Tidak lama kemudian di lantai paling bawah dari Hotel lati.
Suara sirine polisi bisa terdengar sangat keras, belasan mobil polisi madati hotel bintang 5 ini. Para pejalan kaki dan para tamu terkejut, apakah ada penggerebekan teroris?
Kali ini bantuan yang dikerahkan untuk nyelamatkan Yosua bukan main-main, hampir 20 mobil polisi yang ngepung jalan masuk dan keluar Hotel lati.
skipun sudah ngetahui situasi yang terjadi di lantai atas hotel reka, si resepsionis hotel tidak nyangka bahwa polisi akan ngerahkan pasukan sebanyak ini.
Seluruh orang mulai turun dari mobil reka, lengkap dengan baju pelindung dan senapan serbu reka. reka telah ngepung seluruh gedung ini dengan sempurna.
Kenalan Yosua yang rupakan kepala polisi itu, Gunawan, turun dari mobil wahnya. Dia mandangi hotel ini dengan muka dinginnya.
Ketika dia ingin ngarahkan bawahannya untuk segera masuk, terlihat orang yang sedang nyeret kakinya keluar dari pintu depan.
"Sudah kubilang, tidak ada orang yang keluar ataupun yang masuk sebelum kita riksa seluruh orang yang ada di hotel itu!" Gunawan benar-benar dalam keadaan murka.
"Ini aku." Kata Yosua sambil tertatih-tatih.
"Ah! Tuan Yosua, keadaan Anda terlihat sangat buruk!" Gunawan benar-benar terkejut ketika lihatnya. "Siapa yang lakukan ini? Bagaimana dengan anak buahku?"
"reka semua ada di atas." Tatapan mata Yosua masih terlihat tanda-tanda ngeri ketika dia ngingat kejadian tadi.
"Lalu siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini? Berapa orang reka?" Tanya Gunawan dengan nada cemas.
"Dia seorang diri." Yosua tersenyum pahit. "Anak buahmu hanya pingsan, tinggal bawa reka ke rumah sakit dan reka akan baik-baik saja."
"Cuma satu?" Gunawan terkejut ketika ndengarnya. "Aku ngirimmu 15 orang bersenjata lengkap dan reka semua dikalahkan oleh satu orang?"
"Kau pikir aku bercanda? Kau harus nyelesaikan masalah ini dengan benar untukku!" Kata Yosua dengan nada serius.
"Jangan khawatir, mau dia sehebat apa pun, dia tidak akan bisa ngalahkan orang sebanyak ini." Gunawan lalu berteriak pada anak buahnya. "Semuanya bersiap!"
KLIK!
Semua senjata para polisi ini sudah siap dan beberapa mbawa tang yang cukup besar sampai-sampai nutupi seluruh badannya.
Seluruh orang yang lihat kejadian ini sudah ngira ada teroris di hotel tersebut. Kejadian yang unik untuk kota yang biasanya damai ini.
Namun, terdengar suara orang berteriak cukup keras dari pintu masuk hotel tersebut. "Kenapa kalian lama sekali datangnya?"
Gunawan dan para polisi terkejut. reka sudah nginstruksi para staff hotel untuk nyuruh para tamu tetap diam di kamarnya. Dan sekarang, ada seseorang yang dengan santainya keluar dan nyapa reka?
Yosua natap orang tersebut dengan perasaan ngeri bercampur benci.
"Apakah itu orangnya?" Gunawan dengan cepat bertanya.
Yosua hanya ngangguk pelan.
Gunawan lalu ngambil gafon dan ngatakan. Diam di tempat! Kau sudah terkepung dan bersalah atas penyerangan terhadap petugas aparat hukum."
"Hei itu bukan salahku tahu!" Randika nggelengkan kepalanya. "Kalian yang ndatangiku cuma karena disuap oleh orang di sampingmu itu."
"Atas dasar apa kau berkata seperti itu?" Gunawan ngerutkan dahinya. "Fakta bahwa kau telah nyerang polisi sudah tidak terbantahkan, kau tetap akan kami bawa."
"Buat apa kalian mbawaku?" Randika dengan cepat riksa keadaan. Dia lihat ada sekitar 20 mobil polisi dan setiap orangnya mbawa senapan serbu. reka semua berlindung di balik mobil reka dan semuanya mbidik tepat ke arahnya.
"Untuk mpertanggung jawabkan atas aksi biadabmu!" Kata Gunawan dengan dingin. Selama dia berhasil mbawa Randika, maka dia bisa manipulasi informasi dengan ngatakan bahwa dia adalah teroris. Randika juga tahu bahwa jika apabila dia tertangkap, tuduhan-tuduhan palsu akan layang pada dirinya. Bisa-bisa dia tidak akan lihat matahari lagi.
