Gunawan sudah berkeringat dingin, dia sama sekali tidak tahu identitas perempuan ini. Tapi dari gelagatnya, orang ini bukan orang sembarangan.
Yosua natap perempuan itu dengan gugup, dia tidak tahu harus berbuat apa. Elva lalu mbawa Gunawan ke pojokan dan ngeluarkan sebuah token dari balik saku bajunya. Tiba-tiba, wajah Gunawan dengan cepat njadi pucat dan tegang.
"Maafkan aku, aku tidak tahu bahwa Anda berada di kota ini." Dengan cepat Gunawan nundukan kepalanya. Perempuan ini adalah salah satu anggota dari organisasi paling misterius di dalam negeri, dia benar-benar tidak beruntung bisa bertemu dengannya.
Sebagai salah satu pentolan di dunia kepolisian, Gunawan ngetahui bahwa ada sebuah organisasi misterius yang berjalan di negara ini. Semua anggotanya adalah yang terbaik dari yang terbaik dan reka bagaikan hantu. Tidak ada yang tahu tugas maupun keberadaan reka.
Tetapi yang dia tahu adalah tiap anggota organisasi tersebut miliki hak istiwa yang mutlak. Kata-kata yang keluar dari reka sama beratnya dengan presiden.
"Aku tidak peduli masalahmu apa dengan orang itu tetapi aku ingin kau tidak nyentuh orang itu sama sekali." Elva ngambil kembali tokennya. "Jika kau nyentuh ujung baju orang itu, aku akan nguburmu dalam-dalam. Paham?"
"Saya paham." Gunawan terus nundukan kepalanya.
"Jangan pikir kita tidak tahu transaksi gelapmu selama ini, jika aku mau kau bisa ndekam di penjara detik ini juga."
ndengar hal ini, wajah Gunawan dengan cepat njadi pucat. Ancaman perempuan ini benar-benar nyata.
Dikatakan bahwa anggota Arwah Garuda sudah dilatih untuk unggul dalam semua kemampuan, bahkan ada desas-desus bahwa reka bisa ngetahui apa yang kau cari di internet bertahun-tahun yang lalu.
Tetapi di dalam hatinya Gunawan bernapas lega. Untuk sekarang belum ada aksi sama sekali yang mberatkan dirinya yang berarti masih ada ruang untuknya untuk berbenah diri.
"Lagipula," Elva lalu natap Randika dan noleh kembali. "jika kalian terbunuh barusan, berita kalian terbunuh sama sekali tidak akan keluar. Kau paham maksudku?"
"Iya." Berarti jika tadi semua bawahannya dan dirinya terbunuh, Randika tidak akan terkena konsekuensi hukum apa pun. Malahan dirinya bisa diberitakan kabur mbawa seluruh uang kotornya selama ini. Inilah keuntungan dari manipulasi berita dan njadi anggota Arwah Garuda.
"Baiklah, kau seharusnya sudah ngerti apa yang harus kau lakukan setelah ini." Elva lalu ninggal Gunawan yang masih nundukan kepalanya itu.
Dengan cepat, sosok Elva nghilang dari lokasi.
Wajah Gunawan sudah kembali miliki warna. Mungkin, dia telah selamat dari kejadian yang bisa nghancurkan hidupnya. Ketika dia berjalan kembali ke Yosua, Yosua bertanya. "Siapa perempuan itu?"
"Jangan nanyakan hal yang tidak ingin kau ketahui." Gunawan natap tajam Yosua kemudian nghampiri Randika sambil ncopot topinya.
lihat kepala polisi itu ndekat, Randika dengan santai ngatakan. "Jadi masih perlu aku datang ke kantormu?"
"Hahaha tadi aku bercanda." Gunawan tersenyum pahit. "Aku benar-benar minta maaf. Aku ini orang bodoh jadi sering lakukan kesalahan seperti ini."
Randika tertawa puas di dalam hatinya. Elva benar-benar mbantunya hari ini.
"Aduh jangan begitu, lagipula aku dengan kantor polisi di kota rak punya gedung yang gah. Aku ingin lihatnya." Goda Randika.
"Bangunan kami sempit dan kotor, orang hebat seperti Anda pasti rasa kotor di sana." Gunawan sudah ingin nangis, pertama kalinya dia nunduk serendah ini ke orang.
