Saat pintu tertutup di belakang reka, Leah ngatupkan kedua tangannya erat-erat. Alih-alih ngucapkan selamat tinggal kepada Raja Kurkan, Pangeran Valtein dan nteri Keuangan hanya nghela napas dalam-dalam saat reka lihatnya pergi. Rasanya seperti hidup kembali tanpa tekanan kehadirannya yang nyesakkan.
Lea sedang berpikir. Ada sesuatu di balik senyuman misterius yang diberikan Ishakan padanya saat dia pergi, seolah dia sedang ngisyaratkan sesuatu padanya. ngumpulkan semua dokun yang telah dia persiapkan dengan tekun, dia berdiri. Count Valtein dan nteri Laurent tergeletak di atas ja tanpa perasaan, dan ndongak kaget.
"Putri?"
"Aku akan pergi ke suatu tempat," katanya samar-samar. Dia segera pergi tanpa nghilangkan kebingungan reka.
Tapi begitu dia mbuka pintu kamar, dia terkejut. Ishakan sedang nunggunya, dan dia hampir nabrak dadanya, tiba-tiba berhenti di atas jari kakinya. Dia rasa geli.
Kemana kita akan pergi? Dia bertanya dengan cuek, yakinkan seolah-olah reka telah nyetujui kencan. Leah nyadari perjalanannya masih panjang sebelum dia bisa nang atas pria ini.
Hanya ada satu tempat di lokasi reka saat ini yang cocok dan terpencil. Dia raih Ishakan dan mbawanya nyusuri koridor panjang nuju Ruang Kemuliaan. Itu dipenuhi dengan lukisan dan patung yang berorientasi pada jendela lingkar yang terletak di langit-langit berbentuk kubah. Seberkas cahaya terang lewati jendela untuk nerangi lantai. Itu dimaksudkan untuk lambangkan ambisi Estia, harapan negara untuk kejayaan yang tak tergoyahkan dan cahaya yang hanya nyinari reka.
skipun para seniman Estia bekerja tanpa lelah untuk nuhi ruangan dengan kreasi reka, ncurahkan isi hati reka ke dalam setiap karya, pemandangan itu mbuat Leah frustrasi. Dia muak dengan kesombongan kosong dan kesombongan Estia yang penuh warna. Karya agungnya mungkin wakili sesuatu yang mulia, tetapi hal yang sama tidak berlaku bagi bangsanya. Negara akan lebih terlayani dengan njual setengah karya agung di istana kerajaan untuk ngisi perbendaharaan yang kosong.
Itu termasuk barang-barang yang dipajang di Ruang Kemuliaan, tapi keluarga bangsawan yang nghargai pertunjukan kebajikan ini – yang hanya boleh dilihat oleh reka – tidak akan pernah ngizinkannya. Jadi dia harus nyimpan keinginannya untuk dirinya sendiri.
Ishakan tampak terkejut saat dia masuk. Namun alih-alih lihat patung dan lukisan, dia malah lihat ke langit-langit, ke jendela kecil. Saat Leah ndekatinya, dia ndorongnya dengan lembut ke bawah cahaya, mbuat rambut peraknya bersinar dan mata ungunya berbinar, mpesona. Dia tersenyum.
"Cantik sekali," katanya, mbuat wajahnya rah karena pujian itu. Bahwa dia telah milih untuk ngarahkan pujian tak terduga kepadanya daripada mahakarya di sekitar reka, mbuat mustahil untuk natap matanya. Tapi dia tetap gigih seperti biasanya, letakkan tangannya di bahunya dan mbungkuk untuk mberikan ciuman manis di keningnya, dan satu lagi ciuman lembut di pipinya.
Dia berusaha untuk tidak lihat mulutnya saat dia njauh. Dia terkejut dia tidak ncuri ciuman dari bibirnya.
Ishakan nghela nafas. "Apakah kamu sudah sarapan?"
"...Ya."
"Apa yang kamu makan?"
"Buah-buahan dan sayur-sayuran."
"Berapa harganya?"
"Setengah piring salad dan buah persik," jawabnya, skipun dia rasa pria itu nanyainya terlalu dekat. Dia terlihat cukup serius ketika bertanya, yang mbuatnya bingung.
"Berapa banyak buah persik?" Dia bertanya dengan sungguh-sungguh. Itu pertanyaan yang konyol, Leah hanya natapnya. Dia nghela nafas. "Baiklah. Kalau begitu datang dan duduk saja sekarang."
Sambil raih pergelangan tangan Leah, dia berjalan ngitari ruangan, ncari tempat untuk duduk bersama. Ruangan itu tidak ada gunanya selain kesombongan Estia.
"Apakah tidak ada tempat untuk duduk?" Dia bertanya, kecewa. Dia akhirnya duduk di depan sebuah patung, bersandar padanya dan nepuk pahanya, nawarkannya kepada Leah sebagai tempat duduk. Dia skeptis.
"Lagipula, kita tidak punya kursi," Dia ngangkat bahu, tersenyum nakal.
Reviews
All reviews (0)