Font Size
15px

Setelah bersantai-santai hingga malam, Randika dan Inggrid akhirnya kembali ke kota Cendrawasih dengan penerbangan terakhir.

Bisa dikatakan bahwa kunjungan bisnis kali ini benar-benar sukses.

Kontrak yang dijalin dengan Yosua itu tidak perlu dikhawatirkan akan dilanggar. Dengan bantuan Randika, Yosua nuhi semuanya yang tertera pada kontrak tersebut.

Setelah turun dari pesawat, waktu sudah nunjukan pukul 10 malam. Kemudian reka segera nuju rumah dengan banyak barang bawaan.

Saat reka masuk ke ruang tamu, reka tidak nyangka akan disambut seperti itu. Suara musik yang keras, lampu yang berkedip-kedip dan banyak orang sedang nari-nari.

Ada apa ini?

Randika dan Inggrid hanya bisa lihat semua ini dengan mata terbelalak.

Lampu ruang tamu ini telah diganti dengan lampu berkedip-kedip, banyak perempuan yang nari diiringi lagu yang nggelegar. Bahkan di antara reka terlihat mbawa gelas anggur bersama reka.

Suara orang tertawa, gerakan nari yang erotis, paha-paha yang mulus dan dada yang bergoyang-goyang mbuat Randika nelan air liurnya.

reka semua bagaikan supermodel!

Pada saat ini, dua perempuan yang berdiri di dekat pintu masuk tertawa ketika lihat Randika dan Inggrid. Kemudian reka narik tangan Randika dan mbawanya ke lantai dansa.

"Jangan tegang begitu, narilah bersamaku." Perempuan cantik ini terdengar mabuk, jelas dia sudah mabuk berat.

Inggrid sudah tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa nghela napas. Adiknya Hannah itu pasti telah manfaatkan kepergiannya untuk ngadakan pesta.

"HANNAH!" Teriakan Inggrid benar-benar percuma, teriakannya itu kalah dengan suara musik.

Inggrid lalu mutuskan untuk mbawa barang-barangnya itu dan naik ke kamarnya. Dia akan marahi Inggrid setelah semua ini selesai.

Namun, Randika justru dioper-oper oleh para perempuan untuk nari dengan reka semua. Jelas reka semua ini sudah mabuk.

lihat perempuan yang pertama kali ngajaknya nari, Randika terpaku pada dadanya yang bundar dan nawan itu. skipun tidak besar, bentuknya sangat indah.

"Kakak dari jurusan apa kamu?" Perempuan itu sempat nanyakan di tengah dansa reka.

Kakak?

Jadi dirinya disangka sebagai salah satu murid?

"Dari jurusan Bahasa." Kata Randika sambil tersenyum.

"Apa kakak punya pacar?" Wajah perempuan itu sudah rah, entah karena mabuk atau malu sudah bertanya.

Randika nyukai orang mabuk seperti ini, inilah saat-saat orang akan jujur pada diri reka sendiri.

Ketika Randika ingin njawab, perempuan itu luknya dan ngelus dadanya.

"Wah otot dada kakak keras sekali." Jari-jemari perempuan tersebut berenang-renang di dada Randika.

Randika lalu natap mata perempuan tersebut, tatapan matanya seperti serigala yang telah nemukan makan malamnya hari ini.

Apakah dirinya akan 'dimakan'?

Namun, di saat Randika masih berkhayal, terdengar suara ngorok dari bawah. Ternyata perempuan itu tertidur!

Randika yang nghela napas itu lalu mbawa perempuan di pelukannya ini ke sofa. Pupus sudah harapannya untuk bersenang-senang hari ini.

Randika bukan orang yang manfaatkan kesempatan seperti ini untuk ncari keuntungan, inilah sifat jenteln sejati!

"Feli!"

Kedua teman dari Feli itu terkejut ketika dia dibawa oleh seorang pria. reka lalu nidurkan Feli di sebuah sofa dan Randika njelaskan semuanya.

Lalu kedua temannya itu ngajak Randika minum anggur yang ada untuk ngucapkan terima kasih. reka senang dengan sifat jenteln Randika.

Kegiatan pesta ini terus berlanjut, di lantai dansa semuanya makin nari dengan liar. skipun mayoritas semuanya adalah perempuan, masih ada laki-laki di antara reka walaupun jumlahnya sedikit. Yang paling ncolok adalah pakaian yang dipakai para perempuan ini. Semua nggulung pakaiannya hingga pusarnya terlihat dan hotpants reka nonjolkan kaki mulus reka yang panjang.

lihat para perempuan muda ini mbuat mata Randika puas lihatnya.

