Kemudian lelaki itu lari sambil njepit ekornya di antara kedua kakinya. Kejadiannya begitu cepat hingga Leah berkedip dalam keheningan jalan yang tiba-tiba, lalu ngikuti Ishakan yang berjalan pergi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"ngapa kamu nendangnya?" tanyanya.
Dalam situasi seperti itu, Ishakan bisa saja nghindarinya. Rasanya tidak perlu dan sedikit agresif untuk nendangnya.
"Pepatah ngatakan, saat dua orang bertabrakan, begitu pula takdir reka," katanya dengan sungguh-sungguh, narik Leah ke sisinya. "Kurasa kau tidak ingin berbagi takdir dengan siapa pun kecuali aku."
Dia ingin tertawa, tetapi ngerutkan bibirnya. Dia tidak bercanda. Dan untungnya tidak ada tabrakan lain setelah itu, dan reka ninggalkan pasar dengan tenang.
Sebaliknya, Ishakan mbawanya ke hutan dekat ibu kota. Tanah itu milik keluarga kerajaan, tetapi hanya sedikit orang yang masuk karena hewan-hewan berbahaya yang tinggal di sana. Ishakan masukinya tanpa rasa takut, sambil nggendong Leah di lengannya.
Di bawah pepohonan, suasananya gelap, skipun matahari telah terbit, hanya sedikit cahaya yang nembus dedaunan. skipun Leah tidak dapat lihat dengan jelas, langkahnya tidak pernah goyah. Ia dapat lihat hal-hal yang tidak dapat dilihatnya, ia dapat ndengar hal-hal yang tidak dapat didengarnya. Hal-hal seperti inilah yang mbuatnya berpikir bahwa Ishakan bukanlah manusia sejati.
Ia sedikit khawatir reka akan bertemu binatang buas, tetapi reka tetap njaga jarak. Hutan itu begitu sunyi, ia bertanya-tanya apakah reka semua telah larikan diri saat ia ndekat.
“Awalnya, aku ingin pergi ke istana dan lihat bunga bakung,” katanya sambil nggendongnya. “Tapi, semuanya sudah layu di tempat itu.”
Pada saat itu, pepohonan terbuka di hadapan reka dan matahari bersinar di atas tanah lapang, dengan langit biru di atas kepala. Ada sebuah danau yang sangat jernih sehingga Leah dapat lihat sampai ke dasarnya, dan saat angin bertiup, dedaunan berguguran dari pepohonan dan beristirahat dengan ringan di permukaan air. Matahari bersinar hijau di atas dedaunan.
Ishakan dengan lembut nurunkannya ke tanah, dan Leah lepaskan jubahnya yang panas, berjalan lalui semak-semak nuju danau. Angin sepoi-sepoi yang sejuk ngacak-acak rambutnya saat dia natap air yang murni dan jernih itu. Airnya begitu indah, seolah-olah belum pernah disentuh manusia.
Dan tempat ini begitu penuh kehidupan, dibandingkan dengan kesuraman istana. Leah rasa segar kembali, natap ke dalam air, ncium aroma segar hutan. Terlambat, ia noleh kembali ke Ishakan.
“......”
Dia berdiri di bawah naungan pohon, natapnya tanpa bergerak seolah-olah dia adalah makhluk hutan yang bisa dikejutkannya. Dia mbuka mulut untuk berbicara, tetapi Ishakan berbicara lebih dulu.
“...nakjubkan.”
Suaranya agak serak, penuh gairah yang mbuatnya rasa malu. Ia nyentuh rambutnya, rambut peraknya tampak berkilauan di bawah sinar matahari. Ishakan lemparkan jubahnya ke tanah dan ndekatinya.
“Bagaimana jika matahari lelehkanmu?”
"Aku bukan kepingan salju," jawabnya, mbuatnya tertawa. reka saling berhadapan, dan dia bisa ncium aroma rumput segar dan sedikit manis di tubuhnya.
Tiba-tiba dia rasa sangat malu. Leah ngalihkan pandangan, nghindari tatapan mata pria itu, ngamati tepi danau tempat bunga-bunga liar kecil berwarna putih tumbuh di rerumputan hijau yang tinggi hingga sebuah tangan besar tiba-tiba muncul di depan matanya.
Dia dapat lihat urat-urat muncul di punggung tangan yang kuat itu.
“Bahkan saat kita pertama kali bertemu...” Suaranya mbuat dia noleh untuk natapnya, dan dia dengan lembut mbelai pipinya. “...kamu mpesona.”
Matanya yang keemasan bersinar di bawah sinar matahari. Bibir Leah terbuka. Dia. Dia mpesona.
"Kupikir aku tidak peduli dengan kenangan itu, tapi ternyata aku salah," katanya, jari-jarinya dengan lembut nyentuh bibirnya yang terbuka. "Kupikir sudah cukup kau ncintaiku. Tapi aku semakin rakus dan rakus..."
Ishakan ngembuskan napas berat. Suaranya rendah, seolah-olah dia sedang ngaku dosa.
“Aku ingin kamu ngingatku, Leah.”
Reviews
All reviews (0)