Font Size
15px

Leah rasa seperti sedang berjalan dalam mimpi. Setiap kali dia ngingat percakapannya dengan Ishakan di Ruang Kemuliaan, jantungnya berdebar kencang. Bayangan kesedihan yang selama ini nyelimutinya telah nguap.

Belum ada yang pasti, tapi ada sedikit harapan yang tumbuh dalam dirinya, yakinkannya bahwa segala sesuatunya akan berhasil. Dia tidak akan pernah rasakan optimis ini sendirian.

Dia tidak diizinkan nikmati perasaan ini terlalu lama. Seorang pengunjung tak terduga nyerbu masuk ke kantornya, minta perhatiannya bahkan tanpa mbuat janji.

"Aku belum lihat wajahmu akhir-akhir ini, Leah."

Leah ndongak dari dokun yang sedang dia ulas.

"Putra Mahkota," katanya pelan.

Para pelayan istana kerajaan yang ngikutinya putus asa, ncoba nghalangi Blain, namun tidak berhasil. Leah nyisihkan pena bulunya.

"Bawakan aku teh," perintahnya. Teh adalah alasan bagi para pelayan untuk njauh dan tidak terjebak dalam hal yang tidak nyenangkan, seperti terakhir kali. Blain duduk di sofa di depan ja, dengan arogan, dengan kaki terentang. Rambutnya miliki warna keperakan yang sama dengan miliknya, bersinar lembut seperti bulan. Leah mandangnya dengan ketidaktertarikan yang jelas.

"Kenapa kamu natapku seperti itu?" Blain bertanya dengan tajam.

Leah nggigit bibirnya, nahan rasa tidak senang. "Cepat beri tahu aku apa yang kamu inginkan."

"Saya akan berburu bersama binatang buas," katanya. "Aku ingin kamu ikut juga."

Dia tidak hanya mberitahunya, dia juga mberinya perintah. Tangan yang bertumpu pada janya bergetar, dan dia ngepalkannya. Blain sudah rusak makan siangnya, sekarang apa yang dia rencanakan?

Dia ngabaikan cara bibirnya lengkung. "Kami baru saja ngadakan pertemuan negosiasi pertama. Tolong, tidak bisakah Anda duduk diam sampai negosiasi selesai sepenuhnya?"

Blain tertawa. "Kamu njadi lebih arogan!"

Dia bangkit dari sofa dan perlahan ndekati Leah, letakkan tangannya di atas ja Leah. Dia mandangnya dengan waspada, tapi dia tersenyum lebar.

"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini," bisiknya. "Kamu telah nerima semua yang diinginkan orang Kurkan." Jari-jarinya yang pucat dengan lembut ngusap rambut Leah, seolah sedang rapikannya. "Jika kamu sangat nyukai binatang itu, apa yang akan kamu pikirkan jika kita mbiarkannya tidur di kandang?"

Tangannya tiba-tiba ncengkeram rambutnya dengan nyakitkan.

"Akan nyenangkan lihatnya di antara kuda-kuda," godanya.

"Jika itu terjadi, pasti para bangsawan akan ngagumi keramahtamahan Estia." Leah berkata tanpa ngubah ekspresinya. Dia ngira pria itu akan ngangkat tangannya dan namparnya, namun pukulan itu tidak pernah datang. Dia hanya tertawa.

"Bawalah saputangan pada hari perburuan," katanya padanya.

Dan itu saja. Bahkan sebelum para pelayan sempat mbawakan teh, Blain sudah pergi. Leah ngambil pena bulunya lagi, dan tinta di ujungnya jatuh seperti air mata, mbasahi lembaran kertas di hadapannya. Kegelapan nyelimuti tubuhnya seperti bayangan.

Dia rasa tidak enak.

***

Suara nghantui bergema di balik pintu yang tertutup. Suara-suara di dalamnya tidak salah lagi, cukup untuk mbuat telinga siapa pun terbakar, tetapi Blain, yang duduk di sofa di dekatnya, tidak peduli. Wajahnya hanya ncerminkan kebosanan yang luar biasa. Para pelayan yang berdiri di belakang Blain lakukan yang terbaik untuk njaga wajah reka tetap tanpa ekspresi, dan diam-diam ngisi ulang gelasnya setiap kali dia ngosongkannya.

Erangan terakhir keluar dari balik pintu yang tertutup. Setelah beberapa saat, pintu terbuka, dan Cerdina langkah keluar, nyibakkan rambutnya yang berkeringat ke samping. Matanya lebar.

"Bisul?"

Aroma kental nemaninya keluar pintu, manis, berat, dan muakkan. Ketika Blain ngerutkan kening padanya, dia hanya tersenyum lembut dan ndorong pintu terbuka lebih lebar untuk mperlihatkan pemandangan di belakangnya.

Raja ada di dalam, berbaring telanjang dan tanpa rasa malu di tempat tidur, natap langit-langit sambil lamun. Matanya tidak fokus, tanpa semangat. Mata itu tampak seperti mata boneka.

Cerdina nata ulang gaunnya yang berantakan untuk nyembunyikan sosoknya dengan lebih baik, sambil tetap tersenyum.

"Aku tidak tahu apakah itu efek samping dari mantranya, tapi sepertinya itu akan makan waktu." Tanpa alas kaki, dia berjalan ke arah Blain dan duduk di sampingnya, suaranya penuh kasih sayang. "Kamu sudah nunggu lama? Kenapa kamu tidak masuk?"

Blain ndengus. " tahu persis apa yang kamu lakukan. Bagaimana saya bisa masuk?"

"Yah, ini jauh lebih baik daripada bersikap seperti seorang ibu yang nyia-nyiakan waktu berharga putranya," katanya sambil nyesap gelas yang diberikan pelayan padanya.

Tatapan Blain tanpa sadar beralih ke Raja, yang masih terbaring diam. lihat rambut perak sang Raja, dia mulai berpikir. Dikatakan bahwa darah tidak bisa ditipu, dan kedua pria itu sangat mirip. Blain pernah ndengar bahwa ketika Raja masih muda, dia adalah pria yang sangat tampan, setampan putranya.

Cerdina lihat Blain natap Raja dan tertawa terbahak-bahak. Blain dengan cepat ngalihkan pandangannya, terlambat.

"Kau ingin aku lakukan hal yang sama pada Leah, boneka tak bernyawa?" dia bertanya sambil tersenyum dingin. Suara lembutnya mikat.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 100: Pengunjung Tak Terduga on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.