Terlebih lagi, perempuan tadi ngatakan bahwa jika dia nyentuh ujung baju orang ini maka transaksi gelapnya selama ini akan terkuak pada publik. Jadi candaan Randika barusan ini benar-benar tidak lucu baginya.
"Aduh bapak ini ngomong apa? Sudah jelas bawahan bapak di atas itu terluka gara-gara saya. Sudah tangkap saja aku sekarang, aku bertanggung jawab atas aksi cerobohku itu."
Gunawan benar-benar lupa akan hal tersebut. Orang ini benar-benar tahu cara rendahkan orang!
"Hahaha semua anak buahku itu terpeleset hingga pingsan, ini bukan salah siapa-siapa." Kata Gunawan sambil tersenyum. "Aku akan negur reka agar berhati-hati lain kali."
"Bukannya tadi kau ngatakan bahwa itu salahku? Semuanya pasti ndengarnya dengan jelas lewat gafonmu itu." Wajah Gunawan benar-benar putih ketika ndengarnya.
"Sudahlah pak, aku ngaku bahwa semua itu adalah salahku. Tidak baik langgar hukum itu, aku harus dibawa ke pengadilan." Kata Randika sok bijak. Namun, semakin Randika berbicara semakin Gunawan ingin nangis. Dia berharap orang ini segera pergi, hati tuanya ini sudah tidak tahan.
"Itu semua hanyalah salah paham. Mana mungkin orang baik seperti Anda lukai polisi? Semua itu hanyalah salah paham!" Gunawan sudah tidak tahu berapa ember keringatnya ini rembes keluar. Harapan satu-satunya adalah orang ini segera lepaskan dirinya.
Tangan Gunawan benar-benar terikat, dia tidak bisa nyentuh orang ini sama sekali.
"Berarti bukan aku yang lukai reka hingga pingsan? Apakah aku tidak salah dengar barusan?" Randika pura-pura bingung, tetapi dalam hatinya dia tersenyum lebar.
"Tidak, tidak, tidak. Aku bersumpah atas namaku." Gunawan dengan cepat njawab. "Anda adalah warga negara yang baik dan rupakan tugas kami untuk lindungimu."
"Terus buat apa kau manggil semua orang ke sini?" Randika noleh ke arah polisi yang masih berwajah tegang itu.
"Hahaha reka semua terkejut ketika ndengar temannya itu terpeleset hingga pingsan, reka buru-buru ke sini untuk nengok reka." Kata Gunawan sambil tersenyum.
"Kau mang punya wajah yang tebal, aku suka." Kata Randika sambil tertawa.
Ketika Randika tertawa, Gunawan ikut tertawa. Selama pihak lain senang, aku juga ikut senang.
"Kalau begitu, apakah aku boleh." Gunawan bertanya dengan hati-hati.
"Iya, pergilah. Aku sudah puas." Randika ngibaskan tangannya.
Ketika Gunawan baru langkah sekali, Randika berteriak padanya. "Tunggu!"
Ya Tuhan, salah apa hambamu ini?
Ketika noleh, Gunawan sudah masang topengnya.
"Tidak usah tegang seperti itu. Aku hanya ingin ngingatkan, selama aku di kota ini, aku tidak ingin diganggu sama sekali." Kata Randika.
"Jangan khawatir, siapapun yang berani ngganggumu maka dia adalah musuh dari seluruh kepolisian kota ini!" Gunawan dengan cepat nunduk hormat.
Gunawan lalu berbalik dan ninggalkan Randika. Dia sudah tidak bisa mbedakan celananya yang basah itu karena keringat atau dia sedikit ngompol.
"Gun, apa-apaan tadi itu?" Yosua segera nghampiri temannya itu. Ketika dia lihat Gunawan nunduk pada Randika, dia rasakan firasat buruk.
Apa Randika mpunyai teman di kepolisian yang lebih kuat?
Oleh karena itu, Yosua harus mastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jangan pernah ngontakku lagi." Gunawan lalu ndorong Yosua, orang yang hampir njatuhkan dirinya dari singgasananya. Dia lalu nambahkan. "Lain kali, jika kau ingin mati jangan bawa-bawa aku!"
