Keesokan harinya Randika dan Inggrid pergi jalan-jalan bersama. Ketika kontrak kerja sama itu telah selesai, Inggrid terlihat lebih santai dan senang.
Randika tentu saja nikmati mon kebersamaan dengan istrinya itu. reka berbelanja, makan makanan enak bahkan dia sempat nggandeng tangannya! Benar-benar suasana yang nyenangkan.
"Sayang, coba kamu cicipi ini."
"Wah kamu cantik sekali pakai baju itu."
"Sini tanganmu, aku tidak ingin kau jauh dariku."
......
Kedua orang ini sudah bagaikan pasangan yang jatuh cinta, Inggrid tidak nolak sama sekali dan rasa bahwa Randika yang perhatian seperti ini tidaklah buruk.
Puncaknya adalah reka bergandengan tangan dan kata-kata Randika yang terdengar romantis itu, wajahnya benar-benar rah karena malu.
Keduanya nikmati waktu yang seakan abadi itu, keduanya nyukai perasaan ini.
Namun, tidak jauh di depan reka terlihat sebuah kerumunan yang benar-benar ribut.
Dari suara-suara yang terdengar, suara orang ngamuk paling keras terdengar.
Tiba-tiba Randika rasa penasaran.
Di antara kerumunan orang tersebut, Rangga, yang sebelumnya rupakan wakil dari Riko, sedang gang sebuah pisau.
"Kau tahu siapa yang nguasai kota ini dari balik layar?" Rangga benar-benar besar kepala setelah ngambil posisi Riko sebagai kepala gangster. "Aku beritahu ya, orang itu adalah aku! Semua preman di kota ini akan nunduk padaku jika lihat aku."
"Maaf pak maaf." Pejalan kaki yang dikerubungi oleh para preman ini sudah nciut tidak karuan. Dia terus-terusan nundukan kepalanya, tidak berani mandang sama sekali. "Aku benar-benar tidak sengaja nabrakmu."
"Siapa suruh kamu njawab aku!" Rangga nempelkan pisaunya di leher orang tersebut. "Apakah aku nyuruhmu untuk berbicara?"
Orang ini sudah hampir ngompol, dia hanyalah pegawai toko dari toko kecil.
"Hah? Lihat apa kalian? Mau kubunuh juga?" Kata salah satu bawahan Rangga pada para pejalan kaki yang berhenti dan natap reka. Aura yang dipancarkan para gangster ini benar-benar ngintimidasi. Semua orang malingkan wajah reka dan berjalan kembali. skipun reka ingin nolong orang tersebut, itu tetap tidak sepadan dengan relakan nyawa reka.
Manusia mang makhluk egois.
lihat gertakan reka berhasil, para gangster ini makin besar kepala.
Rangga lalu natap mangsanya sekali lagi dan berkata dengan nada ngancam. "Jadi, bagaimana kau akan nebus kesalahanmu itu?"
"..." Orang ini benar-benar tidak tahu harus berkata apa, untuk makan saja dia sudah kesusahan.
"Sekarang kau malah jadi bisu?" Rangga ludahi sepatu orang tersebut.
Perasaan kesal Rangga ini disebabkan oleh kematian sosok pemimpinnya yaitu Riko. Sekarang, setelah mbayar para polisi agar semua anggotanya bisa berjalan bebas lagi, Rangga dan kelompoknya benar-benar kehabisan uang. Ini sama saja harus ngulang dari awal.
Tetapi, sosok seperti setan yang mbunuh Riko itu tetap lekat di benaknya. Dia bersyukur waktu itu pura-pura pingsan setelah lihat anggotanya yang lain itu dihajar babak belur.
ngingat sosok Randika tersebut, Rangga semakin kesal dan nendang mangsanya itu. Dengan cepat, orang tersebut rintih kesakitan.
"Baiklah, baiklah, aku akan nuruti apa maumu." Orang ini sudah benar-benar takut.
"Pilih aku nghajarmu sampai mati atau berikan seluruh uangmu dan aku mungkin akan lepaskanmu?" Rangga ingin lampiaskan kekesalannya ini ke suatu tempat.
Orang ini dengan cepat rogoh celananya. Lalu dengan wajah pucat, dia ngeluarkan uangnya satu-satunya yaitu 10 ribu.
Orang ini nelan ludahnya dan rasa bahwa ini adalah akhir dari dirinya. Dia hanya natap Rangga dan nyerahkan uangnya itu.
"Tidak punya dompet?"
"Aku tidak punya!" Orang ini sudah ingin nangis, daripada dompet dia lebih milih beli beras.
