Font Size
15px

Ishakan ngangkat alisnya, yang mbuat Genin laporkan secara singkat kejadian yang terjadi di tempat tinggal sang putri.

ndengar cerita itu, mata Ishakan nyipit dan alisnya berkerut. Namun, dia tidak nggeram atau ngeluarkan tanda apapun yang nunjukkan kemarahannya. Dengan suara rendah, natap lurus ke mata Genin, dia berbicara. "Kupikir aku sudah nyuruhmu untuk njaganya, Genin."

Asap kabur dari daun rokok yang perlahan mbara ngepul di depan wajahnya. Mata Ishakan nyipit, dan pupil emasnya yang nyala-nyala yang belum ndingin, berdenyut.

"Tapi kamu di sini." Ishakan tidak perlu banyak bicara. Maksudnya jelas.

Seketika wajah Genin mucat dan pucat pasi. Dia berlutut. Berlutut, di depan Ishakan, dia bersujud dan mbenturkan kepalanya ke tanah. Tangannya getar saat dia ngakui kesalahannya.

Haban, yang berdiri di sampingnya, tidak bisa bernapas dengan baik saat lihat pemandangan di depannya. Sulit lihat Genin mohon maaf.

"Tidak apa-apa mbuat kesalahan sekali, tapi dua kali tidak." Ishakan nghela napas lelah sambil rintahkan, "Bangun. Harap berhati-hati lain kali."

"Terima kasih."

Genin mbungkuk sekali lagi, dahinya nyentuh tanah, lalu dia bangkit.

Terkunci dalam pikirannya, Ishakan tiba-tiba bergumam. "Dia muntah darah. Itu mang aneh."

Haban dan Genin saling lirik. reka tampaknya ncapai konsensus lalui percakapan singkat reka. Sebagai ganti Genin yang sebelumnya dimarahi, Haban mbuka mulutnya. Konotasi yang keluar dari perkataannya tersirat.

"Bukankah itu karena kamu nyiksanya tadi malam?" Itu adalah pernyataan yang yakinkan seolah-olah tidak ada kebenaran yang lebih jelas dari ini. Ishakan tersenyum singkat dan nggelengkan kepalanya.

"Itu bisa jadi penyebabnya... tapi aku baru mberinya isapan kemarin." Begitu dia ngambil rokoknya, mata Haban lotot.

"Bukankah itu racun bagi manusia?"

"Itu adalah obat bagi reka jika digunakan dengan benar."

Genin mbalas Haban yang terpana. Dia yakinkannya bahwa Ishakan tidak akan nyakiti sang Putri dengan cara apa pun, apalagi mberikan racun padanya.

"Benar. Cukup ncurigakan jika terjadi reaksi buruk seperti muntah darah."

Ishakan lemparkan rokok yang dipegangnya ke lantai. Rokok itu tercampur ke dalam genangan darah. Ishakan nginjak-injak bara api, hingga apinya padam sepenuhnya.

Tangannya ngepal dan dia berkata dengan lembut.

"Apakah nurutmu tidak ada sesuatu yang terjadi di Istana Estia?"

****

Sesekali, Leah ngalami pusing. Entah karena Cerdina yang lebih ketat ngatur pola makan saat makan, atau kebiasaannya tidur larut malam karena jadwalnya yang padat, dia tidak tahu.

Apa yang dia tahu adalah ini adalah pertama kalinya dia muntah darah dan pingsan setelahnya. Ketika dia akhirnya sadar kembali, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Countess lissa, yang matanya rah bengkak karena tangisannya yang tiada henti.

"Putri!" seru Countess begitu dia nyadari bahwa sang Putri sekarang sudah bangun. Dia telah manggil dengan cukup keras, tidak ngherankan ketika beberapa saat kemudian, segerombolan pelayan dan pelayan segera datang ngerumuninya, manggilnya dengan lega.

Countess lissa mbantu Leah duduk, dengan lembut nyandarkannya ke bantal, sentara pelayan lainnya juga sibuk ngurus sang putri.

"Putri!"

"Apa kamu baik baik saja?"

"Apakah ada yang sakit?"

"Apakah kamu mbutuhkan sesuatu?"

Pertanyaan dan kekhawatiran terus layang di sekelilingnya. Sentara itu, Countess lissa hampir lupakan etika dan kesopanan karena dia berpelukan erat di lengan Leah. Leah hanya bisa ngikuti dengan mbabi buta setiap pertanyaan yang dilontarkan padanya, semakin bingung dengan gempuran suara-suara.