Di sampingnya, beberapa perempuan sedang main "truth or dare."

reka makai kartu dan siapapun yang ndapat kartu joker akan ditanya truth or dare oleh peserta lain.

"Hahaha Putri kau kalah! Cepat kamu pilih truth or dare?" Beberapa perempuan lainnya njadi histeris.

Perempuan bernama Putri itu terlihat ragu. "Aku pilih truth."

"Baiklah" Temannya yang disampingnya itu njadi bersemangat. Dia lalu nyuruh semuanya ndekat dan bertanya. "Put malam itu, apakah kamu dan pacarmu lakukannya?"

"Kyaaaa!" Semuanya njadi histeris ndengarnya.

"Malam yang mana?" Putri sepertinya punya kulit yang tebal, dia tetap tenang nghadapi reka.

"Kamu ngerti maksudku, jangan ngelak. Apakah kalian lakukannya?" Semua mata tertuju pada Putri.

Di bawah tatapan tajam teman-temannya, wajah Putri njadi rah dan dia ngangguk. Dalam sekejap teriakan histeris dan kaget terdengar keras.

"Hei, hei, apakah tidak sakit?" Beberapa temannya ingin tahu lebih lanjut tetapi Putri dengan sigap njawab. "Cuma satu pertanyaan."

Dengan begitu reka mulai bermain lagi.

Randika masih duduk di tempatnya dan hanya tersenyum lihatnya. Ah Masa muda mang harus begini.

Namun, dari belakangnya terdengar suara yang familiar. "Kak, mau minum anggur?"

Randika noleh dan lihat Hannah makai kostum kelinci dewasa berwarna hitam dengan stoking jala.

Randika longo lihat adik iparnya ini. Dadanya yang seakan mau tumpah itu dan kaki putihnya yang panjang itu kontras dengan stokingnya. Dan belum lagi telinga kelinci yang dipakainya, mbuat adik iparnya ini terlihat sexy!

"Baiklah aku akan minum segelas." Randika lalu ngambil gelas dan tersenyum. "Aku tidak nyangka kau akan makai baju senakal itu."

"Eh, bukannya ini imut?" Hannah lalu berputar untuk mperlihatkan ekornya sambil tersenyum.

"Imut sekali." Randika ngacungkan jempolnya.

Duduk di sebelah Randika, Hannah tersenyum. "Kenapa kakak cepat sekali kembalinya? Bukannya harusnya 3 hari lagi ya?"

"Pekerjaan kita cepat selesai kali ini jadi kami tidak ingin berlama-lama di sana." Randika bingung kenapa adiknya ini nanyakan hal ini di tengah pesta.

"Kak Inggrid juga sudah pulang?" ndengar hal ini Randika sudah bisa nebak alasannya, adik iparnya ini takut!

"Kakakmu ada di kamarnya."

Ekspresi Hannah njadi sedikit panik. "Apa kak Inggrid terlihat marah?"

"Aku rasa sedikit." Randika lalu tertawa lihat ekspresi Hannah yang panik itu.

"Kak Randika." Tiba-tiba Hannah tersenyum dan luk tangan Randika. Dengan ekspresi las dia berkata dengan nada lembut. "Kakak akan mbantuku kan?"

Sambil nikmati sensasi empuk itu, Randika ngelus kepala adiknya. "Tentu saja, serahkan ini padaku."

"Hehehe aku tahu kakak adalah orang baik." Hannah tersenyum.

Pada saat ini, ada seorang perempuan super cantik ndekati reka berdua.

Randika noleh dan bertanya-tanya, ada masalah apa sekarang?

Namun, kedua tangan Randika itu ditahan dan tanpa aba-aba, perempuan cantik itu ncium Randika.

Iya, ncium!

Kali ini bukanlah Randika yang maksa namun dia yang dipaksa!

Dalam sekejap, semua perempuan yang duduk di sekitar sofa tertawa dan bersemangat. Hannah pun juga ikut tertawa.

Setelah berciuman panas libatkan lidah, perempuan itu ngatakan. "Maaf, aku milih dare."

Kemudian dengan santai perempuan itu kembali ke teman-temannya.

Randika berusaha terlihat tenang dan keren, dalam hatinya dia cuma berpikir. Tidak masalah kalau kau kalah taruhan, tapi kalau bisa jangan gigit bibirku itu!