"Kalau begitu, aku akan motong tanganmu itu." Rangga dengan cepat ngeluarkan pisaunya lagi dan ngangkat tinggi, berusaha nggertak.
"Aku bersumpah aku tidak punya dompet!" Orang tersebut segera panik.
"Geledah dia!" Kata Rangga pada bawahannya.
Dengan cepat dua bawahannya itu nggeledah seluruh tubuh orang tersebut dan masih tidak dapat nemukan apa-apa.
Sialan, mangsanya kali ini miskin!
Rangga benar-benar njadi kesal, akhir-akhir ini nasibnya sial terus.
Pada saat ini, seseorang ndekati reka dan nyapa reka. Salah satu preman langsung mbentak orang itu dengan nada tinggi. "Mau apa kau bajing.."
Setelah ngamati satu sama lain, suara yang keras itu perlahan njadi pelan dan tak terdengar lagi.
lihat sosok Randika, semua preman ini nyalinya nciut dan tanpa sadar langkah mundur mbuat jalan bagi Randika dan ninggalkan Rangga pemimpin baru reka.
Tangan kokoh Randika dengan santai berada di pundak Rangga.
"Sudah kubilang, jangan pernah sentuh aku dari belakang!" Rangga langsung nipis tangan yang ada di pundaknya itu dan noleh dengan muka sangarnya.
Randika hanya berdiri di situ sambil nyeringai.
SIALAN!
Rangga sudah getar ketakutan, si setan ini muncul kembali?
Apakah ini mimpi?
Rangga nggosok matanya kuat-kuat, sosok setan yang nghancurkan kelompoknya ini tidak nghilang dari hadapannya.
"Hahaha aku pasti lagi di dunia mimpi." Rangga lalu berbalik dan ngendap-endap pergi.
"Kalau begitu aku akan berlarian ncari cewek."
Namun, suara Randika yang tenang itu mbuatnya berhenti langkah. "Siapa suruh kamu pergi?"
ndengar hal tersebut, Rangga tidak berani langkah lagi. Dia lalu noleh dan berkata dengan kaki getar. "Wah kakak tertua sedang belanja?"
"Siapa yang kakak tertuamu?" Randika lalu berkata dengan santai. "Dan kalian semua, siapa yang nyuruh kalian ncar seperti itu? Berdiri semua di depanku sekarang.
Dalam sekejap, semua preman dan Rangga berbaris dengan rapi nghadap Randika. reka sudah bagaikan ngikuti upacara.
Randika lalu natap Rangga yang nurutnya rupakan ketua yang baru. Senyuman Randika sudah ngatakan segalanya.
lihat senyuman itu, Rangga hanya rinding dan ngerti maksudnya. Kemudian dia rogoh saku celananya dan cuma ada 500 ribu.
"Kak, tolong lepaskan kami." Wajah Rangga sudah sangat jelek. "Kami berjanji kita tidak akan bertemu lagi."
"Ha? Kalian tidak ingin bertemu denganku gitu maksudmu?" Kata Randika. "Padahal aku nyukai setoran uang kalian lho."
Orang yang ditolong Randika itu kebingungan, para preman itu terlihat sedang dirampok oleh orang di depannya itu.
Semua preman ini sudah ingin nangis ketika ndengarnya. Sekarang lagi-lagi reka harus nyerahkan uangnya pada pria ini dan kalau reka bertemu lagi nantinya maka reka harus mbayar lagi.
"Ayo cepat, aku tidak punya banyak waktu hari ini." Kata Randika.
Muka Rangga penuh dengan ekspresi kesal, takut dan sedih. Sejak kapan kepercayaan dirinya njadi serendah ini? Tetapi ketika lihat senyum Randika, seluruh tubuhnya getar dan nyalinya njadi ciut.
Dengan getaran, tangan kanannya raih dompetnya.
"Ini kak, semua uang kita ada di situ." Secercah ketakutan lintas di mata Rangga ketika nyerahkan dompetnya.
Randia ngambilnya, ngeluarkan semua uangnya dan berteriak pada orang yang ditodong tadi.
Orang tersebut nghampiri Randika dan nerima uang tersebut.
Orang itu terkejut dan Randika hanya berkata padanya dengan santai. "Anggap itu kompensansimu."
Rangga yang lihat ini terkejut. Dia telah dirampok oleh Randika dan sekarang mangsanya tadi itu malah yang nerima uangnya?