Beberapa saat kemudian Countess lissa akhirnya nyadari penderitaannya.

"Mundur kalian semua!" dia segera rintahkan, "Sang putri baru saja bangun, beri dia ruang."

skipun niatnya baik, semua orang rasa sangat tersinggung. Bukan karena dia salah, tapi itu terutama karena Countess lissa adalah orang pertama yang nyerang tanpa nyesali perasaan sang putri setelah baru saja dibangunkan. rasakan ironi pernyataannya, lissa nyembunyikan rasa malunya di balik batuk.

Baroness Cinael adalah orang yang cukup berani untuk nyuarakan ketidaksenangannya.

"Tidak bisakah kita nunjukkan kelegaan pada sang Putri yang akhirnya terbangun?" dia bertanya, dan lissa, yang patut disyukuri, tampak sedikit malu...

"Baroness, bukan itu, bagaimana kamu bisa-" tapi Baroness hanya motongnya.

"Jika aku ingat, Countess, Kamu adalah orang pertama yang langgar batas ruang pribadi Putri! nempel dan berteriak kegirangan saat dia bangun." dia nunjukkan lebih lanjut.

Dan setelah pernyataan itu, dia nangis, mbuat wanita dan anak perempuan lain di ruangan itu ngikutinya. Satu demi satu reka semua berteriak, nuhi ruangan dengan suara ratapan. Leah duduk, bergerak untuk nenangkan wanita-wanita yang nangis...

Countess lissa hanya nyeka air matanya, mbuat sang putri bersandar sekali lagi sebelum nguatkan tekadnya.

"ski begitu, sang putri baru saja bangun tidur. Tidakkah nurutmu dia perlu istirahat lebih lama sebelum nghiburmu?" dia bertanya pada reka.

ndengar kata-katanya, bahkan Baroness pun tidak dapat nyangkal kebenarannya. Dan dengan enggan tangisan itu reda, keheningan kembali nyelimuti ruangan itu.

Saat penontonnya tenang, Leah dengan lembut nyisir rambutnya ke sisi lain lehernya, yang penuh dengan keringat. Kemudian dia minum sedikit air yang diberikan Countess dan ndengarkan kejadian di mana dia tidak sadarkan diri.

"Kamu telah tidur sepanjang hari." Countess lissa mberitahunya.

Setelah Leah pingsan dan muntah darah, istana kerajaan langsung berantakan. Blain yang sedari tadi berdiri di depan Leah langsung nangkapnya sebelum ia jatuh ke tanah.

lissa lebih lanjut mberi tahu Leah bagaimana Blain segera manggil petugas dis, wajahnya terkejut saat nggendongnya.

"Dia tentu saja ngkhawatirkan kesehatanmu," kontarnya, "Bertentangan dengan apa yang dia lakukan setiap kali dia nyiksamu."

lissa bergidik mikirkannya, ngingat betapa njijikkannya Blain. skipun dia ingin ngatakan hal-hal yang lebih ngutuk tentang dia, dia nahan diri, dan lanjutkan sampai dia selesai nyampaikan kepada sang putri semua yang terjadi.

Ketika dia selesai dengan itu, dia langsung beralih ke topik lain.

"skipun harus kuakui, orang-orang barbar itu tampaknya cukup baik." katanya pada Leah, kebanyakan ngacu pada Genin.

Leah renung dalam hati betapa sayang Countess padanya, jika dengan cara dia muji Kurkan itu adalah segalanya.

Saat dia ndengarkan lebih jauh, dia setuju bahwa Genin mang terdengar cukup nyenangkan.

Saat Leah pingsan, Genin langsung ndorong Blain ke samping yang berteriak panik. Dia luk tubuh Leah yang tak sadarkan diri sebelum dia bergegas ke tempat tidur dan mbaringkannya di sana.

Dia kemudian lepaskan ikat pinggang Leah, yang mbatasi saluran napas dan aliran darah di tubuhnya sebelum mimpin di antara para pelayan yang kebingungan.

Tapi dia tidak berhenti di situ.

Para petugas dis datang terlambat dan bahkan tidak dapat ndiagnosis dengan tepat apa yang mbuat sang putri sakit. Genin ngambil tindakan dan nilai situasi Leah. Dia kemudian nawarkan untuk nyalakan lilin aneh, yang dia yakini akan mbantu sang putri pulih.

Dan mang, itu berhasil karena sang putri mang selamat.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 51: Hubungan Asing yang Melewati on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.