Genin dan Haban mperhatikan Ishakan dengan tenang, kenangan masa lalu terlintas dengan jelas di benak reka. Ketika dia mutuskan untuk njadi raja baru reka dan minta bantuan reka, dia bersumpah tidak akan pernah seperti pendahulunya.
Sekarang dia rentangkan tangannya.
"Waktunya telah tiba," katanya. "Perjalananmu masih panjang."
Satu demi satu, dia ngucapkan selamat tinggal kepada masing-masing orang Kurkan. Saat dia lakukan itu, Kurkan yang layani Leah di rumah lelang ndekati Haban.
"Permisi," dia mulai. "Tapi wanita itu yang nyelamatkan kita. Apakah Anda tahu di mana dia tinggal, dan apakah dia lajang?"
Haban dikejutkan oleh pertanyaan berani itu dan mbeku seolah dia tersambar petir, tapi pemuda itu lanjutkan, ngabaikan reaksinya.
"Jika dia lajang, bolehkah aku nculiknya nanti? Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tentu saja, saya akan bertanya padanya terlebih dahulu apakah dia setuju untuk dinikahi... "
Genin nutup mulutnya dengan tangan, dengan paksa mbungkamnya. Pemuda itu terkejut sekaligus bingung, namun Ishakan yang mperhatikan pemandangan itu malah tersenyum.
"Lushan," panggilnya dengan tenang.
Pria muda itu njauhkan tangan Genin dari mulutnya dan lirik antara dia dan Haban sebelum dia njawab.
"Ya, rajaku."
Ishakan natapnya. Diam-diam. Lambat laun, wajah Lushan njadi kaku, dan dia ngalihkan pandangannya, nghindari mata emas Ishakan. Ishakan tidak perlu berbicara. Tekanan matanya cukup mbuat pemuda itu mulai getar.
"Saya sangat berharap Anda tidak laksanakan rencana itu," kata Ishakan.
"...Saya minta maaf." Lushan mbungkuk dalam-dalam saat Haban dan Genin mandang dengan kasihan. Tapi ketidaktahuan dianggap dosa. Lushan beruntung semuanya berakhir seperti ini. Orang-orang Kurkan nyelesaikan perpisahan reka dan berangkat ke gurun, dan Ishakan mperhatikan punggung reka saat reka bergerak lewati eulalia.
( TL . Eulalia: itu adalah tanaman herba)
Rambutnya berkibar tertiup angin sejuk, mbuatnya teringat akan terik matahari dan pasir keemasan rumahnya. Dia rindukan banyak hal tentang tempat itu. Tapi dia belum bisa kembali. Masih banyak hal yang harus dilakukan. Haban dan Genin ngikuti di belakangnya saat dia berjalan pergi, berbincang,
"Saya pikir Byun Gyeongbaek dari Oberde sudah gila."
"Sang putri hanya nyebutkan bahwa dia mungkin berhasil, dan dia bertindak seolah-olah dia sudah naik takhta."
Ishakan akan marah besar jika Byun Gyeongbaek nikah dengan putri kerajaan dan mperoleh hak takhta. Byun hanya miliki kendali atas perbatasan karena kekuatan militernya. Namun jika dia ndapatkan kekuasaan keluarga kerajaan lalui pernikahan, itu akan ngubah keseluruhan cerita. Dari sana dia hanya perlu ngamankan sumber daya keuangan dan dukungan para bangsawan demi kepentingan sang putri, dan kemudian dia akan njadi ancaman nyata bagi posisi putra mahkota.
Pada awalnya, Byun Gyeongbaek hanya ingin sang putri miliki istri yang cantik dan terhormat. Namun dengan petunjuknya tentang takhta, Leah telah ngipasi bara keserakahannya, dan bara api itu mulai mbara.
"Negeri ini berantakan," gerutu Haban, "Dan sang putri selalu berkorban untuk itu..."
Ishakan tersenyum. "Akan selalu ada masalah dimanapun orang Gipsi ditemukan," katanya.
"Dan bagaimana dengan Ratu?" Genin nyela.
"Yah, itu mbuatku khawatir."
"Jika Ratu adalah seorang Gipsi, bukankah istana dalam bahaya?" Haban bertanya dengan serius.
"Ini lebih dari berbahaya. Seluruh istana ada di tangannya."
Mantranya tidak mahakuasa. Peliharaannya mbutuhkan kerja keras dan syarat-syarat tertentu harus dipenuhi. Namun skipun rapal mantra itu sulit, semakin lama mantra itu tetap aktif, semakin kuat jadinya dan semakin sulit untuk dipatahkan. Ratu sudah lama berada di istana. Tempat itu akan penuh dengan mantranya.
"Dia bisa saja nyihir raja juga," kata Ishakan.
"Dia pasti telah rapal mantra kuno. Cuci otak, kan?"
"Mungkin. Dia adalah orang pertama yang dia dekati."
Pasti mbutuhkan banyak usaha untuk ndapatkan cinta raja dan yakinkannya untuk ngusir ratu sebelumnya. Saat Ishakan terakhir kali lihat raja pada jamuan makan siang, kondisinya pasti tidak normal. Pencucian otak pasti sudah berkembang lebih jauh sekarang. Pengaruh ratu mungkin sudah sedemikian jauh sehingga raja tidak dapat lagi mbedakan pikirannya dengan perintah ratu. Tapi reka tidak bisa mastikan sejauh mana kemajuan ratu. reka hanya tahu dia tidak akan berhenti hanya dengan mantra sederhana.
Ishakan ngerutkan kening.
"Panggil Morga," perintahnya.
Genin lirik Haban, wajahnya semakin gelap. Dia tidak nyukai gagasan ini.
"Jika kita nelepon Morga," kata Haban, lakukan upaya terakhir untuk mbujuk Ishakan agar tidak lakukannya, "Kita mungkin kehilangan jejak Tomaris yang sudah kita ikuti."
Ishakan nggelengkan kepalanya. "Tidak ada jalan lain. Masalah ini jauh lebih ndesak."
Haban dan Genin saling mandang dengan muram, tapi Ishakan ngarahkan pandangannya ke cakrawala, ke arah istana Estia, ski terlalu jauh untuk terlihat. Bibirnya lengkung mbentuk senyuman. Dia bisa ndengar bisikan kecil Leah yang bergetar di benaknya, nghangatkan lubuk hatinya.
— Aku ingin hidup.
Ishakan sangat ingin nuhi keinginannya.
Reviews
All reviews (0)