Font Size
15px

Ishakan tampak nyesal ngucapkan kata-kata itu begitu keluar. Dengan penuh kasih, tangannya ngusap wajah wanita itu.

"...Saya minta maaf."

Jelaslah ngapa ia berusaha keras nyembunyikan hal ini di dalam hatinya. Ia tidak ingin nekan Leah untuk ngingatnya. Ia tidak akan ngatakannya sama sekali, jika Leah belum bisa ngendalikan perasaannya. Ishakan tidak akan pernah ngatakan sepatah kata pun, jika Leah belum bisa ngendalikan perasaannya.

Namun kini angin bertiup kencang, mbuat gaun tidur Leah berkibar dan rambut peraknya berkibar, dan suara Ishakan sedikit bergetar saat ia mbungkuk dan berbisik.

“Katakan padaku kau ncintaiku.”

Hatinya sakit. Masih sulit untuk ngungkapkan perasaannya yang sebenarnya, tetapi sampai dia benar-benar terbebas dari mantra itu, dia perlu ngungkapkannya dengan jelas. Sambil raih Ishakan, dia luknya dan ncoba mbuatnya percaya.

"Aku ncintaimu," katanya tulus, dan bahkan berjinjit untuk luknya lebih erat dan nghiburnya. Ishakan tersenyum saat dia ncium pipinya dengan canggung.

lihatnya tersenyum mbuatnya tersenyum. Ishakan ncium keningnya, bibirnya ngusapnya dengan lembut, dan saat ia ngulurkan tangan untuk ngusap bagian itu, Ishakan nangkap tangannya dan nciumnya juga. Di mana pun ia nyentuhnya, ia rasa geli.

“Benarkah...” katanya sambil nggenggam tangan wanita itu sambil tersenyum rehkan. “Aku hanya lemah terhadapmu.”

Dialah satu-satunya yang bisa ngalahkannya. Lengannya lingkari tubuhnya dan dia luknya balik. Setiap kali dia ngingat kenangan masa lalu reka, dia berharap bisa mbagikannya dengan gembira. Dia ingin bisa nggodanya tentang saat-saat ketika dia lemah padanya. Itulah yang akan dia lakukan, segera setelah ingatannya kembali.

“Terima kasih sudah datang nemuiku,” katanya setelah reka berdiri bersama selama beberapa waktu, berpelukan satu sama lain.

"Tentu saja," katanya, dengan cemberut yang nunjukkan bahwa hal lain akan njadi tidak masuk akal. "Aku akan ncarimu di mana pun kamu berada."

"Tetapi..."

"Kau juga lakukan hal yang sama," katanya sambil nepuk dagu wanita itu. "Kau pergi untuk nyelamatkanku."

Dia bisa ngerti alasannya lakukan itu, ski dia tidak bisa mbayangkan Ishakan perlu diselamatkan.

"Aku akan mbawamu kembali," katanya. "Apa pun yang terjadi."

Tangan Leah ngepal, ndengar janji ini, dan Ishakan terkekeh. Namun kemudian tiba-tiba dia ngerutkan kening dan mbungkuk ndekat, lihat sekeliling hutan sambil berbisik di telinganya.

"Hati-hati," desahnya, seolah-olah mperingatkannya akan sesuatu yang sangat serius. "Sebentar lagi reka akan mulai berjatuhan."

Leah bertanya-tanya apa maksudnya, tetapi tidak butuh waktu lama untuk ngetahuinya. Sesaat kemudian, dia lihat orang-orang Kurkan.

reka rangkak keluar dari dahan-dahan pohon, jelas frustrasi karena tidak dapat ndengar suara pelan Ishakan. Kemudian salah satu bayangan Kurkan yang bergerak-gerak itu natap Leah.

“......”

Hening sejenak. Semua bayangan mbeku, tangan dan kaki sebagian terangkat, goyang, lalu mulai jatuh dari pepohonan.

“Arrgh!”

Di sekeliling Leah dan Ishakan, reka jatuh tersungkur ke tanah seperti hujan kacang pecan. Di antara sekian banyak orang, Leah ngenali beberapa wajah, dan begitu Haban berdiri, ia langsung minta maaf.

“Maafkan aku! Maafkan aku! Tapi aku tidak nguping, sumpah!”

“Lalu apa?” ​​tanya Ishakan singkat.

“Hah... itu...”

“......”

Mura nengahi, karena Haban jelas tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Kami datang karena khawatir," katanya. "Kami takut kamu akan lakukan sesuatu pada Leah. Terakhir kali kamu rusak tempat tidur!"

Semua orang Kurkan lainnya mulai berbicara sekaligus.

“Tepat sekali! Kita harus berhati-hati, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang serius?”

“Betapapun kuatnya bayi Kurkan, Leah tetaplah rapuh!”

“Benar! Benar!”

Tentu saja, Ishakan bahkan tidak ngangkat alisnya, tetapi wajah Leah tampak berapi-api.

Dia tidak percaya tempat tidurnya rusak. Dia ngira tempat tidur di rumah Count Weddleton sangat berderit, tetapi dia terlalu...teralihkan perhatiannya untuk bertanya-tanya ngapa.

Apakah reka datang dan mperbaikinya selagi dia tidur?

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 269: Ranjang Rusak on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.