Satu jam kemudian, Cerdina pergi ke ruang pertemuan, ngenakan gaun elegan. Dia telah mbersihkan darah yang nodai tubuhnya, dan untuk sentara nahan asap hitam yang ngepul tanpa henti darinya. Dia bisa nahannya cukup lama untuk berbagi secangkir teh, setidaknya.
“Sudah lama, Leah.”
Leah bangkit dari sofanya untuk mbungkuk saat Cerdina masuki ruangan, dan mata Ibu Suri natapnya, tersenyum saat dia ngamati setiap detail. Mata Leah tenang, dan saat Cerdina natapnya, dia miliki dorongan kuat untuk ncabik-cabiknya.
Leah terlahir dengan rambut perak khas keluarga kerajaan Estia, dan mata ungu yang begitu mukau para bangsawan. Garis keturunan kerajaannya sempurna. Ia terlahir sebagai putri dengan darah bangsawan yang selalu mbuat Cerdina iri.
Namun, semua itu kini tak berarti lagi. Putri bangsawan itu hanyalah boneka di tangan Cerdina. Cerdina sangat puas saat mbuat sang putri nari di atas senarnya. Dan sang putri akan terus nari, selama yang diinginkan Cerdina.
Kedua wanita itu saling berhadapan di sofa yang berseberangan, nyeruput teh yang disajikan oleh para pelayan. Di ruang pertemuan, yang terdengar hanyalah bunyi ketukan cangkir teh dan bunyi klik sendok kecil.
Cerdina adalah orang pertama yang cah keheningan. Ia nyesap tehnya dengan anggun dan letakkan cangkirnya.
"Saya heran," katanya. "Anda datang atas inisiatif Anda sendiri."
niru gerakan Cerdina, Leah letakkan cangkirnya sendiri, dan ketika Cerdina lirik cangkir itu, ia ndapati bahwa level cairannya tidak berkurang. Cerdina tersenyum.
“Ada yang salah, Leah?”
“Aku tidak lihatmu akhir-akhir ini,” jawab Leah. “Aku khawatir kamu mungkin sakit.”
Keduanya tahu bahwa ini bukanlah alasan kunjungannya. Bahkan setelah kehilangan ingatannya, Leah masih takut pada Cerdina. skipun Cerdina hanya ninggalkannya dengan kenangan kasih sayang, Leah secara naluriah nghindarinya.
Hal itu mbuat Cerdina sangat senang. Demi Blain, dia berpura-pura njadi ibu tiri yang ramah, tetapi dia tidak ingin Leah berani keluar dari tempatnya.
Jadi sangat aneh bahwa Leah milih untuk datang dan berkunjung sendiri. Itu perilaku yang tidak biasa, dan Cerdina ngawasinya dengan saksama. Leah masih berada di bawah pengaruh sihir, skipun sihirnya telah sedikit lemah, kemungkinan besar karena dia pernah berada di antara orang-orang barbar. Namun, Leah masih ncintai Blain.
Pengetahuan bahwa mantra itu belum selesai mbuat Cerdina rasa... haus. Mantra itu gagal ngubah perasaan Leah sepenuhnya. Mantra itu hanya ndistorsi ingatannya.
Itu karena kurangnya kekuatan Cerdina sendiri.
Seteguk teh lagi tidak mbuatnya tenang. rasakan kelemahan baru dalam mantra itu mbuatnya ingin ncabik-cabik gadis itu, sebelum ia sempat mberontak bahkan untuk sesaat.
“Bagaimana kabar Countess lissa?” tanya Cerdina penuh kasih sayang. “Kamu harus rawat para pelayan yang baik, karena dia telah rawatmu sejak kamu masih kecil.”
Kata-kata itu diucapkan sebagai nasihat yang baik, dengan kekejaman yang tersirat. Leah mahami pesan itu dengan sempurna, dan kegelapan tampak di wajahnya.
"...Ya."
Tanggapan yang patuh itu mbuat Cerdina nyeringai. Namun kata-kata berikutnya nghapusnya.
“Itulah sebabnya aku tidak larikan diri.”
“......”
Cerdina dengan hati-hati nghapus semua ekspresi dari wajahnya saat ia natap mata Leah, tetapi kali ini, sang putri tidak ngalihkan pandangannya. Bahkan beberapa hari yang lalu, ia tidak berani natap mata Ibu Suri. Mata ungu yang indah itu masih dipenuhi rasa takut, tetapi Cerdina lihat sesuatu yang baru di dalamnya. Rasa keberanian yang putus asa, terdorong untuk bertindak karena ia telah didorong ke tepi jurang.
Bagaimana gadis ini bisa berubah begitu banyak? Cerdina telah nyiksanya sejak Leah masih kecil, mastikan bahwa Leah akan terlalu takut untuk berani mberontak. Apa yang telah berubah?
Mulut Cerdina tersenyum, dan Leah, tanpa rasa terganggu, ncondongkan tubuhnya untuk letakkan botol kaca kecil berisi daun teh ke atas ja. Ia ndorongnya lebih dekat ke Cerdina dengan jari-jarinya.
“Ini teh herbal,” kata Leah. “Saya bersusah payah untuk ndapatkannya. Teh ini akan baik untuk kesehatan Ibu Suri. Saya ingin nunjukkan rasa terima kasih saya atas teh yang Anda berikan kepada saya. Teh ini sangat bermanfaat.”
Lea tersenyum sedikit.
“Bukankah seharusnya seseorang ngembalikan apa yang telah diberikan kepadanya?”
Cerdina natap Leah dengan ngeri. Setelah nyampaikan pesannya, dan lakukan apa yang ingin dilakukannya, Leah berdiri dan dengan sopan ngakhiri pertemuan reka.
Reviews
All reviews (0)