Font Size
15px

DUAR!

Tiba-tiba pintu kamar Randika dan Inggrid itu ledak dan hancur njadi serpihan. Lalu dari arah pintu sana muncul bom asap yang dengan cepat nuhi isi ruangan.

Satuan khusus?

Randika mulai cemas terhadap keselamatan Inggrid. Dia dengan cepat mbawa Inggrid berlindung di bawah kasur dan ngatakan. "Apa pun yang terjadi, jangan berisik dan jangan keluar dari sini."

Inggrid yang ketakutan hanya nganggukan kepalanya.

Randika dengan cepat bergerak dan nendang bom asap itu ke arah pintu.

Pada saat ini, seorang polisi dengan perlengkapan lengkap nerjang masuk dengan senapan serbu di tangannya. Begitu dia lihat Randika, dia segera ngangkat senjatanya.

Namun, Randika jauh lebih cepat darinya. Ketika dia berusaha mbidik Randika, Randika sudah nahan senjatanya dan dia tidak bisa bergerak.

Polisi tersebut bereaksi dengan cepat, dia segera lepas senjatanya yang ditahan oleh Randika. Polisi tersebut dengan cepat mberikan serangan siku pada Randika. Namun, Randika nghindarinya dan nendangnya. Polisi tersebut terpental mundur beberapa langkah.

Polisi tersebut raung kesakitan tetapi Randika sudah berada di depannya!

DUAK!

Polisi tersebut natap tembok yang ada di luar ruangan.

Satuan khusus yang ada di luar terkejut lihatnya.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Teman reka yang rupakan salah satu yang terhebat di antara reka hanya bertahan 10 detik di dalam?

Tetapi berkat pelatihan khusus yang reka terima, reka sama sekali tidak gentar dan ncengkeram erat senjata reka. reka dengan cepat mantau situasi tetapi tidak ada pergerakan di dalam.

Keheningan ini sangat ncekam.

Dua polisi satuan khusus mulai masuk bersamaan. reka berdua berbaris sambil mberi isyarat di punggung ataupun isyarat tangan. Namun, ketika reka riksa kamar mandi, sesosok bayangan loncat keluar.

DUAK!

Suara orang bertarung tangan kosong terdengar dari dalam. Kali ini, kedua polisi tersebut tidak respon sama sekali setelah 20 detik masuk ke dalam. Para polisi yang di luar mulai njadi cemas, lawannya kali ini sangat kuat!

"Kalian sudah terkepung, nyerahlah dan keluar dari ruanganmu!" Seorang polisi berteriak.

"Masuklah dan coba buat aku nyerah kalau bisa!" Suara Randika terdengar penuh dengan percaya diri.

"Aku akan lempar granat jika kalian tidak keluar." Balas polisi tersebut.

Ini hanyalah gertakan, sebuah granat bisa berdampak sangat buruk jika diledakan di hotel ini.

"Baiklah Aku akan keluar, jangan tembak aku." Randika dengan santai keluar dengan tangan di belakang kepalanya. Namun, tatapan matanya sama sekali tidak nunjukan ketakutan sama sekali.

lihat lebih dari 10 orang satuan khusus ini di koridor, Randika nyadari bahwa Yosua berada di barisan paling belakang. Dengan muka ngejek, Randika ngatakan. "Selamat malam Tuan Yosua."

Pada saat ini, Yosua sudah bagaikan mumi. Seluruh mukanya dibalut oleh perban kecuali daerah mata dan hidung.

Tatapan matanya penuh dengan kebencian dan kemarahan. "Hari ini aku akan ngulitimu hidup-hidup!"

"Jangan suka sesumbar, tidak baik untukmu." Randika nggelengkan kepalanya. Lalu dengan santai dia berkata pada para polisi tersebut. "Jadi cuma segini harga nyawaku? Selusin orang saja? Kenapa tidak nyuruh 50 orang untuk mburuku?"

Orang ini gila!

Semua polisi ini makai ekspresi dingin dan Yosua sudah tidak sabar untuk nyiksa Randika.

"Kau pikir kau lebih cepat daripada peluru?" Sambil tertawa keras Yosua ngatakan. "Sekarang lebih dari 10 senapan mbidikmu, kau masih berharap bisa hidup?"

"Kau pikir senjata itu mbuatku takut?" Randika natap reka dengan tatapan ngejek, baginya satuan khusus ini hanyalah sebuah debu.

"Takut? Mari kita lihat apakah kau bisa bicara begitu besar ketika tubuhmu penuh dengan lubang."