"Maaf, aku alergi dengan kantor polisi." Kata Randika sambil tersenyum. "Lagipula, kau tidak ingin kantormu yang busuk itu hancur karenaku kan? Kalau begitu lebih baik kita bicara di sini."
"Kau tidak bisa nolak!" Bentak Gunawan.
"Bukankah aku punya hak?" Randika tetap terlihat tenang. Dia perlahan-lahan nghampiri Gunawan. "Apakah kau sendiri yang akan maksaku pergi?"
"Cukup! Jangan bergerak lagi!" Gunawan sudah mbanting gafonnya dan mbidik pistolnya ke arah Randika.
"Oh? Yosua belum nceritakan tentang diriku?" Randika lumayan terkejut. Tatapan matanya sekarang ngarah pada Yosua.
"Cerita tentang apa?" Gunawan ngerutkan dahinya.
Yosua dengan cepat ngatakan. "Kemampuan bela diri orang itu sangat nakutkan, anak buahmu harus waspada!"
"Cuma itu?" Gunawan nyeringai. "Aku sudah mbunuh ratusan penjahat yang lebih kejam daripada bocah itu!"
"Tangkap dia!" Gunawan segera mberi sinyal pada anak buahnya, nampaknya dia ingin nangkap Randika hidup-hidup.
Randika sudah nguap karena bosan. "Bukannya aku sudah bilang agar kita berbicara baik-baik saja? Belum terlambat jika kau ingin mundur dari sini, aku sedang tidak ingin nghajar kalian."
lihat tatapan rehkan Randika, Gunawan tertawa keras. Dia sudah tidak sabar ikut nyiksa bocah itu.
Tetapi, dari belakang Randika terdengar suara perempuan. "Sedang apa kalian?"
Suara itu terdengar dingin dan tegas, tapi bagi Randika suara itu sangat familiar baginya.
"Turunkan senjata kalian!"
Perempuan itu dengan cepat nyuruh reka nurunkan senjatanya. Gunawan dan Yosua terkejut, mangnya siapa orang itu?
Gunawan yang lihat perempuan muda itu hanya tertawa. "mangnya siapa kamu sampai berani rintahku? Aku adalah kepala polisi kota ini, apa kau pikir aku akan tunduk pada seorang wanita?"
"Cukup satu telepon maka aku bisa nggulingkanmu dengan mudah." Kata perempuan tersebut dengan santai. Lalu, dia ngirim pesan pada handphone Gunawan yang berisikan data-data yang dapat njatuhkan dirinya dari posisinya yang sekarang ini.
Gunawan yang lihat hal tersebut terkejut bukan main dan rinding. Yosua yang juga ikut lihat njadi linglung. Kenapa transaksi gelapnya dengan Gunawan bisa terungkap begitu mudah?
"Semuanya, turunkan senjata kalian!" Gunawan berteriak dengan sepenuh hati, dia tidak punya pilihan selain nuruti perempuan tersebut.
Randika noleh dan dugaannya benar, perempuan ini mungkin sudah terpesona dengan dirinya sampai-sampai bisa muncul di kota ini.
"Kok bisa kamu buat masalah sampai ke kota lain?" Elva nggelengkan kepalanya.
Dia benar-benar tidak habis pikir, setiap kali dia bertemu dengan pria ini ada saja masalahnya.
"Aku hanya sedang lewat hehehe." Kata Randika sambil tersenyum.
Elva lalu berjalan lewati Randika.
"Eh! Mau ke mana kamu?" Randika dengan cepat ncegat Elva. "Kenapa buru-buru? Lebih baik kita pergi dari sini dan makan malam bersama."
"Huh! Aku tidak mau satu ruangan denganmu." Elva malas berurusan dengan Randika. Setiap kali dia bertemu dengan pria ini, dirinya selalu ndapatkan pengalaman buruk. Hal ini sudah sangat lekat di benak Elva, pria ini jelmaan dewa sum!
"Ckckck, padahal aku sudah nyelamatkanmu sebelumnya." Randika nghela napas. "Aku hanya minta kita pergi makan bersama saja sebagai imbalannya."
"Dengan campur tanganku ini, hutangku sudah lunas."
"Tidak! Aku tidak minta bantuanmu." Randika dengan cepat protes.
Elva lalu ngabaikan Randika dan, di bawah tatapan para polisi, dia nghampiri Gunawan lalu ngatakan. "Ikuti aku."
Reviews
All reviews (0)