini benar-benar suatu berkah di tengah pekerjaan reka yang lelahkan.
"Jangan khawatir, pikirkan baik-baik dulu. Kalian bebas nentukan pilihan, tidak ada paksaan." Kata Inggrid.
Pada saat ini, Randika berdiri. "Bu Inggrid, kemanakah mangnya kita akan pergi?"
lihat Randika yang berdiri itu, Inggrid sedikit ngerutkan dahinya. Tapi dia tahu bahwa Randika hanya berusaha ncairkan suasana.
"Kami telah san hotel di pulau kura-kura." Kata Inggrid sambil tersenyum kembali.
"Wah kalau begitu aku ikut!" Kata Randika sambil tertawa.
"Aku juga!"
"Aku juga mau!"
Tiba-tiba satu per satu mulai nyuarakan persetujuannya.
Randika lalu noleh ke arah Viona dan berkata sambil tersenyum. "Vi, ayo kamu juga."
"Oh? Baiklah." Viona ngangguk sambil tersenyum.
Adegan ini tidak luput dari mata Inggrid.
"Kalau begitu, mari kita berlibur bersama!"
Pantai, bikini, seafood aku datang!
........
Pulau kura-kura njadi salah satu alternatif tujuan wisata ketika para turis ngunjungi kota Cendrawasih. Perjalanan makai perahu akan makan waktu 20 nit dari pelabuhan. Tujuan wisata ini benar-benar populer karena banyaknya kura-kura dan hewan laut lainnya.
"Hahaha!" Randika tertawa ketika lihat ombak.
"Hei ngapain kamu tiba-tiba tertawa?" Inggrid yang duduk di sampingnya tertawa.
"Barusan ada bikini yang hanyut." Semua orang ikut tertawa ndengarnya.
"Baik semuanya, kita akan nginap di hotel Oceana untuk liburan kali ini. Untuk hari ini, kalian bebas lakukan aktivitas apa pun." Inggrid lalu tersenyum pada bawahannya itu. "Sayang, kalian sepertinya tidak ingin bersamaku."
"Lho Bu, jangan begitu dong." Semua para lelaki tertawa, mata reka sudah lama tertuju pada cewek-cewek yang makai bikini di pantai.
Ahhh. Masa muda mang nyenangkan.
Kelvin nghela napas dalam-dalam. Untuk liburan kali ini dia mbawa istri dan anaknya yang masih kecil ke sini. Jadi dia tidak ncuci mata bersama rekan-rekannya itu.
Kerumunan orang ini dengan cepat nghilang, reka semua sedang nuju ke pantai dan hendak nggelar tikar dan nikmati suasana pantai.
Sedangkan Randika, dari awal dia sudah nghilang. Dia diam-diam sudah ndekati sepasang cewek yang sedang berjemur di kursi pantai.
"Hai cantik, tidak baik lho berjemur terus-terusan." Kata Randika sambil tersenyum. Matanya Randika juga tampak sudah nelanjangi reka.
Setelah bertahun-tahun berkelana, hanya dengan sekali lirik saja Randika bisa ngetahui tipe-tipe cewek nakal yang mana. Tentu saja, kedua perempuan yang sedang dia dekati ini adalah tipe orang yang tidak masalah dengan permainan tiga orang.
"Bagaimana mau njemur kalau kau nghalangi?" Perempuan cantik itu natap tajam Randika yang nghalangi matahari. Tetapi setelah lihat tubuh kekar Randika, dia tersenyum manis. Perempuan yang di sebelahnya juga ikut tersenyum pada Randika.
"Ah maksudku bukan begitu, cuman sayang sekali jika tubuh kalian yang cantik itu akan kesakitan kalau berjemur terus-terusan." Kata Randika sambil duduk di pucukan kursi.
"Kami sudah makai tabir surya." Perempuan yang di sebelah kiri tersenyum. "Sayang sekali kamu tidak bisa ngoleskannya pada kita."
"Hahaha." Randika sama sekali tidak malu. "Tapi kalau dilihat-lihat, cara pemakaian kalian ini salah."
"Oh? Benarkah? Kalau begitu bagaimana cara yang benar?" Keduanya mulai tertarik dengan Randika.
Reviews
All reviews (0)