"Coba saja," Kata Randika sambil tersenyum. "percuma aku njelaskan, lebih baik kutunjukan."

"Ayo tembak aku!" Randika nghentakan kakinya ke arah para polisi itu.

Para polisi ini bertukar pandang dan ngangguk bersamaan. Dalam sekejap, reka telah nembakkan seluruh peluru reka!

Inggrid yang berada di bawah kasur semakin cemas ketika ndengar rentetan tembakan itu.

"Tuhan selamatkan Randika" Inggrid berdoa dalam hatinya.

Tembakan dari selusin polisi ini tidak nyisakan ruang untuk Randika nghindari ke samping. Di barisan paling belakang, Yosua sudah bertepuk tangan dan tersenyum lebar ketika lihat polisi yang dibayarnya itu mulai nembak.

Tetapi, dalam sekejap muka bahagianya itu njadi suram. Matanya terbelalak lihat adegan tidak masuk akal di depannya.

Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?

nggosok-gosok matanya, Yosua tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Itu benar-benar tidak masuk akal!

Seperti di film-film aksi dari barat, Randika berlarian di tembok dan nghindari seluruh peluru yang nuju dirinya!

Bahkan gravitasi seakan-akan tidak ada bagi Randika. Ketika senapan itu ngarah ke langit-langit, Randika sudah berada di bagian kanan tembok. Ketika Randika dibidik lagi, sosoknya sudah tidak ada kembali.

Ratusan butir peluru dengan cepat lesat tetapi orang di hadapan reka masih bisa bergerak bagaikan bayangan. Semua orang terkejut, bagaimana mungkin orang ini bisa disebut manusia?

Di koridor hotel ini sekarang, sosok Randika bahkan terlihat bertambah. Saking cepatnya dia berlari, dia ninggalkan sosok bayangannya. Sesaat dia ada di atas langit-langit, di belakang vas, di samping tembok dan berada di tengah udara.

Orang ini jelas-jelas monster!

Semua polisi ini mulai ragu dan bingung, reka hanya bisa nembaki di mana sosok Randika berada.

Yosua yang ada di barisan paling belakang mulai berkeringat deras. Sialan, orang itu bukan manusia!

Setelah 20 detik nembak tanpa henti, semua senapan polisi ini telah kehabisan peluru. Randika dengan santai bertanya. "Sudah selesai?"

Dan di bawah tatapan mata orang banyak, Randika berdiri diam di tempat awalnya! Dia bahkan terlihat tidak bergerak sama sekali.

Seberapa cepat mangnya kecepatan orang ini?

Lagipula, senjata reka sudah nghalangi seluruh jalur lari targetnya.

Setelah nerima seluruh magasin dari selusin polisi, koridor ini sudah tidak berbentuk dan banyak lubang peluru. Semua hiasan dinding maupun vas sudah hancur berantakan. Pemandangan ini benar-benar mirip dengan pemandangan pasca gempa. Sedangkan target reka, nampak baik-baik saja. Siapa yang akan mpercayainya jika reka tidak lihat hal ini dengan mata reka sendiri?

Semua polisi ini tidak tahu harus berbuat apa. Randika lalu berteriak ke arah Yosua. "Sudah ngerti maksudku tadi?"

Punggung Yosua sudah basah oleh keringat, saking takutnya dia tidak bisa ngeluarkan suara sama sekali. Selama dia njadi gangster, dia belum pernah lihat orang yang berada di peringkat Dewa. Dan sekarang, dia telah nyaksikan salah satu dari 12 Dewa Olimpus!

"Kalau kalian sudah selesai, sekarang giliranku." Randika natap para polisi itu dengan wajah tersenyum yang ngerikan. "Paling parah mungkin kalian tidak akan bisa berjalan lagi."

Pada saat ini, para polisi itu sudah getar ketakutan. Dan benar saja, detik berikutnya mimpi buruk reka benar-benar terjadi.

"Ah!"

Di barisan paling depan, seseorang telah dipelintir tangannya oleh Randika. Dengan mudah, Randika nendangnya hingga terbenam di lantai.

Detik berikutnya, Randika sudah ncekik salah satu polisi dan nghantamnya ke tembok. Seluruh tubuh polisi itu sampai masuk ke dalam tembok.

Sepuluh polisi sisanya itu langsung ngepung Randika, satu per satu mulai nyerangnya dengan tangan kosong.

Jeritan tragis reka mulai nggema di telinga Yosua, para polisi ini tidak berdaya di hadapan Randika.