Gunawan lalu ninggalkannya dan nyuruh anak buahnya mbawa teman-temannya yang pingsan di lantai 9 itu.
Ketika ndengar respon tersebut, Yosua benar-benar terkejut. Bisa dikatakan bahwa selama ini dia bekerja sama dengan Gunawan untuk nguasai kota rak ini baik luar maupun bagian dalamnya. Terlebih, dari Gunawan lah Yosua bisa ngetahui banyak hal.
Bisa dipastikan bahwa perempuan sebelumnya itu telah ngatakan sesuatu pada Gunawan. Karena setelahnya, perilaku Gunawan langsung berubah drastis.
Lawannya kali ini benar-benar ngalahkannya!
Yosua tidak berani noleh ke arah setan yang mbuatnya njadi seperti ini. Seluruh tubuhnya sudah lemas, dia benar-benar sama sekali tidak bisa berjalan.
Tetapi, suara Randika cah keheningan. "Wah Tuan Yosua belum pulang?"
Wajah Yosua itu sudah tidak berbentuk, wajahnya benar-benar buruk rupa.
"Kalau begitu, ada hal yang ingin kubicarakan dengan Tuan Yosua sebelum Anda pergi." Kata Randika sambil nghampirinya.
"Apa itu?" Kata Yosua sambil pura-pura tenang.
"Begini, hari ini kedua perusahaan kita baru saja nandatangani kontrak kerja sama." Sambil nyeringai Randika ngatakan. "Aku tidak tahu apakah kontrak itu sah atau tidak?"
"Sah! Sah!" Kata Yosua dengan cepat.
"Apakah masih ada syarat tambahannya?" Tanya Randika dengan nada dingin.
"Tentu saja tidak!" Keringat dingin mulai ngucur kembali.
"Kalau begitu, kalau aku ingin nambahkan syarat tambahan bagaimana?"
"Silahkan tambahkan, aku akan nuruti seluruh isi kontrak itu." Yosua dengan cepat njawab.
"Hahaha, Anda mang pebisnis yang murah hati yang pernah kutemui." Kata Randika sambil tertawa, lalu dia raih pundak Yosua dan berbisik padanya. "Mohon bantuannya."
"Sama-sama." Kata Yosua sambil getaran.
"Kalau begitu, sampai kita bertemu lagi." Randika lalu nepuk punggung Yosua dan pergi.
Yosua tersenyum pahit dalam hatinya. Apanya yang bekerja sama? Ini jelas-jelas perasan!
"Oh ya, omong-omong aku tidak punya cukup uang untuk ngganti kerusakan di hotel tadi." Randika noleh kembali ke Yosua.
"Jangan khawatir, aku yang akan mbayarnya." Kata Yosua dengan cepat.
Randika hanya ngangguk puas.
Setelah nyelesaikan ini semua, Randika naik lift dan kembali ke kamarnya. Dia lihat Inggrid sedang berlutut dan berdoa.
"Sayang, sedang apa kamu?" Kata Randika dengan suara pelan.
"Randika!" lihat Randika yang tidak terluka, Inggrid neteskan air mata.
"Hahaha apakah kau pikir aku akan ninggalkanmu?" Mungkin ini adalah senyuman terhangat selama hidupnya.
Inggrid lalu ngusap air matanya. "Habis, aku pikir kau terluka parah."
"Sudahlah, kalau kau ingin lukku jangan sungkan. Aku tahu kau ncintaiku jadi jangan sungkan untuk bermanja-manja di depan suamimu ini."
Dalam sekejap, suasana haru ini njadi rusak oleh candaan Randika itu. Inggrid dengan cepat malingkan wajahnya yang cemberut.
"Hahaha masih saja tidak mau jujur. Oh ya, kontrakmu sudah terjamin jadi kau tidak perlu khawatir. Bahkan kau bisa ngubahnya kalau kau rasa kurang nguntungkan. Jadi bagaimana kalau besok kita bermain dan nikmati kota ini bersama-sama?" Kata Randika sambil tersenyum.
ndengar kata-kata Randika itu, Inggrid senang bukan main dan ngiyakan saran Randika.
Reviews
All reviews (0)