Randika lalu gangi bibir bawahnya itu dan terlihat ada sedikit darah.

"Han, cepat ke sini dan ikut bermain." Teriak salah satu perempuan.

"Sebentar, tunggu aku!" Hannah dengan cepat nyeret Randika untuk ikut.

"Wah, sejak kapan kau punya pacar setampan ini?" Semua temannya mulai bersemangat.

Hannah cuma tertawa. "Sudah ayo cepat!"

"Hahaha ada yang malu-malu nih cieee!"

Setelah nambahkan 2 kartu, permainan truth or dare dimulai.

Lalu setelah semua orang milih kartu, Randika ndapatkan kartu joker.

Sialan, kenapa dirinya begitu sial?

"Truth or dare?" Tanya reka semua.

"Truth." Kata Randika tidak berdaya.

"Oh, oh, aku punya pertanyaan bagus." Seorang perempuan lalu bertanya sambil nyeringai. "Seberapa panjang punyamu itu?"

"Dasar sum!" Teman-temannya itu tertawa ndengar pertanyaan tersebut. Mungkin cuma Hannah yang terlihat malu, perempuan-perempuan lainnya mang berani!

Namun, dalam hati Hannah juga penasaran. Seberapa besar punya kakak iparnya itu?

Randika hanya nggelengkan kepalanya, perempuan jaman sekarang pada sakit semua!

Namun, Randika adalah orang yang kaya pengalaman, dia tidak akan tunduk pada generasi muda.

Di bawah tatapan para serigala ini, Randika tersenyum dan berkata dengan santai. "Sebelum itu ngeras, kurasa 12 cm."

"Hah! BOHONG!" Jelas semua yang ndengarnya tidak percaya. Hannah sendiri matanya sudah terbalalak ketika ndengarnya.

"Percaya atau tidak terserah kalian, tapi kalau kalian mau ngecek silahkan saja." Randika lalu tertawa. Cara nghadapi orang seperti ini adalah nantang reka maka reka akan mundur dengan sendirinya.

Sesuai dugaannya, setelah berkata seperti itu, para perempuan serigala ini segera nciut nyalinya dan hanya tertawa. reka tentu ingin ngecek tetapi tidak berani, semua sahabatnya ada di sini jadi reka sungkan.

Permainan kembali dimulai, kartu sudah diacak dan sekarang waktunya reka ngambil.

Semua mbuka kartunya dan yang ndapat kartu joker adalah. Randika!

Dengan cepat muka Randika njadi muram, hari ini dia begitu sial.

"Yeiii!" Semua perempuan itu bersemangat. "Truth or dare?"

"Dare!" Randika sudah nggigit bibirnya sendiri dan ngatakan. "Kenapa aku begitu sial hari ini?"

"Karena kamu milih dare" Semua perempuan itu natap satu sama lain lalu natap Hannah.

"Han, karena dia pacarmu, saatnya kamu nghukum dia."

Hannah natap Randika dan Randika natap Hannah. Tatapan mata Hannah penuh dengan kejahilan dan akhirnya dia bisa nemukan mon balas dendamnya.

Hannah lalu tersenyum dan berkata. "Serahkan tubuhmu itu untuk kita raba selama 15 nit."

APA?

Semua serigala itu berteriak histeris, Hannah telah njual pacarnya sendiri!

Randika hanya bisa tersenyum pahit dan mbiarkan tubuhnya dipegang-pegang.

"Ah baju ini nghalangi saja!"

"Wah dadamu keras sekali!"

"Pantatmu juga keras!"

"Wah otot perutmu keras sekali!"

"Wah..."

.........

Para perempuan yang haus ini dengan cepat njelajahi seluruh tubuhnya, reka benar-benar tidak mberi ampun pada Randika.

Hannah hanya lihat semua ini, dia tidak berani bertindak aneh-aneh pada kakak iparnya.

Setelah 15 nit penuh pelecehan ini, Randika akhirnya bisa bernapas normal kembali.

"Lagi!" Randika tidak terima dirinya yang kalah terus.

Permainan truth or dare dimulai kembali. Setelah kartu dibagikan, saatnya penentuan.

Wajah Randika segera njadi pucat, dia benar-benar harus mandi 7 kembang.

"Hahaha! Truth or dare?"

Randika sudah ingin nangis ndengarnya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 106: Truth or Dare? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.