Randika sendiri tidak segan-segan nahan kekuatannya. Karena reka semua adalah polisi korup sewaan Yosua, Randika harus negaskan bahwa reka tidak bisa macam-macam dengan dirinya. Di hadapan kekuatan absolut, reka harus tunduk atau dipaksa tunduk.

lihat pembantaian yang dilakukan Randika, Yosua dengan cepat ngambil handphonenya. Namun, handphone tersebut jatuh karena tangannya tidak bisa berhenti getar.

Ketika Yosua berusaha ngambilnya dan minta bantuan, kaki Randika sudah berada di samping handphonenya.

Secepat itu!?

Yosua nelan ludahnya dan ngangkat wajahnya yang sudah pucat pasi itu. Pemandangan di depannya benar-benar ngenaskan. Seluruh polisi terkapar di lantai dan muka senyum Randika sedang natapnya.

"Hm? Mau nelepon siapa?" Randika ngambil handphone milik Yosua itu dan lihat nama dari nomor yang mau dia panggil.

"Kepala polisi?" Randika terkejut kemudian nghela napas. "Kenalan Tuan Yosua mang benar-benar luar biasa. Apakah dia harus tunduk padamu juga seperti orang lain?"

"Aku cuma salah pencet." Pada saat ini Yosua sudah hampir mati ketakutan.

Randika mberikan handphonenya dan ngatakan. "Tidak apa-apa, telepon saja dia."

"Ah?" Yosua terkejut ndengarnya.

"Aku ingin kau neleponnya, aku ingin tahu berapa banyak orang yang akan dikirimnya lagi." Randika lalu berkata dengan santai. "Kalau kau tidak mau neleponnya, kau akan mati sekarang."

ndengar ancaman Randika, Yosua tidak berani untuk mbantah. Orang ini benar-benar dewa kematian, benar-benar nakutkan!

Setelah berhasil nelepon temannya itu, Yosua dengan getar ngatakan. "Tolong kirimkan orang lagi."

"Aku sudah ngirimkanmu 15 orang bersenjata lengkap, masa kurang?" Suara di balik telepon itu terdengar tidak puas.

"Semuanya sudah kalah." Yosua sudah ingin nangis ketika ngatakannya. Bahkan temannya ini ngirimkan 100 orang pun rasanya sudah percuma.

"Mustahil!"

"Hei, bawahanmu ini sudah terkapar dan sekarat di hadapanku." Kali ini Randika yang berbicara. "Aku tidak tahu siapa namamu tapi, jika kau tidak segera nyelamatkan reka aku rasa sudah terlambat untuk mbawanya ke rumah sakit."

Lalu Randika dengan cepat nutup teleponnya.

Yosua lalu nangkap handphone miliknya yang dilempar oleh Randika. Dia lalu nelan ludahnya dan dengan suara pelan bertanya. "Bolehkah aku pergi sekarang?"

"Pergi?" Randika lalu tersenyum. "Mau pergi ke mana mangnya kau?"

Randika natap Yosua yang tersandung itu, dengan tatapan dingin Randika ngatakan. "Aku belum selesai denganmu, ngapain kamu buru-buru ingin pergi seperti ini?"

Yosua nggigil ketakutan dan ngatakan. "Aku sudah nurutimu, sekarang biarkan aku pergi!"

"Eh? mangnya aku ngatakan kau boleh pergi setelah nelepon?" Randika lalu dengan keras nginjak kaki Yosua.

KRAK!

Suara tulang patah terdengar dengan jelas, dalam sekejap Yosua rasakan rasa sakit yang luar biasa pada kakinya.

Kali ini Randika harus mberi kesan yang ndalam pada Yosua. Kakinya yang patah itu benar-benar dia remukan, sudah sangat susah disembuhkan bahkan dengan bantuan dokter ahli sekalipun.

"Hahaha, kau suka hadiah dariku ini?" Randika njongkok dan tersenyum.

"Mana mungkin aku nyukainya!" Wajah Yosua sudah penuh dengan keringat.

"Kalau begitu, mungkin kau akan suka dengan hadiahku untuk tangan kananmu?" Randika gangi tangan kanan Yosua dengan erat.

"Tolong ampuni aku." ndengar ancaman Randika itu, Yosua benar-benar ketakutan.

"Hahaha baiklah, karena aku orang yang murah hati maka aku tidak akan lakukannya." Kata Randika dengan santai.

"Sekarang, aku ada urusan lain di bawah. Jadi mari kita ke bawah bersama-sama."

Randika lalu nyeret Yosua yang kakinya patah itu ke dalam lift.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 102: Kau Pikir Kau Lebih Cepat Daripada Peluru? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.