Orang tak bersalah itu njadi senang ketika ndapatkan uang itu. Ketika lihat punggung Randika itu, tubuhnya ikut getaran. Namun, getaran itu bukan karena takut lainkan dia bersyukur ndapatkan uang itu karena bisa ringankan hidupnya beberapa hari ke depan.
"Jangan khawatir, aku akan matahkan kaki reka satu per satu kalau reka masih ngganggumu. Sekarang pergilah."
ndengar hal tersebut, orang itu langsung berlari dengan kantong penuh uang.
Dalam benak para preman ini, reka telah berpikir betapa kecilnya dunia ini karena reka bisa bertemu dengan Randika. reka benar-benar tidak beruntung.
"Ah kak" Rangga cah keheningan.
Randika ndengus dingin. "Apa? Kau tidak terima?"
"Bukan, bukan." Rangga dengan cepat njadi panik. Mau dia tidak nerima keputusan Randika pun, dia tidak bisa apa-apa.
"Lho tidak apa-apa kalau kamu tidak terima, kamu bisa mukulku 2 kali." Kata Randika dengan nada serius.
"Tidak! Aku tidak akan pernah selancang itu! Kami semua tunduk pada kakak tertua, percayalah pada kesetiaan kami." Rangga sudah ingin nangis, matanya sudah rah.
"Bagus, bagus, jadi kalian akan hidup dengan jujur setelah ini?" Randika nepuk pundak Rangga.
"Kami akan hidup jujur mulai hari ini." Rangga sudah ingin ninggalkan tempat ini, tetapi tangan Randika ncegahnya untuk pergi.
"Tetapi kata-kata saja tidak cukup nurutku. Bagaimana kalau kalian ngumumkan niat baik kalian ini pada orang-orang? Aku akan mbantu kalian untuk mperbaiki citra kalian yang buruk itu."
"Ah?" Semua preman terkejut ndengarnya. Uang kami sudah kau rampok dan sekarang kau ingin kami mpermalukan diri?
Semua orang saling bertatap-tatapan dengan muka bingung. reka semua ini adalah preman, siapa yang mau njalani hidup jujur?
Tetapi, Rangga rasakan tatapan tajam Randika lalu dia berteriak pada para bawahannya. "Kalian semua, tiru kata-kataku!"
Si bos sudah berkata dan para preman ini tidak punya pilihan. reka semua segera berteriak 'Mulai hari ini kami akan hidup jujur dan tidak akan pernah berbuat jahat lagi!'
Randika yang ndengarnya ngangguk puas dan berkata dengan santai. "Bagus, bagus, lebih sempurna lagi kalau kalian berteriak 5x lagi."
Semua preman ini sudah ingin nangis, bahkan beberapa sudah neteskan air mata.
"Semua, tiru aku 5x lagi!" Rangga tidak punya pilihan selain nuruti Randika.
Lalu, semua para preman ini sambil disaksikan orang banyak berteriak lagi.
'Mulai hari ini kami akan hidup jujur dan tidak akan pernah berbuat jahat lagi!'
Suara reka sangat keras dan nghentikan laju para pejalan kaki yang lewati reka.
Para gangster itu masih sehat?
Inggrid yang ada di sebelah Randika hanya bisa tertawa terus-nerus. Randika mang pintar mbuat orang lain malu.
Setelah 5x berteriak keras, Rangga natap Randika dan berkata dengan suara pelan. "Bagaimana kak? Apakah kita sudah boleh pergi?"
"Suara kalian tidak terdengar tulus." Randika ngerutkan dahinya. Dalam sekejap hati Randika njadi panik, apakah reka akan dihajar lagi?
"Tapi yah bolehlah usaha kalian itu." Randika ngangguk puas.
"Kalau begitu apakah kami boleh pergi?" Rangga tersenyum lebar, dia berharap Randika mau lepaskan reka.
"Pergilah." Randika ngibaskan tangannya dan ngatakan. "Aku akan tinggal di kota ini sebulan lagi, mungkin nanti kita akan bertemu lagi di lain kesempatan."
Ketika Rangga ndengar hal ini, dia nyaris jatuh pingsan. Sebulan hidup di bawah ketakutan? Dia tidak yakin bisa laluinya.
Setelah para gangster itu pamit pulang, Inggrid tidak bisa berhenti tertawa. "Aku kadang heran, kau itu orang baik atau jahat."
"reka lebih jahat dariku tahu." Randika lalu nghampiri Inggrid dan luknya di pinggangnya.
Inggrid lototinya dan nghela napas. Karena Randika telah mbantunya nyelesaikan kontrak dengan Yosua, Inggrid mbiarkannya.
Reviews
All reviews (0)